Koran Tafsir Surat An-nas (Muqoddimah)


Koran

Alhamdulillâhi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh…

PENDAHULUAN
  • · Nama-nama Surat an-Nas
1. Surat “Qul a’ûdzubirabbin nâs”
Dalilnya akan dipaparkan kemudian.

2. Dia dan surat al-Falaq dinamakan al-Mu’awwidzatân
‘Uqbah bin ‘Amir bercerita bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

اقْرَأْ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فَإِنَّكَ لَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا

“Bacalah al-Mu’awwidzatân (surat al-Falaq dan an-Nas)! Sesungguhnya engkau tidak akan membaca (surat) yang semisal dengannya”. HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.
  • · Sebab diturunkannya surat an-Nas
Menurut al-Wâhidy (w. 468 H)[1], Ibn al-’Araby (w. 543 H)[2], al-Qurthuby (w. 671 H)[3], dan as-Suyûthy (w. 911 H)[4] sebab diturunkannya surat an-Nas adalah peristiwa disihirnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham.
Zaid bin Arqam radhiyallahu’anhu mengisahkan kejadian tersebut,

حَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُوْدِ، قَالَ: فَاشْتَكَى فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ، وَقَالَ: “إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ، وَالسِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ“، قَالَ: فَأَرْسَلَ عَلِيًّا فَجَاءَ بِهِ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يُحَلَّ الْعُقَد، وَتُقْرَأَ آيَة، فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَيَحُلَّ حَتَّى قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا أَنْشَطَ مِنْ عِقَالٍ، قَالَ: فَمَا ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِذَلِكَ الْيَهُوْدِيِّ شَيْئاً مِمَّا صَنَعَ بِهِ، قَالَ: “وَلاَ أَرَاهُ فِي وَجْهِهِ”.

Seorang Yahudi menyihir Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau menderita. Jibrilpun mendatanginya dan menurunkan pada beliau surat al-Falaq dan an-Nas. Malaikat Jibril berkata, “Seorang Yahudi telah menyihirmu. (Buhul) sihirnya ada di sumur anu”. Kemudian Ali diutus untuk mengambilnya dan menguraikan buhul tersebut sambil dibacakan ayat. Ali pun membaca sambil menguraikannya, hingga Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit kembali seperti orang yang baru lepas dari belenggu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sama sekali tidak mengomentari perbuatan Yahudi tersebut. Hanya saja beliau berpesan, “Aku tidak mau melihat wajahnya”. HR. ‘Abd bin Humaid (I/228 no. 271) dan sanadnya dinilai sahih oleh Salim al-Hilaly dan Muhammad Alu Nashr.[5]
  • · Keutamaan surat an-Nas
Di antara keutamaan surat mulia ini:

1. Dia merupakan sebaik-baik bacaan perlindungan

Ibnu ‘Âbis al-Juhany bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“يَا ابْنَ عَابِسٍ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ؟”. قَالَ قُلْتُ: “بَلَى”. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ”قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ.

“Wahai Ibnu ‘Âbis maukah kuberitahukan padamu bacaan perlindungan terbaik orang-orang yang mencari perlindungan?”.
Aku pun menjawab, “Tentu”.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”; dua surat ini”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Hadits ini memberikan pelajaran pada kita bahwa dua surat di atas adalah sebaik-baik bacaan perlindungan. Walaupun keduanya telah dihapal oleh banyak kaum muslimin, namun anehnya tidak sedikit di antara mereka yang berKTP Islam, lebih memilih merapal jampi-jampi yang diberikan mbah dukun, atau mengamalkan wirid-wirid dan hizib-hizib yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk perlindungan!


2. Tidak ada yang semisal dengannya

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,


“أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟؛ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ)”.

“Tahukah engkau bahwa semalam telah diturunkan ayat-ayat yang tidak pernah ditemukan semisalnya? “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”. HR. Muslim (VI/337 no. 1888) dari ‘Uqbah bin ‘Amir.

3. Merupakan salah satu surat paling utama

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟” فَأَجْلَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَرْكَبَ مَرْكَبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟“. فَأَشْفَقْتُ أَنْ يَكُونَ مَعْصِيَةً. فَنَزَلَ وَرَكِبْتُ هُنَيْهَةً وَنَزَلْتُ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا أُعَلِّمُكَ سُورَتَيْنِ مِنْ خَيْرِ سُورَتَيْنِ قَرَأَ بِهِمَا النَّاسُ؟” فَأَقْرَأَنِي (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَتَقَدَّمَ فَقَرَأَ بِهِمَا ثُمَّ مَرَّ بِي فَقَالَ كَيْفَ رَأَيْتَ يَا عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ؟ اقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَقُمْتَ!”.

“Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”.
Aku merasa segan untuk menaiki kendaraan Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Beliau kembali berkata, “Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”. Aku khawatir (jika tidak melakukan apa yang diperintahkannya) akan teranggap sebagai perbuatan maksiat. Beliau lalu turun dan aku naik sebentar kemudian turun kembali. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam naik, lalu berkata, “Maukah kuajarkan padamu dua surat yang termasuk surat terbaik yang dibaca para manusia?”.
Kemudian beliau mengajarkan, “Qul a’ûdzu bi rabbil falaq” dan “Qul a’udzu bi rabbin nas”.
Beberapa saat kemudian, masuk waktu shalat dan beliau mengimami kami dengan membaca dua surat tersebut. (Selepas shalat) beliau melewatiku sembari berkata, “Bagaimana menurutmu wahai ‘Uqbah bin ‘Amir? Bacalah keduanya setiap engkau tidur dan bangun”. HR. An-Nasa’i dan sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.
  • · Momen-momen pembacaan surat an-Nas
Berikut beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk dibacakan surat an-Nas:

1. Setiap pagi dan sore

Abdullah bin Khubaib radhiyallahu’anhu bercerita,


خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا، فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ: “أَصَلَّيْتُمْ؟” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَقُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ؟” قَالَ: “قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”.

“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam agar beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau bertanya, “Sudah shalatlah kalian?”.
Aku tidak berkata apapun.
Lalu beliau berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
“Ucapkanlah!” kata beliau lagi.
Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.
“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad” dan “al-Mu’awwidzatani” di sore dan pagi hari tiga kali; niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”[6]. HR. Abu Dawud dan isnadnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Ibn Baz. [7]

Selain dituntut untuk mempraktekkannya sendiri, seyogyanya kita juga berusaha membiasakan anak-anak kita mengamalkan ibadah ini. Banyaknya fenomena kesurupan masal di berbagai sekolahan belakangan ini, yang ternyata banyak di antara korbannya adalah anak-anak kaum muslimin, bisa jadi bersumber karena mereka tidak mengamalkan dzikir pagi dan sore.

2. Setelah shalat lima waktu

‘Uqbah bin ‘Âmir radhiyallahu’anhu berkata,


“أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkanku untuk membaca al-mu’awwidzat (surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas)” setelah setiap shalat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah.

Khusus untuk setelah shalat Shubuh dan Maghrib tiga surat di atas dibaca tiga kali, karena ada hadits sahih yang menunjukkan hal tersebut. [8]

3. Sebelum tidur

Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“.

“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam beranjak ke peraduan beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah, lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dicapai. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali”. HR. Bukhari (hal. 1091 no. 5017).

Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam begitu menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

“فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ”.
“Saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (hal. 1233 no. 5748).

Faidah: perlu diketahui bahwa mengusap wajah dan tubuh setelah dzikir khusus dilakukan pada momen ini dan tidak benar jika dilakukan di setiap dzikir atau doa. Sebab tidak ada hadits sahih yang menunjukkan praktek tersebut. [9]

4. Saat meruqyah orang sakit

Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي”.

“Jika salah satu keluarga Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau meniupkan nafas beserta sedikit ludah dan membaca al-mu’awwidzât. Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam jatuh sakit menjelang wafatnya, akupun meniupkan nafasku dan aku mengusapkan tangan beliau ke tubuhnya. Sebab tangan beliau lebih berbarokah dibanding tanganku”. HR. Muslim (XIV/403 no. 5678).

Catatan tambahan:

Hadits di atas merupakan salah satu metode pengobatan yang diajarkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam, dan biasa diistilahkan dengan “ruqyah syar’iyyah”. Di negeri kita, beberapa tahun belakangan ini, metode ruqyah booming di mana-mana. Meskipun di sana-sini masih ada beberapa praktek yang perlu dibenahi, keterbukaan umat dengan metode pengobatan syar’i tersebut merupakan fenomena yang menggembirakan. Apalagi mereka mulai meninggalkan tata cara pengobatan menyimpang, yang biasa dikomandani oleh para dukun dan paranormal.

Dengan mulai sepinya tempat praktek para dukun dari pasien, banyak di antara mereka yang banting setir terjun ke dunia ruqyah, bahkan penampilan mereka pun disulap bak seorang wali. Begitu pula tabloid dan majalah yang sudah dikenal dari dulu merupakan corong para dukun dan sangat intens dalam menjajakan jimat dengan berbagai jenisnya, mulai membuka praktek ruqyah dan bahkan pelatihan intensif untuk mencetak praktisi ruqyah, versi mereka tentunya.

Andaikan gerakan alih haluan tersebut dimotivasi karena taubat dari praktek perdukunan dan tata cara ruqyah yang mereka terapkan benar-benar syar’i, tentu hal itu amat menggembirakan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak di antara mereka mencampuradukkan antara al-haq dan kebatilan. Imbasnya tidak sedikit kaum muslimin, dikarenakan keterbatasan ilmu agama mereka, menjadi korban ruqyah ‘gadungan’ tersebut.

Jenis penyimpangan yang dikandung praktek ruqyah para dukun tersebut begitu beragam. Ada yang sampai memasuki ranah kesyirikan, adapula yang bermuatan khurafat dan bid’ah.
Seorang muslim seyogyanya bersifat cerdas tatkala dihadapkan dengan realita tersebut. Tidak sepantasnya ia mudah tertipu dengan ‘label’ dan ‘bungkus’, namun dia harus mencermati praktek yang dilakukan para ‘praktisi baru ruqyah’ tersebut dengan seksama.

Berikut penulis bawakan beberapa contoh kekeliruan yang bisa dijadikan indikasi ruqyah gadungan:

1. Ruqyah yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah.

Semisal permintaan tolong kepada Nabiyullah Adam ‘alaihissalam atau Hawa’ agar menyembuhkan penyakit.[10] Begitu pula permohonan bantuan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, Syaikh Ahmad ar-Rifâ’iy,[11] Syaikh Abdul Qadir al-Jailany,[12] para malaikat,[13] bahkan ada pula yang meminta tolong kepada iblis raja diraja setan! [14]

Padahal Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan,

“لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْك“.

“Tidak mengapa menggunakan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan”. HR. Muslim (XIV/409 no. 5696) dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i.

2. Ruqyah yang berisikan kata-kata aneh yang tidak diketahui maknanya, atau nama-nama asing.

Sebagaimana yang dipraktekkan oleh seorang ‘ustadz’ kondang manakala mengajarkan bacaan yang ia klaim jika diamalkan bisa mengambil hati bos dan atasan. Yakni mengulang-ulang kata “shorobun”.[15]

Nama-nama asing semisal: Mali[16], Ajin, Ahwajin, Jaljalalut dan Halhalat.[17]
Imam al-Baihaqy menjelaskan bahwa di antara jenis ruqyah yang terlarang adalah “ruqyah yang tidak dikenal dari selain al-Qur’an dan dzikir, karena berpeluang untuk bermuatan syirik”. [18]

3. Ruqyah yang dibarengi puasa yang diiringi pantangan untuk memakan makanan yang berbahan dasar makhluk bernyawa.[19]

4. Ruqyah yang dibumbui praktek menjadikan seseorang sebagai mediator untuk dimasuki jin guna ditanyai dengan berbagai pertanyaan.[20]

 Sebagaimana yang kerap dipraktekkan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.

Mengapa kita memanggil jin agar masuk ke tubuh, padahal al-Qur’an dalam banyak ayatnya justru memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada Allah dari gangguan jin?!.

Sisi negatif lain dalam praktek di atas; munculnya ketergantungan dalam diri mediator kepada si dukun, untuk mengeluarkan jin tersebut dari dalam tubuhnya. Dan ini tentunya melemahkan rasa tawakkal pada Allah ta’ala. Padahal Allah telah berfirman,

“وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”.

Artinya: “Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-A’raf: 200.

5. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, menangkap dan memasukkannya ke dalam botol atau tempat lainnya lalu memindahkannya ke tempat lain sekehendak dia.[21]

Praktek ini juga kerap dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.
Kemampuan untuk menguasai jin merupakan keistimewaan yang Allah berikan hanya kepada Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam, adapun selain beliau maka tidak.

Silahkan dicermati ayat-ayat berikut: QS. Shad: 35, 36-39, QS. Al-Anbiya’: 81-82, QS. Saba’: 12-14 dan QS. An-Naml: 39.

6. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya mampu memindahkan penyakit pasien ke tubuh hewan, semisal kambing. [22]

Apa dosa kambing sehingga ia harus menanggung penyakit yang diderita anak Adam? Apalagi praktek tersebut tidak diragukan menggunakan pertolongan jin.

7. Ruqyah yang praktisinya hanya memandang mata si pasien, atau menekan bagian tertentu tubuhnya tanpa membaca bacaan apapun, atau diselipi bacaan yang tidak jelas dengan suara lirih. Walaupun terkadang diselingi bacaan ayat suci al-Qur’an.

Dan masih banyak contoh lainnya. Yang ini semakin memotivasi kaum muslimin agar lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan.
  • · Surat an-Nas makkiyyah atau madaniyyah?
Para ulama berbeda pendapat apakah surat ini adalah makkiyyah[23] atau madaniyyah[24]. Karena keterbatasan ilmu dan waktu, penulis belum bisa memastikan mana di antara dua pendapat tersebut yang lebih kuat. Semoga di lain kesempatan, Allah memudahkan kami untuk melakukan studi lebih dalam lagi tentang permasalahan ini. Amien.


[1] Lihat: Asbâb an-Nuzûl (hal. 263-264).
[2] Ahkâm al-Qur’an (IV/355).
[3] Cermati: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567).
[4] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 615).
[5]  Lihat: Al-Istî’âb fî Bayân al-Asbâb (III/589).
[6]  Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-‘Abbad (III/14).
[7]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr bi Bayân Jumlah Nâfi’ah mimma Warada fi al-Kitâb wa as-Sunnah ash-Shahîhah min al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (hal. 26-27).
[8]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr (hal. 23).
[9]  Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (III/50).
[10]  Lihat: Bid’ah-bid’ah di Indonesia karya Badruddin Hasubky (hal. 104).
[11] Lihat: Saripati Mujarrobat karya Fairuz Masduqi (hal. 47-50).
[12] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[13] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 327, tanggal 27 Juli 2005 (hal. 20). ‘Praktisi’ ruqyah yang menyandang gelar Kyai yang dijadikan narasumber dalam tabloid tersebut mengklasifikasikan para malaikat dengan sangat aneh. Katanya: malaikat Adam Ahmad penguasa daratan, malaikat Khidir Ahmad penguasa lautan, malaikat Ifrid penguasa api, malaikat Eva Ahmad penguasa angin, malaikat Jibril Ahmad pemimpin kelima malaikat tersebut di atas. Para malaikat tersebut lah yang membantu praktek pengobatannya, menurut klaim dia tentunya!
[14] Lihat: Majalah Misteri, edisi 375, tanggal 5-19 Juni 2005 (hal. 117).
[15] Amalan Doa-doa Penyembuh, Enteng Jodoh, Pembuka Aura dan Pemenuh Segala Kebutuhan, karya Haryono (hal. 28).
[16] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[17] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 333, tanggal 7 September 2005 (hal. 2).
[18] Al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân (II/396).
[19] Lihat: Majalah Misteri, edisi 387, tanggal 20 Desember 2005 – 4 Januari 2006 (hal. 119).
[20] Lihat: Ruqyah Syar’iyyah vs Ruqyah Gadungan (Syirkiyyah), karya Perdana Akhmad (hal. 40).
[21] Lihat: Ibid.
[22] Lihat: Fenomena Ustadz Haryono & Keajaiban Tradisi Pengobatan karya al-Kindi (hal. 27) dan Jagat Spiritualis Nusantara karya Zubairi Endro dkk (hal. 34, 84, 91, 153, 178 dan 199).
[23]  Lihat: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567, 579), Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauzy (IX/270) dan at-Tahrîr wa at-Tanwîr (XXX/624).
[24]  Lihat: Tafsîr al-Baghawy (VIII/593) dan Tafsîr Ibn Katsîr (VIII/530).

Download Audio Kajian Tafsir Surat An-nas

http://tunasilmu.com/tafsir-surat-an-nas-muqoddimah/

Fatwa Ramadhan: Dosakah Tidak Membaca Al Qur’an Di Bulan Ramadhan?


Fatwa Syaikh Dr Khalid Al Mushlih

Soal:

Apakah seorang muslim berdosa ketika dia tidak pernah membaca Al Quran di bulan Ramadhan?

Jawab:

Tentu saja, Rasulullah pernah mengadukan kaumnya kepada Rabbnya

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan“. (Qs. Al Furqan: 30)

Bentuk tidak acuh dan meninggalkan Al Quran, itu ada beberapa macam:
  • Tidak membacanya
  • Tidak merenungi maknanya (tadabbur)
  • Tidak mengamalkannya
  • Tidak mendakwahkannya
  • Tidak berhukum dengannya
Ini semua adalah bentuk mengacuhkan Al Quran dan ini menunjukkan kurangnya iman dan kebaikan pada seseorang sekadar bentuk ketidakacuhan dia pada Al Quran.

Maka seorang yang perhatian pada Al Quran adalah yang membacanya, merenungkannya, mengamalkannya, berdakwah dengannya dan berhukum dengan Al Quran. Apabila ini dilakukan maka seseorang tidak termasuk orang yang tidak acuh dengan Al Quran.

(Dijawab oleh Syaikh Dr Khalid al Mushlih dalam video https://www.youtube.com/watch?v=0w6ZZe4RKtQ)
—
Penerjemah: Amrullah Akadhinta
Artikel Muslim.Or.Id
==========

Program Hafal Al Quran untuk PNS Rokan Hulu Terus Dilakukan


Bupati Rohul saat memimpin hafalan Al Quran para pejabat di Masjid Agung Madani Pasirpengaraian.

Hidayatullah.com--Program menghafal Al Quran bagi seluruh pejabat Eselon II, III, dan IV, termasuk pegawai, baik PNS maupun tenaga honorer, di jajaran Pemkab Rokan Hulu terus dilaksanakan.

‘’Ini merupakan kegiatan untuk mensyiarkan Islam. Dengan adanya program hafalan Al Quran ini, secara perlahan seluruh pejabat maupun pegawai, bisa hafal Al Quran dan memahami isinya. Al Quran merupakan firman Allah SWT, dan bila Al Quran jadi panduan hidup kita, maka akan selamat dunia akhirat. Oleh sebab itu, kita menggalakkan program hapalan Al Quran itu,’’ kata Bupati Rokan Hulu Drs H Achmad MSi, diberitakan Riau Pos, Senin (15/4/2013).

Untuk merealisasikan baca dan hafal Al Quran, Bupati langsung memimpin para pejabatnya untuk mendengarkan hafalan tersebut.

Di bawah bimbingan imam besar Masjid Agung Madani Islamic Center Pasirpengaraian, satu persatu para pejabat tersebut menghafalkan bacaan Al Quran.

‘’Dengan adanya program hafalan Al Quran kepada pegawai, diharapkan para pegawai mendapatkan keberkahan dari Allah. Selain mendapatkan keberkahan dunia, kita juga akan dapatkan kebahagiaan akhirat,’’ jelas Bupati.

Mengenai target kegiatan hafalan Al Quran yang dilakukan seluruh pegawai Pemkab Rohul, Bupati mengakui, hanya berniat melakukan pembinaan pegawainya agar semua pegawai menjadi pegawai yang beriman dan bertakwa.

‘’Kita berharap Kabupaten Rohul berjuluk Negeri Seribu Suluk bukan hanya simbol saja, namun jadi barometer pelaksanaan syiar Islam bagi seluruh kabupaten/kota di Riau ini,’’ ujarnya.

Untuk mensyiarkan Islam, Bupati mengaku tidak muluk-muluk dan tidak ada kepentingan politik.

‘’Namun, bagaimana dengan kerja keras kita bersama, maka kegiatan syiar Islam di Rohul yang kini tengah dilaksanakan, bisa dicontoh kabupaten/kota di Riau, bahkan di Indonesia,’’ paparnya.*


http://hidayatullah.com/read/28152/15/04/2013/program-hafal-al-quran-untuk-pns-rokan-hulu-terus-dilakukan-.html

Tafsir Surat Luqman Ayat 6


وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ 6

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

QS Luqman:6

"Lahwal hadits" yang diterjemahkan sebagai perkataan yang tidak berguna ditafsirkan sebagai:

Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan:

Ibnu Mas'ud (Sahabat): "Nyanyian, demi Yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia" beliau sampai mengulangnya tiga kali

Ibnu 'Abbas (Sahabat): "Nyanyian dan yang sejenisnya dan mendengarkannya"

Jabir (Sahabat):"Nyanyian dan mendengarkannya"

Mujahid (Tab'in):"Nyanyian dan semua permainan yang melalaikan" dalam kesempatan lain beliau mengatakan "Genderang (rebana)"

'Ikrimah (Tabi'in):"Nyanyian"

Adh-Dhahak: "Syirik (menyekutukan ALLAH)"

Ibnu Jarir Ath-Thabari sendiri mengomentari:

والصواب من القول في ذلك أن يقال: عنى به كلّ ما كان من الحديث ملهيا عن سبيل الله مما نهى الله عن استماعه أو رسوله؛ لأن الله تعالى عمّ بقوله:(لَهْوَ الحَدِيثِ) ولم يخصص بعضا دون بعض، فذلك على عمومه حتى يأتي ما يدلّ على خصوصه، والغناء والشرك من ذلك.

Pendapat yang betul adalah: Yang dimaksud dengannya (perkataan yang tidak berguna) adalah semua perkataan yang melalaikan dari jalan ALLAH dari apa-apa yang dilarang ALLAH dari mendengarkannya atau apa-apa yang dilarang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (dari mendengarkannya), karena ALLAH menjadikan firmannya (perkataan tidak berguna) umum dan tidak mengkhususkan sebagian yang satu dari sebagian yang lain. Oleh karena itu tetap berlaku umum sehingga datang dalil yang mengkhususkannya. Nyanyian dan syirik termasuk dari itu (perkataan tidak berguna).

Lihat Tafsir Ath-Thabari tentang ayat tersebut.

Ibnu Katsir juga menyebutkan makna perkataan yang berguna sebagai "nyanyian" dari Sa'id bin Jubair, Makhul, 'Amru bin Syu'aib, Hasan al-Bashri dan 'Ali bin Badzimah dari kalangan para tabi'in.

Ibnu Katsir sendiri juga mengomentari:

عطف بذكر حال الأشقياء، الذين أعرضوا عن الانتفاع بسماع كلام الله، وأقبلوا على استماع المزامير والغناء بالألحان وآلات الطرب

ALLAH menyambung dengan menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka yaitu orang -orang yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam ALLAH dan malah cenderung mendengarkan lagu-lagu, nyanyian dengan nada-nada tertentu dan alat-alat musik.

Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat tersebut.

Al-Baghawi menyebutkan perkataan Ibrahim An-Nakha'i (Tabi'in):
"Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati".

Al-Baghawi sendiri menafsirkan (mempergunakan perkataan yang tidak berguna):

يستبدل ويختار الغناء والمزامير والمعازف على القرآن

Menggantikan dan memilih nyanyian, lagu-lagu dan musik atas al-Quran.

Lihat Tafsir Al-Baghawi tentang ayat tersebut.

Dan masih banyak sekali perkataan para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in tentang makna ayat tersebut yakni nyanyian.

Al-Qurthubi menyampaikan panjang lebar dalam tafsirnya, boleh dirujuk di kitab tafsir beliau.

Kemudian apakah yang dimaksud nyanyian dan lagu dalam pembahasan di atas?
apakah setiap nyanyian dilarang atau setiap nada-nada atau lagu-lagu dilarang mutlak?

Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya:

وَهُوَ الْغِنَاء الْمُعْتَاد عِنْد الْمُشْتَهِرِينَ بِهِ , الَّذِي يُحَرِّك النُّفُوس وَيَبْعَثهَا عَلَى الْهَوَى وَالْغَزَل , وَالْمُجُون الَّذِي يُحَرِّك السَّاكِن وَيَبْعَث الْكَامِن ; فَهَذَا النَّوْع إِذَا كَانَ فِي شِعْر يُشَبَّب فِيهِ بِذِكْرِ النِّسَاء وَوَصْف مَحَاسِنهنَّ وَذِكْر الْخُمُور وَالْمُحَرَّمَات لَا يُخْتَلَف فِي تَحْرِيمِهِ ; لِأَنَّهُ اللَّهْو وَالْغِنَاء الْمَذْمُوم بِالِاتِّفَاقِ .

Nyanyian yang dimaksud adalah nyanyian yang biasa dinyanyikan menurut orang-orang yang mempopulerkannya. Yaitu nyanyian yang yang menggerakkan nafsu dan membangkitkannya atas hawa dan cumbu rayu dan kelakar (lawak) yang akan menggerakkan yang diam dan mengeluarkan yang tersembunyi (muncul aib-aib). Jenis ini apabila di dalam sya'ir akan mengobarkannya dengan menyebutkan wanita dan sifat-sifat kecantikannya, menyebutkan khamr dan hal-hal yang diharamkan di mana tidak ada beda pendapat tentang keharamannya. Karena itu adalah sia-sia dan nyanyian adalah tercela dengan kesepakatan.

فَأَمَّا مَا سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ فَيَجُوز الْقَلِيل مِنْهُ فِي أَوْقَات الْفَرَح ; كَالْعُرْسِ وَالْعِيد وَعِنْد التَّنْشِيط عَلَى الْأَعْمَال الشَّاقَّة , كَمَا كَانَ فِي حَفْر الْخَنْدَق

Sedangkan nyanyian yang selamat dari hal tersebut maka sedikit dari itu adalah boleh di dalam masa-masa bergembira seperti pernikahan, hari raya dan ketika digunakan untuk menyemangati beramal yang berat sebagaimana saat menggali parit ...

فَأَمَّا مَا اِبْتَدَعَتْهُ الصُّوفِيَّة الْيَوْم مِنْ الْإِدْمَان عَلَى سَمَاع الْمَغَانِي بِالْآلَاتِ الْمُطْرِبَة مِنْ الشَّبَّابَات وَالطَّار وَالْمَعَازِف وَالْأَوْتَار فَحَرَام .

Sedangkan apa yang dibuat-buat oleh orang-orang shufi pada hari ini (zaman al-Qurthubi) dengan membiasakan atas mendengarkan nyanyi-nyanyian dengan alat-alat musik seperti syabaabaat, thaar, ma'azif, autaar (nama-nama alat musik dipukul, dipetik dlsb) adalah haram.

Kemudian bagaimana pendapat para ulama madzhab?

Al-Qurthubi memberikan beberapa penukilan:

Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang nyanyian yang dibolehkan oleh sebagian orang-orang di Madinah, beliau menjawab: Yang melakukan itu menurut kami hanyalah orang-orang fasiq.

Madzhab Abu Hanifah adalah membenci nyanyian walaupun membolehkan minum nabidz dan beliau menganggap mendengarkan nyanyian termasuk dosa.

Begitu pula madzhab seluruh penduduk Kufah: Ibrahim (an-Nakha'i), Asy-Sya'bi, Hammad, Ats-Tsauri dan selainnya, tidak ada beda pendapat di antara meraka dalam hukum nyanyian.

Begitu pula tidak diketahui di antara penduduk Bashrah adanya beda pendapat tentang dibencinya nyanyian dan larangannya kecuali apa yang diriwayatkan dari 'Ubaidullah bin al-Hasan al-'Anbari, beliau membolehkannya.

Sedangkan madzhab Syafi'i beliau berkata: Nyanyian adalah dibenci dan menyerupai hal yang bathil dan barang siapa memperbanyaknya maka dia orang bodoh yang ditolak persaksiannya.

Sedangkan madzhab Ahmad tidak ada keterangan tegas tentang hal tersebut, bahkan diriwayatkan beliau membolehkannya.

Ibnu al-Jauzi mengatakan yang dimaksud (yang dibolehkan) adalah qashidah zuhud (sya'ir 7-10 bait) berisi tentang hal-hal zuhud.

Ahmad ketika ditanya tentang seseorang yang meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang budak perempuan penyanyi. Si anak ingin menjual budaknya. Ahmad menjawab: budak perempuan dijual sebagai budak biasa bukan sebagai budak yang penyanyi. Ada yang berkata: harganya bisa sampai 30 ribu, boleh jadi kalau dijual sebagai budak biasa hanya 20 ribu. Ahmad menjawab: tidak boleh dijual kecuali sebagai budak biasa.

Ibnu al-Jauzi mengomentari:

Ahmad berkata seperti ini karena budak perempuan ini penyanyi dan tidak bernyanyi dengan qashidah zuhud tapi dengan sya'ir-sya'ir musik yang membangkitkan cinta.

Ini adalah dalil atas nyanyian adalah dilarang di mana kalau tidak dilarang maka tidak boleh menghilangkan harta anak yatim (lihat dan fahami kasus di atas)

Ath-Thabari berkata:

Telah terjadi ijma' (kesepakatan) para ulama akan dibencinya nyanyian dan larangannya. Ibrahim bin Sa'ad dan 'Ubaidullah al-'Anbari telah menyelesihi jama'ah (dengan membolehkan nyanyian).

Lihat tafsir al-Qurthubi.

Dari pembahasan di atas akan lebih baik bagi kita meninggalkan nyanyian terutama nyanyian yang berisi hal-hal yang haram.


Nyanyian yang diberi keringanan untuk mendengarkannya pun hanya dengan kadar yang sedikit dan pada waktu-waktu tertentu saja. Kalau bisa kita tinggalkan semua itu tentu lebih wara' dan lebih baik sebagaimana para salaf terdahulu.

Kemudian harap dibedakan antara mendengarkan dengan mendengar.
Yang dibenci adalah mendengarkan bukan mendengar.
Jadi kalau pada masa kita sekarang memang tidak bisa lepas dari mendengar musik tapi kita bisa menghindari mendengarkan musik.

Itu baru pembahasan tafsir satu ayat. Masih banyak lagi ayat yang lain dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang melarang nyanyian, lagu dan musik. Saya sementara hanya mampu menulis tulisan di atas sesuai kelapangan waktu yang ada, semoga bisa ditambah di lain waktu.

Sejauh ini berdasar riwayat yang shahih, pembolehan hanya pada saat-saat tertentu (hari raya, pesta pernikahan dan saat bekerja berat perlu semangat) dan dengan alat-alat tertentu (duff atau rebana). Sedangkan hukum asal nyanyian adalah dilarang atau dibenci kecuali ada dalil yang mengecualikannya.

ALLAH A'lam

Abu Ali -- Noor Akhmad S

Referensi:

Tafsir Ath-Thabari
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Al-Baghawi
Tafsir Al-Qurthubi


http://noorakhmad.blogspot.com/2009/11/tafsir-surat-luqman-ayat-6.html

One Day One Juz?

Ilustrasi (inet)

Bismillah… dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanyalah milik Allah ta’ala, yang telah menurunkan Al Qur’an kepada hambaNya kitab Al-Qur’an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah SAW, Keluarga, Sahabat, dan orang-orang yang tetap teguh dalam ajaran Islam yang senantiasa berittiba’ dan mengikuti sunnah-sunnah beliau SAW, sampai akhir zaman.

Dalam suatu halaqah ilmu yang anggotanya rata-rata ibu rumah tangga dengan segala kesibukannya, dilontarkanlah sebuah pertanyaan. “Berapa target harian tilawah (membaca) Al-Qur’an?”  Jawabannya memang beragam, ada yang sanggup sehari 3 halaman, ada yang sanggup sehari 5 halaman, ada yang satu juz(10 halaman) bahkan lebih dari itu. Namun sangat di sayangkan ternyata rata-rata belum tercapai 1 juz dalam sehari.

Mengapa harus satu juz sehari? Mungkin sebagian dari kita akan mengatakan “waduh boro-boro se-juz? Menyentuh Al-Qur’an saja belum tentu…he-he-he.” Ternyata di kalangan orang-orang yang terbiasa dengan halaqah ilmu saja masih terasa berat dengan istilah “rutin tilawah Al Quran satu hari satu juz”. Lantas bagaimana dengan mereka yang masih sangat awam dengan keislamannya?

Ketika kita masih merasa berat menyentuh dan membaca Al Quran ini dikarenakan masalah utama yang harus dicarikan solusi oleh kita semua kaum muslimin. Sebab-sebab itu di antaranya:
  1. Perasaan menganggap sepele tentang keutamaan membaca Al-Qur’an
  2. Lemah wawasan ber Al-Qur’an
  3. Tidak memiliki waktu yang wajib/target khusus untuk berinteraksi dengan Al Quran
  4. Lemahnya keinginan untuk bertilawah
  5. Terbawa lingkungan yang jauh dari Al-Qur’an
  6. Tidak tertarik dengan majelis yang menghidupkan Al Quran.
Untuk menanggulangi sederetan masalah diperlukan solusi dan kiat-kiat khusus di antaranya:
  1. Lancarkan bacaan yaitu dengan belajar secara talaqqi, dan sering tilawah, meski masih terbata-bata (muraja’ah = membaca berulang hingga benar) karena dalam hadits dikatakan “Orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, dan orang yang terbata-bata serta merasa kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala (pahala membaca dan pahala semangat membaca)” (HR Muslim).
  2. Tingkatkan wawasan ber Al-Qur’an, dengan sering-sering menghadiri majelis-majelis ilmu yang menghidupkan Al-Qur’an.
  3. Jadikan waktu khusus (target harian) untuk tilawah, anggap utang jika tidak memenuhi target dan bayarlah (qodo’), pada hari berikutnya.
  4. Berdoalah pada Allah agar dimudahkan dan diringankan untuk mempunyai waktu khusus membaca, merenungi bahkan menghafal Al-Qur’an
  5. Perbanyak amal shalih karena amal shalih merupakan energy baru untuk amal shalih berikutnya.
  6. Banyak-banyak bergaul dengan orang-orang shalih yang menghidupkan dan dekat dengan Al Quran.
Kembali kepada mengapa harus satu juz dalam sehari? Secara sederhana dikatakan begini Al-Qur’an itu berapa juz? 30 juz…lantas satu bulan ada berapa hari? Kita ambil rata2nya, 30 hari. Mengapa kita harus satu bulan harus mengkhatamkan membaca Qur’an satu kali? Dalam hadits dikatakan: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Menurut hadits di atas, kita dilarang mengkhatamkan Al Quran lebih dari 30 hari. Karena bila kita membaca Al Quran kurang dari 1 juz per harinya, kita akan kehilangan ruh dan akan menjauh dari Allah. Selain itu, kita juga dilarang untuk mengkhatamkan Al Quran kurang dari 3 hari. Hal itu telah dijawab oleh hadits berikut:

Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an, orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud)

Lantas bagaimana untuk bisa mencapai satu juz dalam sehari? Seperti tips di atas yang pertama-tama dilakukan adalah dengan melancarkan bacaan sesuai ilmu tajwid yang benar. Karena apa ketika kita membaca Al-Qur’an sesuai tajwid maka akan merasa nyaman dan menikmati. Berbeda ketika kita masih kesulitan dalam membacanya, maka rasa malaslah yang menghampiri. Tajwid artinya membaguskan. Membaguskan di sini bukan berarti melagukan tapi lebih kepada mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberi hak dan mustahaknya. Hak huruf itu sendiri adalah sifat asli yang selalu bersama dengan huruf tersebut, seperti Al Jahr, Isti’la, Istifal dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat Nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa dsb.

Jadi ketika kita membaca sesuai tajwid maka terasa nyaman di dengar meskipun tanpa lagu, Insya Allah. Selanjutnya setelah lancar dan benar membacanya, hal yang harus kita lakukan membuat target harian. Satu juz sama dengan 10 lembar. Agar terasa ringan bagilah menjadi 5. Bukankah sehari kita melakukan shalat wajib 5 kali? 10:5 = 2. Jadi setelah shalat atau sambil menunggu waktu shalat usahakan membaca 2 lembar.

Jika sudah lancar membaca Al-Qur’an dengan tartil kurang lebih hanya 10 menit. Tartil adalah tingkatan membaca Al-Qur’an yang tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, bacaan tartil inilah yang disukai Allah. Firman Allah dalam QS 73:4 “Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil”.

Lantas bagaimana jika ternyata kita terlupa atau tidak sempat dalam sekali waktu shalat? Maka sebaiknya mengiqob (menghukum) diri dengan mengurangi waktu tidur kita untuk mengejar tilawah tersebut. Bisa juga ketika kita shalat malam kita pegang mushaf dan membaca Al-Qur’an untuk rangkapan dalam setiap rakaatnya.

Nah adalagi jika beralasan bukankah setiap perempuan itu punya halangan tiap bulannya? Berarti jumlah hari berhalangan tidak bisa membaca dan menyentuh mushaf dimasukkan utang, dikalikan jumlah juz kemudian ditambahkan pada hari-hari biasa ketika suci. Misal jumlah masa haid 7 hari, sisa hari suci 21. 7×10 = 70 lembar dibagi 21 hasilnya 3,33 lembar. Jadi sehari ditambah 3,3 lembar atau 13,3 lembar dibagi 5 menjadi 2,6 lembar per waktu shalat. Jika masih kesulitan rekayasa penghitungan bisa dibuat sesuai kebutuhan.

Setelah usaha di atas dicapai yang tak kalah penting adalah berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam tilawatil Qur an…”Ya Allah, rahmatillah kami dengan Al-Qur’an itu bagi kami sebagai pemimpin, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah, ingatkan kami dari Al-Qur’an apa yang telah kami lupa. Ajari kami Al Quran apa yang belum kami ketahui. Berilah kami kemampuan membacanya sepanjang malam dan siang, dan jadikanlah Al-Qur’an itu penyelamat kami dan jangan Engkau jadikan boomerang bagi kami (menyeret kami ke neraka). Dengan menyebut Rahmat-Mu Ya Allah. Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

*semoga ini bagian dalam mengamalkan QS Al ‘Ashr (1-3)

“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” 

Barangsiapa yang mendapat petunjuk dari Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada siapapun yang bisa memberinya petunjuk.

Wallahu a’lam bishawwab.

—

Maraji’:

1. Kajian “Menjadi Sahabat Al-Qur’an” oleh Ust. Dr Amir Faishol
2. Pedoman Dauroh Al-Qur’an oleh Ust. Abdul Aziz Abdur Rouf, Al Hafizh, Lc
3. Notes “Bacaan Terbaik Yang Sering Terlupakan” oleh Anindya Sugiyarto
4. Risalah Ramadhan oleh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah
5. izzatijannah.wordpress.com/category/goresan-motivasi/

Tips Menghafal Al Quran Dari Palestina



- Selalu ada hal yang tidak sempat tersampaikan dalam setiap pemaparan kisah perjalanan seseorang ke suatu tempat yang di inginkan atau bahkan tempat yang amat jarang di idam-idamkan oleh orang kebanyakan. Yang tak-tersampaikan itulah yang MuslimDaily dapatkan dari kisah perjalanan Syauqi M. Rabbani, relawan Rumah Zakat yang menghabiskan akhir tahun 2012 di negara yang dikenal penuh konflik, Palestina. Dalam acara bertajuk My Gaza Story, anggota gerakan Indonesia Tanpa JIL ini membagi rekam jejak kemenangan Palestina pada agresi militer Israel, November 2012 lalu.

Di sela-sela acara tersebut Syauqi menceritakan pengalaman kesehariannya di Palestina kepada MuslimDaily. Perjalanan yang berlangsung selama empat minggu ini dihabiskan lebih banyak bersama para penghafal Al Quran di Masjid Jami’atul Abrar. Masjid ini dibom oleh Israel tapi masih ada beberapa ruangan yang tersisa dan masih dapat ditinggali.

Oleh-oleh berharga yang dibawanya ke Indonesia salah satunya adalah semangat menghafal Al Quran yang dicontohkan pemuda Palestina di sana. “Mereka mengajari saya bagaimana cara menghafal Al Quran dengan mudah. Saya praktekkan di sini, dan ternyata bisa.” Ujarnya. “Sebelum tidur kita membaca halaman atau ayat yang sedang dihafal selama 10 kali. Tilawah ini dilakukan benar-benar jelang tidur yang tidak ada aktivitas lain sesudah itu. Pada pembacaan 10 kali ini bacaan kita harus benar-benar lancar dan tidak boleh ada kesalahan tajwid di dalamnya. Pada pembacaan yang ke 10 kita baca per-ayat beserta artinya. Pada tahap ini kita harus sampai paham makna dan maksud ayat yang kita hafal. Betul-betul harus masuk ke kepala kita cerita yang sedang kita hafal.

Setelah itu kita tidur. Keesokan paginya kita bangun sebelum subuh. Setelah Qiyamu Lail barulah kita menghafal ayat-ayat yang sudah dibaca 10 kali sebelum tidur tadi. Sebelum subuh kita harus sudah hafal ayat tersebut. Pada bagian ini pentargetan dilakukan. Jika tidak ada target, biasanya kita suka berleha dalam menghafal Al Quran. Setelah shalat subuh kita murajaah atau mengulang ayat-ayat yang sudah dihafal. Sampai waktu dhuha, kita melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat. Setiap rakaat kita mengulang 1 ayat yang dihafal. Jika pada shalat dhuha hafalan kita sudah lancar, insyaAllah ayat-ayat tersebut sudah menempel di benak kita” papar Syauqi.

Hal yang membuat Palestina selalu dirindukan adalah nilai perjalanan di sana. “Kita bisa menjadikan perjalanan ke Mekah dan Madinah sebagai perjalanan spiritual, tapi perjalanan jihad tidak bisa kita dapatkan di sana. Perjalan jihad bisa kita dapatkan di Palestina.” tutur Syauqi. Semangat jihad rakyat Palestina menjadi penggugah semangat. Jika tidak ada hambatan, Mei 2013 Ia akan kembali ke Palestina untuk menyalurkan donasi dari Rumah Zakat dan Indonesia Tanpa JIL. [lnd]

http://alislamu.com./dunia-islam/5743-tips-menghafal-al-quran-dari-palestina.html

Hikmah Diciptakannya Langit dan Bumi Selama 6 Hari

Pertanyaan:

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi selama 6 hari. Tolong jelaskan kepada kami karena setahu kami Allah cukup mengatakan ‘kun‘ (jadilah) maka sesuatu bisa langsung terjadi.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam 6 hari. Sebagaimana dikabarkan oleh Allah sendiri dan Ia adalah Ash Shadiq. Ia juga Maha Kuasa menciptakan semua itu dalam sekejap mata. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah!” maka terjadilah ia” (QS. Yasin: 82)

Namun para ulama menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan semua itu dalam 6 hari yaitu untuk mengajarkan hamba-Nya sikap tidak tergesa-gesa. Juga untuk mengabarkan bahwa Allah-lah yang mengatur dan segala sesuatu di alam ini dan menghubungkan semuanya. Rabb semesta alam yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan Rabb yang Maha Kuasa atas segala sesuatu tidak menjadikan langit dan bumi sekaligus, melainkan dalam 6 hari. Sebagaimana juga Allah menciptakan manusia tidak sebagaimana menciptakan makhluk yang lain. Allah menciptakan manusia dengan susunan dan pengaturan yang paling baik. Semua itu agar hamba-Nya belajar untuk menunggu dan belajar sikap tidak tergesa-gesa, juga untuk mengabarkan kepada mereka bahwa perkara mereka telah diatur sedemikian rupa dengan sempurnanya di atas ilmu yang sempurna tanpa ketergesa-gesaan dan tanpa gangguan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan kekuasaan-Nya terhadap segala sesuatu dan ke-Maha Tahuan-nya terhadap segala sesuatu tidak menciptakan langit dan bumi sekaligus melainkan dalam enam hari, padahal Ia Maha Kuasa untuk menciptakan semua itu dalam sekejap mata karena jika Allah menginginkan sesuatu terjadi maka ia mengatakan ‘kun‘ (jadilah) maka terjadilah. Allah Ta’ala mengatur penciptaan langit dan bumi selama beberapa hari agar hamba-Nya memahami bagaimana seharusnya mereka bersikap, bagaimana seharusnya mereka mengatur urusan mereka, bagaimana mereka bersabar menunggu dalam perkara-perkara mereka tanpa tergesa-gesa hingga maslahah mereka sudah tersusun dengan baik dan hingga perkara mereka telah tepat berada pada jalan yang jelas dan membuat hati tenang. Dengan sikap itu tercapailah maslahah mereka dan terhindarlah mereka dari berbagai bahaya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengisyaratkan makna ini dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Huud: 7)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi dengan cara demikian untuk menguji dan menyeleksi siapakah yang paling baik dan paling sempurna amalnya. Maka tergesa-gesa lah orang yang tidak mengatur urusannya, sehingga ia pun kurang sempurna dalam beramal. Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi dalam enam hari untuk menguji hamba-Nya untuk berusaha sempurna dalam beramal, dan berusaha sebaik mungkin dalam beramal serta tidak tergesa-gesa dalam melakukannya sehingga tidak ada cacat dalam urusan-urusan mereka. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, ketika itu Arsy-Nya ada di atas air, tujuannya untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya. Allah juga berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلً
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (QS. Al Kahfi: 7)

Allah juga menciptakan segala apa yang ada di bumi berupa pohon-pohon, tumbuhan, hewan, logan-logam dan benda-benda lainnya untuk menguji dan menyeleksi hamba-Nya, siapakah yang paling sempurna amalnya dalam mengeksplorasi apa yang ada di dalam bumi, mengambil manfaat serta menggunakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلً
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk: 2)

Dalam ayat-ayat ini serta makna yang terkandung di dalamnya menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan pengaturan yang sedemikian rupa dan juga rentang waktu yang tertentu untuk menguji hamba-Nya dan menyeleksi siapa yang bisa beramal dengan sempurna. Allah tidak berkata كثر عملاً (siapa yang paling banyak amalnya) namun berkata أَحْسَنُ عَمَلً (yang paling baik amalnya). Maka yang dianggap adalah yang paling profesional, sempurna, dan baik, bukan jumlahnya.
Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4109
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Nasihat Penghafal Al Quran 2 (Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Menghafal)

 
Pertanyaan
 
Berapa lamakah seorang pelajar menghabiskan waktu untuk menghafal Kitabullah?
 
Jawaban
 
Seorang pelajar dalam menghafal AlQur’an membutuhkan waktu yang berbeda beda, sesuai dengan perbedaan kecerdasan dan kemampuan pelajar tersebut. Pelajar yang cerdas mampu menghafal Al-Qur’an Al-Kariim selama tidak kurang 4 bulan dengan syarat pelajar tersebut memusatkan dan mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk menghafal Kitabullah dengan sungguh sungguh.
 
Adapun untuk pelajar yang tingkat kecerdasannya sedang, membutuhkan waktu 1 tahun untuk menghafal Al Qur’an. Sedangkan pelajar yang lemah tingkat kecerdasannya membutuhkan waktu sesuai tingkat kesungguhan dan kemampuannya. Dan tidak ada batasan waktu tertentu.
 
Pertanyaan
 
Apakah memahami makna dan kata kata merupakan syarat bagi orang yang membaca AlQur’an?
 
Jawaban
 
Tidak diragukan lagi bahwa merenung dan memahami makna makna Al Qur’an merupakan tingkatan yang paling tinggi dan hal inilah yang diinginkan dan dituntut. Akan tetapi orang yang membaca Kitabullah (dengan) tidak mengetahui artinya bukan berarti (kemudian) dia meninggalkan bacaan AlQur’an dan hafalannya. Maka membaca Al Qur’an itu ibadah, terlepas dari tadabbur (merenungkan maknanya). 
 
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
 
لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
 
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” Ali Imran : 164
 
Di dalam ayat ini diketahui bahwa berbeda antara membaca dan mempelajari maknanya. Firman Allah “yang membacakan kepada mereka ayat ayat Allah” dan Firman-Nya : “dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.” Sebagaimana yang telah ma’ruf bahwa bacaan satu huruf dari Kitabullah merupakan satu kebaikan. Dan diantara huruf huruf ini adalah huruf huruf yang terpisah, yang tidak ada seorang pun yang mengetahui maknanya menurut pendapat yang shahih. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
 
Dan Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wa sallam- tidak memberi syarat kepada orang yang membaca Al-Qur’an untuk memahami makna-makna dari huruf huruf (yang dibaca) terlebih dahulu agar dirinya mendapatkan pahala. Hal tersebut diperjelas dengan banyaknya orang orang Ajm (orang orang yang bukan arab) mereka tidak mengetahui makna Al Qur’an Al Karim dan tidak mengetahui makna Al Fatihah, bersamaan dengan itu tidak ada satupun dari kalangan ulama yang mengatakan bahwa shalat mereka bathil (tidak sah) dengan sebab mereka tidak paham terhadap makna Al Quran Al Karim. Sebagaimana tidak pantas bagi mereka menghafal kitab Allah ‘azza wa jalla.
 
***
artikel muslimah.or.id
Disalin dari buku Keajaiban Hafalan – Bimbingan bagi yang ingin menghafal Al Qur’an oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As Sahaibani Muhammad Taqiyul Islam. Pustaka Al Haura’

SOSOK PEMIMPIN ASLI

Petunjuk Al Qur-an

Allah telah memberikan amtsal dalam Surah Al Baqrah 247-248, sebagai berikut :

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka : "Sesungguhnya telah Dia bangkitkan untuk kamu sekalian Thalut sebagai raja", mereka berkata: "Apakah bisa terjadi bagi dia (memegang tampuk) kerajaan untuk  kami, padahal kami lebih berhak (memegang) kerajaan itu darpada dia, dan (padahal) ddia tidak diberi keluasan dari hal harta benda. Berkata (nabi) : "Sesungguhnya Allah telah memilih dia atas (kepentingan memimpin) kamu sekalian, dan Dia telah menganugerahi kepadanya suatu keluasan dalam bidang keilmuan  dan keperkasaan tubuh". Dan Allah memberi kerajaanNya kepada orang yang Dia Kehendaki, dan Allah itu Maha Luas Maha Mengetahui; Dan  Nabi berkata kepada mereka : "Sesungguhnya tanda kerajaannya itu ialah bahwa akan datang kepada kamu Tabut (peti) yang didalamnya berisi petunjuk tentang Sakinah dari Robb kamu dan sisa-sisa dari penginggalan keluarga Musa dan keluarga harun yang Malaikat membawanya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu niscaya merupakan bukti bagi kamu sekalian, jika kamu sekalian orang-orang yang beriman".
Analisa dan Bahasan

Ayat-ayat tersebut antara lain memberikan pandangan tentang pendapat berdasarkan "logika" Bani israil, yang mengukur kepiawayan seseorang dalam hal kepemimpinan dilandasi oleh faktor rasisme dan kebendaan, sehingga yang berperan adalah "hawa nafsu" [Al Jatsiyah 23]. Kondisi tersebut membuat mereka menjadi manusia yang mengalami kerusakan kepribadian yang disebut "Over bearing personality" (merasa paling berhak, paling kuasa, dan atau paling berkemampuan) [Al Anfal 47], maka inilah yang menjadi pangkal dari kelemahan manusia dan mudah terjajah fikiran dan peradabannya oleh manusia yang mengandalkan kekuatan dan kemampuannya dibidang materi duniawiyah, sehingga berhukum dengan hukum jahiliyah [Al Maidah 50], atau dalam istilah umum disebut Hedonisme Intellectual [Ad Dahr 27]. Pola Sistem kepemimpinan yang demikian itu selamanya tidak akan pernah memperoleh redlo Allah.

Adapun sebenarnya "Pemimpin Asli" yang dimaksud dalam petunjuk ayat-ayat tersebut adalah antara lain :

a. Faktor motivasi, yang diamtsalkan dengan Tabut, sehingga Thalut mau bekerja, karena dapat memberikan ketenangan bathin, langkah yang pasti dengan tahapan yang jelas, tujuan yang
tersering dan sempurna, inilah yang membuahkan Motivasi Rasa Terpanggil, [Az Zumar 11-12], dengan Kepribadian yang akan memperngaruhi lingkungan dan bukan sebaliknya [Ali
Imran 110].

b. Faktor kemampuan untuk memberi keputusan yang benar dan langsung berdasarkan Petunjuk Sakinah dari Tabut dalam mencapai tujuan, yang dalam Al Qur-an menggunakan istilah
"labala-ghon (mumpuni) [Al Anbiya 106].

Dengan petunjuk yang tersebut, berarti "Sikap Kepemimpinan yang baik" pasti berada dalam jismi yang baik (perkasa), yang tidak dhinggapi oleh thabi'at "Bahimiyah" (binatang jinak yang bersifat licik, pandai mendekati orang untuk pribadi), "Syabu'iyah" (buas, selalu berupaya untuk menghalalkan segala cara), dan "Abadon" (musuh yang senantiasa menjerumuskan manusia kejurang kebinasaan); Karena semua itu bersumber dari nafsu tempat iblis menyarangkan sifatnya, yaitu syaithoniyah [An Nisa 118].

Maka dapat disimpulkan bahwa faktor pemimpin itu penuh penghayatan terhadap:

1. Al Qur-an sebagai firman Yang Pencipta menjadi tempat kepasrahannya secara lahir dan bathin dengan tanpa alternatif lain [ Az Zumar 23].

2. Rasulullah SAW yang telah ditetapkanNya sebagai sosok panduan bagi menepati sistem/metode operasional/syari'at adalah pedoman langkah [Al Jatsiyah 18]/

3. Istiqomah sebagai perangkat lunak dan penyejuk hati, karena disanalah Malaikat berperan aktif menaungi hamba Allah yang telah terpateri oleh janji dan petunjuk dari Allah melalui
RasulNya [ Fushilat 30-32].

4. Menjalani tahapan langkah yang pasti [Al Insyqoq 19] dengan proses yang jelas [Al Qhoshosh 85] serta menjauhi segala tindakan yang bersifat prematur [Al Hujurat 1]

5. Penuh sikap optimistik yang diwujudkan dengan menepati amtsal kaminah perihal Jannah [Muhammad 15], sehingga mampu tegar dan kokoh seperti jawaban Rasulullah disaat diuji
pamannya (Abu Thalib) pada permulaan perjalanannya.

Dengan demikian maka seluruh perjalanan hidupnya tidak akan sia-sia, karena senantiasa berada dalam pandangan ketetapan dari Allah Raja Yang Maha Benar

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/tafseer/384-sosok-pemimpin-asli.html

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi …

“Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah Allah mengampuni dosa-dosaku?!”

Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah, cobalah kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.


Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنّ نَبِيَّ الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أعْلَمِ أَهْلِ الأرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ . فقال : إنَّهُ قَتَلَ تِسعَةً وتِسْعِينَ نَفْساً فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوبَةٍ ؟ فقالَ : لا ، فَقَتَلهُ فَكَمَّلَ بهِ مئَةً ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ . فقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فقالَ : نَعَمْ ، ومَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ انْطَلِقْ إِلى أرضِ كَذَا وكَذَا فإِنَّ بِهَا أُناساً يَعْبُدُونَ الله تَعَالَى فاعْبُدِ الله مَعَهُمْ ، ولاَ تَرْجِعْ إِلى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أرضُ سُوءٍ ، فانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ العَذَابِ . فَقَالتْ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِباً ، مُقْبِلاً بِقَلبِهِ إِلى اللهِ تَعَالَى ، وقالتْ مَلائِكَةُ العَذَابِ : إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ في صورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
- أيْ حَكَماً – فقالَ : قِيسُوا ما بينَ الأرضَينِ فَإلَى أيّتهما كَانَ أدنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أدْنى إِلى الأرْضِ التي أرَادَ ، فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحمةِ )) مُتَّفَقٌ عليه .

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”1

Beberapa Faedah Hadits

Pertama: Luasnya ampunan Allah

Hadits ini menunjukkan luasnya ampunan Allah. Hal ini dikuatkan dengan hadits lainnya,

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً »

Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”2

Kedua: Allah akan mengampuni setiap dosa meskipun dosa besar selama mau bertaubat

Selain faedah dari hadits ini, kita juga dapat melihat pada firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Ibnu Katsir mengatakan, ”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan. ”3

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa kekufuran, kesyirikan, dan dosa besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan, ”Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”4

Ketiga: Janganlah membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan, “Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”5

Keempat: Seseorang yang melakukan dosa beberapa kali dan ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits lainnya, dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”6 An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

An Nawawi mengatakan, ”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.”7

 
Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini …
 
Kelima: Diterimanya taubat seorang pembunuh

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ini adalah madzhbab para ulama dan mereka pun berijma’ (bersepakat) bahwa taubat seorang yang membunuh dengan sengaja, itu sah. Para ulama tersebut tidak berselisih pendapat kecuali Ibnu ‘Abbas. Adapun beberapa perkataan yang dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan taubatnya tidak diterima, itu hanyalah perkataan dalam maksud mewanti-wanti besarnya dosa membunuh dengan sengaja. Mereka tidak memaksudkan bahwa taubatnya tidak sah.”8

Keenam: Orang yang bertaubat hendaknya berhijrah dari lingkungan yang jelek

An Nawawi mengatakan, ”Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat dianjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan maksiat.”9

Ketujuh: Memperkuat taubat yaitu berteman dengan orang yang sholih

An Nawawi mengatakan, ”Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, sholih, berilmu, ahli ibadah, waro’dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.”10
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”11

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”12

Kedelapan: Keutamaan ilmu dan orang yang berilmu

Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran pula bahwa orang yang berilmu memiliki keutamaan yang luar biasa dibanding ahli ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
”Dan keutamaan orang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah adalah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.”13 Al Qodhi mengatakan, ”Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya.”14

Kesembilan: Orang yang berfatwa tanpa ilmu hanya membawa kerusakan

Lihatlah bagaimana kerusakan yang diperbuat oleh ahli ibadah yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Ia membuat orang lain sesat bahkan kerugian menimpa dirinya sendiri. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
”Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.”15

Syarat Diterimanya Taubat

Syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat adalah sebagai berikut:

Pertama: Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

Kedua: Menyesali dosa yang telah dilakukan sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali.

Ketiga: Tidak terus menerus dalam berbuat dosa. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.

Keempat: Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat.

Kelima: Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.
Inilah syarat taubat yang biasa disebutkan oleh para ulama.

Penutup
Saudaraku yang sudah bergelimang maksiat dan dosa. Kenapa engkau berputus asa dari rahmat Allah? Lihatlah bagaimana ampunan Allah bagi setiap orang yang memohon ampunan pada-Nya. Orang yang sudah membunuh 99 nyawa + 1 pendeta yang ia bunuh, masih Allah terima taubatnya. Lantas mengapa engkau masih berputus asa dari rahmat Allah?!

Orang yang dulunya bergelimang maksiat pun setelah ia taubat, bisa saja ia menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Ia bisa menjadi muslim yang sholih dan muslimah yang sholihah. Itu suatu hal yang mungkin dan banyak sekali yang sudah membuktikannya. Mungkin engkau pernah mendengar nama Fudhail bin Iyadh. Dulunya beliau adalah seorang perampok. Namun setelah itu bertaubat dan menjadi ulama besar. Itu semua karena taufik Allah. Kami pun pernah mendengar ada seseorang yang dulunya terjerumus dalam maksiat dan pernah menzinai pacarnya. Namun setelah berhijrah dan bertaubat, ia pun menjadi seorang yang alim dan semakin paham agama. Semua itu karena taufik Allah. Dan kami yakin engkau pun pasti bisa lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah beri taufik.

Ingatlah bahwa orang yang berbuat dosa kemudia ia bertaubat dan Allah ampuni, ia seolah-olah tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Dari Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdillah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
”Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu sama sekali.”16
Setiap hamba pernah berbuat salah, namun hamba yang terbaik adalah yang rajin bertaubat. Dari Anas, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua keturunan Adam adalah orang yang pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”17

Orang yang bertaubat akan Allah ganti kesalahan yang pernah ia perbuat dengan kebaikan. Sehingga seakan-akan yang ada dalam catatan amalannya hanya kebaikan saja. Allah Ta’ala berfirman,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 70)

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Allah akan mengganti amalan kejelekan yang diperbuat seseorang dengan amalan sholih. Allah akan mengganti kesyirikan yang pernah ia perbuat dengan keikhlasan. Allah akan mengganti perbuatan maksiat dengan kebaikan. Dan Allah pun mengganti kekufurannya dahulu dengan keislaman.”18

Sekarang, segeralah bertaubat dan memenuhi syarat-syaratnya. Lalu perbanyaklah amalan kebaikan dengan melaksanakan yang wajib-wajib dan sempurnakan dengan shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah, karena amalan kebaikan niscaya akan menutupi dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”19

Semoga Allah menerima setiap taubat kita. Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk menggapai ridho-Nya.


Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Disusun di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul , 1 Shofar 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id


Footnote:
1 HR. Bukhari dan Muslim no. 2766.
2 HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
3 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/138-139, Muassasah Qurthubah.
4 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/140.
5 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/141.
6 HR. Muslim no. 2758.
7 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/75.
8 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/82, Dar Ihya’ At Turots.
9 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/83
10 Idem
11 HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa.
12 Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379
13 HR. Abu Daud no. 3641 dan no. 2682.
14 Lihat Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad Abdur Rahma Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 7/376, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut.
15 Lihat Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 15, Mawqi’ Al Islam.
16 HR. Ibnu Majah no. 4250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
17 HR. Ibnu Majah, Ad Darimi, Al Hakim. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih
18 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10/326-327, Muassasah Qurthubah.
19 HR. Tirmidzi no. 1987. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi (hasan dilihat dari jalur lainnya). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib 2655.



  • 5
    5
    5







Tafsir Surat Yassin Ayat 12

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Yasin:12).

Ayat yang tertera di atas, masih ada hubungannya dengan ayat sebelumnya yang berbunyi: .

Sesungguhnya kamu hanyalah memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah dia kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (QS Yasin : 11).

1 Ada Dua Hal Yang Menyatukan Kedua Ayat Tersebut
Pertama. Setelah Allah menceritakan kondisi orang yang mampu mengambil manfaat dari peringatan Rasulullah (ayat 11) dan juga keadaan orang yang menutup telinga darinya (dalam ayat sebelumnya), maka dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa mereka semua akan dihidupkan kembali setelah kematiannya, dan akan mendapat balasan sesuai dengan amalannya. Oleh karena itu, hubungan antara keduanya sangat jelas. Sebab ayat ini mengandung kabar gembira bagi orang mukmin yang menerima dakwah dan juga sekaligus berisi peringatan serta ancaman bagi orang- orang menentang.
Kedua. Setelah Allah menceritakan tentang orang-orang yang mendustakan (ayat-ayatNya), sebenarnya penolakan itu ibarat kematian. Jika Allah mampu menghidupkan jasad kasar orang- orang yang telah meninggal secara hakiki, tentu Dia juga mampu menghidupkan mereka yang meninggal secara maknawi (dalam kekufuran, Maksudnya memberikan hidayah).

2 Tafsir Ayat

(Inna Nahnu Nuhyil Mawta), “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati…
(Inna) yang berarti Kami, adalah dhamir jamak (kata ganti jamak tunggal) yang mewakili lafzhul jalalah (Allah) yang satu. Berarti bentuk ini, pasti ditujukan sebagai ta'zhim (pengagungan kepada Allah).
(Al Mawtaa) artinya, semua yang sudah mati, mencakup anak Adam dan lain sebagainya. Namun firman Allah selanjutnya mengarah kepada orang-orang yang mukallaf (orang terkena beban syari'at) secara khusus. Para ulama berselisih pa.ndangan mengenai bentuk takhsis seperti di atas.
Syaikh 'Utsaimin berpendapat :

"Bisa disebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah orang-orang yang telah meninggal, yang bekas-bekasnya dituliskan''.
Ini dengan dasar firrnanNya
(Wa Naktubu Maa Qaddamuu Wa Aa Tsaa Rahum) Mungkin ada orang yang berkata, perhitungkanlah keumuman dalam lafazh (Al Mawtaa), yaitu setiap yang telah mati (Wa Naktubu) dan Kami akan menuliskan apa yang ditinggalkan sebagian mereka, yaitu hanya orang-orang yang mukallaf sa]a.
Timbul pertanyaan, dalam firman Allah Wa Naktubu Maa Qaddamuu Wa Aa Tsaa Rahum yang berarti: Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan; Apakah yang menuliskannya itu Allah atau para malaikat dengan titahNya?
Jawabannya, yang menuliskannya ialah para malaikat yang bergerak atas perintah Allah. Allah berfirman:

Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatanmu). Yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu yang kerjakan. (QS Al Infithar : 9-12).
Penisbatan penulisan kepada subyek yang memerintahkan, banyak ditemukan dalam sastra Arab.
(Maa Qaddamuu) segala yang mereka tinggalkan. maksudnya segala amalan shalih yang mereka kerjakan di dunia. Karena, orang muslim yang melakukan amalan shalih di dunia, berarti ia telah menyuguhkan amalan tersebut. Bagaikan orang yang bertransaksi dalam bentuk As Salm. Dalam transaksi salm, sang pembeli rnembayar dimuka (barang atau jasanya). Maka, engkau (yang sedang beramal shalih) sekarang ini sedang membayar tarif di muka. Adapun balasannya, akan diterima di hari Kiamat kelak. Balasannya, juga bisa terjadi di dunia dan di hari Kiamat sekaligus. Jika Anda mengarnalkan amal shalih sekarang ini, sejatinya Anda telah mendahulukan harga membayar sesuatu buat diri Anda sendiri yang akan dinikmati balasannya di hari Kiamat. Yakinlah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan orang yang berbuat baik. (Wa Naktubu Maa Qaddamuu Wa Aa Tsaa Rahum)
Menurut Irnam As Suyuthi, yang dimaksud adalah Kami (Allah) menulis segala yang mereka kerjakan di Lauh Mahfuzh. Tafsiran ini tidak sesuai dengan ayat di atas secara tekstual. Sebab, bentuknya fi'il mudhari' (continous tense/ kata kerja untuk yang sedang terjadi). Kata kerja seperti itu, tidak boleh diarahkan kepada masa lampau, kecuali dengan adanya suatu dasar. Sementara di sini, tidak ada dasarnya. Sebab penulisan dalam Lauh Mahfuzh telah tuntas. Allah berfirman:

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shalih. (QS Al Anbiya: 105).
Proses penulisan dalam Lauh Mahfuzh sudah paripurna. Oleh karena itu, tidak bisa dibenarkan kata (Naktubu) digunakan untuk sesuatu yang telah usai. Maka, maksudnya adalah kami mencatat dalam lembaran-lembaran amalan semua perbuatan baik atau buruk yang dikerjakan manusia agar mendapatkan balasan. Pekerjaan (penulisan) ini dikerjakan oleh para malaikat atas perintah Allah. Manusia akan mendapatkan balasannya. Tetapi kebaikan akan terjamin keberadaannya. Sedangkan amalan yang buruk tidak dijamin keberadaannya. Kebaikan, meskipun sedikit, ia tidak mungkin terabaikan. Sedangkan kejelekan, kadang akan diampuni oleh Allah, asalkan bukan kesyirikan. Disebutkan dalam firman Allah , yang artinya:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selainnya bagi yang dikehendaki. (QS An-Nisa' 116)
Ini baik sekali bagi manusia sebab kejelekan tidak dijamin keberadaannya.
(Wa Aa Tsaa Rahum) Bentuk tunggal atsar, artinya, semua yang mengiringi. Misalnya, bekas telapak kaki setelah berjalan. Maka, bekas telapak kaki ini mengiringinya. Apakah yang dimaksud dengan bekas-bekas (yang mereka tinggalkan)? Imam As Suyuthi menafsirkannya dengan segala sesuatu yang diikuti orang lain sepeninggalnya. Namun penafsiran ini hanya sekedar contoh saja, bukan sebagai pembatasan makna, Sebab obyek yang ditulis lebih banyak dari sekedar yang diikuti orang setelah meninggalnya. Ini berdasarkan sabda Nabi :
Bila ada anak Adam meninggal, maka telah terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara. (Yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang berdoa untuknya.2
Sebagai contoh, sedekah jariyah termasuk atsar-atsar (bekas-bekas peninggalannya). Jika ada seseorang yang mewakafkan ladang atau kebunnya untuk para orang miskin dan mereka dapat mengambil manfaat darinya setelah meninggal, maka tak pelak lagi, demikian ini terhitung sebagai bagian dari atsarnya. Kendatipun penyerahannya waktu ia masih hidup, tapi pemanfaatannya setelah wafatnya. Ilmu yang bermanfaat juga termasuk atsar. Setiap ilmu yang dapat dimanfaatkan setelah kcmatian, maka termasuk atsamya. Demikian juga anak shalih termasuk atsar, lantaran ia merupakan usaha orang tuanya. Jika anak shalih mendoakan ayah atau ibunya, maka itu termasuk atsar. Disamping itu, rintisan amal shalih atau akhlak luhur yang diikuti orang lain, juga merupakan atsar. jadi atsar sifatnya terjadi setelah kematian seseorang.

Wa Kulla Syayin A hshaynaahuu fii I Maamimmubiin (Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).)
Kata (I Maami) dipakai untuk beberapa makna yang maksudnya sebagai rujukan. Sebagai permisalan, imam shalat. Disebut imam, karena ia menjadi sumber rujukan para rnakmun dalam shalat. Lauh Mahfuzh disebut sebagai imam lantaran menjadi sumber. Allah berfirman:

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat scbuah kitab yang ia jumpai dalam keadaan terbuka. "Bacalah kitabmu, cukuplah dinmu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu". (QS Al Isra': 13-14).
Kesimpulannya, kata imam di sini bermakna kitab.
mmubiin (yang nyata), yang terlihat jelas. Mubin, artinya menjelaskan dan menerangkan segala perkara. Namun juga berarti bayyin (yang jelas).


Catatan Kaki

…2
HR. Muslim Kitab Al Washiyyah, Bab Ma Yalhaqu Al Insana Min Ats Tsawab Ba'da Wafatihi (Kitab Wasiat, Bab pahala yang akan menyusul manusia setelah kematiannya), no. 1631. 
http://blog.vbaitullah.or.id/2006/10/05/795-tafsir-surat-yassin-ayat-12-12/

Dari bagian pertama kita mengetahui secara ringkas kandungan tafsir surat Yasin ayat 12. Maka lanjutan dari pembahasan ini adalah poin-poin penting yang dapat kita ambil pelajaran dari ayat tersebut. Beberapa hikmah dan informasi yang sangat berharga untuk selalu kita ingat, agar dapat membantu kita dalam menjalani kehidupan ini. Apa saja?


3 Beberapa Pelajaran Dari Ayat Di Atas

  1. Adanya penjelasan tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan manusia yang telah mati. Allah membuktikannya dengan beberapa dalil aqli dan hissi (bisa ditangkap panca indera). Diantara dalil aqli yang termaktub dalam ayat:
    Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (rnenghidupkan)nya kembali dan menghidupkannya kembali lebih mudah. bagiNya. (QS Ar Rum : 27).
    Ini sebuah petunjuk mengenai mungkinnya menghidupkan kembali orang yang telah mati. Sebab, proses pengulangan lebih mudah daripada memulai. Dzat yang mampu memulai penciptaan, maka Dia sudah pasti lebih mudah untuk mengulanginya kembali. Persis seperti kandungan ayat:

    Sebagairnana Kami telah memulai penciptaan pertama kali. begitulah Kami akan mengulanginya. (QS Al Anbiya': 104).
    Berkaitan dengan petunjuk yang dapat dicerna panca indera, contoh ayatnya sangat banyak. Misalnya Firman Allah :
    Dan sebagian dari tanda kekuasaanNya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Dzat) Yang Menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Fushshilat:39).
    Allah menegaskan kekuasaanNya dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan berbagai petunjuk aqli (pandangan logis) dan hissi. Dalil aqli kita pergunakan dalam menghadapi orang rasionalis. Sedangkan dalil hissi, diarahkan kepada orang yang berpikir dangkal.

  2. Ayat di atas memberitakan sebuah isyarat (sinyal) dari Allah, bahwa orang yang hatinya tidak merasa takut kepadaNya, tidak sudi mengikuti Adz Dzkr (Al Quran), Allah tetap berkuasa untuk menghidupkan hatinya, sehingga takut kepadaNya. Setelah Allah menyebutkan klasifikasi manusia yang terbagi menjadi golongan yang takut kepadaNya dan mengikuti Adz Dzikr, dan golongan yang tidak demikian, maka ini mengisyaratkan bahwa Allah dapat mengembalikan mereka menuju kepada pangkuan al haq (kebenaran).
  3. Segala sesuatu yang muncul dari manusia telah tertulis, baik yang akan menolongnya atau perkara yang akan menjadi bebannya di akhirat berdasarkan firmanNya:
    Wa Naktubu Maa Qaddamuu Wa Aa Tsaa Rahum

  4. Allah mencatat segala sesuatu, baik yang sedikit ataupun banyak berdasarkan firmanNya:
    Maa Qaddamuw
  5. Amal perbuatan tidak terhenti dengan kematian dengan dasar firmanNya:
    Wa Aa Tsaa Rahum
    dan kata atsar mencakup ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, anak shalih yang mendoakan orang tua dan amalan Sunnah yang dihidupkan dan diikuti orang-orang.

  6. Penjelasan tentang hikmah Allah dalam mengendalikan perkara-perkara dengan ketelitian dan kejelianNya. Tidak ada satu pun yang terlewatkan. Pelajaran ini dapat dipetik dari firmanNya:
    Wa Kulla Syayin Ahshaynaahuu Fii Imaamimmubiin
  7. Segala sesuatu yang dituliskan atas manusia benar lagi jelas, tidak ada seorang pun yang meragukannya. Ini terpetik dari kata mmubiin, sesuatuyang menerangkan dengan gamblang. Kerena itu Allah berflrman, yang artinya:
    Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiarnat sebuah kitab yang ia jumpai dalam keadaan terbuka. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu". (QS Al Isra' : 13-14)..
Washallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.
http://blog.vbaitullah.or.id/2006/10/05/796-tafsir-surat-yassin-ayat-12-22/