Kemukjizatan Al Quran

Petunjuk Firman

Al Quran dalam surah az Zumar ayat 23, yaitu :

“Allah yang telah turunkan sebaik-baik perkataan (yaitu) sebuah Kitab (al Quran) yang serupa, yang diulang-ulang. Akan menjadi seram terhadapnya kulit orang-orang yang takut terhadap Robb mereka, kemudian lembutlah kulit dan hati mereka kepada peringatan Allah. Demikianlah petunjuk Allah, Dia tunjuki dengan-nya siapa yang Dia Kehendaki. Dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tiadalah baginya yang dapat memberikan petunjuk”.-

Ayat tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa kemegahan al Quran sebagai rangkaian perkataan yang tidak mungkin teratasi oleh seluruh makhluq sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 23, yang sebagian isinya telah dicantumkan dalam Kitab-Kitab terdahulu sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah asy Syu’aro ayat 196. Yang dengan itu maka al Quran merupakan penyempurna dan penghapus daripada keberlakuan Kitab-Kitab terdahulu sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 106, serta menetapkan kemutlaqkannya sebagai Norma Hukum atas ummat manusia sebumi sampai akhir zaman sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 20; Artinya bahwa al Quran meliputi Hukum dan Minhaj, juga sebagai pengawal Kitab Terdahulu dari segala bentuk fitnah dan pemalsuan sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Maidah ayat 48.

Pembahasan

Sebagaimana telah difahami, bahwa Allah telah menetapkan kejadian Adam adalah sebagai Kholifah fil Ardli sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 30, karena itu Allah mengingatkan kepada ummat manusia secara keseluruhan bahwa keberadaan mereka adalah makhluq sosial yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk refleksi yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan sosial yaitu yang disebut “Simbiose Mutualistic dan Mutual Service” sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah an Nisa ayat 1. Kemudian Allah tempatkan di planet Bumi ini sebagai tempat hidup dan matinya manusia sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al A’rof ayat 25, serta disediakan jaminan penghidupannya sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah Tho-ha ayat 53; Oleh karena itu Allah telah menetapkan atas ummat manusia sebagaimana ketetapanNya atas jin yaitu “mengabdi” sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah adz Dzariyat ayat 56 yang Allah telah ciptakan lebih dahulu dari manusia sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Hijr ayat 27.

Dengan pembahasan sebagaimana tersebut maka secara mudah dapat difaham dan dibuktikan tentang pesona al Quran, sehingga Allah jelaskan sebagai “Ahsanul Hadits” seperti dalam ketetapanNya; Hal ini sangat beralasan dengan banyak bukti antara lain :

a. Keaslian dari seluruh isi al Quran yang terpelihara atas KetentuanNya sampai akhir zaman, sehingga tidak mungkin dapat dipalsukan oleh makhluq dengan cara apapun sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Hijr ayat 9.

b. Al Quran memberikan bukti akan keunggulannya maka menantang siapapun yang sanggup untuk membuat kitab tandingan sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 23.

c. Menetapkan Hukum Dholim bagi yang mengada-ada dengan disandarkan kepada Allah, karena secara pasti akan berdampak negatif bagi kehidupan ummat manusia sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al An’am ayat 93.

d. Al Quran memberi petunjuk yang pasti bagi penegakan Kebenaran dalam kehidupan ummat manusia dan secara jelas menepis terhadap segala pola pikir yang tidak bersumber dari al Quran sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 6.

Maka dengan mengambil beberapa alasan sebagaimana tersebut adalah untuk memberikan bukti yang pasti, bahwa hanya dengan al Quran satu-satunya pedoman bagi pembangunan masyarakat manusia seluruh dunia dan pasti memperoleh jaminan kesejahteraan dan kemajuan yang mengangkat harkat kemanusiaan. Sehingga akan menjadi bukti rujuknya alam dan ummat manusia tidak akan lagi berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat; Demikianlah makna dari Kemukjizatan al Quran.

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/tafseer/506-kemukjizatan-al-quran.html

Renungan Surat Al-Infithar

alquran1 

ذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1) وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (2) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3) وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (4) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (5)
(1). “apabila langit terbelah, (2). dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,(3). dan apabila lautan menjadikan meluap,(4). dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,(5). Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya”,( Qs al-Infithar : 1-5 )

 Allah mengingatkan kita melalui ayat-ayat di atas bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir. Dan itu ditandai dengan pecahnya langit yang berada di atas kita. Langit yang tadinya kuat dan kokoh tiba-tiba terbelah dan pecah karena mengikuti perintah Allah. Hal itu juga dikarenakan para malaikat akan turun ke muka bumi, sebagaimana firman Allah,

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا
“Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.”(Qs. al-Furqan : 25)

Kemudian akan diikuti dengan meluapnya air laut, artinya sebagaimana yang disebutkan oleh Hasan al-Bashri , bahwa air laut itu akan habis dan menjadi kering, karena pada awalnya laut-laut akan menyatu dan airnya berlimpah, tetapi jika terjadi ledakan maka airnya akan menjadi cerai berai sehingga kering.

Setelah itu kuburan-kuburan akan dibongkar dan dikeluarkan apa yang ada di dalamnya  dari mayit-mayit yang menjadi hidup lagi. Dan bumipun akan dibongkar dan dikeluarkan seluruh isinya. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya.” ( Qs. Al-zalzalah : 4 )

Pada saat itulah manusia baru sadar akan amal perbuatannya yang selama ini dikerjakan. Maa qaddamat wa akhharat ( Teringat apa saja perbuatan baik yang pernah dilakukan dan yang ditinggalkan )

Allah menyebutkan dua hal saja dalam kehidupan manusia ini maju atau mundur, tidak ada istilah berhenti atau diam, karena berhenti atau diam berarti kemunduran, bukan kemajuan.

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
“Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah” ”,( Qs al-Infithar : 6 )

          Al-Qurtubi menjelaskan bahwa dalam ayat ini, Allah mengingatkan manusia agar tidak terperdaya dengan kemurahan Allah yang diberikan kepada manusia, sehingga Dia tidak langsung menurunkan siksa-Nya di dunia ketika manusia berbuat jahat. Seringkali Allah mengundur siksa kepada manusia, agar manusia intropeksi dan mau meninggalkan kejahatannya kemudian bertaubat dan kembali kepada Allah.

Jangan sampai hal ini, kemudian membuat manusia terbuai dan menganggap bahwa perbuatan-perbuatan jahatnya tidak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah dan dia akan luput dari sangsi-Nya.  Inilah rahasia kenapa Allah menyebutkan di akhir ayat dengan sebutan Tuhan-mu Yang Maha Pemurah )

Adapun Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ( Tuhan-mu Yang Maha Pemurah ), yaitu sangat baik kepada makhluq-Nya, maka jangan sampai kemurahan dan kebaikan-Nya dibalas dengan perbuatan maksiat.

Al-Karim adalah sifat Allah Yang Maha Pemurah. Kemurahan Allah di dalam ayat ini digandengkan dengan kata ar-Rabb, yang berarti Pemelihara, Pengatur dan Pemilik. Hal itu menunjukkan bahwa kemurahan Allah ini terwujud dalam penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia serta pemeliharan Allah secara terus menerus terhadap manusia itu sendiri. Ini dijelaskan Allah dengan lebih mendetail pada ayat selanjutnya, bahwa Dia-lah yang menciptakan manusia dalam keadaan yang paling sempurna. Itulah salah satu bentuk kemurahan Allah.

Di dalam surat al-‘Alaq yang merupakan ayat pertama yang diturunkan kepada nabiMuhammad disebutkan kata “ Al-Akram “ , menurut Sa’id bin Ali al-Qahthani , yaitu Allah Yang Paling Pemurah, Yang memiliki sifat puncak kemurahan yang tiada bandingnya dan tidak ada kekurangan di dalamnya.

Yang menarik lagi bahwa kata “ al-Karim “ di dalam surat An-Naml, digandeng dengan kata “ al-Ghani “, yang berarti Maha Kaya. Ini disampaikan untuk menanggapi orang-orang yang kafir kepada-Nya, seperti pada ayat di bawah ini :

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“ Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. ( Qs an-Naml : 40 )

Ini menunjukkan bahwa kemurahan Allah kepada makhluq-Nya tidak hanya terbatas kepada orang-orang beriman saja, tetapi juga berlaku kepada orang-orang kafir yang menentang kekuasaan-Nya dan orang-orang musyrik yang menyekutukan-Nya dengan sesembahan-sesembahan yang lain. Hal ini dikarenakan Allah Maha Kaya tidak membutuhkan makhluq yang menyembah-Nya, tetapi justru makhluk- makhluk-Nya lah yang membutuhkan kemurahan-Nya.
Ini senada dengan sifat “ar-Rahman“, yaitu Yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk-Nya tanpa memandang bulu. Dan itu semua berhubungan dengan kenikmatan materi. Berbeda dengan sifat “ ar-Rahim“, yaitu  Yang Maha Penyayang yang dikhususkan hanya kepada orang-orang yang beriman saja, yaitu berupa kenikmatan jiwa yang non materi.

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
“ Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”,( Qs al-Infithar :7 )

Yakni yang menjadikanmu normal, tegak, mempunyai tubuh yang seimbang, dengan tampilan dan bentuk yang sangat baik.

Allah menciptakan manusia dalam keadaan paling sempurna dibanding dengan makhluk-mkahluk lainnya. Ini dikuatkan dengan firman-Nya :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. at-Tiin : 4 )

 “Fa’adalak” (menjadikan susunan tubuhmu seimbang ), artinya susunan tubuh manusia benar-benar seimbang, bagaimana Allah menciptakan mata hidung mulut telinga dan rambut pada posisi yang memang diperlukan oleh manusia. Allah menjadikan mulut satu dan telinga dua. Tangan yang berjumlah dua, kemudian diujungnya diberi jari-jari yangberjumlah sepuluh . Kedua kaki yang terletak di bawah .

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
“ Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” ( Qs al-Infithar : 8 )

Allah-lah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang beragam dan berbeda-beda. Sebagian dari mereka ada yang mempunyai postur yang tinggi, sebagian lainnya mempunyai postur pendek, ada yang berkulit putih dan ada yang berkulit hitam, ada yang tampan dan rupawan, ada juga yang biasa. Ada yang gendut dan ada yang kurus. Semua itu adalah kehendak  Allah Yang Mencipta makhluq-makhluq-Nya dalam bentuk yang berbeda-beda untuk suatu hikmah dalam kehidupan ini.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ
“ Sekali-kali jangan begitu, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.“( Qs al-Infithar : 9 )

          Penyebab manusia ingkar kepada Tuhan-Nya, adalah pengingkaran mereka kepada hari akhir. “Ad-Din” di sini artinya hari pembalasan. Seseorang kalau sudah tidak percaya dengan hari pembalasan, maka dia akan berbuat sekehendaknya. Orang seperti inilah yang membuat kerusakan di muka bumi. Untuk mencegahnya kita harus menanamkan keimanan kepada hari akhir dan hari pembalasan.

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ(10)  كِرَامًا كَاتِبِين (11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ(12)
“  Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( Qs al-Infithar :10-12 )

          Dalam diri manusia ada malaikat penjaga yang selalu mencatat perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk. Tidak ada suatu ucapan yang diucapkan manusia kecuali akan ditulis oleh malaikat pencatat amal ( Raqib dan Atid) sebagaimana firman-Nya :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qs. Qaaf : 18 )

“ Kiraman Katibin “, yaitu malaikat –malaikat penjaga manusia tersebut mempunyai sifat ( Kiraman ) yaitu pemurah, dan ( Katibin ) yaitu yang selalu menulis setiap perbuatan manusia. Maksudnya menurut Ibnu Utsaimin bahwa  malaikat tersebut tidak akan curang dan tidak akan mencatat sesuatu yang belum dikerjakan manusia. Sebaliknya tidak akan membiarkan sesuatu yang dikerjakan manusia, kecuali akan dicatat oleh malaikat tersebut.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (13) وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (14) يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ (15) وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ (16) وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18) يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19)

 “ Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan,(14). dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.(15). mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.(16). dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.(17) tahukah kamu Apakah hari pembalasan itu? (18). sekali lagi, tahukah kamu Apakah hari pembalasan itu? (19). (yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”( Qs. al-Infithar : 13-19 )

Al-Abrar”  berasal dari kata barrun  yang berarti luas, maka daratan disebut dengan al- Barru karena tempatnya luas, dan manusia disebut dengan al Bariyyah , sebagaimana di dalam surat al- Bayinah, karena mereka hidup di atas daratan. Maka kata al-abrar adalah orang yang luas kebaikannya.  Termasuk di dalamnya “ Birrul Walidain “, yaitu berbuat baik yang sangat banyak kepada kedua orangtua.

“ Mereka berada di dalam kenikmatan “, Untuk menggambarkan kenikmatan yang luar biasa, Allah menggunakan kata “ dalam kenikmatan “ , bukan dengan kata “ mendapatkan kenikmatan “ hal ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar berada di dalam kenikmatan tersebut dan tidak akan keluar darinya.

Kenikmatan tersebut meliputi kenikmatan jiwa dan kenikmatan badan, mereka dapatkan keduanya di akherat. Adapun di dunia ini, mereka mendapatkan kenikmatan jiwa.

“ Al-Fujjar “ adalah orang-orang durhaka, lawan dari “ al-Abrar “ . Mereka berada dalam neraka Jahim. Mereka memasuki neraka tersebut pada hari pembalasan.

“Mereka sekali-kali tidak ghoib dari neraka itu.” (Bi-ghoibin)maksudnya mereka tidak pernah ghoib, yaitu selalu berada di dalam neraka tersebut, kekal selama-lamanya.


“ Apakah gerangan hari pembalasan itu “ Yaitu hari dimana seseorang tidak bisa memberikan manfaat maupun madharat kepada orang lain sedikitpun. Oleh karena mereka berbondong-bondong meminta syafaat kepada nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa ‘alaihim as-salam, tetapi mereka tidak bisa memberikan syafaat tersebut. Kemudian mereka mendatangi nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dan beliaulah yang mempunyai syafaat besar danmaqaman mahmuda ( kedudukan yang agung ) pada hari kiamat atas izin Allah sebagaimana yang terdapat dalam doa sehabis adzan.
“ Segala urusan pada hari itu hanya milik Allah saja “ yaitu tidak ada satupun makhluq Allah yang bisa memberikan manfaat kecuali hanya Allah. Jika ada yang bertanya, bukankah Allah memiliki segala urusan bukan hanya di akherat saja, tetapi juga sewaktu manusia berada di dunia ? jawabannya bahwa sewaktu di dunia banyak orang yang mengaku dirinya raja, berkuasa, dan berlaku sewenang-wenang, tetapi di akherat tidak ada satupun yang bisa mengaku hal tersebut. Ini sesuai dengan firman Allah pada ayat-ayat lain, diantaranya :

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا
“Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.” ( Qs. al-Furqan : 26 )

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“(Lalu Allah berfirman): Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” epunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Qs. al-Mu`min : 16)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“ Yang menguasai hari pembalasan.” (Qs. al-Fatihah : 4)

Wallahu A’lam,


Disampaikan pada pengajian Tadabbur al-Qur’an di Majlis Taklim Tazkiyatu al-Auliya, Cikeas, Bogor, pada tanggal 15 Shofar 1435/18 Desember 2013.

*Penulis adalah Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam, Pondok Gede, Bekasi. (ahmadzain.com)
http://www.alislamu.com/8134/renungan-surat-al-infithar/

Koran Tafsir Surat An-nas (Muqoddimah)


Koran

Alhamdulillâhi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh…

PENDAHULUAN
  • · Nama-nama Surat an-Nas
1. Surat “Qul a’ûdzubirabbin nâs”
Dalilnya akan dipaparkan kemudian.

2. Dia dan surat al-Falaq dinamakan al-Mu’awwidzatân
‘Uqbah bin ‘Amir bercerita bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

اقْرَأْ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فَإِنَّكَ لَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا

“Bacalah al-Mu’awwidzatân (surat al-Falaq dan an-Nas)! Sesungguhnya engkau tidak akan membaca (surat) yang semisal dengannya”. HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.
  • · Sebab diturunkannya surat an-Nas
Menurut al-Wâhidy (w. 468 H)[1], Ibn al-’Araby (w. 543 H)[2], al-Qurthuby (w. 671 H)[3], dan as-Suyûthy (w. 911 H)[4] sebab diturunkannya surat an-Nas adalah peristiwa disihirnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham.
Zaid bin Arqam radhiyallahu’anhu mengisahkan kejadian tersebut,

حَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُوْدِ، قَالَ: فَاشْتَكَى فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ، وَقَالَ: “إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ، وَالسِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ، قَالَ: فَأَرْسَلَ عَلِيًّا فَجَاءَ بِهِ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يُحَلَّ الْعُقَد، وَتُقْرَأَ آيَة، فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَيَحُلَّ حَتَّى قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا أَنْشَطَ مِنْ عِقَالٍ، قَالَ: فَمَا ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِذَلِكَ الْيَهُوْدِيِّ شَيْئاً مِمَّا صَنَعَ بِهِ، قَالَ: “وَلاَ أَرَاهُ فِي وَجْهِهِ”.

Seorang Yahudi menyihir Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau menderita. Jibrilpun mendatanginya dan menurunkan pada beliau surat al-Falaq dan an-Nas. Malaikat Jibril berkata, “Seorang Yahudi telah menyihirmu. (Buhul) sihirnya ada di sumur anu”. Kemudian Ali diutus untuk mengambilnya dan menguraikan buhul tersebut sambil dibacakan ayat. Ali pun membaca sambil menguraikannya, hingga Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit kembali seperti orang yang baru lepas dari belenggu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sama sekali tidak mengomentari perbuatan Yahudi tersebut. Hanya saja beliau berpesan, “Aku tidak mau melihat wajahnya”. HR. ‘Abd bin Humaid (I/228 no. 271) dan sanadnya dinilai sahih oleh Salim al-Hilaly dan Muhammad Alu Nashr.[5]
  • · Keutamaan surat an-Nas
Di antara keutamaan surat mulia ini:

1. Dia merupakan sebaik-baik bacaan perlindungan

Ibnu ‘Âbis al-Juhany bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“يَا ابْنَ عَابِسٍ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ؟”. قَالَ قُلْتُ: بَلَى”. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ”قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ.

“Wahai Ibnu ‘Âbis maukah kuberitahukan padamu bacaan perlindungan terbaik orang-orang yang mencari perlindungan?”.
Aku pun menjawab, “Tentu”.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”; dua surat ini”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Hadits ini memberikan pelajaran pada kita bahwa dua surat di atas adalah sebaik-baik bacaan perlindungan. Walaupun keduanya telah dihapal oleh banyak kaum muslimin, namun anehnya tidak sedikit di antara mereka yang berKTP Islam, lebih memilih merapal jampi-jampi yang diberikan mbah dukun, atau mengamalkan wirid-wirid dan hizib-hizib yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk perlindungan!


2. Tidak ada yang semisal dengannya

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,


“أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟؛ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ)”.

“Tahukah engkau bahwa semalam telah diturunkan ayat-ayat yang tidak pernah ditemukan semisalnya? “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”. HR. Muslim (VI/337 no. 1888) dari ‘Uqbah bin ‘Amir.

3. Merupakan salah satu surat paling utama

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟” فَأَجْلَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَرْكَبَ مَرْكَبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟“. فَأَشْفَقْتُ أَنْ يَكُونَ مَعْصِيَةً. فَنَزَلَ وَرَكِبْتُ هُنَيْهَةً وَنَزَلْتُ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا أُعَلِّمُكَ سُورَتَيْنِ مِنْ خَيْرِ سُورَتَيْنِ قَرَأَ بِهِمَا النَّاسُ؟” فَأَقْرَأَنِي (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَتَقَدَّمَ فَقَرَأَ بِهِمَا ثُمَّ مَرَّ بِي فَقَالَ كَيْفَ رَأَيْتَ يَا عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ؟ اقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَقُمْتَ!”.

“Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”.
Aku merasa segan untuk menaiki kendaraan Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Beliau kembali berkata, “Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”. Aku khawatir (jika tidak melakukan apa yang diperintahkannya) akan teranggap sebagai perbuatan maksiat. Beliau lalu turun dan aku naik sebentar kemudian turun kembali. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam naik, lalu berkata, “Maukah kuajarkan padamu dua surat yang termasuk surat terbaik yang dibaca para manusia?”.
Kemudian beliau mengajarkan, “Qul a’ûdzu bi rabbil falaq” dan “Qul a’udzu bi rabbin nas”.
Beberapa saat kemudian, masuk waktu shalat dan beliau mengimami kami dengan membaca dua surat tersebut. (Selepas shalat) beliau melewatiku sembari berkata, “Bagaimana menurutmu wahai ‘Uqbah bin ‘Amir? Bacalah keduanya setiap engkau tidur dan bangun”. HR. An-Nasa’i dan sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.
  • · Momen-momen pembacaan surat an-Nas
Berikut beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk dibacakan surat an-Nas:

1. Setiap pagi dan sore

Abdullah bin Khubaib radhiyallahu’anhu bercerita,


خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا، فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ: “أَصَلَّيْتُمْ؟” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَقُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ؟” قَالَ: “قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”.

“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam agar beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau bertanya, “Sudah shalatlah kalian?”.
Aku tidak berkata apapun.
Lalu beliau berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
“Ucapkanlah!” kata beliau lagi.
Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.
“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad” dan “al-Mu’awwidzatani” di sore dan pagi hari tiga kali; niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”[6]. HR. Abu Dawud dan isnadnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Ibn Baz. [7]

Selain dituntut untuk mempraktekkannya sendiri, seyogyanya kita juga berusaha membiasakan anak-anak kita mengamalkan ibadah ini. Banyaknya fenomena kesurupan masal di berbagai sekolahan belakangan ini, yang ternyata banyak di antara korbannya adalah anak-anak kaum muslimin, bisa jadi bersumber karena mereka tidak mengamalkan dzikir pagi dan sore.

2. Setelah shalat lima waktu

‘Uqbah bin ‘Âmir radhiyallahu’anhu berkata,


“أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkanku untuk membaca al-mu’awwidzat (surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas)” setelah setiap shalat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah.

Khusus untuk setelah shalat Shubuh dan Maghrib tiga surat di atas dibaca tiga kali, karena ada hadits sahih yang menunjukkan hal tersebut. [8]

3. Sebelum tidur

Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“.

“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam beranjak ke peraduan beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah, lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dicapai. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali”. HR. Bukhari (hal. 1091 no. 5017).

Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam begitu menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

“فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ”.
“Saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (hal. 1233 no. 5748).

Faidah: perlu diketahui bahwa mengusap wajah dan tubuh setelah dzikir khusus dilakukan pada momen ini dan tidak benar jika dilakukan di setiap dzikir atau doa. Sebab tidak ada hadits sahih yang menunjukkan praktek tersebut. [9]

4. Saat meruqyah orang sakit

Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي”.

“Jika salah satu keluarga Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau meniupkan nafas beserta sedikit ludah dan membaca al-mu’awwidzât. Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam jatuh sakit menjelang wafatnya, akupun meniupkan nafasku dan aku mengusapkan tangan beliau ke tubuhnya. Sebab tangan beliau lebih berbarokah dibanding tanganku”. HR. Muslim (XIV/403 no. 5678).

Catatan tambahan:

Hadits di atas merupakan salah satu metode pengobatan yang diajarkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam, dan biasa diistilahkan dengan “ruqyah syar’iyyah”. Di negeri kita, beberapa tahun belakangan ini, metode ruqyah booming di mana-mana. Meskipun di sana-sini masih ada beberapa praktek yang perlu dibenahi, keterbukaan umat dengan metode pengobatan syar’i tersebut merupakan fenomena yang menggembirakan. Apalagi mereka mulai meninggalkan tata cara pengobatan menyimpang, yang biasa dikomandani oleh para dukun dan paranormal.

Dengan mulai sepinya tempat praktek para dukun dari pasien, banyak di antara mereka yang banting setir terjun ke dunia ruqyah, bahkan penampilan mereka pun disulap bak seorang wali. Begitu pula tabloid dan majalah yang sudah dikenal dari dulu merupakan corong para dukun dan sangat intens dalam menjajakan jimat dengan berbagai jenisnya, mulai membuka praktek ruqyah dan bahkan pelatihan intensif untuk mencetak praktisi ruqyah, versi mereka tentunya.

Andaikan gerakan alih haluan tersebut dimotivasi karena taubat dari praktek perdukunan dan tata cara ruqyah yang mereka terapkan benar-benar syar’i, tentu hal itu amat menggembirakan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak di antara mereka mencampuradukkan antara al-haq dan kebatilan. Imbasnya tidak sedikit kaum muslimin, dikarenakan keterbatasan ilmu agama mereka, menjadi korban ruqyah ‘gadungan’ tersebut.

Jenis penyimpangan yang dikandung praktek ruqyah para dukun tersebut begitu beragam. Ada yang sampai memasuki ranah kesyirikan, adapula yang bermuatan khurafat dan bid’ah.
Seorang muslim seyogyanya bersifat cerdas tatkala dihadapkan dengan realita tersebut. Tidak sepantasnya ia mudah tertipu dengan ‘label’ dan ‘bungkus’, namun dia harus mencermati praktek yang dilakukan para ‘praktisi baru ruqyah’ tersebut dengan seksama.

Berikut penulis bawakan beberapa contoh kekeliruan yang bisa dijadikan indikasi ruqyah gadungan:

1. Ruqyah yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah.

Semisal permintaan tolong kepada Nabiyullah Adam ‘alaihissalam atau Hawa’ agar menyembuhkan penyakit.[10] Begitu pula permohonan bantuan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, Syaikh Ahmad ar-Rifâ’iy,[11] Syaikh Abdul Qadir al-Jailany,[12] para malaikat,[13] bahkan ada pula yang meminta tolong kepada iblis raja diraja setan! [14]

Padahal Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan,

لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْك“.

“Tidak mengapa menggunakan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan”. HR. Muslim (XIV/409 no. 5696) dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i.

2. Ruqyah yang berisikan kata-kata aneh yang tidak diketahui maknanya, atau nama-nama asing.

Sebagaimana yang dipraktekkan oleh seorang ‘ustadz’ kondang manakala mengajarkan bacaan yang ia klaim jika diamalkan bisa mengambil hati bos dan atasan. Yakni mengulang-ulang kata “shorobun”.[15]

Nama-nama asing semisal: Mali[16], Ajin, Ahwajin, Jaljalalut dan Halhalat.[17]
Imam al-Baihaqy menjelaskan bahwa di antara jenis ruqyah yang terlarang adalah “ruqyah yang tidak dikenal dari selain al-Qur’an dan dzikir, karena berpeluang untuk bermuatan syirik”. [18]

3. Ruqyah yang dibarengi puasa yang diiringi pantangan untuk memakan makanan yang berbahan dasar makhluk bernyawa.[19]

4. Ruqyah yang dibumbui praktek menjadikan seseorang sebagai mediator untuk dimasuki jin guna ditanyai dengan berbagai pertanyaan.[20]

 Sebagaimana yang kerap dipraktekkan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.

Mengapa kita memanggil jin agar masuk ke tubuh, padahal al-Qur’an dalam banyak ayatnya justru memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada Allah dari gangguan jin?!.

Sisi negatif lain dalam praktek di atas; munculnya ketergantungan dalam diri mediator kepada si dukun, untuk mengeluarkan jin tersebut dari dalam tubuhnya. Dan ini tentunya melemahkan rasa tawakkal pada Allah ta’ala. Padahal Allah telah berfirman,

“وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”.

Artinya: “Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-A’raf: 200.

5. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, menangkap dan memasukkannya ke dalam botol atau tempat lainnya lalu memindahkannya ke tempat lain sekehendak dia.[21]

Praktek ini juga kerap dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.
Kemampuan untuk menguasai jin merupakan keistimewaan yang Allah berikan hanya kepada Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam, adapun selain beliau maka tidak.

Silahkan dicermati ayat-ayat berikut: QS. Shad: 35, 36-39, QS. Al-Anbiya’: 81-82, QS. Saba’: 12-14 dan QS. An-Naml: 39.

6. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya mampu memindahkan penyakit pasien ke tubuh hewan, semisal kambing. [22]

Apa dosa kambing sehingga ia harus menanggung penyakit yang diderita anak Adam? Apalagi praktek tersebut tidak diragukan menggunakan pertolongan jin.

7. Ruqyah yang praktisinya hanya memandang mata si pasien, atau menekan bagian tertentu tubuhnya tanpa membaca bacaan apapun, atau diselipi bacaan yang tidak jelas dengan suara lirih. Walaupun terkadang diselingi bacaan ayat suci al-Qur’an.

Dan masih banyak contoh lainnya. Yang ini semakin memotivasi kaum muslimin agar lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan.
  • · Surat an-Nas makkiyyah atau madaniyyah?
Para ulama berbeda pendapat apakah surat ini adalah makkiyyah[23] atau madaniyyah[24]. Karena keterbatasan ilmu dan waktu, penulis belum bisa memastikan mana di antara dua pendapat tersebut yang lebih kuat. Semoga di lain kesempatan, Allah memudahkan kami untuk melakukan studi lebih dalam lagi tentang permasalahan ini. Amien.


[1] Lihat: Asbâb an-Nuzûl (hal. 263-264).
[2] Ahkâm al-Qur’an (IV/355).
[3] Cermati: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567).
[4] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 615).
[5]  Lihat: Al-Istî’âb fî Bayân al-Asbâb (III/589).
[6]  Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-‘Abbad (III/14).
[7]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr bi Bayân Jumlah Nâfi’ah mimma Warada fi al-Kitâb wa as-Sunnah ash-Shahîhah min al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (hal. 26-27).
[8]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr (hal. 23).
[9]  Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (III/50).
[10]  Lihat: Bid’ah-bid’ah di Indonesia karya Badruddin Hasubky (hal. 104).
[11] Lihat: Saripati Mujarrobat karya Fairuz Masduqi (hal. 47-50).
[12] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[13] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 327, tanggal 27 Juli 2005 (hal. 20). ‘Praktisi’ ruqyah yang menyandang gelar Kyai yang dijadikan narasumber dalam tabloid tersebut mengklasifikasikan para malaikat dengan sangat aneh. Katanya: malaikat Adam Ahmad penguasa daratan, malaikat Khidir Ahmad penguasa lautan, malaikat Ifrid penguasa api, malaikat Eva Ahmad penguasa angin, malaikat Jibril Ahmad pemimpin kelima malaikat tersebut di atas. Para malaikat tersebut lah yang membantu praktek pengobatannya, menurut klaim dia tentunya!
[14] Lihat: Majalah Misteri, edisi 375, tanggal 5-19 Juni 2005 (hal. 117).
[15] Amalan Doa-doa Penyembuh, Enteng Jodoh, Pembuka Aura dan Pemenuh Segala Kebutuhan, karya Haryono (hal. 28).
[16] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[17] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 333, tanggal 7 September 2005 (hal. 2).
[18] Al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân (II/396).
[19] Lihat: Majalah Misteri, edisi 387, tanggal 20 Desember 2005 – 4 Januari 2006 (hal. 119).
[20] Lihat: Ruqyah Syar’iyyah vs Ruqyah Gadungan (Syirkiyyah), karya Perdana Akhmad (hal. 40).
[21] Lihat: Ibid.
[22] Lihat: Fenomena Ustadz Haryono & Keajaiban Tradisi Pengobatan karya al-Kindi (hal. 27) dan Jagat Spiritualis Nusantara karya Zubairi Endro dkk (hal. 34, 84, 91, 153, 178 dan 199).
[23]  Lihat: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567, 579), Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauzy (IX/270) dan at-Tahrîr wa at-Tanwîr (XXX/624).
[24]  Lihat: Tafsîr al-Baghawy (VIII/593) dan Tafsîr Ibn Katsîr (VIII/530).

Download Audio Kajian Tafsir Surat An-nas

http://tunasilmu.com/tafsir-surat-an-nas-muqoddimah/