Az Zalzilah

Tulisan yang dibuat sesaat setelah peristiwa Tsunami (Desember 2004) ini dapat kembali menjadi bahan renungan pasca-Gempa Sumatra Barat.

Allah Ta'ala telah berfirman dalam surat al-Ghafir (40:81-85)

Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?�

Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan akhir dari orang-orang yang sebelum mereka? Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, akan tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.�

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa Tanda yang Jelas, mereka merasa puas dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.�

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'�

Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami.�

Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

Perenungan seksama terhadap Qur'an Mulia akan memberi pemahaman yang jelas bagi kaum muminun bahwa di dunia ini segala hal yang dapat dicerap indra, jika kita ingin mendapat kebijaksanaan, harus dikenali sebagai makna-makna.. Allah menjelaskan dalam seluruh bagian Qur'an bahwa dunia merupakan kawasan pengalaman panca indera, pencerapan dan peristiwa, dan semua ini menunjukkan makna-makna. Di sana ada tanda-tanda, di sana ada pengingat-pengingat. Demikian juga, Allah dalam kemurah-hatian-Nya memberi tahu orang beriman bahwa di akhirat, yakni dunia gaib, kita akan berada dalam realitas makna-makna, tetapi makna-makna akan kita alami sebagai cerapan indera - berupa surga dengan sungai--sungai yang mengalir air di bawahnya, atau api mengerikan yang menghanguskan dan gempa bumi. Dalam sudut pandang pemahaman orang-orang beriman akan dualisme semacam inilah Haji di 'Arafah merupakan pengingat sesungguhnya akan Hari Berkumpul di Padang Mahsyar. Itulah sebabnya Rasul, sallalahu alayhi wa salam. menyatakan bahwa, 'Haji ialah 'Arafah.' Penunaian tuntas Haji harus direnungkan, sekalipun hanya dalam beberapa kejap. seraya berwukuf di Padang 'Arafah.

Imam al-Ghazali, radiyallahu anhu, menerapkan kebijaksanaan ini ketika beliau menjelaskan kepada kaum muminun bahwa ketika berhadapan dengan seekor singa lapar, orang akan diselimuti rasa takut tetapi justru, pada saat yang sama, sebetulnya ada singa lain yang lebih menakutkan yang semakin dekat, dekat dan siap menerkam dari belakang dan itulah saat yang penuh kerepotan berupa Hari Perhitungan di Hari Kiamat.

Perkara ini dengan jelas dinyatakan dalam surat Asy-Syams (91:1-15)

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.�

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: "Inilah unta betina Allah, jadi biarkanlah ia minum!". Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).�

dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Lihatlah pada bagian pertama surat tersebut, yakni ayat 1-10. matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi dan jiwa (nafs) dengan kapasitas baik yang positif maupun negatif. Baik seluruh kejadian kosmos maupun individual yang mendapati dirinya terhempas dalam peristiwa itu pada kenyataannya tengah berhadapan, di setiap tempat dan di setiap saat, dengan keagungan dan keindahan Allah, Ta'ala. Bagian kedua surat itu memberi pengetahuan kepada kita tentang dua hal. Seorang rasul Allah telah membawa pedoman. Kemudian Tsamud menyangkalnya. Dengan menyangkal pedoman itu berarti Tsamud telah menyangkal rasul. Penyangkalan dan tindakan yang menyertainya tidak dapat dipisahkan. Tindakan didahului oleh niat. Penyangkalan batin menjadi tindakan lahir Inilah hakekat realitas tentang manusia sebagai makhluk hidup yang diungkap di sini. Satu tema utama wahyu ilahi ialah bahwa kita bertanggung jawab. Ini juga bahwa semua tanda-tanda terdapat di dumi maupun di langit yang tidak memberi peluang untuk membuat-buat alasan. Sekarang mari kita lihat bagian akhir surat itu, bagian ke-dua ayat 14, dan ayat 15.

lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah). dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Bagian kedua ayat 14 menunjukkan bahwa Allah Ta'ala, ketika membinasakan mereka, melakukannya karena ketidakpatuhan mereka. Hal ini harus dipahami secara benar dalam cahaya murni tauhid. Kita telah mempelajarinya dalam Kitab-Nya, pada saat Allah Ta'ala menunjukkan melalui nama-Nya ar-Rabb yang berarti ketuhanan-Nya meliputi seluruh semesta alam. Dalam nama ar-Rabb terkandung pengertian kekuatan pelestari dan penggiat dalam semua perkara dan peristiwa melalui berbagai hukum yang canggih yang mewakili ketuhanan Allah.. Di sini Allah menyatakan, 'Lalu Tuhan membinasakan mereka,' dan istilah yang Dia gunakan ialah 'Rabbuhum'. Camkan benar-benar. Tuhan meluluhh-lantakkan mereka karena dosa mereka. Dari sini dapat ditarik pengertian bahwa dalam kesatuan eksistensi bumi, sebuah tindakan yang salah karena didorong oleh sikap menyangkal akan mendatangkan tindakan Allah. Lanjutan firman itu, 'dan mereka diratakan dengan tanah.' Ini berarti bahwa bumi, dalam tabiat kepatuhan dalam hal energi alam sesuai dengan penciptaan kejadian, menghancurleburkan mereka.

Di sini, Allah membawa kita pada ujung-ujung batas pemahaman yang bisa kita capai. Allah memberi karunia khusus berupa pemahaman mendalam kepada kaum mukmin akan sistem kerja penciptaan, dan keterhubungan antara tindakan manusia dengan niatnya sebagai bagian dari penciptaan itu dan kenyataaan mempesonakan bahwa di dalamnya, melalui tanda-tanda-Nya, Allah Ta'ala bermanifestasi setiap saat, sehingga perataan bumi pun merupakan manifestasi keadilan ilahi. Kemudian perhatikan bagaimana Allah tidak membolehkan kita menyekutukan-Nya. Allah menyetakan: 'Dan Dia tidak takut akan konsekuensi yang terjadi.' Inilah kesempurnaan tauhid. Dengan ini, Allah, mengangkat hijab sesaat guna menunjuki kaum muminun, lalu menurunkannya kembali kalau dia telah melakukan kesirikan. Rasul, sallalahu alayhi wa salam. menyatakan bahwa Allah berfirman, 'Dia mengirim manusia ke dalam api neraka dan Dia tidak peduli.' Allah berada di atas segala hal yang mungkin disekutukan dengan-Nya.

Sebagaimana diketahui oleh tiap orang, sebuah gempa bumi di bawah Lautan India, melalui guncangan-guncangannya mendatangkan gelombang pasang raksasa, kadang dengan kecepatan kurang lebih 300 kilometer per jam, yang menggulung pantai-pantai di Sumatra, Thailand, Sri Lanka dan bahkan sampai ke Somalia. Kita semua mengetahui malapetaka gelombang besar ini telah menyapu bersih pantai-pantai di benua Asia ini dan juga merenggut korban nyawa yang berjumlah sangat besar. Peristiwa ini memberi kita dua pemahaman yang wajib kita miliki sebagai kaum muslimin. Satu adalah makna tentang bencana semacam itu. Dan yang lain ialah yang telah diajarkan kepada kita tentang tingkah polah baik mereka yang selamat dari bencana maupun mereka yang melihatnya dari kejauhan. Barangkali aspek yang paling menyesakkan dada dalam peristiwa itu dan yang penulis maksudkan yang jauh lebih mengerikan dibanding nilai manusia yang sangat berharga adalah kegagalan kaum muslimin dalam membuat semacam opini mereka, dalam tanggapan material terhadap peristiwa tersebut, dan dalam tindakan mereka meninggalkan Dien yang diikutinya. Karena kejadian tersebut merupakan manifestasi kekuasaan Allah Ta'ala dan karena kejadian yang merenggut korban jiwa dan harta benda, kaum muslimin harus menjelaskan pada dunia bahwa tidak ada apa pun yang terjadi di muka bumi ini yang tidak merupakan manifestasi kekuasaan Allah, keadilan Allah, dan rahmat Allah.

Mass media kafir, dalam upaya penuh keputus-asaan, berusaha untuk menjelaskan suatu keadaan dunia yang berada dalam kuasa fenomena kosmos, sangat ingin memperlihatkan bahwa masih ada keberanian dan ketenangan penyembah berhala dalam menghadapi kekacaubalauan tanpa makna yang membuat manusia berkumpul bersama sebagai bukti pendukung paham humanisme.

Perlombaan kemanusiaan dengan wujud pemberian sumbangan yang diberitakan secara besar-besaran di media yang bercampur dengan rasa takut terhadap alam dan sebuah pretensi bahwa sumbangan tersebut merupakan wakil dari ikatan batin kemanusiaan. Tidak ada di mana pun orang Islam yang mengangkat suara untuk melakukakan definisi ulang tentang kejadian tersebut dan bicara dengan jelas - misalnya, perisitiwa ini bukan bencana alam tanpa makna, tetapi merupakan hukuman dari Allah, Rabbul alamin. Sebuah kejadian dengan skala sebesar ini tentu merupakan indikasi bahwa ada suatu kesalahan serius di tempat-tempat tersebut dan sebelum kejadian ini tentu ada di antaranya, sebagaimana dengan Tsamud dan kaumnya, pertama penyangkalan terhadap kekuasaan ilahi, dan kedua tindakan memalukan yang mengikuti penyangkalan itu. Mari kita lihat terlebih dulu pada pusat gempa dampak banjir, Aceh. Di sini ada bukti baik sebelum kejadian, lebih-lebih, sesudahnya.

Hal pertama yang harus diketahui tentang Aceh, oleh kita sebagai sesama muslim, tentu mengingatkan kita akan Indonesia. Sebagaimana kita tahu Indonesia yang berpenduduk muslim merupakan rangkaian negara kepulauan yang terbentang sepanjang beribu-ribu kilometer. Sejalan dengan negeri kepulauan ini, umat Muslim dahulu memiliki suatu pemerintahan berupa sejumlah kesultanan yang memungkinkan budayanya berkembang subur dalam hal sosial maupun finansial.

Pada saat itu Belanda di Benua Eropa merupakan kekuatan efektif yang menghancurleburkan monarki kristen yang berbasis penguasaan tanah dan menggantikannya dengan kaum republik protestan-ateis yang dikendalikan oleh kekuatan uang dari perbankan ribawi. Dengan kekejaman dan kezaliman mereka mulai, di Indonesia, menggunakan taktik serupa yang telah mereka terapkan di monarki-monarki Eropa, Inggris kemudian Perancis. Dengan datangnya Perang Dunia II, bankisme berada pada puncak perkembangannya yang sangat cepat. Lalu dengan korban pembantaian massal para benggolan bank dari Amerika Serikat menjalankan tirani mereka. Kekuatan kafir dengan serta merta mengambilalih kekayaan melimpah Indonesia, dan tanpa malu-malu memberikan perusahaan-perusahaan induk berskala besar pada wirausahawan Cina. Sebagai akibat dari trauma ini bangsa Indonesia mewarisi dua keadaan yang saling bertentangan. Satu, mereka dulu merupakan bangsa Muslim yang besar. Dua, kebutuhan praktis akan pemerintah lokal telah hancur, dengan menyisakan para Sultan sekadar sebagai boneka-boneka penghias sekalipun memegang kekuasaan pasif, yang merupakan ancaman terus-menerus terhadap kekuasaan uang.

Kissinger, salah seorang ideolog bankir kenamaan, mengumumkan kebijakan baru mereka. Indonesia, katanya, terlalu besar! Negeri ini harus dipecah-pecah menjadi bagian fungsional demokrasi yang lebih kecil. Sejalan dengan rencana ini, para mogul minyak membawa seorang penduduk asli Aceh dari Swedia. Kemudian para umat Muslim lokal Swedia melakukan konfirmasi bahwa mereka tidak melihatnya dalam kehidupan sosial mereka. Lalu tiba-tiba orang itu muncul di Aceh, den menyatakan bahwa Aceh, karena dahulu terkenal sebagai pusat kajian Islam, harus menjadi negara merdeka berasas Islam. Dalam waktu sigkat, senjata-senjata diselundupkan ke Aceh. Senjata-senjata ini, pada mulanya pasti, tidak berasal dari kaum ekstrimis Wahhabi, tetapi menurut Intelijen Indonesia berasal dari perlengkapan militer Amerika. Terperangkapnya Aceh oleh sayap komoditas kekuasaan bankir merupakan jalan awal menuju kekacauan dalam negeri yang akan memecah belah kaum muslim Indonesia.

Tanggapan pertama terhadap malapetaka ini dari pihak Amerika adalah, tanpa menunggu lebih lama lagi, adalah langsung mengirim kapal induk untuk membuang sauh di sana. Personel militer mereka berkerumun di provinsi tersebut. Sebagaimana lazimnya dewasa ini, kaum militer datang dengan sejumlah besar personel intelijen. Kemudia tayangan kemilau media yang penuh rasa kemanusiaan dan ketakutan berlanjut terus, dengan pengulangan tanpa akhir rekaman gambar yang itu-itu saja, di balik layar permainan yang sebenarnya tengah mulai dimainkan. Segera muncul militer di Sri Lanka, program pemadaman pemberontakan pasukan Macan Tamil. Begitu selesai di sana keberhasilan ini akan ditawarkan ke India dalam penyelesaian konflik. Konfirmasi semua ini datang ketika Pemerintah India dengan bijaksana menyebutnya sebagai penghentian terhadap bantuan asing, dengan mengatakan mereka dapat mengatasi sendiri krisis tersebut. Begitu Intelijen Indonesia memberi peringatan kepada Jakarta, Pemerintah dengan bijaksana berupaya menutup-nutupi "mereka" yang membantu dengan menamainya sebagai 'relawan' untuk Sumatra. Jean-Christophe Rufin telah menjelaskan tema ini secara rinci dalam bukunya berjudul 'The Humanitarian Trap' (Jebakan Kemanusiaan). Sub-judulnya adalah 'When Humanitarian Aid Replaces War' (Ketika Bantuan Kemanusiaan Menggantikan Perang) ('Le Pi�ge Humanitaire', Poche Pluriel).

Jika yang menjadi pusat gempa berada dalam kawasan krisis politik Aceh, daerah pesisir yang lebih besar pada benua Asia yang terkena merupakan satu fenomena sosial, satu skandal manusia yang paling keji pada jaman yang penuh kemerosotan moral saat ini Berkali-kali kita disodori dengan pembelaan bernada simpati akan ketergantungan orang pada turisme dan tanpa kegiatan wisata ini kita tidak akan punya rupiah. Kebenaran persoalan ini ialah semua itu bukan untuk turisme, banyak tempat-tempat tersebut merupakan pantai tropis yang telah ditinggalkan penduduknya. Sebetulnya, satu saja pantai yang hancur telah dijadikan film menarik yang memperlihatkan gambaran pantai tujuan berlibur yang didatangi kaum hippie dan mafia budi daya obat mematikan. Inilah yang biasanya disebut dengan kaum 'turis' - apa yang sedang mereka LAKUKAN di sana? Beribu-ribu penduduk Thailand dan Sri Lanka telah dipaksa pergi dari desa-desa dan kota-kota asal mereka untuk bekerja sebagai pelayan bar, night club dan hotel yang setiap tahun meraup sejumlah besar uang dari industri perbudakan setara dengan industri berskala sedang Eropa dan Amerika. Penghasilan setara dengan dua minggu kerja kaum kapitalis. Semua hal boleh dilakukan. Tidak akan ada pertanyaan. Tidak ada batasan umur terhadap kesenangan seksual. Mereka adalah para pemangsa, dan para budak-penduduk lokal bergantung padanya, dengan caranya sendiri termasuk juga para pemangsa itu. Berapa banyak ibu-ibu Thailand yang merasa sangat takut bahwa anak lelaki atau perempuan mereka akan pergi ke Phuket mencari kerja? Industri wisata yang menjadi biang keroknya. Lihat ke mana kekayaan itu pergi- tidak ke tangan-tangan penduduk lokal, tetapi ke bank-bank. Inilah satu industri yang tidak saja mengeruk kekayaan luar biasa banyak untuk kapitalisme korporasi tetapi bahkan lebih banyak mendatangkan kehancuran pada realitas sosial dan budaya penduduk dari Maroko hingga Chile.

Bukti lain akan kebingungan moral dan kebangkrutan baik orang-orang yang selamat maupun para penyelamat gadungan terletak pada pengabdian pada kebaktian semu berkedok kerukunan antaragama. Orang-orang Muslim dipaksa keluar dan berdiri di bawah patung-patung emas budha, campur aduk dengan katolik. Keadaan ini tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, pesta pora �unjuk kasih� kaum humanis terus berlanjut dalam pasar uang. Bencana ini memberi kesempatan ironis kepada kaum teroris Arab. Berjuta-juta dolar terbang melintasi dunia, tanpa dipertanyakan, dilindungi di balik kata-kata magis 'Dana Bencana Tsunami'.

Citra sejati akibat buruk dan operasi penyelamatan yang tercela tersebut tergambar jelas dari dua penjahat kelas dunia. Sekretaris-Jenderal PBB menatap tanpa daya dari kejauhan, sambil menggumamkan suara yang tidak jelas terdengar. Tetapi masih mungkin kita menangkap apa yang dia katakan. '...kejadian terburuk yang pernah aku lihat ... memerlukan sejumlah sangat besar uang ... pelbagai pemerintah harus membantu!' Di belakangnya berdiri sosok sinis kepala Bank Dunia, dengan seringai penuh arti. Salah seorang anggota rombongannya, yang terdengar oleh Intelijen Indonesia berseru gembira, 'Ada lebih banyak uang di sini dibanding dalam Perang Irak!'

Seorang lelaki mendatangi Rasul, sallalahu alayhi wa salam, dan berkata, 'Wahai Rasul Allah, aku telah mendapat kekayaan, apa yang harus aku perbuat?' Rasul menjawab, 'Gunakan untuk kepentingan keluargamu.' Lelaki itu berkata, 'Aku sudah melakukannya. Masih ada lagi.' Rasul kembali berkata, 'Kemudian, gunakan untuk tetanggamu.' Lelaki itu menyahut, 'Aku telah mengerjakannya, tetapi masih ada juga.' Rasul menanggapi, 'Gunakan untuk tetanggamu yang berikutnya.' Sekali lagi lelaki itu berkata, 'Aku telah melaksanakannya. Masih ada juga sisanya.' Pada saat itu, Rasul sallalahu alayhi wa salam menjadi marah dan berpaling dari orang itu, merasa terganggu karena ketidakmampuan orang itu memahami sabda Nabi.

Kaum muslimin di Afrika Selatan dan Botswana sibuk mengumpulkan uang untuk dikirim sebagai sumbangan ke negara lain, sedangkan tepat di depan mereka terbentang kemiskinan, kekurangan gizi, dan yang terpenting dari semua itu ialah kebutuhan mendesak untuk aktivitas dakwah. Di Lesotho seorang anak lelaki berusia 14 tahun baru-baru ini masuk penjara dan dihukum selama empat tahun karena mencuri sepotong roti. Pada saat yang sama, Raja Lesotho terpampang mencolok di sebuah majalah sedang mengadakan pesta pora makan siang di istananya. Inilah puncak kebodohan dan kepandiran baik sebagai sebab maupun akibat yang tersangkut dalam operasi bantuan kemanusiaan.. Dalam surat az-Zilzal - Gempa Bumi (99:1-9), Allah Ta'ala berfirman:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: �Mengapa bumi (jadi begini)?�, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.�

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.�

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.

Tidak dapat dipastikan apakah surat ini Makkiyah atau Madaniyah. Yang jelas surat ini mengacu pada gempa bumi yang mengumandangkan Hari Perhitungan. Jelas, dua ayat terakhir mengndung acuan pada dua lelaki yang pernah hidup di Madinah. Tetapi Allah juga mengemukakan sebuah konfrontasi antara dua peristiwa puncak kosmos, kehancuran dunia dan nasib dua lelaki di kota Madinah, yang salah dalam mengartikannya.

Ibn 'Atiyya berkata bahwa Zilzal berarti gerakan, tetapi Allah, Ta'ala berfirman, 'Zilzalaha', dan ini berarti guncangan.

dan manusia bertanya: �Mengapa bumi (jadi begini)?�,

Ibn 'Atiyya berkata, 'Inilah ungkapan ketakjuban akan bahaya yang dilihat manusia. Sebagian besar mufasir berkata bahwa yang dimaksud manusia di sini ialah kaum kafir. Hal itu karena dia melihat apa yang tidak sanggup dia bayangkan atau percayai. Tetapi, beberapa mufasir generasi awal mengatakan bahwa ayat ini mengacu baik pada mumin maupun kafir.

pada hari itu bumi menceritakan beritanya

At-Tabari dan lain-lain mengatakan bahwa ini merupakan ungkapan kiasan. Ayat ini mengacu pada 'Amr Allah - Perintah Allah.'

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

Di sini Allah memberi pengetahuan, bahwa siapa saja yang melakukan tindakan, baik tindakan besar maupun kecil, akan melihatnya. Aisyah, radiallahu 'anha, berkata dalam sebuah hadis: 'Wahai Rasulullah, apakah Anda melihat kebaikan- bir - yang Abdullah ibn Judan lakukan untuk keluarganya? Dia juga memberi makan orang yang kelaparan. Adakah pahala untuknya?' Beliau berkata: 'Tidak. Tidak sekalipun dia berkata: �Ya, Tuhanku, ampuni kesalahan-kesalahanku di Hari Pengadilan.�' Sallallahu 'alayhi wa sallam menyebut ayat ini 'Ayatul-fadd'. Ayat Penyelamat. Ibn 'Atiyya melanjutkan:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarra hpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.

Surat ini diturunkan ketika Abu Bakar makan bersama Nabi, sallalahu alayhi wa salam. Abu Bakar berpaling dari makanannya dan mulai menangis. Rasul bertanya, 'Mengapa engkau menangis?' Dia menjawab: 'Wahai Rasul Allah, akankah aku ditanyai tentang sesuatu yang seberat dzarrah?� Rasul Allah menjawab: �Hai, Abu Bakr, pernahkah engkau mengetahui di bumi ini ada suatu perbuatanmu yang engkau pandang remeh? Boleh jadi engkau telah melakukan kesalahan seberat beberapa dzarrah di bumi, tetapi Allah akan menjadilkannya baik di akhirat.�

Camkan dalam menceritakan kisah ini, Ibn 'Atiyya telah mengindikasikan bahwa Rasul sallalahu alayhi wa salam memisahkan antara tindakan menganggap sepele amal dan tindakan salah itu sendiri. Dengan kata lain, karena Abu Bakar tidak pernah menganggap remeh satu perbuatan pun dia diselamatkan oleh Allah dari banyak tindakan salah yang kecil-kecil. Dalam Diwannya, Shaykh kita, Sayyidi Muhammad ibn al-Habib, rahimullah, mengatakan, 'Waspadalah, jangan sekali kali engkau menganggap hina sesuatu sebesar dzarrah sekalipun, karena mereka dibentuk oleh Al Hayyu dan Al Qayyum.' Ibn 'Atiyya meneruskan:

'An-Naqqash berkata : �Mereka berkata, 'Ada dua lelaki di Madinah, satu di antaranya tidak pernah hirau dengan hal-hal yang kecil dan sepele yang dia perbuat. Dia menyangka bahwa dia tidak akan ditanyai mengenai hal yang sepele tadi. Lelaki yang lain ingin memberikan sedekah. Tetapi dia tidak mendapati kecuali barang-barang yang sederhana lalu dia memberikannnya tanpa menganggapnya sepele.' Ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka. Seolah-olah hendak dikatakan - kepada seseorang yang memberi dan tidak menganggapnya sepele, haruslah dia memberi dan untuk yang enggan memberi, dia pun harus memberi sekalipun dia enggan.

Kita memohon perlindungan Allah agar kita tidak menganggap hina sesuatu hal, bahkan yang sebesar dzarrah sekalipun. Kita memohon petunjuk kepada Allah agar kita menjadi waspada dan peduli terhadap kebutuhan kaum muslim yang tinggal berdekatan dengan kita.

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi -
http://wakalanusantara.com/detilurl/Az.Zalzilah/158

No comments:

Post a Comment