Cara mudah untuk menghafal Al-Qur’an

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

v Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?


Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

v Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?


Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

v Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah - صلى الله عليه وسلم - tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Wirid Rasulullah - صلى الله عليه وسلم - di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

v Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?


Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

v Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an


o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Disusun oleh: Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim (Imam dan Khatib Mesjid Nabawi)

1Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445
http://tarbiyah-sg.info/

Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta

Ada sebuah nasihat yang sangat Indah kepada diri saya sendiri yang juga insyaallah bermanfaat bagi pembaca. Nasihat ini saya ambilkan dari kitab Riyadus –Shalihin yang ditulis oleh orang sholeh zaman dahulu yang terkenal keikhlasannya. Saking ikhlasnya Imam Nawawi, konon kitab asli dari Riyadus Shalihin tersebut tidak bisa dibakar oleh api.

Nasihat ini sendiri berasal dari hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda,

Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kemu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”.
(HR. Muslim).

Bayangkan, bila Allah mengirimkan awan khusus untuk menyirami kebun kita. Di kala orang lain kekeringan, lahan kita tetap subur. Di kala usaha lain pada bangkrut usaha kita tetap maju, dikala krisis moneter menghantam negeri ini – kita tetap survive. Dan ketika usaha kita berjalan baik sementara saudara-sauadara kita kesulitan. sepertiga hasil usaha kita untuk mereka – alangkah indahnya sedeqah ini.

Bagaimana kita bisa memperoleh pertolongan Allah dengan awan khusus tersebut ?, kuncinya ya yang di hadits itu : kita bersama keluarga kita hanya mengkonsumsi sepertiga dari hasil kerja kita. Sepertiganya lagi kita investasikan kembali, dan yang sepertiga kita sedeqahkan ke sekeliling kita yang membutuhkannya.

Karena janji Allah dan rasulNya pasti benar, maka kalau tiga hal tersebut kita lakukan – Insyaallah pastilah awan khusus tersebut mendatangi kita. Namun jangan dibayangkan bahwa awan khusus tersebut harus benar-benar berupa awan yang mendatangi kita. Bisa saja awan khusus tersebut berupa teman –teman kita yang jujur yang memudahkan kita dalam berusaha, atasan kita yang adil yang memperjuangkan hak-hak kita, atau karyawan kita yang hati-hati yang menjaga asset usaha kita, dan berbagai bentuk ‘awan khusus’ lainnya.

Wallahu A’lam bis showab.
Written by Muhaimin Iqbal
http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65:13&catid=1:latest-news&Itemid=50

Az Zalzilah

Tulisan yang dibuat sesaat setelah peristiwa Tsunami (Desember 2004) ini dapat kembali menjadi bahan renungan pasca-Gempa Sumatra Barat.

Allah Ta'ala telah berfirman dalam surat al-Ghafir (40:81-85)

Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?�

Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan akhir dari orang-orang yang sebelum mereka? Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, akan tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.�

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa Tanda yang Jelas, mereka merasa puas dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.�

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'�

Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami.�

Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

Perenungan seksama terhadap Qur'an Mulia akan memberi pemahaman yang jelas bagi kaum muminun bahwa di dunia ini segala hal yang dapat dicerap indra, jika kita ingin mendapat kebijaksanaan, harus dikenali sebagai makna-makna.. Allah menjelaskan dalam seluruh bagian Qur'an bahwa dunia merupakan kawasan pengalaman panca indera, pencerapan dan peristiwa, dan semua ini menunjukkan makna-makna. Di sana ada tanda-tanda, di sana ada pengingat-pengingat. Demikian juga, Allah dalam kemurah-hatian-Nya memberi tahu orang beriman bahwa di akhirat, yakni dunia gaib, kita akan berada dalam realitas makna-makna, tetapi makna-makna akan kita alami sebagai cerapan indera - berupa surga dengan sungai--sungai yang mengalir air di bawahnya, atau api mengerikan yang menghanguskan dan gempa bumi. Dalam sudut pandang pemahaman orang-orang beriman akan dualisme semacam inilah Haji di 'Arafah merupakan pengingat sesungguhnya akan Hari Berkumpul di Padang Mahsyar. Itulah sebabnya Rasul, sallalahu alayhi wa salam. menyatakan bahwa, 'Haji ialah 'Arafah.' Penunaian tuntas Haji harus direnungkan, sekalipun hanya dalam beberapa kejap. seraya berwukuf di Padang 'Arafah.

Imam al-Ghazali, radiyallahu anhu, menerapkan kebijaksanaan ini ketika beliau menjelaskan kepada kaum muminun bahwa ketika berhadapan dengan seekor singa lapar, orang akan diselimuti rasa takut tetapi justru, pada saat yang sama, sebetulnya ada singa lain yang lebih menakutkan yang semakin dekat, dekat dan siap menerkam dari belakang dan itulah saat yang penuh kerepotan berupa Hari Perhitungan di Hari Kiamat.

Perkara ini dengan jelas dinyatakan dalam surat Asy-Syams (91:1-15)

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.�

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: "Inilah unta betina Allah, jadi biarkanlah ia minum!". Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah).�

dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Lihatlah pada bagian pertama surat tersebut, yakni ayat 1-10. matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi dan jiwa (nafs) dengan kapasitas baik yang positif maupun negatif. Baik seluruh kejadian kosmos maupun individual yang mendapati dirinya terhempas dalam peristiwa itu pada kenyataannya tengah berhadapan, di setiap tempat dan di setiap saat, dengan keagungan dan keindahan Allah, Ta'ala. Bagian kedua surat itu memberi pengetahuan kepada kita tentang dua hal. Seorang rasul Allah telah membawa pedoman. Kemudian Tsamud menyangkalnya. Dengan menyangkal pedoman itu berarti Tsamud telah menyangkal rasul. Penyangkalan dan tindakan yang menyertainya tidak dapat dipisahkan. Tindakan didahului oleh niat. Penyangkalan batin menjadi tindakan lahir Inilah hakekat realitas tentang manusia sebagai makhluk hidup yang diungkap di sini. Satu tema utama wahyu ilahi ialah bahwa kita bertanggung jawab. Ini juga bahwa semua tanda-tanda terdapat di dumi maupun di langit yang tidak memberi peluang untuk membuat-buat alasan. Sekarang mari kita lihat bagian akhir surat itu, bagian ke-dua ayat 14, dan ayat 15.

lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah). dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Bagian kedua ayat 14 menunjukkan bahwa Allah Ta'ala, ketika membinasakan mereka, melakukannya karena ketidakpatuhan mereka. Hal ini harus dipahami secara benar dalam cahaya murni tauhid. Kita telah mempelajarinya dalam Kitab-Nya, pada saat Allah Ta'ala menunjukkan melalui nama-Nya ar-Rabb yang berarti ketuhanan-Nya meliputi seluruh semesta alam. Dalam nama ar-Rabb terkandung pengertian kekuatan pelestari dan penggiat dalam semua perkara dan peristiwa melalui berbagai hukum yang canggih yang mewakili ketuhanan Allah.. Di sini Allah menyatakan, 'Lalu Tuhan membinasakan mereka,' dan istilah yang Dia gunakan ialah 'Rabbuhum'. Camkan benar-benar. Tuhan meluluhh-lantakkan mereka karena dosa mereka. Dari sini dapat ditarik pengertian bahwa dalam kesatuan eksistensi bumi, sebuah tindakan yang salah karena didorong oleh sikap menyangkal akan mendatangkan tindakan Allah. Lanjutan firman itu, 'dan mereka diratakan dengan tanah.' Ini berarti bahwa bumi, dalam tabiat kepatuhan dalam hal energi alam sesuai dengan penciptaan kejadian, menghancurleburkan mereka.

Di sini, Allah membawa kita pada ujung-ujung batas pemahaman yang bisa kita capai. Allah memberi karunia khusus berupa pemahaman mendalam kepada kaum mukmin akan sistem kerja penciptaan, dan keterhubungan antara tindakan manusia dengan niatnya sebagai bagian dari penciptaan itu dan kenyataaan mempesonakan bahwa di dalamnya, melalui tanda-tanda-Nya, Allah Ta'ala bermanifestasi setiap saat, sehingga perataan bumi pun merupakan manifestasi keadilan ilahi. Kemudian perhatikan bagaimana Allah tidak membolehkan kita menyekutukan-Nya. Allah menyetakan: 'Dan Dia tidak takut akan konsekuensi yang terjadi.' Inilah kesempurnaan tauhid. Dengan ini, Allah, mengangkat hijab sesaat guna menunjuki kaum muminun, lalu menurunkannya kembali kalau dia telah melakukan kesirikan. Rasul, sallalahu alayhi wa salam. menyatakan bahwa Allah berfirman, 'Dia mengirim manusia ke dalam api neraka dan Dia tidak peduli.' Allah berada di atas segala hal yang mungkin disekutukan dengan-Nya.

Sebagaimana diketahui oleh tiap orang, sebuah gempa bumi di bawah Lautan India, melalui guncangan-guncangannya mendatangkan gelombang pasang raksasa, kadang dengan kecepatan kurang lebih 300 kilometer per jam, yang menggulung pantai-pantai di Sumatra, Thailand, Sri Lanka dan bahkan sampai ke Somalia. Kita semua mengetahui malapetaka gelombang besar ini telah menyapu bersih pantai-pantai di benua Asia ini dan juga merenggut korban nyawa yang berjumlah sangat besar. Peristiwa ini memberi kita dua pemahaman yang wajib kita miliki sebagai kaum muslimin. Satu adalah makna tentang bencana semacam itu. Dan yang lain ialah yang telah diajarkan kepada kita tentang tingkah polah baik mereka yang selamat dari bencana maupun mereka yang melihatnya dari kejauhan. Barangkali aspek yang paling menyesakkan dada dalam peristiwa itu dan yang penulis maksudkan yang jauh lebih mengerikan dibanding nilai manusia yang sangat berharga adalah kegagalan kaum muslimin dalam membuat semacam opini mereka, dalam tanggapan material terhadap peristiwa tersebut, dan dalam tindakan mereka meninggalkan Dien yang diikutinya. Karena kejadian tersebut merupakan manifestasi kekuasaan Allah Ta'ala dan karena kejadian yang merenggut korban jiwa dan harta benda, kaum muslimin harus menjelaskan pada dunia bahwa tidak ada apa pun yang terjadi di muka bumi ini yang tidak merupakan manifestasi kekuasaan Allah, keadilan Allah, dan rahmat Allah.

Mass media kafir, dalam upaya penuh keputus-asaan, berusaha untuk menjelaskan suatu keadaan dunia yang berada dalam kuasa fenomena kosmos, sangat ingin memperlihatkan bahwa masih ada keberanian dan ketenangan penyembah berhala dalam menghadapi kekacaubalauan tanpa makna yang membuat manusia berkumpul bersama sebagai bukti pendukung paham humanisme.

Perlombaan kemanusiaan dengan wujud pemberian sumbangan yang diberitakan secara besar-besaran di media yang bercampur dengan rasa takut terhadap alam dan sebuah pretensi bahwa sumbangan tersebut merupakan wakil dari ikatan batin kemanusiaan. Tidak ada di mana pun orang Islam yang mengangkat suara untuk melakukakan definisi ulang tentang kejadian tersebut dan bicara dengan jelas - misalnya, perisitiwa ini bukan bencana alam tanpa makna, tetapi merupakan hukuman dari Allah, Rabbul alamin. Sebuah kejadian dengan skala sebesar ini tentu merupakan indikasi bahwa ada suatu kesalahan serius di tempat-tempat tersebut dan sebelum kejadian ini tentu ada di antaranya, sebagaimana dengan Tsamud dan kaumnya, pertama penyangkalan terhadap kekuasaan ilahi, dan kedua tindakan memalukan yang mengikuti penyangkalan itu. Mari kita lihat terlebih dulu pada pusat gempa dampak banjir, Aceh. Di sini ada bukti baik sebelum kejadian, lebih-lebih, sesudahnya.

Hal pertama yang harus diketahui tentang Aceh, oleh kita sebagai sesama muslim, tentu mengingatkan kita akan Indonesia. Sebagaimana kita tahu Indonesia yang berpenduduk muslim merupakan rangkaian negara kepulauan yang terbentang sepanjang beribu-ribu kilometer. Sejalan dengan negeri kepulauan ini, umat Muslim dahulu memiliki suatu pemerintahan berupa sejumlah kesultanan yang memungkinkan budayanya berkembang subur dalam hal sosial maupun finansial.

Pada saat itu Belanda di Benua Eropa merupakan kekuatan efektif yang menghancurleburkan monarki kristen yang berbasis penguasaan tanah dan menggantikannya dengan kaum republik protestan-ateis yang dikendalikan oleh kekuatan uang dari perbankan ribawi. Dengan kekejaman dan kezaliman mereka mulai, di Indonesia, menggunakan taktik serupa yang telah mereka terapkan di monarki-monarki Eropa, Inggris kemudian Perancis. Dengan datangnya Perang Dunia II, bankisme berada pada puncak perkembangannya yang sangat cepat. Lalu dengan korban pembantaian massal para benggolan bank dari Amerika Serikat menjalankan tirani mereka. Kekuatan kafir dengan serta merta mengambilalih kekayaan melimpah Indonesia, dan tanpa malu-malu memberikan perusahaan-perusahaan induk berskala besar pada wirausahawan Cina. Sebagai akibat dari trauma ini bangsa Indonesia mewarisi dua keadaan yang saling bertentangan. Satu, mereka dulu merupakan bangsa Muslim yang besar. Dua, kebutuhan praktis akan pemerintah lokal telah hancur, dengan menyisakan para Sultan sekadar sebagai boneka-boneka penghias sekalipun memegang kekuasaan pasif, yang merupakan ancaman terus-menerus terhadap kekuasaan uang.

Kissinger, salah seorang ideolog bankir kenamaan, mengumumkan kebijakan baru mereka. Indonesia, katanya, terlalu besar! Negeri ini harus dipecah-pecah menjadi bagian fungsional demokrasi yang lebih kecil. Sejalan dengan rencana ini, para mogul minyak membawa seorang penduduk asli Aceh dari Swedia. Kemudian para umat Muslim lokal Swedia melakukan konfirmasi bahwa mereka tidak melihatnya dalam kehidupan sosial mereka. Lalu tiba-tiba orang itu muncul di Aceh, den menyatakan bahwa Aceh, karena dahulu terkenal sebagai pusat kajian Islam, harus menjadi negara merdeka berasas Islam. Dalam waktu sigkat, senjata-senjata diselundupkan ke Aceh. Senjata-senjata ini, pada mulanya pasti, tidak berasal dari kaum ekstrimis Wahhabi, tetapi menurut Intelijen Indonesia berasal dari perlengkapan militer Amerika. Terperangkapnya Aceh oleh sayap komoditas kekuasaan bankir merupakan jalan awal menuju kekacauan dalam negeri yang akan memecah belah kaum muslim Indonesia.

Tanggapan pertama terhadap malapetaka ini dari pihak Amerika adalah, tanpa menunggu lebih lama lagi, adalah langsung mengirim kapal induk untuk membuang sauh di sana. Personel militer mereka berkerumun di provinsi tersebut. Sebagaimana lazimnya dewasa ini, kaum militer datang dengan sejumlah besar personel intelijen. Kemudia tayangan kemilau media yang penuh rasa kemanusiaan dan ketakutan berlanjut terus, dengan pengulangan tanpa akhir rekaman gambar yang itu-itu saja, di balik layar permainan yang sebenarnya tengah mulai dimainkan. Segera muncul militer di Sri Lanka, program pemadaman pemberontakan pasukan Macan Tamil. Begitu selesai di sana keberhasilan ini akan ditawarkan ke India dalam penyelesaian konflik. Konfirmasi semua ini datang ketika Pemerintah India dengan bijaksana menyebutnya sebagai penghentian terhadap bantuan asing, dengan mengatakan mereka dapat mengatasi sendiri krisis tersebut. Begitu Intelijen Indonesia memberi peringatan kepada Jakarta, Pemerintah dengan bijaksana berupaya menutup-nutupi "mereka" yang membantu dengan menamainya sebagai 'relawan' untuk Sumatra. Jean-Christophe Rufin telah menjelaskan tema ini secara rinci dalam bukunya berjudul 'The Humanitarian Trap' (Jebakan Kemanusiaan). Sub-judulnya adalah 'When Humanitarian Aid Replaces War' (Ketika Bantuan Kemanusiaan Menggantikan Perang) ('Le Pi�ge Humanitaire', Poche Pluriel).

Jika yang menjadi pusat gempa berada dalam kawasan krisis politik Aceh, daerah pesisir yang lebih besar pada benua Asia yang terkena merupakan satu fenomena sosial, satu skandal manusia yang paling keji pada jaman yang penuh kemerosotan moral saat ini Berkali-kali kita disodori dengan pembelaan bernada simpati akan ketergantungan orang pada turisme dan tanpa kegiatan wisata ini kita tidak akan punya rupiah. Kebenaran persoalan ini ialah semua itu bukan untuk turisme, banyak tempat-tempat tersebut merupakan pantai tropis yang telah ditinggalkan penduduknya. Sebetulnya, satu saja pantai yang hancur telah dijadikan film menarik yang memperlihatkan gambaran pantai tujuan berlibur yang didatangi kaum hippie dan mafia budi daya obat mematikan. Inilah yang biasanya disebut dengan kaum 'turis' - apa yang sedang mereka LAKUKAN di sana? Beribu-ribu penduduk Thailand dan Sri Lanka telah dipaksa pergi dari desa-desa dan kota-kota asal mereka untuk bekerja sebagai pelayan bar, night club dan hotel yang setiap tahun meraup sejumlah besar uang dari industri perbudakan setara dengan industri berskala sedang Eropa dan Amerika. Penghasilan setara dengan dua minggu kerja kaum kapitalis. Semua hal boleh dilakukan. Tidak akan ada pertanyaan. Tidak ada batasan umur terhadap kesenangan seksual. Mereka adalah para pemangsa, dan para budak-penduduk lokal bergantung padanya, dengan caranya sendiri termasuk juga para pemangsa itu. Berapa banyak ibu-ibu Thailand yang merasa sangat takut bahwa anak lelaki atau perempuan mereka akan pergi ke Phuket mencari kerja? Industri wisata yang menjadi biang keroknya. Lihat ke mana kekayaan itu pergi- tidak ke tangan-tangan penduduk lokal, tetapi ke bank-bank. Inilah satu industri yang tidak saja mengeruk kekayaan luar biasa banyak untuk kapitalisme korporasi tetapi bahkan lebih banyak mendatangkan kehancuran pada realitas sosial dan budaya penduduk dari Maroko hingga Chile.

Bukti lain akan kebingungan moral dan kebangkrutan baik orang-orang yang selamat maupun para penyelamat gadungan terletak pada pengabdian pada kebaktian semu berkedok kerukunan antaragama. Orang-orang Muslim dipaksa keluar dan berdiri di bawah patung-patung emas budha, campur aduk dengan katolik. Keadaan ini tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, pesta pora �unjuk kasih� kaum humanis terus berlanjut dalam pasar uang. Bencana ini memberi kesempatan ironis kepada kaum teroris Arab. Berjuta-juta dolar terbang melintasi dunia, tanpa dipertanyakan, dilindungi di balik kata-kata magis 'Dana Bencana Tsunami'.

Citra sejati akibat buruk dan operasi penyelamatan yang tercela tersebut tergambar jelas dari dua penjahat kelas dunia. Sekretaris-Jenderal PBB menatap tanpa daya dari kejauhan, sambil menggumamkan suara yang tidak jelas terdengar. Tetapi masih mungkin kita menangkap apa yang dia katakan. '...kejadian terburuk yang pernah aku lihat ... memerlukan sejumlah sangat besar uang ... pelbagai pemerintah harus membantu!' Di belakangnya berdiri sosok sinis kepala Bank Dunia, dengan seringai penuh arti. Salah seorang anggota rombongannya, yang terdengar oleh Intelijen Indonesia berseru gembira, 'Ada lebih banyak uang di sini dibanding dalam Perang Irak!'

Seorang lelaki mendatangi Rasul, sallalahu alayhi wa salam, dan berkata, 'Wahai Rasul Allah, aku telah mendapat kekayaan, apa yang harus aku perbuat?' Rasul menjawab, 'Gunakan untuk kepentingan keluargamu.' Lelaki itu berkata, 'Aku sudah melakukannya. Masih ada lagi.' Rasul kembali berkata, 'Kemudian, gunakan untuk tetanggamu.' Lelaki itu menyahut, 'Aku telah mengerjakannya, tetapi masih ada juga.' Rasul menanggapi, 'Gunakan untuk tetanggamu yang berikutnya.' Sekali lagi lelaki itu berkata, 'Aku telah melaksanakannya. Masih ada juga sisanya.' Pada saat itu, Rasul sallalahu alayhi wa salam menjadi marah dan berpaling dari orang itu, merasa terganggu karena ketidakmampuan orang itu memahami sabda Nabi.

Kaum muslimin di Afrika Selatan dan Botswana sibuk mengumpulkan uang untuk dikirim sebagai sumbangan ke negara lain, sedangkan tepat di depan mereka terbentang kemiskinan, kekurangan gizi, dan yang terpenting dari semua itu ialah kebutuhan mendesak untuk aktivitas dakwah. Di Lesotho seorang anak lelaki berusia 14 tahun baru-baru ini masuk penjara dan dihukum selama empat tahun karena mencuri sepotong roti. Pada saat yang sama, Raja Lesotho terpampang mencolok di sebuah majalah sedang mengadakan pesta pora makan siang di istananya. Inilah puncak kebodohan dan kepandiran baik sebagai sebab maupun akibat yang tersangkut dalam operasi bantuan kemanusiaan.. Dalam surat az-Zilzal - Gempa Bumi (99:1-9), Allah Ta'ala berfirman:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: �Mengapa bumi (jadi begini)?�, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.�

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.�

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.

Tidak dapat dipastikan apakah surat ini Makkiyah atau Madaniyah. Yang jelas surat ini mengacu pada gempa bumi yang mengumandangkan Hari Perhitungan. Jelas, dua ayat terakhir mengndung acuan pada dua lelaki yang pernah hidup di Madinah. Tetapi Allah juga mengemukakan sebuah konfrontasi antara dua peristiwa puncak kosmos, kehancuran dunia dan nasib dua lelaki di kota Madinah, yang salah dalam mengartikannya.

Ibn 'Atiyya berkata bahwa Zilzal berarti gerakan, tetapi Allah, Ta'ala berfirman, 'Zilzalaha', dan ini berarti guncangan.

dan manusia bertanya: �Mengapa bumi (jadi begini)?�,

Ibn 'Atiyya berkata, 'Inilah ungkapan ketakjuban akan bahaya yang dilihat manusia. Sebagian besar mufasir berkata bahwa yang dimaksud manusia di sini ialah kaum kafir. Hal itu karena dia melihat apa yang tidak sanggup dia bayangkan atau percayai. Tetapi, beberapa mufasir generasi awal mengatakan bahwa ayat ini mengacu baik pada mumin maupun kafir.

pada hari itu bumi menceritakan beritanya

At-Tabari dan lain-lain mengatakan bahwa ini merupakan ungkapan kiasan. Ayat ini mengacu pada 'Amr Allah - Perintah Allah.'

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

Di sini Allah memberi pengetahuan, bahwa siapa saja yang melakukan tindakan, baik tindakan besar maupun kecil, akan melihatnya. Aisyah, radiallahu 'anha, berkata dalam sebuah hadis: 'Wahai Rasulullah, apakah Anda melihat kebaikan- bir - yang Abdullah ibn Judan lakukan untuk keluarganya? Dia juga memberi makan orang yang kelaparan. Adakah pahala untuknya?' Beliau berkata: 'Tidak. Tidak sekalipun dia berkata: �Ya, Tuhanku, ampuni kesalahan-kesalahanku di Hari Pengadilan.�' Sallallahu 'alayhi wa sallam menyebut ayat ini 'Ayatul-fadd'. Ayat Penyelamat. Ibn 'Atiyya melanjutkan:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarra hpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.

Surat ini diturunkan ketika Abu Bakar makan bersama Nabi, sallalahu alayhi wa salam. Abu Bakar berpaling dari makanannya dan mulai menangis. Rasul bertanya, 'Mengapa engkau menangis?' Dia menjawab: 'Wahai Rasul Allah, akankah aku ditanyai tentang sesuatu yang seberat dzarrah?� Rasul Allah menjawab: �Hai, Abu Bakr, pernahkah engkau mengetahui di bumi ini ada suatu perbuatanmu yang engkau pandang remeh? Boleh jadi engkau telah melakukan kesalahan seberat beberapa dzarrah di bumi, tetapi Allah akan menjadilkannya baik di akhirat.�

Camkan dalam menceritakan kisah ini, Ibn 'Atiyya telah mengindikasikan bahwa Rasul sallalahu alayhi wa salam memisahkan antara tindakan menganggap sepele amal dan tindakan salah itu sendiri. Dengan kata lain, karena Abu Bakar tidak pernah menganggap remeh satu perbuatan pun dia diselamatkan oleh Allah dari banyak tindakan salah yang kecil-kecil. Dalam Diwannya, Shaykh kita, Sayyidi Muhammad ibn al-Habib, rahimullah, mengatakan, 'Waspadalah, jangan sekali kali engkau menganggap hina sesuatu sebesar dzarrah sekalipun, karena mereka dibentuk oleh Al Hayyu dan Al Qayyum.' Ibn 'Atiyya meneruskan:

'An-Naqqash berkata : �Mereka berkata, 'Ada dua lelaki di Madinah, satu di antaranya tidak pernah hirau dengan hal-hal yang kecil dan sepele yang dia perbuat. Dia menyangka bahwa dia tidak akan ditanyai mengenai hal yang sepele tadi. Lelaki yang lain ingin memberikan sedekah. Tetapi dia tidak mendapati kecuali barang-barang yang sederhana lalu dia memberikannnya tanpa menganggapnya sepele.' Ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka. Seolah-olah hendak dikatakan - kepada seseorang yang memberi dan tidak menganggapnya sepele, haruslah dia memberi dan untuk yang enggan memberi, dia pun harus memberi sekalipun dia enggan.

Kita memohon perlindungan Allah agar kita tidak menganggap hina sesuatu hal, bahkan yang sebesar dzarrah sekalipun. Kita memohon petunjuk kepada Allah agar kita menjadi waspada dan peduli terhadap kebutuhan kaum muslim yang tinggal berdekatan dengan kita.

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi -
http://wakalanusantara.com/detilurl/Az.Zalzilah/158

Al-Qur’an di Mata Rasulullah SAW

Al-Quran yang mulia adalah kitab yang menakjubkan dan penuh dengan mukjizat; menakjubkan dalam sifat-sifat dan karakteristiknya, kaya akan nilai-nilai dan petunjuknya, berlimpah akan isi dan hakekat-hakekatnya, berharga akan nash-nashnya dan taujihatnya, kuat dalam memaparkan tujuan dan misinya, aktual dalam menjalankan misi dan risalahnya, aplikatif dalam peranan dan pengaruhnya.

Mukjizat yang sarat dengan konsep dan petunjuknya, kontinyu dalam memberi nilai-nilai positif, memberi secara berkesinambungan dan sesuatu yang baru, yang dapat diterima oleh kaum muslimin disepanjang sejarah Islam hingga mereka mendapati didalamnya apa yang mereka inginkan untuk dijadikan bekal dalam mengarungi hidup di dunia dan menggapai keridloan Allah swt dengan membaca dan mentadabburinya serta berinteraksi dengannya dan menelaah nash-nashnya, mereka bahkan menafsirkan –dalam mengambil- ayat-ayatnya, menjelaskan syariat-syariat yang terkandung didalamnya, mengambil taujihat-taujihatnya, mengambil inti-inti dari dalamnya, dan memetik intisarinya.

Para ulama, para mufassirin dan para mutadabbirin –penelaah- mengambil ini semua isi Al-Quran di sepanjang zaman dan abad –tahun- dan mendokumentasikannya pada setiap masa, hingga Al-Quran tetap utuh memberikan sesuatu yang positif, nilai-nilainya sangat berharga yang tidak akan habis meskipun banyak orang telah mengambilnya, air yang segar mengalir deras dan tidak akan surut walau benyak yang meminumnya, naungannya yang begitu luas dan lapang yang tidak akan hilang walaupun orang berduyun-duyun menggunakannya. Cahayanya bersinar terang tidak akan padam, sedangkan risalah dan misi yang dibawanya selalu mengalami pembaharuan hingga datang abad ke 20 dan bahkan setelahnya hingga alam seluruhnya hancur !!!

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-Quran : “Dia adalah kitabullah, didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia adalah pemisah yang tidak pernah main-main, barangsiapa yang meninggalkannya karena angkuh maka Allah akan membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari hidayah selainya maka Allah akan menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang erat, Al-Quran adalah pemberi peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus, Al-Quran adalah kitab yang tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan lisan, dan memberikan kepuasan para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak akan habis keajaiban-keajaiban yang terkandung didalamnya… Al-Quran adalah kitab yang tidak pernah bosan didengar oleh bangsa Jin sehingga mereka berkata : “Sungguh kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus maka kami beriman kepadanya”. (Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata dengannya akan benar, yang mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum dengannya akan adil dan yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang lurus”.

Al-Quran tidak akan pernah memberikan kepuasan kepada para ulama, dan tidak akan habis keajaiban-keajaibannya, ibarat lautan yang dalam dan tidak diketahui batas kedalamannya, namun semakin diselami kedalaman lautan maka akan ditemukan banyak barang yang bernilai tinggi dan mahal harganya. Para ulama dengan keragaman ilmu dan pengetahuan serta kebudayaan mereka pasti akan menerima dan memetik nilai-nilai yang banyak darinya, bahkan mereka tidak akan pernah merasa puas dan selesai mencari ilmu yang terkandung didalamnya, semakin diselami Al-Qur’an maka akan semakin didapati banyak pelajaran, nilai-nilai, hikmah, arahan dan petunjuk-petunjuknya serta lain-lainnya. etapa banyak nilai-nilai yang telah mereka dokumentasikan, mengeluarkan kandungannya, namun Al-Quran tetap masih memberi dan memberi, bahkan terus menyeru kepada para pecinta yang lainnya untuk ikut mengambil seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, mencari nilai-nilai yang terkandung dan mendokumentasikannya.

Seorang Mu’min saat mentadabburkan dan berinteraksi dengan Al-Quran dengan baik dan benar, menelaah apa yang terkandung didalamnya akan nilai-nilai, petunjuk dan ajaran-ajarannya. Jika dibandingkan dengan para pendahulu mereka, maka akan dijumpai banyak inovasi dan inspirasi sehingga dapat memperbaiki persepesi yang salah terhadap orang-orang yang berkeinginan menutup pintu tadabbur terhadap Al-Quran dan berinteraksi dengannya.

Pintu interpretasi –menafsirkan- Al-Quran tidak akan pernah tertutup, luasnya lahan tafsir tidak akan pernah habis, bahkan umat manusia dipanjang zaman akan terus membutuhkan kepada penafsiran baru terhadap Al-Quran yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dialami di zaman mereka, menyelesaikan problema yang dihadapi masyarakat, menjawab segala syubhat baru yang disebarkan oleh musuh-musuhnya, mempererat tali silaturrahim umat Islam dengan Al-Quran dan memperbaiki hubungan diantara mereka dan kehidupan mereka.

Kita dizaman modern saat ini lebih membutuhkan kepada Al-Quran, membaca dan mentadabburkannya, memahami dan menafsirkannya, hidup dan berinteraksi dengannya, mengeluarkan nilai-nilai yang berharga darinya, bergerak dengannya, berjihad melawan musuh dengannya, mengislah diri kita dan masyarakat melalui hidayahnya, menegakkan manhaj-manhaj hidup kita dengan panji-panji, system dan taujihat-taujihatnya. Karena saat ini merupakan zaman yang banyak kesesatannya seperti yang telah disebarkan tiga golongan sesat –yahudi, nasrani dan musyrik- terhadap umat manusia, dan melubangi garis pertahanan utama, menguasai tempat-tempat penting didalam akal, hati, masyarakat dan kehidupan umat manusia, sehingga jalan akhirnya adalah harus kembali kepada Al-Quran dan menerimanya untuk menghadapi musuh dan berjihad melawan mereka dengan petunjuknya.

Kita yang saat ini hidup dizaman yang penuh dengan kebobrokan dan penyakit, hampir terjerumus kelembah apinya, kita telah diuji oleh Allah untuk menghadapi musuh-musuhnya, diuji untuk tegak berdiri di medan pertempuran bersama mereka, menambal segala kebocoran yang terjadi ditengah mereka, memberikan kepada kita menjadi prajurit dan penerusnya, pengmban amanah dan pemerhati terhadap Al-Quran. Kita berharap Allah menolong kita dari ujian ini, memberikan kebehasilan dan taufik dimedan ini, teguh dan tegar menuju kemenangan disegala pertempuran, mengharap ganjaran dan pahala di dunia serta surga dihari kiamat.

Allah dengan karunia-Nya telah menganugrahkan kepada kita untuk menelaah Al-Quran dengan cara mentadabburkannya, memahaminya dan menafsirkannya, walaupun sebagai usaha yang masih terbatas, kurang dan sedikit, namun kita memohon kepada Allah yang Maha Esa untuk selalu hidup dibawah naungan Al-Quran, selalu bersamanya dalam mengarungi perjalanan yang indah dan menyenangkan, berusaha merengkuh darinya nilai-nilai yang berharga, meneguk telaga yang jernih, menggunakan kunci-kunci yang bermanfaat lagi baik, agar bisa berinteraksi dengan Al-Quran, mendapatkan sentuhan-sentuhannya dan hidup dibawah naungannya.

Rasulullah saw memberikan Al-Quran beberapa sifat dengan benar sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits-haditsnya yang menunjukkan sebagian karakteristik, keutamaan dan keistimewaan Al-Quran, menyebutkan beberapa pengaruh-pengaruhnya dan misinya dalam kehidupan, menjelaskan kedudukan para sahabat, pemerhati, perealisasi dan penyeru Al-Quran di dunia dan di akhirat.

Kalam Rasulullah saw tentang Al-Quran merupakan kalam yang baik, dicintai dan selalu mengandung ilmu, dikenal akan keistimewaannya, karakteristiknya, peranannya dan misinya, karena Al-Quran diturunkan kepadanya, sehingga beliaulah yang lebih faham diantara manusia akan kalamullah – Al-Quran-, lebih banyak pengalamannya, karena itu bertolak belakang dari sifat-sifat ini terhadap ucapan dan perkataannya, dan karena itu pula ucapannya tentang Al-Quran merupakan warna khusus, dalil yang istimewa dan wahyu tersendiri.

Kami hadirkan disini beberapa hadits shohih Rasulullah saw bagian pertama tentang bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an bagian pertama, -mudah-mudahan akan dapat kita lanjutkan lagi bagian-bagian lainnya- tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-Quran, sehingga -dengan pemaparan ini- niscaya semakin menambah pengenalan kita tentang karakteristik, sifat, keistimewaan, keutamaan, misi dan tujuan Al-Quran.

1. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Turmudzi dan Abu Daud dari Utsman bin Affan ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.

2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’I dan Abu Daud dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah : baunya wangi dan rasanya enak –manis-, dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Quran seperti buah Tamr –Korma- tidak memiliki bau namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran seperti Raihanah –parfum- baunya wangi namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran seperti buah handzolah : tidak ada bau dan rasanya pahit…

3. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. berkata: Rasulullah saw bersabda : “Berjanjilah untuk mengamalkan Al-Quran ini, demi jiwa Muhammad yang berada digenggamannya yang demikian lebih besar dosanya jika dilupakan dari seekor unta yang kehilangan akalnya”.

4. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Nasa’i dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan penghapal Al-Quran seperti pemilik seekor unta yang ditambatkan, jika dia mengikatnya maka dia tidak akan lepas dan pergi, namun jika dia melepas ikatannya maka dia akan pergi…” dan ditambahkan oleh imam Muslim : “Dan jika penghapal Al-Quran membaca dan menikmati kandungannya, maka dia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepadanya”.

5. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bagi siapa yang membaca Al-Quran dengan mahir maka ganjarannya akan didudukkan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan bagi siapa yang membaca Al-Quran namun terbata-bata didalamnya dan terasa berat atasnya maka baginya dua ganjaran”.

6. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Umamah ra. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Bacalah kalian Al-Quran karena sesungguhnya ia akan datang datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada yang membaca”.

7. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nawas bin Sam’an berkata : Saya mendengar ra. Rasulullah saw bersabda : “Akan didatangkan pada hari Kiamat dengan Al-Quran dan orang-oarng yang mengamalkannya di dunia terutama –yang mengamalkan- surat Al-Baqoroh dan Ali Imron yang akan memberi hujjah –pembelaan- bagi pembaca dan mengamalkannya”.

8. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Kitab ini –Al-Quran- dan merendahkan yanglainnya..”.

9. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra. dari Nabi saw bersabda : “Akan dikataktan kepada siapa yang membaca Al-Quran : Bacalah dan lemah lembutnya, bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya di dunia dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu dengan yang lainnya terdapat pada satu ayat yang kamu baca…”.

10. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Mas’ud berkata ra. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah -Al-Quran- maka baginya satu ganjaran, dan satu ganjaran akan dilipat gandakan sepuluh kali, Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf…”.

11. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Abbas ra. berkata Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya orang yang dimulutnya tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat Al-Quran seperti rumah yang kosong”.

12. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. dari Nabi saw bersabda : “Tidak boleh ada Hasad –dengki- kecuali pada dua hal : kepada seseorang yang diberi oleh Allah Al-Quran lalu ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang hari, dan kepada seseorang yang Allah anugrahkan kepadanya harta dan ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang hari…”.

13. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “…Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah –Al-Quran-, dan saling mengajarkannya diantara mereka kecuali turun ditengah-tengah mereka ketentraman, dinaungi rahmat dan dikelillingi para malaikat serta Allah SWT menyebut-nyebut mereka kepada siapa yang berada disisinya”.

14. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Imron bin Hasin ra. bahwasannya saat dia melewati orang yang sedang membaca Al-Quran kemudian meminta ganjaran dari manusia, maka Imron menggelengkan kepala –atau dia berkata : Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun –Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali, dan berkata lagi ; saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka hendaknya dia mengharap ganjaran dari Allah, maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang mereka membaca Al-Quran lalu meminta upah kepada manusia kecuali akan dihinakan”.

15. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jair bin Abdullah ra. berkata : ketika kami pergi bersama Rasulullah saw sambil membaca Al-Quran dan ditengah-tengah kami ada orang arab dan ‘ajam -non arab- maka Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran, karena semuanya banyak mengandung kebaikan. Dan akan datang suatu kaum mereka membacanya seperti Al-Qodh tergesa-gesa namun tidak berlambat-lambat –tartil-…”.

16. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Jundub bin Abdullah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran apa-apa yang dapat menyatukan hati kalian, namun jika kalian berselisih maka luruskanlah darinya”. Dan banyak lagi hadits-hadits nabi saw tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-Quran.

Demikianlah pandangan Rasulullah saw tentang Al-Qur’an, mengandung banyak hikmah dan mauidzah untuk memotivasi kita berpegang teguh kepada Al-Quran, dengan membaca, mentadabburkan, menghafal dan mengamalkan Al-Quran. Karena Al-Quran merupakan sumber kekuatan dan izzah umat Islam yang tidak dapat ditandingi oleh kitab manapun. Bahkan orang kafir sendiri begitu faham akan sumber kekuatan dan izzah ini, sehingga secara gamblang Allah swt. mengungkapkan akan pengakuan mereka agar bisa mengalahkan umat Islam secara menyeluruh; Allah berfirman : “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat : 26)

Oleh: Abu Ahmad
http://www.al-ikhwan.net/kiat-sukses-berinteraksi-dengan-al-quran-1-al-quran-di-mata-rasulullah-saw-238/

Keteladanan Nabi Ibrahim

Kata uswah atau keteladanan dalam Al-Qur’an hanya ditujukan pada dua tokoh nabi yang sangat mulia, Nabi Ibrahim a.s. (Mumtahanah: 4,6) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Ahzab: 21). Demikian juga gelar khalilullah (kekasih Allah) hanya disandang oleh kedua nabi tersebut. Begitu juga shalawat yang diajarkan Rasulullah saw. pada umatnya hanya bagi dua nabi dan keluarganya. Pilihan Allah ini sangat terkait dengan risalah yang telah dilakukan oleh keduanya dengan sangat sempurna.

Sejarah dan keteladan Nabi Muhammad saw. telah banyak disampaikan. Dan pada kesempatan ini marilah kita sedikit menyingkap sejarah dan keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.’” (Al-Baqarah: 124)

Berkata Ibnu Abbas r.a., “Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim as.” Ibnu Abbas banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang dilaksanakan Ibrahim a.s, di antaranya manasik atau ibadah haji; kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh. Lima di bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung, siwak, dan membersihkan rambut. Lima pada bagian tubuh yaitu menggunting kuku, mencukur rambut bagian kemaluan, khitan, mencabut rambut ketiak, dan istinja.

Dalam riwayat lain Ibnu Abbas mengatakan, ”Kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna yaitu meninggalkan kaumnya ketika mereka menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu tamunya dengan baik, dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.

Firman Allah yang berbunyi ‘faatammahunna’ mengandung makna bahwa tugas yang diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera, sempurna, dan dilakukan semuanya. Menurut Abu Ja’far Ibnu Jarir, “Yang di maksud ‘kalimat’ boleh jadi mengandung semua tugas, atau sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu kecuali ada dalil nash atau ijma’ yang membolehkannya.

Ibrahim Dan Kaumnya


Ibrahim as. bin Nahur –dalam Al-Qur’an bapaknya dinamakan Aazar, tetapi yang lebih kuat bahwa Aazar adalah nama berhala yang dinisbatkan pada bapak Ibrahim, karena pekerjaannya yang senantiasa membuat berhala– adalah seorang yang mendapat karunia teramat besar dari Allah. Semenjak kecil beliau terbebas dari kemusyrikan bapak dan kaumnya. Ibrahim menjadi seorang yang hanif dan imam bagi manusia (An-Nahl: 120-121). Dan Ibrahim sangat bersemangat untuk mendakwahi bapaknya dan kaumnya agar hanya menyembah Allah saja. Ini adalah sunnah dakwah bahwa yang pertama kali harus didakwahi adalah orang tua dan keluarga, kemudian kaum dan penguasa.

Menurut pendapat yang kuat, Ibrahim lahir di kota Babil (Babilonia), Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala. Ibrahim membantah penyembahan mereka, bahkan berencana untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Peristiwa ini diabadikan dalam beberapa surat, di antaranya di QS. 21: 51-70, 26: 69-82, dan 37: 83-98.

Penduduk kota Babil memiliki tradisi merayakan Id setiap tahun dengan pergi keluar kota. Ibrahim diajak bapaknya untuk ikut, tetapi Ibrahim menolak dengan halus. Ia berkata, “Sesungguhnya Aku sakit.” (Ash-Shaaffat: 88-89). Dan ketika kaumnya pergi untuk merayakan Id, Ibrahim segera menuju penyembahan mereka dan menghancurkan dengan kampak yang ada di tangannya. Semua dihancurkan dan hanya disisakan satu berhala yang besar, dan kampak itu dikalungkan pada berhala itu. (Al-Anbiya’: 58)

Demikianlah, Ibrahim menghinakan penyembahan kaumnya. Sebenarnya mereka sadar akan kesalahan itu. Tetapi, yang berjalan pada mereka adalah logika kekuatan melawan kekuatan logika Ibrahim. Akhirnya mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim (Ash-Shaaffat : 97; Al-Anbiya’: 68-70).

Ibrahim Dan Raja An-Namrud


“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Menurut ulama tafsir dan nasab, raja itu adalah Raja An-Namrud bin Kan’an, penguasa Babil. menurut As-Sudy, ”Debat ini terjadi antara Ibrahim dan Raja Namrud setelah Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan dibakar api.” Zaid bin Aslam berpendapat, ”Ibrahim diutus pada raja yang diktator tersebut, memerintahkan agar beriman kepada Allah. Berkali-kali diseru agar beriman, tetapi terus menolak. Kemudian menantang Ibrahim a.s. agar mengumpulkan pengikutnya dan Namrud pun mengumpulkan rakyatnya lantas terjadilah debat yang disebutkan Al-Qur’an tersebut.” Sekali lagi kekuatan logika Ibrahim a.s. mengalahkan logika kekuasaan Namrud.

Kisah kematian Raja Namrud dan tentaranya disebutkan dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir. Namrud mengumpulkan tentara dan pasukannnya saat terbit matahari. Kemudian Allah mengutus nyamuk yang menyebabkan para tentara dan pasukannya tidak dapat lagi melihat matahari. Nyamuk-nyamuk besar itu memakan daging dan darah mereka dan meninggalkan tulangnya. Salah satu nyamuk masuk ke hidung Raja Namrud dan diam di sana selama 400 tahun sebagai bentuk adzab Allah atas raja itu. Selama waktu itu pula Namrud senantiasa memukuli kepalanya hingga ia mati.

Ibrahim Dan Keluarganya Hijrah Ke Baitul Maqdis


Setelah selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari kezhaliman Raja Namrud, Ibrahim a.s. bersama istrinya, Sarah, bapak, dan saudara sepupunya, Luth a.s. hijrah menuju Syam. Tepatnya ke Baitul Maqdis, Palestina (Ash-Shaaffat: 99).

Di tengah jalan, di daerah Haran, Damasqus, bapaknya meninggal. Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Penduduk kota ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini Ibrahim a.s. menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan, dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Alquran surat 6:75-83.

Ibrahim a.s. dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis setelah sebelumnya mampir di Mesir. Dari Mesir Ibrahim a.s. mendapat banyak hadiah harta, binatang ternak, budak, dan pembantu bernama Hajar yang keturunan Qibti, Mesir. Di Baitul Maqdis Ibrahim a.s. mendapat penerimaan yang baik.

Selama dua puluh tahun tinggal di Baitul Maqdis, Ibrahim a.s. tidak mendapatkan keturunan sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan memberikan budaknya pada Ibrahim. Berkata Sarah pada Ibrahim, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak. Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita.”

Setelah itu, lahirlah Ismail a.s. Tetapi Sarah merasa cemburu berat. Akhirnya, Ibrahim a.s. membawa Hajar dan putranya ke suatu tempat yang disebut Gunung Faran (Mekah sekarang), suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail a.s., Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir seorang anak. Lahirlah Ishaq a.s. Ibrahim a.s. sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah kedua putra itu kelak menjadi nabi dan secara turun-temurun melahirkan nabi. Dari Ishak a.s. lahir Ya’kub dan Yusuf a.s. serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail a.s. lahirlah Nabi Muhammad saw.

Pengorbanan Ibrahim Dan Keluarganya

Episode berikutnya dilalui Ibrahim a.s. dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang kepala rumah tangga melebihi pengorbanan meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah, yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an di surat 14:37-40.

Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim a.s. akan meninggalkan putranya, Ismail, istrinya, Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau pergi ke mana? Engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar terus-menerus memanggil. Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.’ Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Tapi, itu bukan puncak pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Puncak pengorbanan itu datang dalam bentuk perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya. Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail (Ash-Shaaffat: 102-109).

Berkah Pengorbanan


Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah, khalilullah, imam, abul anbiya (bapak para nabi), hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah, dan banyak lagi. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan: Muhammad saw., nabi yang menjadi rahmatan lil’alamiin.

Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga, dan keturunan kita. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikan aksioma ini: Ibrahim dan keluarganya –Ismail, Ishaq, Siti Sarah dan Hajar; Muhammad saw. dan keluarganya –siti Khadijah, ‘Aisyah, Fatimah, dan lain-lain.

Begitu juga para sahabat yang mulia: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan lain-lain. Para pemimpin setelah sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in: Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Tak ketinggalan para pahlawan dari generasi modern juga telah mencontohkan kepada kita. Mereka di antaranya Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, dan Hasan Al-Banna. Dan kita yakin akan terus bermunculan pahlawan-pahlawan baru yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para nabi, darah syuhada, dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.

http://www.dakwatuna.com/2007/keteladanan-nabi-ibrahim/

Memaknai Taskhir

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim:32-34)

Makna Taskhir

Dalam ayat di atas kita temukan kata sakhkhara berulang-ulang. Dari kata sakhkhara kata taskhir diambil. Imam Al-Asfahani menyebutkan makna taskhir adalah “pemberdayaan sesuatu untuk tujuan tertentu secara paksa (tanpa alternatif). (lihat Ar-Raghib, Mufradaat alfadzil Qur’an, (Damaskus, Darul Qalam 1992) h. 402). Dikatakan secara paksa (qahran) karena bagi sesuatu yang ditundukkan as-sukhriy tidak ada pilihan kecuali mengikuti kehendak dan keinginan yang memberdayakannya. Dengan mengikuti terjemahan Al-Qur’an versi Depag kata sakhkhara diartikan menundukkan. Dalam Al-Qur’an setiap kali disebut kata sakhkhara, hampir selalu dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa segala ciptaan Allah di langit dan di bumi ditundukkan untuk mengikuti system “sunnatullah” yang telah Allah letakkan.

Kerapian alam semesta yang demikian mengagumkan ini, menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam ini telah Allah tundukkan, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (Al-Mulk:3) Allah mengajak dengan ayat ini agar manusia benar-benar menyaksikan dengan mata kepalanya betapa ciptaan Allah tidak ada yang main-main. Perhatikan dan perhatikan sekali lagi jika masih ragu. Kau tidak akan pernah menemukan kerancuan dan ketidakseimbangan. Kalau masih ada sebagian sisi yang belum kamu lihat, coba lihat sekali lagi dan sekali lagi. Sungguh tidak akan pernah ada yang tidak seimbang.

Gaya ungkap yang sangat menantang dan meyakinkan tersebut, setidaknya mengindikasikan gambaran taskhir Allah yang sangat sempurna terhadap alam semesta dan segala isinya. Pun setidaknya ini membuat manusia semakin terhentak akan kelemahan dirinya. Apa lagi ilmu pengetahuan yang dicapainya kian menampakkan kenyataan dari sebagian sisi yang sangat luar biasa itu. Tidak ada pilihan sebenarnya bagi manusia kecuali harus tunduk secara total kepada Allah sebagai hamba-Nya. Allah berulang-ulang menegaskan hakikat taskhir ini dalam Al-Qur’an, pada hakikatnya untuk menguatkan makna kehambaan ini. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menandingi kemahadahsyatan Allah, sebab ia dengan segala yang terdahsyat dari kemamampunnya tidak lebih dari hanya karunia-Nya. Dengan menyaksikan keagungan ciptaan ini, hati manusia secara perlahan akan terbuka, untuk kelak bisa menerima cahaya keimanan secara sempurna.

Dengan kata lain, taskhir adalah sunnatullah dalam segala wujud. Tanpa taskhir kehidupan di alam ini dipastikan telah berakhir. Tak terkecuali manusia, ia harus mengikuti proses taskhir ini secara sekasama. Dan tidak ada aturan taskhir yang paling sempurna dan menentukan bagi keselamatan hidup manusia kecuali aturan Allah SWT. Sebab Dialah Sang Pencipta, maka Dialah yang paling berhak menentukan aturan sesuai dengan tujuan yang diinginkan-Nya.

Beberapa Bukti Keharusan “Taskhir”

Ada beberapa bukti dalam ayat di atas bahwa Allah memberdayakan ciptaannya di langit dan di bumi untuk kebutuhan hidup manusia:

(a)“Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu”. Di sini ditegaskan bahwa langit yang demikian agung ini, ditegakkan tanpa tiang, bumi dengan segala isinya, pun hujan yang sedemikian sistematis Allah turunkan, semuanya tidak lain sebagai rezki bagi manusia.

Kata rezki sering kali dipahami sebatas hasil usaha yang dilakukan seseorang. Ayat di atas menggambarkan bahwa rezki meliputi setiap nikmat yang kita terima dari Allah SWT. Penciptaan langit, bumi dan semua galaksi, termasuk perputarannya secara sistematis, yang menyebabkan turunnya hujan dan tumbuhnya pohonan, adalah rezki yang sangat agung tapi sering manusia lalaikan. Di antara rezki yang paling nampak di mana manusia tidak akan pernah mampu membuatnya dengan alat teknologi yang paling canggih sekalipun, adalah buah-buahan “tsamaraat”. Buah yang dihasilkan dari pohonan ini hanya Allah-lah yang mengatur prosesnya secara alamiyah. Tidak ada seorang pun yang mampu bisa mendatangkannya tanpa proses alamiyah tersebut.

(b) Di antara yang Allah tundukkan adalah kendaraan manusia di lautan, “Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak–Nya”, benar manusia dengan kemampuannya bisa membuat bahtera. Tetapi bahtera tersebut Allah yang menundukkannya sehingga ia bisa terapung. Bila Allah berkehendak untuk menenggelamkannya, bahtera tersebut akan tenggelam kapan saja. Sebuah kapal laut raksasa “Titanic” yang diyakini pembuatnya tidak akan pernah tenggelam, pada akhirnya ia harus mengalami kondisi yang sangat mengenaskan. Air laut menelannya di luar kemampuan segala upaya yang telah dilakukan para awak untuk menyelamatkannya. Tidak hanya kendaraan di lautan, di udara pun Allah yang menundukkannya. Kecanggihan teknologi yang dicapai manusia modern dalam pembuatan kapal udara memang telah memperlihatkan bukti yang sangat mengagumkan. Tetapi itu semua harus tetap diyakini sebagai bukti kekuasaan Allah, bukan semata kehebatan manusia. Mengapa? Sebab Allahlah yang menundukkan kendaraan udara tersebut. Dan banyak bukti dari pesawat udara yang jatuh karena kehendak Allah. Padahal menurut perhitungan manusia ia sudah diupayakan secara maksimal untuk tidak jatuh.

(c) Sungai-sungai juga Allah tundukkan, “dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”. Dari bumi dan batu-batu bila Allah berkehendak memancarlah air sungai. “di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya” (Al-Baqarah:74). Perhatikan bagaimana Allah menceritakan kenyataan ini dengan sangat gambling. Manusia dengan kehebatan ilmunya belum pernah mampu menciptakan air. Apalagi memancarkan air sungai yang demikian banyaknya dari batu-batu, yang secara akal tidak mungkin ada air di dalamnya. Dengan air sungai tersebut manusia bisa memberi minum binatang ternak yang mereka pelihara, bisa menyiram pohon yang mereka tanam dan seterusnya yang pada intinya dengan air tersebut kehidupan manusia bisa berlanjut. “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (Al-Anbiya:30).

(d) Allah juga menundukkan matahari dan bulan, “dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)”. Matahari dan bulan tersebut berputar pada porosnya. Seperti juga galaksi yang lain yang jumlahnya jutaan bahkan milyaran. Semua itu Allah ciptakan untuk mendukung kehidupan di bumi. Jika semuanya itu tidak Allah tundukkan niscaya kehidupan di bumi sudah berakhir, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Berbagai penemuan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa perjalanan matahari dan bulan benar-benar telah tertata rapi dengan jarak yang sangat tepat. Bila terjadi pergeseran barang 1cm, itu akan menyebabkan kehancuran kehidupan di bumi. Allah tidak pernah main-main dalam menegakkan kehidupan di ala mini. Hanya sayangnya manusia selalu melalaikan hakikat ini. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (Yasin:40)

(e) Allah juga tundukkan siang dan malam, “dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. Dengan adanya siang dan malam manusia bisa menjalani hidupnya secara seimbang. Seandainya hidup ini siang saja, atau malam saja, bisa dipastikan manusia akan stress. Imam Syafi’I menyebutkan dalam syairnya, “andaikan matahari berhenti di ufuk timur selamanya, niscaya manusia akan bosan (stress) di manapun berada”. Pernyataan Imam Syafi’e menggambarkan tabiat manusia. Bahwa manusia selalu menginginkan perubahan. Ia tidak bisa hidup di satu titik. Ia membutuhkan siang untuk mencari nafkah hidupnya, sebagaimana juga membutuhkan malam untuk istirahat. “Dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (An-Naba:10-11) Dan karena rahmat–Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia–Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada–Nya. (Al-Qashash:73) Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan–Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah–Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (Al-A’raf:54) Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Luqman:29)

Tugas Utama Manusia: Memberdayakan Diri Untuk Allah


Kata rizqan lakum (sebagai rezki untukmu) dan sakhkhara lakum (menundukkan untukmu) seperti pada ayat di atas telah mengesankan beberapa makna: (1) Bahwa manusia adalah makhluk yang sangat Allah muliakan. Artinya ketika Allah menciptakan matahari, menurunkan hujan, menyediakan laut, sungai dan seterusnya itu semua tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Karenanya yang Allah panggil dalam Al-Qur’an, untuk menjalankan tugas-tugas di bumi adalah manusia. Para Nabi Allah utus dari golongan manusia. Seruan yaayyuahannas atau yaayyuhalladzinan amanuu yang demikian banyak dalam Al-Qur’an itu maksudnya manusia. Termasuk dhamir “kum” dalam ayat di atas arahnya kepada manusia. Dari segi bentuk fisik pun penciptaan manusia juga Allah pilihkan yang terbaik “ahsanu taqwiim”. Semua ini mengindikasikan pentingnya posisi manusia di atas bumi. Maka sungguh celaka manusia yang mengabaikan kemuliaan posisi ini lalu memilih posisi yang sangat rendah “asafala saafiliin”. Tunduk semata pada tuntutan hawa nafsunya sehingga ia terjerembab dalam gaya hidup seperti binatang atau lebih rendah lagi “ulaaika kal an’aam balhum adhallu waulaaika humul ghaafiluun”.

(2) Bahwa amanah penciptaan langit dan bumi diserahkan kepada manusia. Terserah untuk ia manfaatkan. Sebagai sarana pengabdian kepada Allah atau kepada setan? Manusia diberi dua pilihan: jalan syukur atau kufur. Bila jalan syukur ia tempuh ia akan menjadi selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya bila jalan kufur yang dipilih ia akan menuai kecelakaan. Dalam surat Al-Jatsiyah Allah menegaskan, “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada–Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS. 45:13) Perhatikan bahwa proses pemberdayaan ciptaan Allah ini sebagai rahmah (kasih sayang Allah) yang tak terhingga kepada manusia. Untuk apa? Supaya manusia beriman dan tunduk hanya kepada-Nya. Dalam rangka ini manusia harus menggunakan akalnya. Itulah makna dari ayat: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Surat Al-Hajj lebih tegas lagi menggambarkan eratnya pemberdayaan ciptaan alam dengan keharusan sikap syukur, Allah berfirman, “Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. 22:36). Mensyukuri nikmat yang sedemikian agungnya adalah bagian dari tugas utama manusia. Syukur artinya merasakan agungnya nikmat Allah dan menampakkannya sebagai amanah yang harus dipikul sesuai dengan kehendak Pemberinya. Kebalikan syukur adalah kufur. Kufur artinya melupakan nikmat yang diterimanya dan berusaha untuk mengingkarinya (lihat Ar-Raghib, h. 461). Perhatikan ayat “”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)”kafartum”, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim:7)

(3) Allah selalu mengajak manusia dengan pendekatan yang sangat mendidik dan persuasif. Kepada rasul-Nya pun mengajarkan “lasta alaihim bimusaithir”. Tidak ada unsur paksaan, melainkan dengan mengingatkan akan keagungan nikmat yang diberikan kepadanya. Itulah cerminan dari makna rizqan lakum dan sakhkhara lakum. Seakan ditampakkan di depan matanya bukti-bukti yang sangat dekat dengan dirinya dan begitu akurat, sehingga akalnya tidak bisa membantah. Karenanya pada ayat selanjutnya Allah berfirman: Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Ungkap seperti ini terus diulang-ulang dengan gaya yang sangat indah, variatif dan menggelitik. Siapapun yang membaca Al-Qur’an dengan mata hatinya akan tunduk bersujud, mempersaksikan dirinya sebagai hamba-Nya dan akan berkata seperti yang direkam dalam ayat, “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran:191) “Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya (Az-Zukhruf:13)

(4) Bahwa setelah nikmat-nikmat yang terjangkau jumlahnya itu, sekalipun dihitung dengan kalkulator yang paling canggih, ada tugas yang harus dipikul oleh manusia. Bahwa manusia kelak di Hari Kiamat, akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun dari nikmat-nikmat tersebut. Kepada apa saja nikmat-nikmat itu di gunakan? Karenanya selalu diingatkan dengan kata rizqan lakum dan sakhkhara lakum. Supaya tersadar bahwa semua itu diberikan bukan sekadar pemberian tanpa makna. Bahwa semua itu diterima dengan segala konsekuensi yang harus direalisasikan. Bila proses realisasinya salah, ia akan menuai siksaan. Dan bila realisasinya sejalan dengan aturan Sang Pemberi ia akan menuai pahala yang setimpal. Dengan kata lain, setelah nikmat-nikmat itu diberdayakan untuk manusia secara maksimal, maka tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memberdayakan dirinya untuk Allah semata. Sekecil apapun yang ia lakukan hendaknya selalu dalam rangka menegakkan ajaran-Nya, dalam diri, rumah, masyarakat dan negaranya.

Hanya saja, sangat sedikit manusia yang menyadari hakikat “waqalilum min ibadiyasy syakuur”. Mereka lebih suka mengutamakan kepentingan dunia dari pada akhirat, “bal tu’tsiruunal hayatad dunya”. Karena itulah pada penutup ayat di atas Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” Wallahu a’lam

http://www.dakwatuna.com/2007/taskhir/

Kisah Habil dan Qabil

Tata Kehidupan manusia di muka bumi mulai terwujud ketika Hawa hamil dan siap menyambut kelahiran anak-anaknya.

Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah menurunkan Adam a.s. dari surga bersama Hawa, –ketika di surga keduanya tidak melakukan hubungan suami istri, masing-masing tidur sendiri– sehingga ketika di bumi Malaikat Jibril mendatangi Adam a.s. dan menyuruhnya untuk menggauli istrinya serta mengajarkan bagaimana caranya. Ketika Adam a.s. telah menggauli istrinya, Jibril kembali mendatangi Adam a.s. dan bertanya, “Bagaimana kamu dapati istri kamu?” Adam menjawab, “Shalihah insya Allah…”

Awal bunga mekar di taman kehidupan manusia. Adam alaihis salam dan Hawa merasakan kebahagiaan dan ketentraman bersama mereka. Adam alaihis salam dan Hawa begitu mencintai dan menyayangi mereka. Keduanya berharap agar keturunannya akan memenuhi penjuru bumi, berjalan di atasnya dan memakan dari rizki yang telah Allah swt sediakan.

Adam alaihis salam dan Hawa sangat menanti kelahiran anak-anaknya. Meskipun situasi dan kondisi yang mereka hadapi sangatlah berat. Terutama bagi seorang calon ibu. Namun bagi Hawa justru menguatkan rasa cinta, kasih sayang dan kelembutan. Hawa menjadi seorang ibu yang qurrata a’yun lagi penuh kehangatan.

Hawa melahirkan dua kali anak kembar. Yaitu Qabil dan saudarinya serta Habil dan saudarinya. Mereka tumbuh dalam asuhan kedua orang tuanya. Kedua putranya merasakan nikmatnya kehidupan dan masa muda yang kuat. Sedangkan kedua putrinya tumbuh dengan kecenderungan kewanitaannya. Kedua putranya mulai bekerja mencari penghidupan. Qabil sebagai petani dan Habil sebagai penggembala.

Syari’at Menikah

Dua bersaudara mendapatkan kemudahan hidup dan ma’isyah. Keluarga ini pun diliputi rasa aman dan berkecukupan. Seiiring berjalannya waktu dan usia, keduanya memiliki dorongan kelaki-lakian yang kuat, yaitu dorongan memiliki pasangan hidup untuk mendapatkan sakinah dan ketenteraman jiwa dengan pasangannya. Hasrat jiwa keduanya begitu menggebu. Mencari jalan keluar yang mungkin diraih.

Nampaklah di sini kehendak Allah swt yang menjadi rahasia semenjak azali bahwa bani Adam diuji dengan kemudahan-kemudahan, berupa harta yang melimpah, anak yang banyak, bumi subur menghijau dengan memberikan hasil-hasilnya. Sebagaimana juga takdir Allah swt berlaku, yaitu manusia bukan hanya umat yang satu, bahkan harus beragam dan banyak. Ada perbedaan pandangan dan keinginan, model dan penciptaan, bahagia dan sengsara.

Maka Allah swt mewahyukan kepada bapak manusia untuk menikahkan anak mudanya secara silang. Adam alaihis salam melaksanakan perintah Allah dan menyampaikannya kepada anak-anaknya dengan harapan bahwa keputusan ini menjadi penengah bagi mereka.

Menuruti Nafsu Penyebab Penyimpangan

Dorongan hasrat jiwa adalah sikap ambisi dan tamak. Namun barangsiapa yang mampu mengendalikan dorongan gelora syahwatnya dan mampu menjadikan akalnya sebagai pengendali hawa nafsunya, maka ia menjadi orang yang dimuliakan Allah swt di dunia dan akhirat. Adapun siapa yang tunduk di bawah kendali syahwatnya. Akalnya bertekuk lutut dikalahkan nafsunya, maka ia termasuk kelompok orang-orang yang merugi dan tersesat jalan hidupnya, meskipun ia mengira perbuatan itu baik.

Setelah Adam alaihis salam menyampaikan wahyu Tuhannya dan memutuskan pernikahan anak-anaknya, seketika itu Qabil menolak. Ia tidak menerima keputusan ayahnya, karena calon istrinya tidak secantik calon istri saudaranya. Qabil iri terhadap saudaranya. Dia masih berharap agar saudari kembarnya yang akan menjadi istrinya.

Kecantikan fisik masih menjadi sumber masalah yang siap melumat jiwa manusia dan mewariskan kerusakan.

Kecantikan menjadi sebab perpecahan di antara dua bersaudara. Namun Habil tetap mengingatkan saudaranya untuk mentaati ayahnya dan menerima takdirnya.

Adam alaihis salam sebagai seorang ayah didera kebingungan yang hebat, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dirinya terbelah dalam dua pilihan yang serba sulit. Antara cinta kepada kedua putranya, dan antara keberlangsungan persaudaraan serta keselamatan keduanya. Sampai akhirnya Allah swt memberikan jalan keluar kepada Adam alaihis salam, yaitu agar kedua putranya mempersembahkan qurban kepada Allah swt. Mana di antara keduanya yang diterima qurbannya, berarti dialah yang berhak mendapatkan keinginannnya. Habil mengurbankan unta, sedangkan Qabil mengurbankan gandum. Keduanya mengharapkan bahwa dirinyalah yang mendapatkan bagian yang lebih baik.

Habil telah menunaikan bagiannya dan benar dalam prosesnya, yaitu menerima keputusan ayahnya dan ikhlas dalam menjalankan qurbannya, oleh karena itu qurbannya diterima. Sedangkan qurban saudaranya ditolak, karena ia masih belum menerima keputusan ayahnya, dan tidak mengikhlaskan niat dalam pengurbanannya.

Qabil meradang karena impianya tidak tercapai. Malah hatinya dipenuhi kedengkian. Ia pun bersumpah kepada saudaranya, ”Akan aku bunuh kamu, kalau tidak aku menderita, sebaliknya kamu berbahagia. Dan aku tidak mau bersaudara dengan orang yang bahagia, sedangkan aku kecewa dan tersiksa.

Mendengar ancaman Qabil itu, Habil berkata kepadanya dengan penuh penyesalan hati, ”Saudaraku, alangkah baiknya jika kamu menyadari kesalahanmu sehingga kamu memperbaikinya. Agar kamu menapaki jalan keselamatan, kamu pun akan bahagia. Karena Allah swt tidak akan sekali-kali menerima persembahan qurban, kecuali dari orang-orang yang bertakwa.

Menasehati Dalam Kebaikan

Habil adalah orang yang dikaruniai keluasan akal dan kekuatan fisik. Ia termasuk orang-orang yang diberi amanat, maka ia pun menjaganya. Ia termasuk orang-orang yang diberi hikmah, maka ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ia lebih mementingkan keridhaan Allah swt, berbakti kepada kedua orang tuanya dan rela dengan pembagian Tuhannya. Ia melihat bahwa dunia ini adalah kesenangan yang akan hilang, pemberian yang akan berganti. Ia sangat sayang dengan saudaranya dan selalu menasehatinya serta selalu mengingatkan agar menepati janjinya. Selain itu ia pun yakin bahwa dirinya memiliki kekuatan dari kekuatan Allah swt, sehingga ancaman Qabil tidak membuat dirinya takut.

Habil melewati hari-harinya dengan biasa. Tidak ada niat sekecil apapun untuk menyakiti saudaranya, apalagi membunuhnya. Karena Allah swt Dzat yang telah menciptakan kesucian menetapkan demikian, yaitu yang baik dan suci tidak boleh terprovokasi oleh sifat tercela. Maka ia takut kepada Allah swt. Tuhan semesta alam.

Habil terus berusaha menasehati saudarnaya dengan santun dan menjaga hati saudaranya. Itu dilakukannya adalah semata-mata agar ucapannya dapat menjadi penawar hati sehingga mampu mengikis rasa dengki saudaranya. Ia berkata, ”Wahai saudaraku, sebenarnya kamu telah khilaf. Kamu akan berdosa kalau tetap bertekad membunuhku. Jalan pikiranmu keliru. Lebih baik kamu beristighfar dan minta ampun kepada Allah swt., kembali ke jalan-Nya. Kalau kamu tetap membulatkan tekadmu, terus ingin melaksanakan rencanamu, maka sungguh aku serahkan urusanku kepada Allah swt. karena aku sangat takut dosa akan menghampiriku atau seberkas sisa kedurhakaan menggelayut di hatiku. Maka tanggunglah dosa olehmu sendiri. Kamu termasuk ahli neraka dan itulah ganjaran bagi orang yang dzalim.

Namun demikian, tidaklah ketulusan persaudaraan Habil itu mampu mengobati kedengkian Qabil. Tidaklah kasih sayang, kelembutan dan kecintaan dari hati Habil yang paling dalam mampu memadamkan gejolak api di hati saudaranya. Tidaklah juga rasa takut kepada Allah swt, dan menjaga hak-hak kedua orang tua merubah hati orang yang pertama kali berbuat dosa di muka bumi ini.

Terjadilah peristiwa itu. Suatu hari tangan Qabil berlumuran darah saudaranya sendiri. Ia telah membunuhnya. Habil kembali kepada Tuhannya.

Beberapa hari Adam alaihis salam tidak melihat Habil. Sang ayah merasa khawatir sesuatu telah menimpanya. Ia pun bertanya kepada Qabil, ”Di mana saudaramu, Habil?”. Qabil menjawab dengan cueknya, ”Aku bukanlahlah wakil dia. Bukan penjaga dia dan bukan juga perawat dia.”.

Adam alaihis salam akhirnya mengetahui bahwa putranya telah dibunuh. Adam alaihis salam terdiam penuh gejolak. Namun Adam alaihis salam mampu menahan gejolak tersebut meskipun dengan perih pilu atas hilangnya orang yang ia cintai. Adam alaihis salam melantunkan syair duka-citanya:

Aku berkata dalam diri penuh penyesalan dan duka nestapa


Salah satu putraku dibunuh dan tidak akan pernah kembali lagi


Habil adalah orang pertama yang dibunuh di muka bumi ini . Qabil bingung tidak mengetahui bagaimana cara mengurus jenazah saudaranya. Dipikullah suadaranya mondar-mandir di atas pundaknya. Qabil didera ketakutan dan kegelisahan… berhari-hari. Hingga bau tidak sedap mulai tercium dari tubuh jenazah saudaranya. Qabil telah capek memikulnya. Qabil tidak tahu harus berbuat apa.

Sampai di sini, kasih sayang Allah swt terhadap tubuh jenazah suci itu mau tidak mau turun. Sebagai sunnah bagi ketentuan makhluk. Sekaligus sebagai penjagaan terhadap kemuliaan Adam alahis salam dan putranya. Di sini juga, wajib ada pelajaran berharga bagi orang yang dipenuhi dendam kesumat. Akan tetapi dia bukanlah orang yang pantas menerima wahyu Allah swt. juga bukan ilham-Nya. Bahkan ia harus menjadi murid dari burung gagak. Pengetahuannya baru muncul ketika melihat seekor hewan hitam yang lemah. Keegoannya baru luluh atas peristiwa yang dilihatnya.

Allah swt mengutus dua ekor burung gagak yang saling bertarung. Salah satunya membunuh yang lain, kemudian mengubur dengan pelatuknya di bawah tanah. Melihat peristiwa itu Qabil menyesal seraya berkata, ”Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” QS. Al Ma’idah: 31

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Naudzubillah min dzalik

Beberapa Ibrah Dari Kisah Ini:

1. Allah swt berkehendak agar bumi-Nya dihuni oleh banyak manusia, yaitu melalui syari’at pernikahan yang halal.

2. Kecantikan wanita menjadi penyebab permusuhan dan fitnah, sesuai sabda Rasulullah saw. ”Takutlah fitnah wanita, karena penyebab bani Isra’il hancur adalah karena fitnah wanita.” HR. Muslim.

3. Orang yang shalih selalu menerima keputusan dan perintah Tuhannya, sekaligus berusaha untuk mendakwahkan kebenaran ajaran Tuhannya, sekalipun terhadap orang yang memusuhinya.

4. Penyebab orang menentang kebenaran adalah sikap menuruti hawa nafsu dan sombong. Dan orang yang mengikuti hawa nafsu lagi sombong tidak bisa menerima nasehat dan pelajaran kecuali lewat jalan yang hina.

Semoga kita semua terhindar dari sikap memperturutkan hawa nafsu, menentang perintah Allah swt., durhaka kepada orang tua, dan berbuat dzalim terhadap sesama. Amin. Allahu A’lam.

Oleh: Ulis Tofa, Lc

http://www.dakwatuna.com/2007/kisah-habil-dan-qabil/

Nabi Adam, Manusia Pertama

Sepertiga dari isi Al-Qur’an berupa kisah atau cerita. Kisah yang sarat makna, menggugah jiwa, menghidupkan rohani, menambah iman, menumbuhkan optimisme, dan mendorong untuk beramal.

Insya Allah kajian ini secara berkesinambungan akan memuat qashashul Qur’an atau kisah-kisah dalam Al-Qur’an, mulai dari kisah Nabi Adam alaihis salam sampai kisah para sahabat yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Untuk kesempatan kali pertama ini kami persembahkan kisah Nabiyullah Adam alaihis salam. Selamat menyimak.

Penciptaan Makhluk


Allah swt menciptakan bumi dalam dua hari. Allah swt menjadikan gunung-gunung berdiri kokoh di atasnya sekaligus memberkahinya. Dan dalam hitungan empat hari Allah swt telah menentukan bagian rezki masing-masing. Kemudian Allah swt bersemayam di atas langit yang terdiri dari dukhan atau asap. Kemudian Allah swt berfirman kepada langit dan bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka cita atau terpaksa. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka cita.” Fushshilat: 9-12

Kemudian Allah swt bersemayam di atas ’Arasy. Allah swt menundukkan matahari dan bulan yang masing-masing beredar sesuai porosnya. Ar Ra’d: 2

Kemudian Allah swt menciptakan malaikat-malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih mengagungkan Dzat-Nya, mensucikan Nama-Nya, dan mengikhlaskan peribadatan hanya kepada-Nya.

Kemudian kehendak Allah swt terjadi. Hikmah Allah swt berlaku. Yaitu Allah swt berkehendak menciptakan Adam alaihis salam dan keturunannya, agar mereka menempati bumi dan memakmurkannya. Untuk itu Allah swt memberitahu para malaikat, bahwa Allah swt akan menciptakan makhluk lain yang akan hidup di muka bumi, mengembangkan keturunannya, memakan tanaman-tanamannya, mengeksploitasi kandungan perutnya, dan sebagian mereka dijadikan pemimpin bagi sebagian yang lain.

Malaikat adalah makhluk yang diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah swt. Allah swt telah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Allah swt memberi taufik kepada mereka agar senantiasa dalam keridhaan-Nya. Atas dasar itu lah para malaikat khawatir seandainya Allah swt menciptakan makhluk lain. Mereka ragu kalau makhluk itu mengingkari Tuhannya. Atau salah satu di antara mereka menyimpang dari ajaran-Nya. Malaikat berkomentar, “Bagaimana mungkin Engkau menciptakan selain kami? Kami senantiasa bertasbih mengagungkan-Mu, mensucikan nama-Mu. Padahal mereka yang akan Engkau jadikan khalifah di muka bumi, pasti akan berselisih tentang apa yang membawa manfaat bagi mereka, berselisih tentang kebenaran. Oleh karena itu mereka akan membuat kerusakan, saling menumpahkan darah, dan saling membunuh nyawa yang tak berdosa.

Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Al-Baqarah: 30

Mereka berkata demikian hanya untuk menghilangkan keraguan, sekaligus meyakinkan bahwa mereka mengharap kepada Allah swt agar merekalah yang dijadikan pemimpin di muka bumi. Karena mereka terbukti terlebih dulu menjaga nikmat-nikmat-Nya, lebih mengetahui hak-hak-Nya. Pertanyaan mereka itu tidak dalam rangka ingkar terhadap perbuatan Allah swt, bukan karena ragu akan hikmah-Nya, juga bukan karena menyepelekan khalifah-Nya. Karena para malaikat adalah wali-wali Allah yang dekat. Mereka hamba-hamba Allah yang mulia. Mereka tidak pernah membantah sedikit pun dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Allah swt menjawab keraguan mereka sekaligus meyakinkan hati mereka.

Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Al-Baqarah: 30

Aku akan jelaskan kepada kalian hikmah ke-khalifahan Adam Alaihis Salam apa yang kalian belum ketahui sebelumnya. Maka Aku akan menciptakan apa yang Aku kehendaki. Aku menjadikan pemimpin siapa yang Aku kehendaki. Dan kalian akan tahu rahasia itu semua.

Dan kami Telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.


Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
” Al-Hijr: 27-28

Malaikat Bersujud Kepada Adam


Kemudian Allah swt memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam alaihis salam. Serta merta mereka melaksanakan perintah Tuhan mereka dengan penuh ketundukan. Mereka menghadap Adam alaihis salam sambil mengagungkan. Mereka bersujud penuh penghormatan, kecuali Iblis.

Malaikat sebelumnya menyangka bahwa mereka lebih luas ilmunya, lebih paham dan lebih mengetahui segala sesuatu dibandingkan Adam alaihis salam. Oleh sebab itu, Allah swt menganugerahi ilmu-Nya kepada Adam alaihis salam. Mencurahkan nur-Nya kepadanya. Allah swt mengajarkan kepadanya semua nama-nama yang wujud.

Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Al-Baqarah: 31.

Perintah itu adalah dalam rangka untuk menampakkan kelemahan para malaikat. Untuk membuktikan sedikitnya ilmu mereka. Agar mereka mengakui rahasia Allah swt, yaitu bahwa Adam alaihis salam lebih mulia, dan ke-khalifahannya di muka bumi benar tak terbantahkan.

Para Malaikat mengakui kesalahan dan kekurangannya, ”Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Al-Baqarah: 32

Ketika Adam alaihis salam telah memperoleh pancaran nur Tuhannya. Ketika itu Allah swt memerintahkan kepadanya untuk menjelaskan kepada Malaikat akan kelemahan dan kekurangan mereka dalam hal pengetahuan. Itu menjadi bukti bahwa dirinya lebih baik dan lebih pantas menjadi khalifah di muka bumi dibandingkan mereka. Allah swt berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Al-Baqarah: 33

Permusuhan Abadi Iblis


Iblis tidak mau bersujud kepada Adam alaihis salam. Iblis telah mengingkari perintah Tuhannya. Menolak lagi sombong. Allah berfirman, “Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Al-Hijr: 31

Iblis menyangka materi penciptaannya lebih baik dari Adam. Ia menyangka tidak ada seorang pun yang menandingi ketinggian kedudukannya. Iblis menjawab, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Al-Hijr: 32

Allah swt pun mengganjar pembangkangan Iblis, “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Al-A’raf: 13

Iblis meminta kepada Allah swt agar diberi tenggat waktu untuk hidup sampai hari kiamat. “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Al-A’raf: 15

Namun ketika permintaan Iblis dikabulkan oleh Allah swt. Keinginannya untuk diberi waktu sampai hari qiyamat terpenuhi. Iblis bukannya bersyukur, justru membalas kemurahan Allah swt itu dengan pengingkaran, dan kekafiran. Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. Al-A’raf: 16 – 17

Allah swt telah melaknat Iblis. Di saat yang sama Allah swt memuliakan Adam alaihis salam dan menempatkannya di surga-Nya. Allah swt mewahyukan kepadanya agar senantiasa ingat nikmat-Nya yang sangat melimpah. Yaitu nikmat bahwa Allah swt mencipta Adam dari fitrah-Nya. Allah swt meniupkan ruh-Nya ke dalam jasadnya. Allah swt memerintahkan kepada Malaikat bersujud kepadanya. Allah swt mencurahkan pancaran ilmu-Nya. Maka wahai Adam, inilah rumah abadi, Aku sediakan untukmu sebagai tempat tinggal. Jika kamu mentaati-Ku, maka Aku akan balas dengan kebaikan yang berlipat dan akan Aku kekalkan kamu di surga-Ku. Namun jika kamu mengingkari janji-Ku, akan Aku keluarkan kamu dari rumah-Ku dan akan Aku adzab kamu dengan neraka-Ku. Kemudian wahai Adam, jangan lupa bahwa Iblis itu musuh yang nyata bagimu dan istrimu, maka sekali-kali jangan sampai Iblis memperdaya kamu dan mengeluarkan kamu berdua dari surga-Ku.

Allah swt membolehkan bagi Adam dan istrinya berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Dan melarang keduanya untuk mendekati satu pohon saja dibandingkan banyaknya pepohonan lain yang dibolehkan.

Dan kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” Al-Baqarah: 35

Adam alaihis salam berdiam di surga. Segala kenikmatan surgawi telah dirasakannya.

Melihat hal itu, Iblis cemburu. Iblis bertekad untuk mengoyak singgasana kebahagiaan Adam, dan merampas kenikmatannya. Bukankah Adam yang menyebabkan dirinya menjadi hina, jauh dari rahmat Allah swt dan dikeluarkan dari surga?

Iblis membuat strategi untuk balas dendam. Yaitu dengan berpura-pura mengakui keutamaan Adam alaihis salam dibanding dirinya. Iblis mendekati surga dan membisiki Adam dengan sangat halus. Iblis meyakinkan bahwa dirinya adalah teman setia, tulus dalam memberi nasihat. Iblis berupaya mengambil hatinya dengan segala cara. Semua cara ditempuhnya. Iblis memperlihatkan kecintaan kepadanya. Iblis berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Al-A’raf: 20

Adam dan istrinya tetap teguh pendirian, dan tidak mau mengikuti rayuannya. Namun Iblis terus merayunya. Iblis pun menggunakan jurus sumpahnya, ”Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya.Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” Al-A’raf: 21

Akhirnya Adam alaihis salam dan istrinya khilaf, jatuh luluh di hadapan rayuan Iblis, tertipu sumpahnya, terpedaya janji manisnya. ”Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Al-A’raf: 22

Adam alaihis salam dan istrinya sadar telah melakukan kesalahan besar. Keduanya menyesal, dan langsung bertaubat kepada Allah swt. Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Al-A’raf: 23

Allah swt menerima taubat keduanya, mengampuni kesalahannya. Allah swt memerintahkan keduanya turun dari surga. Allah swt berpesan, bahwa antara manusia dan Iblis ada permusuhan yang abadi. Agar berhati-hati terhadap tipu dayanya. Dan agar tidak mengikuti bisikannya.

Dunia Tempat Ujian


Allah swt memberitahu kepada Adam alaihis salam dan keturunannya, bahwa telah selesai masa kenikmatan abadi, telah berlalu masa bersenang-senang. Di dunia adalah saatnya berusaha, bekerja, beramal dan menentukan pilihan hidup. Antara memilih meraih hidayah atau kesesatan, antara iman atau kekafiran, antara bahagia atau celaka… dan manusia diberi kekuasaan untuk memilih.

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. QS.. Thaahaa: 123

Manusia yang bersih aqidahnya, benar ibadahnya, ikhlas amalnya, sekali-kali setan tidak akan kuasa menggodanya. Adapun manusia yang berpaling dari dzikrullah, melampui batas syariat-Nya, maka baginya kehidupan yang sempit, dan tersesat jalan, meskipun mereka merasa perbuatannya baik.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Thaahaa: 124

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi hidayah Allah swt untuk senantiasa dalam kebaikan dan keridhaan-Nya. Allahu A’lam.

Oleh: Ulis Tofa, Lc
http://www.dakwatuna.com/2007/nabi-adam-manusia-pertama/