Showing posts with label (12)-Yusuf. Show all posts
Showing posts with label (12)-Yusuf. Show all posts
Pelurusan Kisah Nabi Yusuf
Tentang firman Allah dalam kisah Yusuf
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu.” (QS Yusuf: 24)
Oleh: Adil Sulaiman al-Qathawi
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam… wa ba’du:
Sesungguhnya pembahasan tentang keinginan Nabiyullah Yusuf ‘alaihis salam telah mengambil tempat yang tidak remeh di kalangan para ulama, dai dan penuntut ilmu. Yang kemudian perselisihan itu pun beralih kepada umumnya manusia…
Maka dalam pembahasan ini, saya akan menukil perkataan yang penting dari Imam Ibnu Hazm – rohimahulloh ta’ala dalam permasalahan ini,untuk selanjutnya saya berikan komentar atau catatan yang sesuai, insyaalloh ta’ala…
Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitabnya yang sangat bagus ‘al-Fashlu fil Milal wal Ahwa wan Nihal’ (4/10):
Adapun firman Allah : ( وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ )
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.”
Maka tidaklah sebagaimana yang disangka oleh orang yang tidak memperhatikan dengan seksama,bahkan ada orang belakangan yang berkata, ‘Dia (Nabi Yusuf ‘alaihis salam) telah mendudukinya sebagaimana duduknya seorang laki-laki terhadap wanita!!’
Aku berlindung kepada Allah dari persangkaan terjadinya hal semacam ini pada diri seorang laki-laki yang shalih atau terjaga di kalangan kaum muslimin, apalagi pada diri seorang utusan Allah.
Jika ada yang berkata bahwa hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu dari jalan yang bagus sanadnya, maka kita katakan: “benar”, namun perkataan seseorang bukanlah hujjah (dalil) kecuali yang valid berasal dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam saja. Dan ternyata ada keraguan dalam riwayat tersebut pada perawi yang berada di bawah Ibnu Abbas atau karena Ibnu Abbas sendiri tidak memastikan hal tersebut. Karena beliau hanya mengambil (informasi) dari orang yang tidak diketahui siapa dia. Juga tidak diragukan bahwa informasi tersebut adalah sesuatu yang beliau dengar lalu beliau sampaikan, karena beliau tidak menghadiri peristiwa itu. Beliau juga tidak menyebutkannya bahw keterangan tersebut bersumber dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.Adalah tidak mungkin Ibnu Abbas memastikan sesuatu yang tidak beliau miliki ilmunya…
Makna Ayat
Makna ayat ini tidaklah lepas dari dua kemungkinan:
Pertama, bahwa maksud keinginan dalam ayat ini adalah keinginan untuk mencelakai dan memukulnya. Sebagaimana firman Allah,
وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ
“Dan tiap-tiap umat telah menginginkan makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya.” (Ghafir: 5)
Dan sebagaimana perkataan: لقد هممت بك
Sungguh aku telah berkeinginan terhadapmu (mencelakaimu).
Namun beliau ‘alaihis salam tercegah dari keinginannya itu karena tanda yang Allah perlihatkan padanya. Beliau pun tidak jadi memukulnya, dan mengetahui bahwa lari lebih bermanfaat baginya serta lebih menampakkan kesuciannya, sebagaimana yang nampak dari kesimpulan hukum seorang saksi setelah itu dengan (petunjuk) bagian baju yang terkoyak.
Kedua, bahwa kalimat yang Allah sampaikan itu telah lengkap/sempurna pada perkataan-Nya, “Sesungguhnya wanita itu telah berkeinginan terhadap Yusuf.” Kemudian Allah memulai berita yang lain dengan firman-Nya, “Dan Yusuf pun telah berkeinginan terhadap wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.” Inilah zhahir (yang langsung terpahami) dari ayat ini tanpa adanya usaha untuk mentakwilkannya. Dan inilah pendapat kami…”
Kemudian Ibn Hazm menyebutkan hadits Anas yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) tentang firman Allah,
ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ
“Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya.” (Yusuf: 52)
Rasulullah shallallaahu‘alaihi wa sallam bersabda, tatkala Yusuf ‘alaihis salam mengucapkannya, Jibril berkata kepadanya, wahai Yusuf sebutkan keinginanmu. Lalu Yusuf berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”
[Tentang hadits Anas ini, al-Albani dalam ‘as-Silsilah adh-Dho’ifah’ (4/455 no. 1991) mengatakan: “Hadits ini munkar”. Sedangkan firman Allah, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),” adalah lanjutan perkataan istri al-Aziz. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan diikuti oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.]
Maka dengan makna apapun, dalam hadits ini tidak ada penegasan keinginan untuk melakukan fahisyah (perbuatan keji, zina). Namun yang ada dalam hadits ini hanyalah keinginan terhadap sesuatu, dan ini benar sebagaimana kami katakan. Maka gugurlah argumen ini dan benarlah kemungkinan yang pertama dan kedua sekaligus…
Namun rasa ingin melakukan perbuatan keji itu tentu sesuatu yang bathil ditinjau segala keadaannya. Olehkarenanya yang benar bahwa keinginan yang dimaksud adalah (keinginan) untuk memukul majikan perempuannya.Perbuatan keji itu adalah khianat kepada tuannya, ketika dia berkeinginan untuk memukul istri tuannya.
Sedangkan tanda dari Robbnya di sini adalah kenabian dan penjagaan Allah ‘azza wa jalla terhadapnya. Seandainya tidak ada tanda ini, niscaya dia akan berkeinginan melakukan perbuatan keji. Ini tidak diragukan lagi.
Barangkali orang yang menisbatkan hal ini kepada seorang Nabi yang disucikan, Yusuf, menyatakan kesucian dirinya yang buruk dari kondisi semacam ini, sehingga dia pun akan binasa. Padahal Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan kebinasaan akan menimpa orang yang menyangka demikian terhadap beliau. Yaitu ketika beliau berkata kepada dua orang Anshor tatkala berjumpa dengannya, “Ini adalah Shofiyah (istri beliau).” [Hadits shahih]
[PENTING]
Abu Muhammad berkata, “Termasuk kebatilan yang jelas tidak mungkin terjadi adalah seseorang menyangka bahwa Yusuf ‘alaihis salam memiliki keinginan berbuat zina, padahal dia mendengar firman Allah ta’ala,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء
“Demikianlah agar Kami palingkan darinya keburukan dan perbuatan keji.”
Maka kami tanyakan kepada orang yang menyelisihi kami, apakah keinginan berbuat zina termasuk keburukan atau bukan? Maka tentu itu adalah keburukan. Jika dia berkata bahwa itu bukan keburukan, berarti dia telah menentang ijma’. Jika jelas hal itu adalah keburukan, padahal keburukan telah dipalingkan darinya, berarti keinginan berbuat zina pun telah dipalingkan dari beliau, dengan yakin.
Disamping itu, wanita itu telah berkata,
قَالَتْ مَا جَزَاء مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوَءاً
“Wanita itu berkata, apa balasan bagi orang yang menghendaki keburukan bagi keluargamu.”
Beliau pun mengingkari hal itu, dan bersaksilah seorang yang jujur lagi dibenarkan.
وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِن الصَّادِقِينَ
“Dan jika pakaiannya terkoyak dari arah belakang, berarti wanita itu yang dusta sedangkan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang jujur.”
Maka jelaslah bahwa wanita itu telah berdusta, menurut nash al-Qur`an. Dan jika wanita itu berdusta berdasarkan nash al-Qur`an, berarti (Yusuf) tidak menginginkan keburukan terhadap wanita itu, dan tidak menginginkan perbuatan zina sama sekali. Jika dia (Yusuf) menghendaki perbuatan zina, berarti wanita itulah yang termasuk orang-orang yang jujur. Ini sangat jelas sekali.
Demikian pula firman Allah ta’ala tentang beliau, bahwa beliau berkata,
وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Dan seandainya Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, niscaya aku cenderung (memenuhi keinginan) mereka dan tentu aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33)
Maka menjadi benar bahwa beliau sama sekali tidak memiliki kecenderungan kepada wanita itu. Dan taufiq hanyalah dari Allah ta’ala.
Selesai perkataan Ibnu Hazm rohimahulloh.
Dalam perkataan beliau itu terdapat ketetapan yang tegas, tentang pensucian Nabi Allah,Yusuf ‘alaihis salam dari keinginan untuk melakukan perbuatan keji, berbeda dengan banyak ahli tafsir dan ulama selain mereka yang berbicara tentang ayat yang mulia ini…
Berdasarkan penerangan dari perkataan beliau – rohimahullah – akan kami jelaskan beberapa permasalahan…
Bahwa ayat tentang keinginan Nabi Yusuf ‘alaihis salam) ini harus dipahami dari rangkaian kisah dalam al-Qur`an…
Maka barangsiapa berpendapat bahwa beliau berkeinginan terhadap wanita itu, yaitu bermaksud kepada ajakan wanita itu, atau hal itu terbesit di hatinya sesuai dengan fitrah (manusia), dan bahwa keinginan ini tidak akan menjadi sebab beliau disiksa karena beliau tidak meneruskannya, bahkan beliau akan diberi pahala…
Maka ini adalah pendapat yang bagus. Akan tetapi, lebih bagus darinya kita menetapkan terjaganya beliau dari keinginan melakukan perbuatan keji karena agungnya kedudukan sebagai Nabi.
Jumhur salaf telah berpendapat, bahkan hampir-hampir mereka sepakat bahwa tidak ada seorang istri Nabi pun yang berbuat zina. Dan lebih pantas jika hal semacam ini tidak telintas di hati-hati mereka… Maka pendapat ini tentunya lebih tegas dan lebih utama bagi haknya para Nabi.
Dan termasuk perkara yang tidak diragukan, bahwa sikap Yusuf ‘alaihis salam terhadap wanita ini adalah kandungan kisah yang paling terkenal… sekaligus sebagai sumber perselisihan yang panjang dan tersebar di berbagai karya tulis…
Maka jika Allah berkehendak untuk menjadikannya sebagai permisalan yang senantiasa dihikayatkan, senantiasa bernilai ibadah ketika dibaca sepanjang masa, dan pelajarannya dijadikan sebagai panutan, maka tidak ada jalan lain kecuali memilih sesuatu yang paling tinggi kemuliaan, reputasi dan kesuciannya.
Ini bukanlah terkaan atau dugaan terhadap perkara yang ghaib… akan tetapi ini adalah penafsiran firman Allah dengan firman-Nya yang lain.
Jika kita sedikit mengalah dalam perdebatan ini, yaitu dengan meninggalkan semua penafsiran yang telah kita dengar sebelumnya tentang permasalahan ini… maka hendaknya sekarang kita memperhatikan secara inshaf (seimbang)…
Apakah keinginan itu terjadi sebelum perbuatan atau sesudahnya?
Jawaban yang disepakati oleh seluruh orang berakal adalah keinginan terjadi sebelum perbuatan…
Jika demikian, maka (ketahuilah) rangkaian kisah itu telah menyebutkan dengan jelas bahwa perbuatan itu adalah bujuk rayu, dan ini telah berakhir. Telah lengkap segala unsur perbuatan, yaitu adanya ajakan wanita itu kepada Yusuf secara terang-terangan, berupa perbuatan dan ucapan, untuk berbuat keji…
Allah ta’ala berfirman,
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya, menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.” (Yusuf: 23)
Yakni, wanita itu menggoda Yusuf tatkala Yusuf telah beranjak dewasa… Sedangkan godaan adalah kehendak dan ajakan dengan cara lembut dan halus. Wanita yang Yusuf tinggal dirumahnya, adalah istri al-Aziz. Dia menutup pintu dan mengatakan kemarilah ke sini…
Maka wanita itu menggoda… menutup pintu… dan berkata…
Lalu Allah menyebutkan sikap Yusuf yang menolak perbuatan keji itu seraya berargumen dengan dua perkara:
(Pertama) permohonan perlindungan kepada Allah dari perbuatan buruk terhadap hak tuannya yang telah membesarkan dan memuliakannya.
(Kedua) bahwa ini adalah perbuatan orang zhalim yang bodoh, bukan perbuatan orang yang berakal dan lurus.
Barangsiapa menyatakan makna kata ( رَبّي ) di sini (dalam ayat di atas) adalah tuannya, maka tidak terlarang. Begitu pula yang mengembalikan kata ganti dalam kata ( إِنَّهُ ) kepada lafzhul jalalah (Allah), dia pun tidak salah. Hanya saja kata ( مثوى ) telah diucapkan oleh tuannya sebelum itu, sedangkan lafzhul jalalah telah tegas disebutkan dalam ucapan Yusuf, “Aku berlindung kepada Allah.” Maka jika kata ( ربي ) yang dimaksud adalah tuannya, ini lebih sesuai dengan rangkaian kalimat.
Bagaimanapun juga, ini adalah sikap yang nyata dalam mengajak kepada perbuatan keji dan melaksanakannya serta terus terang dalam hal itu. Begitu pula penolakan Nabi Allah,Yusuf , terhadap wanita itu, nasihat dan peringatannya terhadap akibat perbuatan buruk nan munkar ini…
Tentang makna ‘murawadah’ (godaan atau rayuan), Rasyid Ridha dalam ‘al-Manar’ menyebutkan perkataan al-Ashfahani:
“Murawadah adalah penyelisihanmu terhadap orang lain dalam hal kehendak. Engkau menghendaki sesuatu yang tidak dia kehendaki. Atau menginginkan sesuatu yang tidak dia inginkan. Seakan-akan maknanya adalah, menipu daya terhadap dirinya (orang lain). Yaitu, melakukan sebagaimana yang dilakukan seorang penipu terhadap sesuatu yang tidak ingin dikeluarkan oleh orang lain dari tangannya, dia melakukan tipu daya agar bisa menguasai dan mengambil sesuatu itu darinya. Dan ini adalah ungkapan atas tipu daya yang dilakukan agar dia mau menggaulinya. Selesai perkataan beliau. Dan seandainya wanita itu melihat sedikit kecenderungan Nabi Yusuf kepadanya, sedangkan dia menyendiri bersamanya dalam satu kamar dalam rumahnya, tentunya dia tidak perlu untuk menipudayai Yusuf dengan bujuk rayu”. Selesai (nukilan dari ‘al-Manar’)
Maka siapa saja yang mengatakan setelah itu bahwa keinginan di sini adalah keinginan untuk melakukan perbuatan keji berarti dia telah menyelisihi ketegasan al-Qur`an yang secara tegas telah menyatakan berakhirnya sikap perbuatan tersebut…
Jika demikian, agar kita mengetahui makna keinginan ini, kita harus melihat dan memperhatikan lebih dalam lagi…
Kita lihat semuanya memiliki pikiran yang sama bahwa keinginan ini adalah perkataan jiwa dan apa yang terlintas dalam hati. Dan sepertinya tidak ada makna yang lain…
Ingatlah ayat yang disebutkan oleh Ibnu Hazm, yaitu firman Allah ta’ala,
وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ
“Dan tiap-tiap umat telah menginginkan(hamma) makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya.” (Ghafir: 5)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Juga firman Allah ta’ala,
أَلا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras keinginannya (hamma) untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?” (at-Taubah: 13)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Dan firman-Nya,
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا
“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan menginginkan(hamma) apa yang mereka tidak dapat mencapainya.” (at-Taubah: 74)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Keinginan, sebagaimana dalam bahasa, adalah perkataan jiwa dan hati. Dalam bahasa Arab dikatakan, ‘Hamamtu bi fulan,’ yakni aku bermaksud (menuju) kepadanya.
Sedangkan kebanyakan ahli tafsir, di antaranya Syaikhul Islam, beliau berkata dalam ‘al-Fatawa’ (10/296):
Al-Hamm (keinginan) adalah nama jenis yang mencakup dua macam, sebagaimana perkataan Imam Ahmad, keinginan itu ada dua; (1)keinginan yang terbetik dan (2)keinginan yang terus menerus… Sedangkan Yusuf shollallohu ‘alaihi wa sallam memiliki keinginan yang dia tinggalkan karena Allah. Oleh karenanya, Allah palingkan darinya keburukan dan perbuatan keji karena keikhlasannya. Dan hal itu terjadi ketika ada penyebab perbuatan dosa, yaitu keinginan, dan ditentang dengan keikhlasan yang akan menyebabkan berpalingnya hati dari dosa karena Allah. Maka yang muncul dari Yusuf ‘alaihis salam hanyalah kebaikan yang mendatangkan pahala. Selesai perkataan beliau.
Ini berdasarkan (pendapat) bahwa keinginan di sini adalah keinginan yang berupa lintasan hati… yakni, bahwa Yusuf – ‘alaihis salam – dalam hatinya terlintas untuk menyepakati wanita itu melakukan perbuatan keji.
Maka dikatakan, manakah yang lebih utama, kita menisbatkan kepada Nabi Allah pikiran untuk berbuat zina dan terlintasnya hal itu dalam hati meskipun hanya sebentar, ataukah kita mengambil pendapat Ibnu Hazm bahwa beliau tidak memiliki keinginan untuk berbuat kekejian sama sekali?
Apa yang mendorong kita mengatakan bahwa beliau berkeinginan melakukan perbuatan keji?Bukankah dalam nash yang tegas, Allah telah membersihkan beliau dari keburukan dan kekejian?Apakah di sana ada keburukan yang lebih besar dari keinginan berbuat keji, dan kekejian apakah itu?
Kita perhatikan bahwa dua kata keburukan ( السوء ) dan kekejian ( الفحشاء ) ada ‘alif-lam’ yang bermakna ‘istighraq tamm’ (yakni makna yang mencakup segala jenisnya). Sehingga yang ditiadakan (dari diri Nabi Yusuf – ‘alaihis salam) adalah segala keburukan dan kekejian, meskipun hanya berupa keinginan dalam hati dan jiwa yang tidak sampai pada perbuatan…
Dan ini lebih sempurna dalam permasalahan ‘ishmah’ (keterjagaan, kemakshuman seorang Nabi) sebagaimana hal itu nampak dengan jelas…
Lantas kenapa kita katakan bahwa keinginan dalam ayat ini – paling tidak pada diri Nabi Yusuf – bukan keinginan untuk berbuat kekejian padahal itu termasuk konsekuensi fitrah dan tabiat manusia?Jawabnya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hazm di atas bahwa al-Qur`an telah tegas menyatakan bahwa keinginan Nabiyullah Yusuf bukanlah keinginan untuk berbuat perkara keji… dan jalan untuk mengetahui hal itu adalah dengan pertanyaan sederhana:Apakah keinginan melakukan perbuatan keji adalah suatu keburukan ataukah tidak?
Syariat, akal dan fitrah telah menyatakan bahwa keinginan melakukan perbuatan keji adalah keburukan yang jelas, namun tidak ada hukuman atasnya selama tidak dilaksanakan.
Dan kami, ketika menetapkan hal itu, kami menempatkan firman Allah tabaroka wa ta’ala berada di hadapan kami, agar kami melihat kesucian Nabiyullah Yusuf dari keinginan melakukan perbuatan keji…
Allah ta’ala berfirman,
أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Dia melihat tanda (dari) Robbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Aku sampaikan ayat ini demikian, agar kita tidak bingung dengan pendapat orang yang mengatakan adanya taqdim dan ta`khir (pemajuan dan pengakhiran) kalimat yang menjadi jawab dari kata ‘law laa’(seandainya tidak)… dan untuk menyelesaikan masalah ini, cukup aku nukilkan perkataan berharga dari Ibnul Qayyim dalam ‘ash-Showa’iqul Mursalah’ (2/716):
“Adapun anggapan adanya taqdim dan ta`khir dalam firman Allah,
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ
“Sesungguhnya wanita itu telah berkeinginan terhadap Yusuf. Dan Yusuf pun berkeinginan terhadap wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.” (Yusuf: 24)
bahwa pada perkataan ini, jawab dari kata ‘law laa’ telah mendahuluinya, maka (sebagai bantahan) yang pertama, para ahli nahwu tidaklah membolehkan hal tersebut. Dan tidak ada dalil atas anggapannya itu. Selain itu, perkataan ini tidaklah merusak pemahaman terhadap apa yang dimaksud”. Selesai perkataan Ibn Qoyyim.
Jika demikian, yang telah pasti secara yakin dengan nash al-Qur`an, bahwa Nabiyullah Yusuf melihat tanda dari Robbnya – apapun maksud dari tanda ini, agar kita keluar dari perselisihan – lalu Allah memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji, karena beliau termasuk hamba Allah yang ikhlas dan terpilih.
Kata ( المخلصين ) jika dibaca al-mukhlashin, maknanya adalah orang-orang terpilih, dan jika dibaca al-mukhlishin, maknanya adalah orang-orang yang ikhlas.
Al-Qurthubi berkata, “Ibnu Katsir, Abu ‘Amr dan Abu ‘Amir membacanya ‘al-mukhlishin’ dan maknanya adalah orang-orang yang mengikhlaskan ketaatan kepada Allah. Yang lain membacanya ‘al-mukhlashin’ dan maknanya adalah orang-orang yang Allah pilih untuk (mengemban) risalah-Nya. Dan Nabi Yusuf – shollallohu ‘alaihi wa sallam – memiliki dua sifat ini, karena beliau adalah orang yang ikhlas dalam menaati Allah ta’ala dan terpilih untuk (mengemban) risalah Allah ta’ala.” Selesai perkataan beliau.
Maka penyifatan beliau dengan ikhlas di sini adalah dalil (petunjuk atau bukti) terbesar yang menunjukkan bahwa beliau tidak berkeinginan melakukan perbuatan keji sama sekali.Ikhlas adalah amalan hati yang hanya diketahui oleh Allah. Sedangkan keinginan berbuat keji jelas bertentangan dengan ikhlas.
Sedangkan lintasan-lintasan hati dan keinginan hati (terhadap keburukan) tidak ragu lagi merupakan penyesatan syaithan, Allah ta’ala telah berfirman tentangnya yang telah bersumpah,
لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠)
“Pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (al-Hijr: 39-40)
Dan Allah telah menyifati Yusuf termasuk orang-orang yang mukhlis (ikhlas), maka dengan sedikit pembandingan, akan nampak jelas hasilnya.
Ini saja sudah cukup untuk menjawab dan membantah orang yang berpendapat bahwa beliau berkeinginan melakukan perbuatan keji karena (konsekuensi) tabiat dan fitrah manusia…
Apalagi jika kita tambahkan bahwa keinginan berbuat keji adalah suatu keburukan tersendiri. Padahal Allah telah membebaskan beliau dari keburukan, dengan nash yang tegas dan jelas yang tidak perlu kepada takwil atau takalluf (memberat-beratkan diri).
Tentang kedudukan sebagai nabi dan keagungannya, Imam Ibnul Arabi berkata dalam ‘Ahkamul Qur`an’ (5/39):
Bahwa faidah dari firman Allah,
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا
“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.” (Yusuf: 22)
Adalah Allah memberikan ilmu dan hikmah di hadapan kuatnya penguasaan syahwat, agar hal itu menjadi sebab penjagaan baginya. Selesai perkataan beliau.
Yakni, beliau diberi ilmu dan hikmah dari sisi Allah sebelum kejadian ini…
Dan kita tidak akan memperdalam pembicaraan tentang kemakshuman (terjaganya) para nabi…
Hanya saja kita mempertanyakan, apakah dibenarkan kita membolehkan bagi beliau untuk memiliki keinginan dalam hatinya untuk berbuat kekejian?
Jika kita katakan hal itu boleh bagi para nabi… maka apakah rangkaian kisah ini bisa membantu kita untuk memahaminya?
Syaikhul Islam berkata dalam ‘Majmu’ al-Fatawa’ (10/296):
“Adapun Yusuf ash-Shiddiq (yang memiliki sifat sangat jujur), Allah tidak menyebutkan satu dosa pun darinya. Oleh karena itulah Allah tidak menyebutkan darinya, sesuatu yang pantas dilakukan karena dosa, yaitu permohonan ampun… Lalu Allah memberitakan bahwa Dia telah memalingkan keburukan dan perbuatan keji darinya. Dan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu keburukan atau kekejian pun yang muncul dari beliau.”
Beliau juga berkata dalam ‘Qa’idah fil Mahabbah’ (1/77):
“Maka Allah – subhanah – memberitakan bahwa Dia telah memalingkan keburukan dan perbuatan keji dari beliau. Dan termasuk keburukan adalah kasmaran dan kecintaan terhadapnya, sedangkan termasuk perbuatan keji adalah zina. Terkadang yang berbuat zina dengan kemaluannya bukanlah orang yang kasmaran, dan terkadang ada orang yang kasmaran namun tidak berbuat zina dengan kemaluannya. Dan zina dengan kemaluan lebih berat dari pada mengerjakan dosa kecil seperti melihat atau mencium.” Selesai perkataan beliau.
Ini adalah perkataan yang benar. Akan tetapi seandainya kita ganti perkataan beliau di atas, “dan termasuk keburukan adalah kasmaran dan kecintaan terhadapnya,” dengan perkataan, “dan termasuk keburukan adalah keinginan untuk melakukan perbuatan keji.”
Apakah engkau melihat, apa yang dikatakan orang berakal tentang anggapan ini? Inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm di atas.
Perkara yang lain…
Sesungguhnya istri al-Aziz itu telah berkata di hadapan para wanita,
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
“Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Dan dia berkata di hadapan Raja,
أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
“Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)
Dan Yusuf berkata tentang dirinya, sedangkan beliau adalah orang yang sangat jujur,
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي
“Yusuf berkata: Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).” (Yusuf: 26)
Perhatikanlah bagaimana diri itu (diri Nabi Yusuf) disebutkan tiga kali sebagai pembersihan yang sangat tegas…
Seandainya keinginan itu bermakna perkataan jiwa, bagaimana kita mengarahkan tiga ayat ini dalam pembersihan diri beliau?
Ini juga sebagai bantahan bagi orang yang mengatakan bahwa jiwa beliau menginginkan berbuat kekejian.
Untuk mengetahui hakikat keinginan ini, kita tempatkan di hadapan kita bahwa godaan itu terjadi sebelum keinginan… sebagaimana hal itu nampak dari zhahir rangkaian kisah dalam al-Qur`an… sedangkan pada bujuk rayu itu terdapat penegasan adanya perbuatan, baik secara lisan maupun perbuatan anggota badan dari wanita itu, dan telah ada penolakan yang jelas dan tegas dari beliau (Nabi Yusuf) yang menunjukkan bahwa beliau tidak ikut serta bersama wanita itu dalam perkara yang akan dia lakukan…
Maka jika datang keinginan, kita tidak mengatakan, itu adalah keinginan untuk berbuat sebagaimana layaknya manusia, sedangkan keinginan semata bukanlah suatu dosa selama tidak terjadi!!!
Akan tetapi kita katakan, bahwa keinginan yang ada dari kedua belah pihak di sini jelas perkara lain, setelah terjadinya keterusterangan untuk melakukan perbuatan keji dari pihak wanita.
Maka keinginan yang ada pada tahapan akhir ini telah menjadi keinginan untuk saling melawan (dengan mendorong dan menarik) atau memukul. Wanita itu melakukan hal ini terhadap Yusuf karena beliau enggan dan menolak ajakannya untuk berbuat keji. Sedangkan beliau melakukan hal ini kepada wanita itu untuk berusaha lari dan menyelamatkan diri. Kemudian setelah itu keduanya berlomba-lomba menuju pintu.
Kemudian hendaknya kita perhatikan lebih teliti lagi kepada kata ‘al-murawadah’ (godaan, bujuk rayu) yang maknanya adalah keinginan dan permintaan dengan lembut dan halus…
Dan kita perhatikan situasi saling berkejaran menuju pintu itu. Ini adalah gerakan dari dua belah pihak yang menuju satu arah tapi dengan niat yang berbeda….
Menjadi jelaslah bagimu, bahwa keinginan dari keduanya adalah keinginan untuk saling melawan dengan mendorong dan menarik, atau memukul… sesuai dengan tujuan masing-masing.
Dan penafsiran ini dikuatkan oleh runtutan kisah. Karena keinginan jelas terjadi sebelum perbuatan, dan tidak mungkin dikatakan berbuat kemudian baru berkeinginan.
Dan yang paling indah dalam runtutan kisah ini, bahwa ia menetapkan terjaganya Nabi Yusuf, sampai pun pada keinginan untuk melakukan perbuatan keji.
Situasi lari saling mendahului
Berdasarkan keterangan yang telah lalu, maka kita perhatikan dengan seimbang tentang kondisi kejar-kejaran ini…
Allah ta’ala berfirman,
( وَاسُتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِن دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاء مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوَءاً إِلاَّ أَن يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ )
“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu. Dan wanita itu menarik baju Nabi Yusuf dari belakang hingga koyak. Dan keduanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjara atau dihukum dengan hukuman yang pedih?” (Yusuf: 25)
Shidiq Hasan Khan, Raja Bhopal, berkata dalam ‘Husnul Uswah bima Tsabata min Allah wa Rasulihi fin Niswah’ (1/113):
Firman Allah, “Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu,” maksudnya adalah keduanya berusaha saling mendahului… dan alasan keduanya saling berusaha mendahului adalah karena Yusuf ingin lari dan keluar melalui pintu, sedangkan istri al-Aziz itu ingin mendahuluinya menuju pintu untuk menghalanginya membuka dan keluar dari pintu. As-Suyuthi berkta, Yusuf bergegas menuju pintu untuk kabur, sedangkan wanita itu (bergegas) untuk menangkapnya lalu wanita itu memegangi baju Nabi Yusuf… dan wanita itu merobek bajunya, yakni menarik baju Nabi Yusuf dari belakangnya sehingga terbelahlah bajunya sampai ke bagian bawah. Dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan pintu, yakni mendapati al-Aziz di sana. Wanita itu berkata,” apa balasan bagi orang yang menginginkan keburukan untuk keluargamu, berupa zina dan semisalnya”. Wanita itu mengucapkan perkataan ini untuk menghindar dan menutupi diri, lalu menyandarkannya kepada Yusuf, apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya. Selain dipenjara atau hukuman yang pedih, yakni berupa sabetan cambuk. Dan yang nampak, beliau tidaklah mendapati hukuman pedih berupa cambukan atau yang semisalnya. Tidak disebutkannya hal ini bisa untuk menambah kengerian. Selesai perkataan beliau.
Situasi yang genting ini menggambarkan kepadamu suatu perkara yang sangat jelas…
Yaitu, bahwa Yusuf telah mengetahui dengan tanda yang Allah berikan kepadanya, bahwa tinggalnya beliau di tempat kemaksiatan adalah kehinaan yang terbesar bagi beliau.
Dan terjeratnya beliau bersama wanita itu dalam perlawanan berupa mendorong dan menarik atau memukul itu adalah bukti yang terbesar atas tinggalnya beliau…
Maka pemikiran yang selamat adalah usaha untuk kabur dari dua jenis tipu daya… maka keduanya saling berlomba-lomba menuju pintu…
Beliau berusaha kabur, sebagaimana telah kami jelaskan, sedangkan wanita itu berusaha untuk menahannya karena rasa jengkel akan keengganan Yusuf dan rusaknya kebanggaan dirinya.
Dan bisa dimungkinkan tanda yang dimaksud di sini sebagaimana riwayat yang datang dari perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Ishaq yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan selainnya. Bahwa tanda di sini adalah sesuatu yang memberitahu keduanya bahwa tuannya telah masuk ke dalam rumah, seperti suara yang mereka dengar atau bayangan yang mereka lihat.
Dan yang mendukung penafsiran ini, bahwa kata ‘Robbihi’ dalam surat ini bisa memiliki dua makna: Robbnya, yakni Penciptanya, atau Robbnya (tuannya) yang telah memuliakan tempat kedudukannya…
Sedangkan kalimat ‘burhan’ telah datang dalam Kitabullah dengan makna petunjuk yang menjadi hujah. Baik petunjuk yang didapat dengan akal atau petunjuk yang didapat dengan penelitian. Dan ini sesuai dengan kedua pendapat dalam penafsiran kata ‘burhan’ (tanda) sebagaimana telah lalu penjelasannya…
Adapun pendapat-pendapat lainnya, yang berpendapat bahwa Nabi Yusuf melihat gambaran bapaknya, atau melihat ayat al-Qur`an di dinding, dan penafsiran yang semacam itu, maka ini adalah penafsiran yang jauh (dari kebenaran). Karena kita tidak berpendapat bahwa seorang Nabi membutuhkan mukjizat hissiyah (yang bisa ditangkap oleh indera manusia) agar dia tidak melakukan keburukan dan perbuatan keji.
Maka pendapat yang menyatakan bahwa tanda itu adalah petunjuk munculnya tuannya, adalah pendapat yang tidak ditolak oleh kisah ini secara global, tidak pula ditolak oleh rangkaian kisah tersebut.
Dengan ini maka menjadi jelas – jika hal ini benar – bahwa alasan keduanya untuk saling berlomba menuju pintu adalah sangat logis.
Yaitu, untuk keluar dari tempat maksiat, dan agar tidak terjerat bersama wanita itu. Karena dalam dua perkara itu terdapat penghinaan yang nyata.
Sedangkan wanita itu berusaha untuk menahannya di dalam kamarnya, dia menariknya agar terjerat bersamanya. Makan nampaklah bahwa beliau adalah orang yang terzhalimi di dalam kamar wanita itu. Lalu wanita itu menampakkan bahwa dirinyalah yang terzhalimi.
Akan tetapi Allah memberikan ilham kepada beliau agar memalingkan punggungnya kepada wanita itu untuk menolak saling pukul dan saling tarik bersama wanita itu… maka jadilah baju yang terkoyak itu sebagai tanda yang Allah nampakkan untuk menunjukkan secara tegas akan kesucian Yusuf.
Dan dalam ‘Tafsir al-Lubab’ karya Ibnu Adil al-Hanbali (9/243):
Ibnul Khathib berkata:
Para ahli tahqiq dari kalangan ahli tafsir dan ahli kalam telah berkata, bahwa Yusuf – ‘alaihish sholatu was salam – berlepas diri dari perbuatan yang batil, dan keinginan yang haram. Inilah pendapat kami, dan inilah yang kami bela. Dan dalil-dalil yang menunjukkan wajib terjaganya para Nabi – ‘alaihimush sholatu was salam – telah disebutkan dan ditetapkan. Dan di sini kami tambah dengan beberapa sisi:
Pertama: Bahwa zina termasuk dosa besar yang mungkar. Dan khianat di hadapan amanah juga termasuk dosa yang mungkar.
Demikian juga: Jika seorang anak dibesarkan di pangkuan seseorang, lalu dia mendapatkan kecukupan, dan terjaga kehormatannya semenjak kecil hingga dia beranjak dewasa dan menjadi kuat, maka kelakuan anak ini untuk memberikan keburukan yang paling jelek kepada orang yang telah memberi kenikmatan dan keutamaan itu, adalah termasuk perbuatan yang mungkar.
Jika hal ini telah jelas, maka kita katakan, sesungguhnya kemaksiatan ini jika mereka sandarkan kepada Yusuf – ‘alaihish sholatu was salam – maka ini adalah kemaksiatan yang dipenuhi dengan kebodohan. Dan kemaksiatan semacam ini jika disandarkan kepada orang yang paling fasik, dan paling jauh dari segala kebaikan, niscaya dia akan menolak dan mengingkarinya. Lalu bagaimana mungkin dibolehkan hal itu disandarkan kepada seorang Rasul yang dikuatkan dengan mukjizat yang sangat nyata, padahal Allah telah berfirman,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian.” (Yusuf: 24)
Hal ini juga tidak sesuai dengan hikmah Allah. Dan itu menunjukkan bahwa materi keburukan dan kekejian telah dipalingkan dari beliau. Sedangkan maksiat yang mereka sandarkan kepada beliau adalah jenis keburukan dan kekejian yang paling besar.
Juga tidak sesuai dengan rahmat Allah apabila Dia mengisahkan tentang seseorang yang melakukan maksiat lalu Dia memujinya dengan pujian teragung setelah mengisahkan tentangnya dosa yang besar itu. Perumpamaannya, sebagaimana seorang raja yang menyebutkan dosa terburuk dan amalan terkeji dari sebagian budaknya, kemudian dia menyebutkannya dengan pujian yang agung dan berlebihan setelahnya. Maka semacam ini jelas diingkari, begitu pula di sini. Selesai perkataan beliau.
Adapun persangkaan sebagian orang terhadap perkataan Nabiyullah Yusuf,
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
“Yusuf berkata: Wahai Robbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33)
lalu dia menjadikan perkataan itu sebagai dalil bahwa tidak mengapa pikiran yang terlintas dalam hati untuk berbuat kekejian, karena ini merupakan tabiat manusia!!
Maka hendaknya dia menyempurnakan firman Allah ta’ala itu,
فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Robbnya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Yusuf: 34)
Pertama, hendaknya dia tahu bahwa ini berkaitan dengan peristiwa bersama para wanita (setelah kejadian kisah di atas), bukan berkenaan dengan kejadian bersama istri al-Aziz. Dan perbedaannya sangatlah jelas.
Yang kedua, Syaikhul Islam berkata dalam ‘Majmu’ al-Fatawa’ (15/130):
Dan dalam perkataan Yusuf, “Yusuf berkata: Wahai Robbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Ada dua pelajaran:
Pertama, lebih memilih penjara dan musibah dari pada dosa dan kemaksiatan.
Kedua, meminta dan berdoa kepada Allah agar Dia meneguhkan hati di atas agama-Nya dan memalingkan hati itu kepada ketaatan kepadanya, karena jika Dia tidak meneguhkan hati itu, niscaya hati itu akan condong kepada orang-orang yang memerintahkan perbuatan dosa, sehingga jadilah termasuk orang-orang yang bodoh.
Maka di sini ada tawakal (penyandaran hati) kepada Allah dan permintaan tolong kepadanya agar Dia meneguhkan hati di atas keimanan dan ketaatan. Dan di sini juga ada kesabaran terhadap ujian, musibah dan gangguan yang terjadi jika dia teguh di atas keimanan dan ketaatan. Selesai perkataan beliau.
Dan yang tidak diragukan lagi, bahwa tidak ada seorang makhluk pun baik dari golongan manusia maupun jin, jika dia tidak dijaga oleh Robbnya, niscaya dia akan menyimpang dan tersesat.
Lalu, bagaimanakah keadaan kita dibandingkan seorang Nabi yang sangat jujur, yang termasuk hamba Allah terpilih dan ikhlas, yang telah Allah nyatakan dengan tegas bahwa beliau,
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 22)
Wallahu A’la wa A’lam.
Akhirnya:
Inilah komentar singkat yang bisa aku berikan dalam menafsirkan ayat yang mulia ini, sesuai dengan keterangan yang telah ditetapkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya ‘al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal’…
Jika benar, maka hal itu dari Allah, dan jika tidak demikian, maka kami memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah, dan agar Dia mengajarkan dan mengilhamkan kepada kami dan kelurusan dan kebenaran.
Sumber : http://www.almenhaj.net/TextSubject.php?linkid=7735
http://www.direktori-islam.com/2009/07/pelurusan-kisah-nabi-yusuf/
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu.” (QS Yusuf: 24)
Oleh: Adil Sulaiman al-Qathawi
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam… wa ba’du:
Sesungguhnya pembahasan tentang keinginan Nabiyullah Yusuf ‘alaihis salam telah mengambil tempat yang tidak remeh di kalangan para ulama, dai dan penuntut ilmu. Yang kemudian perselisihan itu pun beralih kepada umumnya manusia…
Maka dalam pembahasan ini, saya akan menukil perkataan yang penting dari Imam Ibnu Hazm – rohimahulloh ta’ala dalam permasalahan ini,untuk selanjutnya saya berikan komentar atau catatan yang sesuai, insyaalloh ta’ala…
Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitabnya yang sangat bagus ‘al-Fashlu fil Milal wal Ahwa wan Nihal’ (4/10):
Adapun firman Allah : ( وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ )
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.”
Maka tidaklah sebagaimana yang disangka oleh orang yang tidak memperhatikan dengan seksama,bahkan ada orang belakangan yang berkata, ‘Dia (Nabi Yusuf ‘alaihis salam) telah mendudukinya sebagaimana duduknya seorang laki-laki terhadap wanita!!’
Aku berlindung kepada Allah dari persangkaan terjadinya hal semacam ini pada diri seorang laki-laki yang shalih atau terjaga di kalangan kaum muslimin, apalagi pada diri seorang utusan Allah.
Jika ada yang berkata bahwa hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu dari jalan yang bagus sanadnya, maka kita katakan: “benar”, namun perkataan seseorang bukanlah hujjah (dalil) kecuali yang valid berasal dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam saja. Dan ternyata ada keraguan dalam riwayat tersebut pada perawi yang berada di bawah Ibnu Abbas atau karena Ibnu Abbas sendiri tidak memastikan hal tersebut. Karena beliau hanya mengambil (informasi) dari orang yang tidak diketahui siapa dia. Juga tidak diragukan bahwa informasi tersebut adalah sesuatu yang beliau dengar lalu beliau sampaikan, karena beliau tidak menghadiri peristiwa itu. Beliau juga tidak menyebutkannya bahw keterangan tersebut bersumber dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.Adalah tidak mungkin Ibnu Abbas memastikan sesuatu yang tidak beliau miliki ilmunya…
Makna Ayat
Makna ayat ini tidaklah lepas dari dua kemungkinan:
Pertama, bahwa maksud keinginan dalam ayat ini adalah keinginan untuk mencelakai dan memukulnya. Sebagaimana firman Allah,
وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ
“Dan tiap-tiap umat telah menginginkan makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya.” (Ghafir: 5)
Dan sebagaimana perkataan: لقد هممت بك
Sungguh aku telah berkeinginan terhadapmu (mencelakaimu).
Namun beliau ‘alaihis salam tercegah dari keinginannya itu karena tanda yang Allah perlihatkan padanya. Beliau pun tidak jadi memukulnya, dan mengetahui bahwa lari lebih bermanfaat baginya serta lebih menampakkan kesuciannya, sebagaimana yang nampak dari kesimpulan hukum seorang saksi setelah itu dengan (petunjuk) bagian baju yang terkoyak.
Kedua, bahwa kalimat yang Allah sampaikan itu telah lengkap/sempurna pada perkataan-Nya, “Sesungguhnya wanita itu telah berkeinginan terhadap Yusuf.” Kemudian Allah memulai berita yang lain dengan firman-Nya, “Dan Yusuf pun telah berkeinginan terhadap wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.” Inilah zhahir (yang langsung terpahami) dari ayat ini tanpa adanya usaha untuk mentakwilkannya. Dan inilah pendapat kami…”
Kemudian Ibn Hazm menyebutkan hadits Anas yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) tentang firman Allah,
ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ
“Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya.” (Yusuf: 52)
Rasulullah shallallaahu‘alaihi wa sallam bersabda, tatkala Yusuf ‘alaihis salam mengucapkannya, Jibril berkata kepadanya, wahai Yusuf sebutkan keinginanmu. Lalu Yusuf berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”
[Tentang hadits Anas ini, al-Albani dalam ‘as-Silsilah adh-Dho’ifah’ (4/455 no. 1991) mengatakan: “Hadits ini munkar”. Sedangkan firman Allah, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),” adalah lanjutan perkataan istri al-Aziz. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan diikuti oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.]
Maka dengan makna apapun, dalam hadits ini tidak ada penegasan keinginan untuk melakukan fahisyah (perbuatan keji, zina). Namun yang ada dalam hadits ini hanyalah keinginan terhadap sesuatu, dan ini benar sebagaimana kami katakan. Maka gugurlah argumen ini dan benarlah kemungkinan yang pertama dan kedua sekaligus…
Namun rasa ingin melakukan perbuatan keji itu tentu sesuatu yang bathil ditinjau segala keadaannya. Olehkarenanya yang benar bahwa keinginan yang dimaksud adalah (keinginan) untuk memukul majikan perempuannya.Perbuatan keji itu adalah khianat kepada tuannya, ketika dia berkeinginan untuk memukul istri tuannya.
Sedangkan tanda dari Robbnya di sini adalah kenabian dan penjagaan Allah ‘azza wa jalla terhadapnya. Seandainya tidak ada tanda ini, niscaya dia akan berkeinginan melakukan perbuatan keji. Ini tidak diragukan lagi.
Barangkali orang yang menisbatkan hal ini kepada seorang Nabi yang disucikan, Yusuf, menyatakan kesucian dirinya yang buruk dari kondisi semacam ini, sehingga dia pun akan binasa. Padahal Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan kebinasaan akan menimpa orang yang menyangka demikian terhadap beliau. Yaitu ketika beliau berkata kepada dua orang Anshor tatkala berjumpa dengannya, “Ini adalah Shofiyah (istri beliau).” [Hadits shahih]
[PENTING]
Abu Muhammad berkata, “Termasuk kebatilan yang jelas tidak mungkin terjadi adalah seseorang menyangka bahwa Yusuf ‘alaihis salam memiliki keinginan berbuat zina, padahal dia mendengar firman Allah ta’ala,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء
“Demikianlah agar Kami palingkan darinya keburukan dan perbuatan keji.”
Maka kami tanyakan kepada orang yang menyelisihi kami, apakah keinginan berbuat zina termasuk keburukan atau bukan? Maka tentu itu adalah keburukan. Jika dia berkata bahwa itu bukan keburukan, berarti dia telah menentang ijma’. Jika jelas hal itu adalah keburukan, padahal keburukan telah dipalingkan darinya, berarti keinginan berbuat zina pun telah dipalingkan dari beliau, dengan yakin.
Disamping itu, wanita itu telah berkata,
قَالَتْ مَا جَزَاء مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوَءاً
“Wanita itu berkata, apa balasan bagi orang yang menghendaki keburukan bagi keluargamu.”
Beliau pun mengingkari hal itu, dan bersaksilah seorang yang jujur lagi dibenarkan.
وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِن الصَّادِقِينَ
“Dan jika pakaiannya terkoyak dari arah belakang, berarti wanita itu yang dusta sedangkan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang jujur.”
Maka jelaslah bahwa wanita itu telah berdusta, menurut nash al-Qur`an. Dan jika wanita itu berdusta berdasarkan nash al-Qur`an, berarti (Yusuf) tidak menginginkan keburukan terhadap wanita itu, dan tidak menginginkan perbuatan zina sama sekali. Jika dia (Yusuf) menghendaki perbuatan zina, berarti wanita itulah yang termasuk orang-orang yang jujur. Ini sangat jelas sekali.
Demikian pula firman Allah ta’ala tentang beliau, bahwa beliau berkata,
وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Dan seandainya Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, niscaya aku cenderung (memenuhi keinginan) mereka dan tentu aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33)
Maka menjadi benar bahwa beliau sama sekali tidak memiliki kecenderungan kepada wanita itu. Dan taufiq hanyalah dari Allah ta’ala.
Selesai perkataan Ibnu Hazm rohimahulloh.
Dalam perkataan beliau itu terdapat ketetapan yang tegas, tentang pensucian Nabi Allah,Yusuf ‘alaihis salam dari keinginan untuk melakukan perbuatan keji, berbeda dengan banyak ahli tafsir dan ulama selain mereka yang berbicara tentang ayat yang mulia ini…
Berdasarkan penerangan dari perkataan beliau – rohimahullah – akan kami jelaskan beberapa permasalahan…
Bahwa ayat tentang keinginan Nabi Yusuf ‘alaihis salam) ini harus dipahami dari rangkaian kisah dalam al-Qur`an…
Maka barangsiapa berpendapat bahwa beliau berkeinginan terhadap wanita itu, yaitu bermaksud kepada ajakan wanita itu, atau hal itu terbesit di hatinya sesuai dengan fitrah (manusia), dan bahwa keinginan ini tidak akan menjadi sebab beliau disiksa karena beliau tidak meneruskannya, bahkan beliau akan diberi pahala…
Maka ini adalah pendapat yang bagus. Akan tetapi, lebih bagus darinya kita menetapkan terjaganya beliau dari keinginan melakukan perbuatan keji karena agungnya kedudukan sebagai Nabi.
Jumhur salaf telah berpendapat, bahkan hampir-hampir mereka sepakat bahwa tidak ada seorang istri Nabi pun yang berbuat zina. Dan lebih pantas jika hal semacam ini tidak telintas di hati-hati mereka… Maka pendapat ini tentunya lebih tegas dan lebih utama bagi haknya para Nabi.
Dan termasuk perkara yang tidak diragukan, bahwa sikap Yusuf ‘alaihis salam terhadap wanita ini adalah kandungan kisah yang paling terkenal… sekaligus sebagai sumber perselisihan yang panjang dan tersebar di berbagai karya tulis…
Maka jika Allah berkehendak untuk menjadikannya sebagai permisalan yang senantiasa dihikayatkan, senantiasa bernilai ibadah ketika dibaca sepanjang masa, dan pelajarannya dijadikan sebagai panutan, maka tidak ada jalan lain kecuali memilih sesuatu yang paling tinggi kemuliaan, reputasi dan kesuciannya.
Ini bukanlah terkaan atau dugaan terhadap perkara yang ghaib… akan tetapi ini adalah penafsiran firman Allah dengan firman-Nya yang lain.
Jika kita sedikit mengalah dalam perdebatan ini, yaitu dengan meninggalkan semua penafsiran yang telah kita dengar sebelumnya tentang permasalahan ini… maka hendaknya sekarang kita memperhatikan secara inshaf (seimbang)…
Apakah keinginan itu terjadi sebelum perbuatan atau sesudahnya?
Jawaban yang disepakati oleh seluruh orang berakal adalah keinginan terjadi sebelum perbuatan…
Jika demikian, maka (ketahuilah) rangkaian kisah itu telah menyebutkan dengan jelas bahwa perbuatan itu adalah bujuk rayu, dan ini telah berakhir. Telah lengkap segala unsur perbuatan, yaitu adanya ajakan wanita itu kepada Yusuf secara terang-terangan, berupa perbuatan dan ucapan, untuk berbuat keji…
Allah ta’ala berfirman,
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya, menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.” (Yusuf: 23)
Yakni, wanita itu menggoda Yusuf tatkala Yusuf telah beranjak dewasa… Sedangkan godaan adalah kehendak dan ajakan dengan cara lembut dan halus. Wanita yang Yusuf tinggal dirumahnya, adalah istri al-Aziz. Dia menutup pintu dan mengatakan kemarilah ke sini…
Maka wanita itu menggoda… menutup pintu… dan berkata…
Lalu Allah menyebutkan sikap Yusuf yang menolak perbuatan keji itu seraya berargumen dengan dua perkara:
(Pertama) permohonan perlindungan kepada Allah dari perbuatan buruk terhadap hak tuannya yang telah membesarkan dan memuliakannya.
(Kedua) bahwa ini adalah perbuatan orang zhalim yang bodoh, bukan perbuatan orang yang berakal dan lurus.
Barangsiapa menyatakan makna kata ( رَبّي ) di sini (dalam ayat di atas) adalah tuannya, maka tidak terlarang. Begitu pula yang mengembalikan kata ganti dalam kata ( إِنَّهُ ) kepada lafzhul jalalah (Allah), dia pun tidak salah. Hanya saja kata ( مثوى ) telah diucapkan oleh tuannya sebelum itu, sedangkan lafzhul jalalah telah tegas disebutkan dalam ucapan Yusuf, “Aku berlindung kepada Allah.” Maka jika kata ( ربي ) yang dimaksud adalah tuannya, ini lebih sesuai dengan rangkaian kalimat.
Bagaimanapun juga, ini adalah sikap yang nyata dalam mengajak kepada perbuatan keji dan melaksanakannya serta terus terang dalam hal itu. Begitu pula penolakan Nabi Allah,Yusuf , terhadap wanita itu, nasihat dan peringatannya terhadap akibat perbuatan buruk nan munkar ini…
Tentang makna ‘murawadah’ (godaan atau rayuan), Rasyid Ridha dalam ‘al-Manar’ menyebutkan perkataan al-Ashfahani:
“Murawadah adalah penyelisihanmu terhadap orang lain dalam hal kehendak. Engkau menghendaki sesuatu yang tidak dia kehendaki. Atau menginginkan sesuatu yang tidak dia inginkan. Seakan-akan maknanya adalah, menipu daya terhadap dirinya (orang lain). Yaitu, melakukan sebagaimana yang dilakukan seorang penipu terhadap sesuatu yang tidak ingin dikeluarkan oleh orang lain dari tangannya, dia melakukan tipu daya agar bisa menguasai dan mengambil sesuatu itu darinya. Dan ini adalah ungkapan atas tipu daya yang dilakukan agar dia mau menggaulinya. Selesai perkataan beliau. Dan seandainya wanita itu melihat sedikit kecenderungan Nabi Yusuf kepadanya, sedangkan dia menyendiri bersamanya dalam satu kamar dalam rumahnya, tentunya dia tidak perlu untuk menipudayai Yusuf dengan bujuk rayu”. Selesai (nukilan dari ‘al-Manar’)
Maka siapa saja yang mengatakan setelah itu bahwa keinginan di sini adalah keinginan untuk melakukan perbuatan keji berarti dia telah menyelisihi ketegasan al-Qur`an yang secara tegas telah menyatakan berakhirnya sikap perbuatan tersebut…
Jika demikian, agar kita mengetahui makna keinginan ini, kita harus melihat dan memperhatikan lebih dalam lagi…
Kita lihat semuanya memiliki pikiran yang sama bahwa keinginan ini adalah perkataan jiwa dan apa yang terlintas dalam hati. Dan sepertinya tidak ada makna yang lain…
Ingatlah ayat yang disebutkan oleh Ibnu Hazm, yaitu firman Allah ta’ala,
وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ
“Dan tiap-tiap umat telah menginginkan(hamma) makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya.” (Ghafir: 5)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Juga firman Allah ta’ala,
أَلا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras keinginannya (hamma) untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?” (at-Taubah: 13)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Dan firman-Nya,
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا
“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan menginginkan(hamma) apa yang mereka tidak dapat mencapainya.” (at-Taubah: 74)
Apakah ini keinginan hati dan perkataan jiwa, ataukah keinginan perbuatan?
Keinginan, sebagaimana dalam bahasa, adalah perkataan jiwa dan hati. Dalam bahasa Arab dikatakan, ‘Hamamtu bi fulan,’ yakni aku bermaksud (menuju) kepadanya.
Sedangkan kebanyakan ahli tafsir, di antaranya Syaikhul Islam, beliau berkata dalam ‘al-Fatawa’ (10/296):
Al-Hamm (keinginan) adalah nama jenis yang mencakup dua macam, sebagaimana perkataan Imam Ahmad, keinginan itu ada dua; (1)keinginan yang terbetik dan (2)keinginan yang terus menerus… Sedangkan Yusuf shollallohu ‘alaihi wa sallam memiliki keinginan yang dia tinggalkan karena Allah. Oleh karenanya, Allah palingkan darinya keburukan dan perbuatan keji karena keikhlasannya. Dan hal itu terjadi ketika ada penyebab perbuatan dosa, yaitu keinginan, dan ditentang dengan keikhlasan yang akan menyebabkan berpalingnya hati dari dosa karena Allah. Maka yang muncul dari Yusuf ‘alaihis salam hanyalah kebaikan yang mendatangkan pahala. Selesai perkataan beliau.
Ini berdasarkan (pendapat) bahwa keinginan di sini adalah keinginan yang berupa lintasan hati… yakni, bahwa Yusuf – ‘alaihis salam – dalam hatinya terlintas untuk menyepakati wanita itu melakukan perbuatan keji.
Maka dikatakan, manakah yang lebih utama, kita menisbatkan kepada Nabi Allah pikiran untuk berbuat zina dan terlintasnya hal itu dalam hati meskipun hanya sebentar, ataukah kita mengambil pendapat Ibnu Hazm bahwa beliau tidak memiliki keinginan untuk berbuat kekejian sama sekali?
Apa yang mendorong kita mengatakan bahwa beliau berkeinginan melakukan perbuatan keji?Bukankah dalam nash yang tegas, Allah telah membersihkan beliau dari keburukan dan kekejian?Apakah di sana ada keburukan yang lebih besar dari keinginan berbuat keji, dan kekejian apakah itu?
Kita perhatikan bahwa dua kata keburukan ( السوء ) dan kekejian ( الفحشاء ) ada ‘alif-lam’ yang bermakna ‘istighraq tamm’ (yakni makna yang mencakup segala jenisnya). Sehingga yang ditiadakan (dari diri Nabi Yusuf – ‘alaihis salam) adalah segala keburukan dan kekejian, meskipun hanya berupa keinginan dalam hati dan jiwa yang tidak sampai pada perbuatan…
Dan ini lebih sempurna dalam permasalahan ‘ishmah’ (keterjagaan, kemakshuman seorang Nabi) sebagaimana hal itu nampak dengan jelas…
Lantas kenapa kita katakan bahwa keinginan dalam ayat ini – paling tidak pada diri Nabi Yusuf – bukan keinginan untuk berbuat kekejian padahal itu termasuk konsekuensi fitrah dan tabiat manusia?Jawabnya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hazm di atas bahwa al-Qur`an telah tegas menyatakan bahwa keinginan Nabiyullah Yusuf bukanlah keinginan untuk berbuat perkara keji… dan jalan untuk mengetahui hal itu adalah dengan pertanyaan sederhana:Apakah keinginan melakukan perbuatan keji adalah suatu keburukan ataukah tidak?
Syariat, akal dan fitrah telah menyatakan bahwa keinginan melakukan perbuatan keji adalah keburukan yang jelas, namun tidak ada hukuman atasnya selama tidak dilaksanakan.
Dan kami, ketika menetapkan hal itu, kami menempatkan firman Allah tabaroka wa ta’ala berada di hadapan kami, agar kami melihat kesucian Nabiyullah Yusuf dari keinginan melakukan perbuatan keji…
Allah ta’ala berfirman,
أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Dia melihat tanda (dari) Robbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Aku sampaikan ayat ini demikian, agar kita tidak bingung dengan pendapat orang yang mengatakan adanya taqdim dan ta`khir (pemajuan dan pengakhiran) kalimat yang menjadi jawab dari kata ‘law laa’(seandainya tidak)… dan untuk menyelesaikan masalah ini, cukup aku nukilkan perkataan berharga dari Ibnul Qayyim dalam ‘ash-Showa’iqul Mursalah’ (2/716):
“Adapun anggapan adanya taqdim dan ta`khir dalam firman Allah,
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ
“Sesungguhnya wanita itu telah berkeinginan terhadap Yusuf. Dan Yusuf pun berkeinginan terhadap wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Robbnya.” (Yusuf: 24)
bahwa pada perkataan ini, jawab dari kata ‘law laa’ telah mendahuluinya, maka (sebagai bantahan) yang pertama, para ahli nahwu tidaklah membolehkan hal tersebut. Dan tidak ada dalil atas anggapannya itu. Selain itu, perkataan ini tidaklah merusak pemahaman terhadap apa yang dimaksud”. Selesai perkataan Ibn Qoyyim.
Jika demikian, yang telah pasti secara yakin dengan nash al-Qur`an, bahwa Nabiyullah Yusuf melihat tanda dari Robbnya – apapun maksud dari tanda ini, agar kita keluar dari perselisihan – lalu Allah memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji, karena beliau termasuk hamba Allah yang ikhlas dan terpilih.
Kata ( المخلصين ) jika dibaca al-mukhlashin, maknanya adalah orang-orang terpilih, dan jika dibaca al-mukhlishin, maknanya adalah orang-orang yang ikhlas.
Al-Qurthubi berkata, “Ibnu Katsir, Abu ‘Amr dan Abu ‘Amir membacanya ‘al-mukhlishin’ dan maknanya adalah orang-orang yang mengikhlaskan ketaatan kepada Allah. Yang lain membacanya ‘al-mukhlashin’ dan maknanya adalah orang-orang yang Allah pilih untuk (mengemban) risalah-Nya. Dan Nabi Yusuf – shollallohu ‘alaihi wa sallam – memiliki dua sifat ini, karena beliau adalah orang yang ikhlas dalam menaati Allah ta’ala dan terpilih untuk (mengemban) risalah Allah ta’ala.” Selesai perkataan beliau.
Maka penyifatan beliau dengan ikhlas di sini adalah dalil (petunjuk atau bukti) terbesar yang menunjukkan bahwa beliau tidak berkeinginan melakukan perbuatan keji sama sekali.Ikhlas adalah amalan hati yang hanya diketahui oleh Allah. Sedangkan keinginan berbuat keji jelas bertentangan dengan ikhlas.
Sedangkan lintasan-lintasan hati dan keinginan hati (terhadap keburukan) tidak ragu lagi merupakan penyesatan syaithan, Allah ta’ala telah berfirman tentangnya yang telah bersumpah,
لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠)
“Pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (al-Hijr: 39-40)
Dan Allah telah menyifati Yusuf termasuk orang-orang yang mukhlis (ikhlas), maka dengan sedikit pembandingan, akan nampak jelas hasilnya.
Ini saja sudah cukup untuk menjawab dan membantah orang yang berpendapat bahwa beliau berkeinginan melakukan perbuatan keji karena (konsekuensi) tabiat dan fitrah manusia…
Apalagi jika kita tambahkan bahwa keinginan berbuat keji adalah suatu keburukan tersendiri. Padahal Allah telah membebaskan beliau dari keburukan, dengan nash yang tegas dan jelas yang tidak perlu kepada takwil atau takalluf (memberat-beratkan diri).
Tentang kedudukan sebagai nabi dan keagungannya, Imam Ibnul Arabi berkata dalam ‘Ahkamul Qur`an’ (5/39):
Bahwa faidah dari firman Allah,
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا
“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.” (Yusuf: 22)
Adalah Allah memberikan ilmu dan hikmah di hadapan kuatnya penguasaan syahwat, agar hal itu menjadi sebab penjagaan baginya. Selesai perkataan beliau.
Yakni, beliau diberi ilmu dan hikmah dari sisi Allah sebelum kejadian ini…
Dan kita tidak akan memperdalam pembicaraan tentang kemakshuman (terjaganya) para nabi…
Hanya saja kita mempertanyakan, apakah dibenarkan kita membolehkan bagi beliau untuk memiliki keinginan dalam hatinya untuk berbuat kekejian?
Jika kita katakan hal itu boleh bagi para nabi… maka apakah rangkaian kisah ini bisa membantu kita untuk memahaminya?
Syaikhul Islam berkata dalam ‘Majmu’ al-Fatawa’ (10/296):
“Adapun Yusuf ash-Shiddiq (yang memiliki sifat sangat jujur), Allah tidak menyebutkan satu dosa pun darinya. Oleh karena itulah Allah tidak menyebutkan darinya, sesuatu yang pantas dilakukan karena dosa, yaitu permohonan ampun… Lalu Allah memberitakan bahwa Dia telah memalingkan keburukan dan perbuatan keji darinya. Dan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu keburukan atau kekejian pun yang muncul dari beliau.”
Beliau juga berkata dalam ‘Qa’idah fil Mahabbah’ (1/77):
“Maka Allah – subhanah – memberitakan bahwa Dia telah memalingkan keburukan dan perbuatan keji dari beliau. Dan termasuk keburukan adalah kasmaran dan kecintaan terhadapnya, sedangkan termasuk perbuatan keji adalah zina. Terkadang yang berbuat zina dengan kemaluannya bukanlah orang yang kasmaran, dan terkadang ada orang yang kasmaran namun tidak berbuat zina dengan kemaluannya. Dan zina dengan kemaluan lebih berat dari pada mengerjakan dosa kecil seperti melihat atau mencium.” Selesai perkataan beliau.
Ini adalah perkataan yang benar. Akan tetapi seandainya kita ganti perkataan beliau di atas, “dan termasuk keburukan adalah kasmaran dan kecintaan terhadapnya,” dengan perkataan, “dan termasuk keburukan adalah keinginan untuk melakukan perbuatan keji.”
Apakah engkau melihat, apa yang dikatakan orang berakal tentang anggapan ini? Inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm di atas.
Perkara yang lain…
Sesungguhnya istri al-Aziz itu telah berkata di hadapan para wanita,
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
“Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Dan dia berkata di hadapan Raja,
أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
“Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)
Dan Yusuf berkata tentang dirinya, sedangkan beliau adalah orang yang sangat jujur,
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي
“Yusuf berkata: Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).” (Yusuf: 26)
Perhatikanlah bagaimana diri itu (diri Nabi Yusuf) disebutkan tiga kali sebagai pembersihan yang sangat tegas…
Seandainya keinginan itu bermakna perkataan jiwa, bagaimana kita mengarahkan tiga ayat ini dalam pembersihan diri beliau?
Ini juga sebagai bantahan bagi orang yang mengatakan bahwa jiwa beliau menginginkan berbuat kekejian.
Untuk mengetahui hakikat keinginan ini, kita tempatkan di hadapan kita bahwa godaan itu terjadi sebelum keinginan… sebagaimana hal itu nampak dari zhahir rangkaian kisah dalam al-Qur`an… sedangkan pada bujuk rayu itu terdapat penegasan adanya perbuatan, baik secara lisan maupun perbuatan anggota badan dari wanita itu, dan telah ada penolakan yang jelas dan tegas dari beliau (Nabi Yusuf) yang menunjukkan bahwa beliau tidak ikut serta bersama wanita itu dalam perkara yang akan dia lakukan…
Maka jika datang keinginan, kita tidak mengatakan, itu adalah keinginan untuk berbuat sebagaimana layaknya manusia, sedangkan keinginan semata bukanlah suatu dosa selama tidak terjadi!!!
Akan tetapi kita katakan, bahwa keinginan yang ada dari kedua belah pihak di sini jelas perkara lain, setelah terjadinya keterusterangan untuk melakukan perbuatan keji dari pihak wanita.
Maka keinginan yang ada pada tahapan akhir ini telah menjadi keinginan untuk saling melawan (dengan mendorong dan menarik) atau memukul. Wanita itu melakukan hal ini terhadap Yusuf karena beliau enggan dan menolak ajakannya untuk berbuat keji. Sedangkan beliau melakukan hal ini kepada wanita itu untuk berusaha lari dan menyelamatkan diri. Kemudian setelah itu keduanya berlomba-lomba menuju pintu.
Kemudian hendaknya kita perhatikan lebih teliti lagi kepada kata ‘al-murawadah’ (godaan, bujuk rayu) yang maknanya adalah keinginan dan permintaan dengan lembut dan halus…
Dan kita perhatikan situasi saling berkejaran menuju pintu itu. Ini adalah gerakan dari dua belah pihak yang menuju satu arah tapi dengan niat yang berbeda….
Menjadi jelaslah bagimu, bahwa keinginan dari keduanya adalah keinginan untuk saling melawan dengan mendorong dan menarik, atau memukul… sesuai dengan tujuan masing-masing.
Dan penafsiran ini dikuatkan oleh runtutan kisah. Karena keinginan jelas terjadi sebelum perbuatan, dan tidak mungkin dikatakan berbuat kemudian baru berkeinginan.
Dan yang paling indah dalam runtutan kisah ini, bahwa ia menetapkan terjaganya Nabi Yusuf, sampai pun pada keinginan untuk melakukan perbuatan keji.
Situasi lari saling mendahului
Berdasarkan keterangan yang telah lalu, maka kita perhatikan dengan seimbang tentang kondisi kejar-kejaran ini…
Allah ta’ala berfirman,
( وَاسُتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِن دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاء مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوَءاً إِلاَّ أَن يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ )
“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu. Dan wanita itu menarik baju Nabi Yusuf dari belakang hingga koyak. Dan keduanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjara atau dihukum dengan hukuman yang pedih?” (Yusuf: 25)
Shidiq Hasan Khan, Raja Bhopal, berkata dalam ‘Husnul Uswah bima Tsabata min Allah wa Rasulihi fin Niswah’ (1/113):
Firman Allah, “Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu,” maksudnya adalah keduanya berusaha saling mendahului… dan alasan keduanya saling berusaha mendahului adalah karena Yusuf ingin lari dan keluar melalui pintu, sedangkan istri al-Aziz itu ingin mendahuluinya menuju pintu untuk menghalanginya membuka dan keluar dari pintu. As-Suyuthi berkta, Yusuf bergegas menuju pintu untuk kabur, sedangkan wanita itu (bergegas) untuk menangkapnya lalu wanita itu memegangi baju Nabi Yusuf… dan wanita itu merobek bajunya, yakni menarik baju Nabi Yusuf dari belakangnya sehingga terbelahlah bajunya sampai ke bagian bawah. Dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan pintu, yakni mendapati al-Aziz di sana. Wanita itu berkata,” apa balasan bagi orang yang menginginkan keburukan untuk keluargamu, berupa zina dan semisalnya”. Wanita itu mengucapkan perkataan ini untuk menghindar dan menutupi diri, lalu menyandarkannya kepada Yusuf, apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya. Selain dipenjara atau hukuman yang pedih, yakni berupa sabetan cambuk. Dan yang nampak, beliau tidaklah mendapati hukuman pedih berupa cambukan atau yang semisalnya. Tidak disebutkannya hal ini bisa untuk menambah kengerian. Selesai perkataan beliau.
Situasi yang genting ini menggambarkan kepadamu suatu perkara yang sangat jelas…
Yaitu, bahwa Yusuf telah mengetahui dengan tanda yang Allah berikan kepadanya, bahwa tinggalnya beliau di tempat kemaksiatan adalah kehinaan yang terbesar bagi beliau.
Dan terjeratnya beliau bersama wanita itu dalam perlawanan berupa mendorong dan menarik atau memukul itu adalah bukti yang terbesar atas tinggalnya beliau…
Maka pemikiran yang selamat adalah usaha untuk kabur dari dua jenis tipu daya… maka keduanya saling berlomba-lomba menuju pintu…
Beliau berusaha kabur, sebagaimana telah kami jelaskan, sedangkan wanita itu berusaha untuk menahannya karena rasa jengkel akan keengganan Yusuf dan rusaknya kebanggaan dirinya.
Dan bisa dimungkinkan tanda yang dimaksud di sini sebagaimana riwayat yang datang dari perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Ishaq yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan selainnya. Bahwa tanda di sini adalah sesuatu yang memberitahu keduanya bahwa tuannya telah masuk ke dalam rumah, seperti suara yang mereka dengar atau bayangan yang mereka lihat.
Dan yang mendukung penafsiran ini, bahwa kata ‘Robbihi’ dalam surat ini bisa memiliki dua makna: Robbnya, yakni Penciptanya, atau Robbnya (tuannya) yang telah memuliakan tempat kedudukannya…
Sedangkan kalimat ‘burhan’ telah datang dalam Kitabullah dengan makna petunjuk yang menjadi hujah. Baik petunjuk yang didapat dengan akal atau petunjuk yang didapat dengan penelitian. Dan ini sesuai dengan kedua pendapat dalam penafsiran kata ‘burhan’ (tanda) sebagaimana telah lalu penjelasannya…
Adapun pendapat-pendapat lainnya, yang berpendapat bahwa Nabi Yusuf melihat gambaran bapaknya, atau melihat ayat al-Qur`an di dinding, dan penafsiran yang semacam itu, maka ini adalah penafsiran yang jauh (dari kebenaran). Karena kita tidak berpendapat bahwa seorang Nabi membutuhkan mukjizat hissiyah (yang bisa ditangkap oleh indera manusia) agar dia tidak melakukan keburukan dan perbuatan keji.
Maka pendapat yang menyatakan bahwa tanda itu adalah petunjuk munculnya tuannya, adalah pendapat yang tidak ditolak oleh kisah ini secara global, tidak pula ditolak oleh rangkaian kisah tersebut.
Dengan ini maka menjadi jelas – jika hal ini benar – bahwa alasan keduanya untuk saling berlomba menuju pintu adalah sangat logis.
Yaitu, untuk keluar dari tempat maksiat, dan agar tidak terjerat bersama wanita itu. Karena dalam dua perkara itu terdapat penghinaan yang nyata.
Sedangkan wanita itu berusaha untuk menahannya di dalam kamarnya, dia menariknya agar terjerat bersamanya. Makan nampaklah bahwa beliau adalah orang yang terzhalimi di dalam kamar wanita itu. Lalu wanita itu menampakkan bahwa dirinyalah yang terzhalimi.
Akan tetapi Allah memberikan ilham kepada beliau agar memalingkan punggungnya kepada wanita itu untuk menolak saling pukul dan saling tarik bersama wanita itu… maka jadilah baju yang terkoyak itu sebagai tanda yang Allah nampakkan untuk menunjukkan secara tegas akan kesucian Yusuf.
Dan dalam ‘Tafsir al-Lubab’ karya Ibnu Adil al-Hanbali (9/243):
Ibnul Khathib berkata:
Para ahli tahqiq dari kalangan ahli tafsir dan ahli kalam telah berkata, bahwa Yusuf – ‘alaihish sholatu was salam – berlepas diri dari perbuatan yang batil, dan keinginan yang haram. Inilah pendapat kami, dan inilah yang kami bela. Dan dalil-dalil yang menunjukkan wajib terjaganya para Nabi – ‘alaihimush sholatu was salam – telah disebutkan dan ditetapkan. Dan di sini kami tambah dengan beberapa sisi:
Pertama: Bahwa zina termasuk dosa besar yang mungkar. Dan khianat di hadapan amanah juga termasuk dosa yang mungkar.
Demikian juga: Jika seorang anak dibesarkan di pangkuan seseorang, lalu dia mendapatkan kecukupan, dan terjaga kehormatannya semenjak kecil hingga dia beranjak dewasa dan menjadi kuat, maka kelakuan anak ini untuk memberikan keburukan yang paling jelek kepada orang yang telah memberi kenikmatan dan keutamaan itu, adalah termasuk perbuatan yang mungkar.
Jika hal ini telah jelas, maka kita katakan, sesungguhnya kemaksiatan ini jika mereka sandarkan kepada Yusuf – ‘alaihish sholatu was salam – maka ini adalah kemaksiatan yang dipenuhi dengan kebodohan. Dan kemaksiatan semacam ini jika disandarkan kepada orang yang paling fasik, dan paling jauh dari segala kebaikan, niscaya dia akan menolak dan mengingkarinya. Lalu bagaimana mungkin dibolehkan hal itu disandarkan kepada seorang Rasul yang dikuatkan dengan mukjizat yang sangat nyata, padahal Allah telah berfirman,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian.” (Yusuf: 24)
Hal ini juga tidak sesuai dengan hikmah Allah. Dan itu menunjukkan bahwa materi keburukan dan kekejian telah dipalingkan dari beliau. Sedangkan maksiat yang mereka sandarkan kepada beliau adalah jenis keburukan dan kekejian yang paling besar.
Juga tidak sesuai dengan rahmat Allah apabila Dia mengisahkan tentang seseorang yang melakukan maksiat lalu Dia memujinya dengan pujian teragung setelah mengisahkan tentangnya dosa yang besar itu. Perumpamaannya, sebagaimana seorang raja yang menyebutkan dosa terburuk dan amalan terkeji dari sebagian budaknya, kemudian dia menyebutkannya dengan pujian yang agung dan berlebihan setelahnya. Maka semacam ini jelas diingkari, begitu pula di sini. Selesai perkataan beliau.
Adapun persangkaan sebagian orang terhadap perkataan Nabiyullah Yusuf,
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
“Yusuf berkata: Wahai Robbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33)
lalu dia menjadikan perkataan itu sebagai dalil bahwa tidak mengapa pikiran yang terlintas dalam hati untuk berbuat kekejian, karena ini merupakan tabiat manusia!!
Maka hendaknya dia menyempurnakan firman Allah ta’ala itu,
فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Robbnya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Yusuf: 34)
Pertama, hendaknya dia tahu bahwa ini berkaitan dengan peristiwa bersama para wanita (setelah kejadian kisah di atas), bukan berkenaan dengan kejadian bersama istri al-Aziz. Dan perbedaannya sangatlah jelas.
Yang kedua, Syaikhul Islam berkata dalam ‘Majmu’ al-Fatawa’ (15/130):
Dan dalam perkataan Yusuf, “Yusuf berkata: Wahai Robbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Ada dua pelajaran:
Pertama, lebih memilih penjara dan musibah dari pada dosa dan kemaksiatan.
Kedua, meminta dan berdoa kepada Allah agar Dia meneguhkan hati di atas agama-Nya dan memalingkan hati itu kepada ketaatan kepadanya, karena jika Dia tidak meneguhkan hati itu, niscaya hati itu akan condong kepada orang-orang yang memerintahkan perbuatan dosa, sehingga jadilah termasuk orang-orang yang bodoh.
Maka di sini ada tawakal (penyandaran hati) kepada Allah dan permintaan tolong kepadanya agar Dia meneguhkan hati di atas keimanan dan ketaatan. Dan di sini juga ada kesabaran terhadap ujian, musibah dan gangguan yang terjadi jika dia teguh di atas keimanan dan ketaatan. Selesai perkataan beliau.
Dan yang tidak diragukan lagi, bahwa tidak ada seorang makhluk pun baik dari golongan manusia maupun jin, jika dia tidak dijaga oleh Robbnya, niscaya dia akan menyimpang dan tersesat.
Lalu, bagaimanakah keadaan kita dibandingkan seorang Nabi yang sangat jujur, yang termasuk hamba Allah terpilih dan ikhlas, yang telah Allah nyatakan dengan tegas bahwa beliau,
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 22)
Wallahu A’la wa A’lam.
Akhirnya:
Inilah komentar singkat yang bisa aku berikan dalam menafsirkan ayat yang mulia ini, sesuai dengan keterangan yang telah ditetapkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya ‘al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal’…
Jika benar, maka hal itu dari Allah, dan jika tidak demikian, maka kami memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah, dan agar Dia mengajarkan dan mengilhamkan kepada kami dan kelurusan dan kebenaran.
Sumber : http://www.almenhaj.net/TextSubject.php?linkid=7735
http://www.direktori-islam.com/2009/07/pelurusan-kisah-nabi-yusuf/
Surah 12: Yusuf
Surah 12: Yusuf
KISAH NABI YUSUF A.S.
Nabi Yusuf A.S. Bermimpi
1. Alif, laam, raa741. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah).
الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku742, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
6. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu743 sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Nabi Yusuf A.S. Dengan Saudara-Saudaranya
7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ
8. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik744."
اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ
10. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat."
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
11. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.
قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ
12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya."
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
13. Berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya."
قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ
14. Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi745."
قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ
15. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi."
فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
16. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ
17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."
قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ
18. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku746). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Nabi Yusuf A.S.
Mendapat Godaan
20. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf747.
وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ
21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya748 : "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.
وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
22. Dan tatkala dia cukup dewasa749 Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
23. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya750. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
25. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?"
وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
26. Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
27. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar."
وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ
28. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu
فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
29. (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini751, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah."
يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ
Nabi Yusuf A.S. Dipenjara
30. Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz752 menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ
32. Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."
قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ
33. Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
34. Maka Tuhannya memperkenankan do'a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
35. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu753.
ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ
Dakwah Nabi Yusuf A.S.
Di Dalam Penjara
36. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda754. Berkatalah salah seorang diantara keduanya : "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi).
وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
37. Yusuf berkata: "Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.
قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ
38. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
39. Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
41. Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ
42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.
وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ
Takwil Nabi Yusuf A.S.
Tentang Mimpi Raja
43. Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya) : "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka : "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi."
وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
44. Mereka menjawab : "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu."
قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ
45. Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)."
وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ
46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru) : "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."
يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ
47. Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ
48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ
49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur."
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
Nabi Yusup A.S.
di Bebaskan dari Penjara
50. Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka."
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ
51. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar".
قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
52. (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
54. Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
55. Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
56. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Pertemuan Nabi Yusuf A.S. Dengan Saudara-Saudaranya
58. Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya756.
وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
59. Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?
وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
60. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku".
فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ
61. Mereka berkata: "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya".
قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ
62. Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: "Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka)757 ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi758".
وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
63. Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya'qub) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".
فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
64. Berkata Ya'qub: "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu759?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.
قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
65. Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: "Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)".
وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ
66. Ya'qub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya'qub berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)".
قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
67. Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".
وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
68. Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya'qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
69. Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata : "Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
70. Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri".
فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ
71. Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: "Barang apakah yang hilang dari pada kamu ?"
قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ
72. Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya".
قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ
73. Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri ".
قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ
74. Mereka berkata: "Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta? "
قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ
75. Mereka menjawab: "Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)760". Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.
قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
76. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
77. Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu".
قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ
78. Mereka berkata: "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik".
قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
79. Berkata Yusuf: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim".
قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ
80. Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf761 mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya".
فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
81. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.
ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ
82. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar".
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
83. Ya'qub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
84. Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
85. Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".
قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ
86. Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
88. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah".
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
89. Yusuf berkata: "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?".
قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ
90. Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik"
قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
91. Mereka berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ
92. Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
93. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku".
اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ
Pertemuan Nabi Yusuf A.S. Dengan Kedua Orang Tuanya
94. Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)".
وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ
95. Keluarganya berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu ".
قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ
96. Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya".
فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
98. Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
99. Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya762 dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman".
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
100. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud763 kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Doa Nabi Yusuf A.S.
101. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisah Nabi Yusuf A.S.
102. Demikian itu (adalah) diantara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya.
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ
103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya.
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
104. Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.
وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
105. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
107. Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?
أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
108. Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
109. Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
110. Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.
حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
http://syafii.staff.ugm.ac.id/quran/index1.php
Al-Jumanatul'Ali Al-Qur'an dan Terjemahannya
KISAH NABI YUSUF A.S.
Nabi Yusuf A.S. Bermimpi
1. Alif, laam, raa741. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah).
الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku742, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
6. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu743 sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Nabi Yusuf A.S. Dengan Saudara-Saudaranya
7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ
8. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik744."
اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ
10. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat."
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
11. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.
قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ
12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya."
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
13. Berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya."
قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ
14. Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi745."
قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ
15. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi."
فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
16. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ
17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."
قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ
18. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku746). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Nabi Yusuf A.S.
Mendapat Godaan
20. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf747.
وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ
21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya748 : "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.
وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
22. Dan tatkala dia cukup dewasa749 Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
23. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya750. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
25. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?"
وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
26. Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
27. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar."
وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ
28. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu
فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
29. (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini751, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah."
يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ
Nabi Yusuf A.S. Dipenjara
30. Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz752 menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ
32. Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."
قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ
33. Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
34. Maka Tuhannya memperkenankan do'a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
35. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu753.
ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ
Dakwah Nabi Yusuf A.S.
Di Dalam Penjara
36. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda754. Berkatalah salah seorang diantara keduanya : "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi).
وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
37. Yusuf berkata: "Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.
قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ
38. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
39. Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
41. Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ
42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.
وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ
Takwil Nabi Yusuf A.S.
Tentang Mimpi Raja
43. Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya) : "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka : "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi."
وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
44. Mereka menjawab : "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu."
قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ
45. Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)."
وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ
46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru) : "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."
يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ
47. Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ
48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ
49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur."
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
Nabi Yusup A.S.
di Bebaskan dari Penjara
50. Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka."
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ
51. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar".
قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
52. (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
54. Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
55. Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
56. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Pertemuan Nabi Yusuf A.S. Dengan Saudara-Saudaranya
58. Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya756.
وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
59. Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?
وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
60. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku".
فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ
61. Mereka berkata: "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya".
قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ
62. Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: "Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka)757 ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi758".
وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
63. Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya'qub) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".
فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
64. Berkata Ya'qub: "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu759?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.
قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
65. Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: "Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)".
وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ
66. Ya'qub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya'qub berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)".
قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
67. Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".
وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
68. Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya'qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
69. Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata : "Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
70. Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri".
فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ
71. Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: "Barang apakah yang hilang dari pada kamu ?"
قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ
72. Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya".
قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ
73. Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri ".
قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ
74. Mereka berkata: "Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta? "
قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ
75. Mereka menjawab: "Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)760". Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.
قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
76. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
77. Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu".
قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ
78. Mereka berkata: "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik".
قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
79. Berkata Yusuf: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim".
قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ
80. Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf761 mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya".
فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
81. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.
ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ
82. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar".
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
83. Ya'qub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
84. Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
85. Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".
قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ
86. Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
88. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah".
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
89. Yusuf berkata: "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?".
قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ
90. Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik"
قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
91. Mereka berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ
92. Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
93. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku".
اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ
Pertemuan Nabi Yusuf A.S. Dengan Kedua Orang Tuanya
94. Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)".
وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ
95. Keluarganya berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu ".
قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ
96. Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya".
فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
98. Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
99. Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya762 dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman".
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
100. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud763 kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Doa Nabi Yusuf A.S.
101. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kisah Nabi Yusuf A.S.
102. Demikian itu (adalah) diantara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya.
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ
103. Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya.
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
104. Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.
وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
105. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
107. Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?
أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
108. Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
109. Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
110. Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.
حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
http://syafii.staff.ugm.ac.id/quran/index1.php
Al-Jumanatul'Ali Al-Qur'an dan Terjemahannya
Kisah-kisah para Nabi
Dan pastinya para nabi akan mendapat pengabulan doa, dan ada tiga keadaan terbesar manusia yang membutuhkan keselamatan, yaitu : hari kelahiran, hari kematian dan hari kebangkitan. Ketiga keadaan tersebut membutuhkan keselamatan dan terkumpulnya kebahagiaan dari Allah swt agar terlindungi dari berbagai rasa sakit dan hal-hal yang mengerikan dalam setiap keadaan itu. (Tafsir ar Rozi juz III hal 303)
Dengan begitu, mereka berpendapat bahwa pembunuhan yang dialami Nabi Yahya adalah sesuatu yang mustahil, karena Yahya adalah seorang Nabi yang dijaga dan dilindungi Allah swt dan berita tersebut adalah berasal dari israiliyat dan sebagaimana kebiasaan orang-orang israil adalah ingin merendahkan dan mengecilkan para nabi Allah swt.
Namun demikian yang pasti bahwa didalam kisah-kisah para Nabi dengan segala keunikan dan kesabaran mereka semua—termasuk kisah Nabi Zakaria dan Yahya—didalam memikul beban kenabian sebagai pelita umat-umatnya ada banyak pelajaran yang bisa diambil oleh manusia, sebagaimana firman Allah swt :
Atinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111)
Diantara hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari mereka adalah kesabaran mereka dalam mengemban amanah risalah dan da’wah, kesabaran terhadap perlakuan buruk kaumnya ketika mendengar da’wah mereka, kesabaran untuk tidak tergoda oleh berbagai tarikan-tarikan dunia yang dapat menyimpangkan mereka dari jalan risalah dan da’wah serta sifat-sifat mulia lainnya yang ada didalam diri orang-orang mulia itu.
Ustadz Sigit Pranowo, Lc.
www.eramuslim.com
Dengan begitu, mereka berpendapat bahwa pembunuhan yang dialami Nabi Yahya adalah sesuatu yang mustahil, karena Yahya adalah seorang Nabi yang dijaga dan dilindungi Allah swt dan berita tersebut adalah berasal dari israiliyat dan sebagaimana kebiasaan orang-orang israil adalah ingin merendahkan dan mengecilkan para nabi Allah swt.
Namun demikian yang pasti bahwa didalam kisah-kisah para Nabi dengan segala keunikan dan kesabaran mereka semua—termasuk kisah Nabi Zakaria dan Yahya—didalam memikul beban kenabian sebagai pelita umat-umatnya ada banyak pelajaran yang bisa diambil oleh manusia, sebagaimana firman Allah swt :
Atinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111)
Diantara hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari mereka adalah kesabaran mereka dalam mengemban amanah risalah dan da’wah, kesabaran terhadap perlakuan buruk kaumnya ketika mendengar da’wah mereka, kesabaran untuk tidak tergoda oleh berbagai tarikan-tarikan dunia yang dapat menyimpangkan mereka dari jalan risalah dan da’wah serta sifat-sifat mulia lainnya yang ada didalam diri orang-orang mulia itu.
Ustadz Sigit Pranowo, Lc.
www.eramuslim.com
Self Promotion
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (54) قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (55) وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (56) وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (57)
“Dan raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah berkata kepadanya, dia (Raja) berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (berkuasa penuh) lagi dipercaya pada sisi kami (54) Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku memegang kunci bumi negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan (55) Dan demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang- orang yang berbuat baik (56) Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (57). (Yusuf / 12 : 54 – 57) (54-57)
Kebersihan Yusuf telah terbukti di hadapan raja, dan telah terbukti pula ilmunya tentang tafsir mimpi dan kearifannya saat meminta penyelidikan terhadap kasus sekumpulan wanita tersebut. Begitu juga, telah terbukti baginya kemuliaan dan integritas moral Yusuf, saat ia tidak menjatuhkan harga diri untuk bisa keluar dari penjara, dan tidak pula menjatuhkan harga diri untuk bisa bertemu raja. Raja Mesir!
Sebaliknya, ia menunjukkan sikap seorang mulia yang dicemarkan nama baiknya, dan dipenjara secara zhalim. Ia meminta nama baiknya dibersihkan sebelum ia meminta tubuhnya dibebaskan dari penjara. Ia menuntut kehormatan diri dan agama yang diperjuangkannya sebelum ia menuntut melangkah di samping raja.
Semua itu menggugah rasa hormat dan cinta di hati raja kepadanya, sehingga raja berkata,
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.”
Jadi, raja tidak menghadirkannya dari penjara untuk dibebaskan, bukan untuk melihat langsung orang yang pandai menafsirkan mimpi, dan bukan untuk menyampaikan “tanda jasa kerajaan” sehingga Yusuf melambung karena senang. Tidak! Raja menghadirkannya untuk memilihnya sebagai orang dekatnya, menempatkannya pada posisi penasihat dan teman.
Betapa banyak orang yang menjatuhkan kehormatan mereka di kaki para penguasa—padahal mereka adalah orang-orang yang bebas, tidak dipenjara. Mereka dengan suka rela mengikat leher dengan tangan mereka sendiri, dan menjatuhkan martabat sendiri untuk memperoleh simpati dan kalimat pujian, serta untuk mendapatkan dukungan dari para pengikut, bukan kedudukan orang-orang yang bersih. Andai saja orang-orang seperti itu membaca al-Qur’an dan mengkaji kisah Yusuf agar mereka tahu bahwa kehormatan, integritas moral, dan martabat itu memberikan keuntungan—bahkan yang sifatnya materi—berlipat ganda, melebihi apa yang diberikan sikap menjilat dan menunduk!
“Raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku..’”
Rangkaian ayat selanjutnya menghilangkan bagian dari pelaksanaan perintah, agar kita langsung mendapati Yusuf bersama raja.
“Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’” (54)
Ketika raja telah berbicara kepada Yusuf, maka firasatnya terbukti benar. Dan raja memberi ucapan selamat kepada Yusuf karena Yusuf memiliki kedudukan dan amanah di depan raja. Jadi, dia bukan pemuda Ibrani dengan ciri kehidupan asketik, melainkan seorang yang berkedudukan tinggi. Dia bukan tersangka yang diancam penjara, melainkan orang yang dipercaya. Itulah kedudukan dan amanah di depan raja dan di bawah atapnya. Lalu, apa yang dikatakan Yusuf?
Ia tidak bersujud syukur sebagaimana para kroni yang selalu menguntit itu sujud kepada para thaghut. Yusuf tidak berkata: Jayalah engkau, tuan! Aku adalah hambamu yang patuh atau pelayanmu yang terpercaya. Seperti yang dikatakan oleh para penjilat kepada para diktator! Tidak, ia hanya meminta sesuai keyakinannya bahwa ia mampu memikul tugas dalam menyelesaikan krisis mendatang yang ditakwilinya dari mimpi raja, secara lebih baik daripada kinerja siapapun di negeri ini. Ia menuntut sesuai keyakinannya bahwa ia akan menjaga nyawa dari kematian, memelihara negara dari kehancuran, dan melindungi masyarakat dari bencana kelaparan. Jadi, ia adalah yang memiliki pemahaman yang kuat dimana situasi membutuhkan pengalaman, kecakapan, dan amanahnya, seperti kuatnya ia dalam menjaga kehormatan dan integritas moralnya.
“Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’” (55)
Krisis datang dengan didahului masa-masa kemakmuran. Hasil bumi yang berlimpah itu perlu dijaga dan disimpan. Ia membutuhkan kepiawaian manajemen untuk mengatur logistik secara cermat, mengontrol pertanian dan hasil panennya, serta menjaganya.
Ia membutuhkan pengalaman, kebijakan yang tepat, dan pengetahuan semua cabang yang diperlukan untuk tugas tersebut, baik di masa panen raya atau di masa paceklik. Dari sini, Yusuf menyebutkan sebagian sifat dalam dirinya yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas tersebut, yang menurutnya ia lebih mampu memikulnya, dan bahwa sifat ini akan menghasilkan kebaikan besar bagi bangsa Mesir dan bangsa-bangsa tetangga.
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”
http://eramuslim.com/syariah/tafsir-zhilal/self-promotion-1.htm
“Dan raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah berkata kepadanya, dia (Raja) berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (berkuasa penuh) lagi dipercaya pada sisi kami (54) Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku memegang kunci bumi negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan (55) Dan demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang- orang yang berbuat baik (56) Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (57). (Yusuf / 12 : 54 – 57) (54-57)
Kebersihan Yusuf telah terbukti di hadapan raja, dan telah terbukti pula ilmunya tentang tafsir mimpi dan kearifannya saat meminta penyelidikan terhadap kasus sekumpulan wanita tersebut. Begitu juga, telah terbukti baginya kemuliaan dan integritas moral Yusuf, saat ia tidak menjatuhkan harga diri untuk bisa keluar dari penjara, dan tidak pula menjatuhkan harga diri untuk bisa bertemu raja. Raja Mesir!
Sebaliknya, ia menunjukkan sikap seorang mulia yang dicemarkan nama baiknya, dan dipenjara secara zhalim. Ia meminta nama baiknya dibersihkan sebelum ia meminta tubuhnya dibebaskan dari penjara. Ia menuntut kehormatan diri dan agama yang diperjuangkannya sebelum ia menuntut melangkah di samping raja.
Semua itu menggugah rasa hormat dan cinta di hati raja kepadanya, sehingga raja berkata,
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.”
Jadi, raja tidak menghadirkannya dari penjara untuk dibebaskan, bukan untuk melihat langsung orang yang pandai menafsirkan mimpi, dan bukan untuk menyampaikan “tanda jasa kerajaan” sehingga Yusuf melambung karena senang. Tidak! Raja menghadirkannya untuk memilihnya sebagai orang dekatnya, menempatkannya pada posisi penasihat dan teman.
Betapa banyak orang yang menjatuhkan kehormatan mereka di kaki para penguasa—padahal mereka adalah orang-orang yang bebas, tidak dipenjara. Mereka dengan suka rela mengikat leher dengan tangan mereka sendiri, dan menjatuhkan martabat sendiri untuk memperoleh simpati dan kalimat pujian, serta untuk mendapatkan dukungan dari para pengikut, bukan kedudukan orang-orang yang bersih. Andai saja orang-orang seperti itu membaca al-Qur’an dan mengkaji kisah Yusuf agar mereka tahu bahwa kehormatan, integritas moral, dan martabat itu memberikan keuntungan—bahkan yang sifatnya materi—berlipat ganda, melebihi apa yang diberikan sikap menjilat dan menunduk!
“Raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku..’”
Rangkaian ayat selanjutnya menghilangkan bagian dari pelaksanaan perintah, agar kita langsung mendapati Yusuf bersama raja.
“Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’” (54)
Ketika raja telah berbicara kepada Yusuf, maka firasatnya terbukti benar. Dan raja memberi ucapan selamat kepada Yusuf karena Yusuf memiliki kedudukan dan amanah di depan raja. Jadi, dia bukan pemuda Ibrani dengan ciri kehidupan asketik, melainkan seorang yang berkedudukan tinggi. Dia bukan tersangka yang diancam penjara, melainkan orang yang dipercaya. Itulah kedudukan dan amanah di depan raja dan di bawah atapnya. Lalu, apa yang dikatakan Yusuf?
Ia tidak bersujud syukur sebagaimana para kroni yang selalu menguntit itu sujud kepada para thaghut. Yusuf tidak berkata: Jayalah engkau, tuan! Aku adalah hambamu yang patuh atau pelayanmu yang terpercaya. Seperti yang dikatakan oleh para penjilat kepada para diktator! Tidak, ia hanya meminta sesuai keyakinannya bahwa ia mampu memikul tugas dalam menyelesaikan krisis mendatang yang ditakwilinya dari mimpi raja, secara lebih baik daripada kinerja siapapun di negeri ini. Ia menuntut sesuai keyakinannya bahwa ia akan menjaga nyawa dari kematian, memelihara negara dari kehancuran, dan melindungi masyarakat dari bencana kelaparan. Jadi, ia adalah yang memiliki pemahaman yang kuat dimana situasi membutuhkan pengalaman, kecakapan, dan amanahnya, seperti kuatnya ia dalam menjaga kehormatan dan integritas moralnya.
“Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’” (55)
Krisis datang dengan didahului masa-masa kemakmuran. Hasil bumi yang berlimpah itu perlu dijaga dan disimpan. Ia membutuhkan kepiawaian manajemen untuk mengatur logistik secara cermat, mengontrol pertanian dan hasil panennya, serta menjaganya.
Ia membutuhkan pengalaman, kebijakan yang tepat, dan pengetahuan semua cabang yang diperlukan untuk tugas tersebut, baik di masa panen raya atau di masa paceklik. Dari sini, Yusuf menyebutkan sebagian sifat dalam dirinya yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas tersebut, yang menurutnya ia lebih mampu memikulnya, dan bahwa sifat ini akan menghasilkan kebaikan besar bagi bangsa Mesir dan bangsa-bangsa tetangga.
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”
http://eramuslim.com/syariah/tafsir-zhilal/self-promotion-1.htm
Pengajaran berharga
Petunjuk Al Qur-an
Bahwa perjalanan sejarah dari para Rasul dan orang-orang telah menentang Kebenaran Rasul, serta ummat terdahulu, adalah merupakan I’tibar(gambaran).Sebagaimana diterangkan dalam surah Yusuf 111 sebagai berikut:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Niscaya sungguh yang terjadi dalam kisah-kisah mereka itu sebagai pengajaran bagi yang mempunyai lubb, tiadalah ia(al Qur-an)itu perkataan yang diada-adakan, akan tetapi (al Qur-an)itu membenarkan(kisah-kisah dalam Kitab-Kitab) terdahulu, dan menjelaskan segala sesuatu,dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang mau beriman”.
Pembahasan
Sebagaimana telah dipahami bahwa seluruh isi al Qur-an itu adalah Kebenaran yang pasti, yang dikirim Allah kepada RasulNya(Muhammad), sebagai penyempurna dari Kitab-Kitab terdahulu [qa 106s2=al baqarah], sebagai sumber[qa138s3=ali imron] dan jalan muthlaq[qa153s6=al an’am]. Maka segala perumpamaan yang terkandung didalamnya bertujuan untuk memudahkan dalam pemahaman bagi orang yang beriman. Dalam mengambilnya sebagai pengajaran dan pedoman hidup, antara lain adalah:
1. Kisah perjalanan Bani Yaqub, yang diperkenalkan dengan istilah Bani Israil, tentang pesan Yaqub kepada anak-anaknya[qa132-133s2=al baqarah].
2. Kisah mimpi Yusuf sebagai awal perjalanan hidupnya[qa4s12=yusuf].
3. Tindakan tragis dari sikap angkara murka Fir’aun terhadap Bani Israil dan janji Allah terhadap penderitaan sejarah Bani Israil[qa4-5s28=al qoshosh].
4. Tuntunan terhadap Bani Israil tentang “Falsafah Moral Tauhid”sebagai awal perjalanan menyatukan ummat Bani Israil yang terdiri dari 12 kepala suku(:rumpun)[qa11-12s5=al maidah], yang merupakan awal sejarah kebangkitan 12 bangsa yang berdaulat dibawah ketetapan Kitabullah Taurat[qa160s7=ala’rof].
5. Penurunan Isa atas ketetapan Allah adalah sebagai isyarat berakhirnya perjalanan Bani Yaqub[qa61s43=az zukhruf].Kemudian akan digantikan oleh keturunan Ismail, yaitu Muhammad beserta orang-orang yang beriman dan menjadi muttabi’nya[qa68s3=ali imron].
Dan masih banyak lagi berbagai kenyataan sejarah ummat terdahulu, yang kesemuanya itu menuntut kesadaran untuk dijadikan sebagai dasar pembelajaran yang sangat penting.
Dengan mengambil beberapa petunjuk sebagaimana tersebut, maka Allah telah memberikan janji Nya tentang akan ditegakkanNya Daulah Islam dibawah ketetapan Hukum Al Qur-an atas ummat manusia diseluruh dunia sampai akhir zaman[qa33s9=at taubah;H.Sh.Muslim].
Maka inilah yang menjadi pantauan utama ummat Islam yang mendambakan kesaksian dari Allah disisiNya[qa53s3=ali imron].Karena proses menuju kesana melalui beberapa isyarat yang menjadi petunjuk bagi hamba-hambaNya yang beriman [qa52s25=al furqon].
Dengan demikian maka petunjuk Al Qur-an dan panduan Rasulullah dalam cara berhukum, adalah merupakan sesuatu yang bersifat muthlaq yang tidak boleh diabaikan[qa64-65s4=an nisa].
Written by mubarki
www.al-ulama.net
Bahwa perjalanan sejarah dari para Rasul dan orang-orang telah menentang Kebenaran Rasul, serta ummat terdahulu, adalah merupakan I’tibar(gambaran).Sebagaimana diterangkan dalam surah Yusuf 111 sebagai berikut:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Niscaya sungguh yang terjadi dalam kisah-kisah mereka itu sebagai pengajaran bagi yang mempunyai lubb, tiadalah ia(al Qur-an)itu perkataan yang diada-adakan, akan tetapi (al Qur-an)itu membenarkan(kisah-kisah dalam Kitab-Kitab) terdahulu, dan menjelaskan segala sesuatu,dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang mau beriman”.
Pembahasan
Sebagaimana telah dipahami bahwa seluruh isi al Qur-an itu adalah Kebenaran yang pasti, yang dikirim Allah kepada RasulNya(Muhammad), sebagai penyempurna dari Kitab-Kitab terdahulu [qa 106s2=al baqarah], sebagai sumber[qa138s3=ali imron] dan jalan muthlaq[qa153s6=al an’am]. Maka segala perumpamaan yang terkandung didalamnya bertujuan untuk memudahkan dalam pemahaman bagi orang yang beriman. Dalam mengambilnya sebagai pengajaran dan pedoman hidup, antara lain adalah:
1. Kisah perjalanan Bani Yaqub, yang diperkenalkan dengan istilah Bani Israil, tentang pesan Yaqub kepada anak-anaknya[qa132-133s2=al baqarah].
2. Kisah mimpi Yusuf sebagai awal perjalanan hidupnya[qa4s12=yusuf].
3. Tindakan tragis dari sikap angkara murka Fir’aun terhadap Bani Israil dan janji Allah terhadap penderitaan sejarah Bani Israil[qa4-5s28=al qoshosh].
4. Tuntunan terhadap Bani Israil tentang “Falsafah Moral Tauhid”sebagai awal perjalanan menyatukan ummat Bani Israil yang terdiri dari 12 kepala suku(:rumpun)[qa11-12s5=al maidah], yang merupakan awal sejarah kebangkitan 12 bangsa yang berdaulat dibawah ketetapan Kitabullah Taurat[qa160s7=ala’rof].
5. Penurunan Isa atas ketetapan Allah adalah sebagai isyarat berakhirnya perjalanan Bani Yaqub[qa61s43=az zukhruf].Kemudian akan digantikan oleh keturunan Ismail, yaitu Muhammad beserta orang-orang yang beriman dan menjadi muttabi’nya[qa68s3=ali imron].
Dan masih banyak lagi berbagai kenyataan sejarah ummat terdahulu, yang kesemuanya itu menuntut kesadaran untuk dijadikan sebagai dasar pembelajaran yang sangat penting.
Dengan mengambil beberapa petunjuk sebagaimana tersebut, maka Allah telah memberikan janji Nya tentang akan ditegakkanNya Daulah Islam dibawah ketetapan Hukum Al Qur-an atas ummat manusia diseluruh dunia sampai akhir zaman[qa33s9=at taubah;H.Sh.Muslim].
Maka inilah yang menjadi pantauan utama ummat Islam yang mendambakan kesaksian dari Allah disisiNya[qa53s3=ali imron].Karena proses menuju kesana melalui beberapa isyarat yang menjadi petunjuk bagi hamba-hambaNya yang beriman [qa52s25=al furqon].
Dengan demikian maka petunjuk Al Qur-an dan panduan Rasulullah dalam cara berhukum, adalah merupakan sesuatu yang bersifat muthlaq yang tidak boleh diabaikan[qa64-65s4=an nisa].
Written by mubarki
www.al-ulama.net
Subscribe to:
Posts (Atom)
