MENGHAFAL NAMA SURAT DALAM AL QUR’AN
Cobalah baca Cerita-cerita di bawah ini, dan perhatikan kata-kata yang berhuruf besar dan cetak tebal. Kata-kata tersebut adalah nama-nama surat dalam Al Qur’an. Hafalkan ceritanya, dan kemudian tuliskan kata-kata tersebut secara berurut. Maka akan kita dapatkan nama surat dan nomor urutnya. Silahkan mencoba.
Cerita I; (Surah 1 – 10)
Paman membaca AL FATIHAH sebelum memasak SAPI BETINA milik KELUARGA IMRAN yang punya anak wanita bernama AN NISA. Sebagian HIDANGAN itu diberikan untuk BINATANG TERNAK. Kemudian paman menuju TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, untuk mencuri HARTA RAMPASAN PERANG. Namun akhirnya paman ber-TAUBAT seperti taubatnya nabi YUNUS
NO KRONOLOGI CERITA
1 AL-FATIHAH
2 SAPI BETINA - AL-BAQOROH
3 KELUARGA IMRAN - ALI IMRON
4 AN NISA
5 HIDANGAN - AL MAIDAH
6 BINATANG TERNAK - AL AN ‘AM
7 TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI - AL A’ ROF
8 HARTA RAMPASAN PERANG - AL ANFAL
9 TAUBAT - AT TAUBAH
10 YUNUS
Cerita II; (Surah 11 – 20)
HUD dan YUSUF melihat PETIR. Sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR. Ia mencari LEBAH, untuk kemudian memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA untuk menemui MARYAM dan TOHA.
NO KRONOLOGI CERITA
11 HUD
12 YUSUF
13 PETIR - AR RA’D
14 IBRAHIM
15 PEGUNUNGAN HIJR - AL HIJR
16 LEBAH - AN NAHL
17 PERJALANAN MALAM - AL ISRO
18 GUA - AL KAHFI
19 MARYAM
20 TOHA
Cerita III; (Surah 21 – 30)
PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN. Mereka seperti CAHAYA. Inilah yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL. Sementara itu, PARA PENYAIR bercerita tentang SEMUT. Cerita itu terangkum dalam buku KISAH –KISAH. Dalam buku itu juga diceritakan tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.
NO KRONOLOGI CERITA
21 PARA NABI - AL ANBIYA
22 HAJI - AL HAJJ
23 ORANG - ORANG BERIMAN-AL MU’MINUN
24 CAHAYA - AN NUR
25 PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL - AL FURQON
26 PARA PENYAIR - ASY SYU ‘ARO
27 SEMUT-AN NAML
28 KISAH-KISAH - AL QOSHOSH
29 LABA-LABA - AL ‘ANKABUT
30 BANGSA ROMAWI - AR RUM
Cerita IV; (Surah 31 – 40)
LUKMAN tidak berSUJUD di kaum yang terkena AHZAB dan tidak juga kepada kaum SABA’. Sementara itu FATIR dan YASIN berdiri bersama orang YANG BERSHAF-SHAF dan membentuk huruf SHOD. Mereka teramasuk ROMBONGAN - ROMBONGAN yang memohon ampunan kepada YANG MAHA PENGAMPUN.
NO KRONOLOGI CERITA
31 LUKMAN - LUQMAN
32 SUJUD - AS SAJDAH
33 AL AHZAB
34 SABA’
35 FATHIR
36 YASIN
37 YANG BERSHAF-SHAF - ASH SHOOFFAT
38 SHOD
39 ROMBONGAN-ROMBONGAN - AZ ZUMAR
40 YANG MAHA PENGAMPUN - GHOFIR
Cerita V; (Surah 41 - 50)
YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah tentang PERHIASAN. Bukan tentang KABUT. Sementara itu banyak orang YANG BERLUTUT di BUKIT-BUKIT PASIR. Saat itulah MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN. Hal ini ditandai dengan KAMAR-KAMAR bertuliskan huruf QOF.
NO KRONOLOGI CERITA
41 YANG DIJELASKAN - FUSHSHILAT
42 MUSYAWARAH - ASY SYURA
43 PERHIASAN - AZ ZUKHRUF
44 KABUT - AD DUKHAN
45 YANG BERLUTUT - AL JATSIYAH
46 BUKIT-BUKIT PASIR - AL AHQOF
47 MUHAMMAD - MUHAMMAD
48 KEMENANGAN - AL FATH
49 KAMAR-KAMAR - AL HUJURAT
50 QOF
Cerita VI; (Surah 51 – 60)
ANGIN YANG MENERBANGKAN membawa awan ke bukit THURSINA. Ini terjadi saat BINTANG dan BULAN bersinar. Sementara itu pak RAHMAN sedang berceramah tentang HARI KIAMAT. Dimana BESI hancur, WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, dan banyak PEREMPUAN YANG DIUJI.
NO KRONOLOGI CERITA
51 ANGIN YANG MENERBANGKAN - ADZ DZARIYAT
52 THURSINA - ATH THUR
53 BINTANG - AN NAJM
54 BULAN - AL QOMAR
55 AR RAHMAN
56 HARI KIAMAT - AL WAQI ‘AH
57 BESI - AL HADID
58 WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN - AL MUJADILAH
59 PENGUSIRAN - AL HASYR
60 PEREMPUAN YANG DIUJI - AL MUMTAHANAH
Cerita VII; (Surah 61 – 70)
BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG - ORANG MUNAFIK. Demikian juga pada HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN. Ketika aku di-TALAK, aku MENGHARAMKAN dia untuk masuk rumah ini. KERAJAAN yang indah, PENA yang mahal, pada HARI KIAMAT tidak lagi berharga. Disinilah TEMPAT-TEMPAT NAIK bagi amal sholih.
NO KRONOLOGI CERITA
61 BARISAN - ASH SHOF
62 HARI JUM’AT - AL JUMU’AH
63 ORANG-ORANG MUNAFIK - AL MUNAFIQUN
64 HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN - AL TAGHOBUN
65 TALAK - ATH THOLAQ
66 MENGHARAMKAN - AT TAHRIM
67 KERAJAAN - AL MULK
68 PENA - AL QOLAM
69 HARI KIAMAT - AL HAAQQAH
70 TEMPAT-TEMPAT NAIK - AL MA ‘ARIJ
Cerita VIII; (Surah 71 – 80)
NUH diganggu JIN disaat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas. Ia tidak menyadari datangnya KIAMAT. Sementara itu, ketika MANUSIA bertemu dengan MALAIKAT YANG DIUTUS untuk menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian, MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedang melihat IA BERMUKA MASAM.
NO KRONOLOGI CERITA
71 NUH - NUH
72 JIN - AL JINN
73 ORANG YANG BERSELIMUT - AL MUZAMMIL
74 ORANG YANG BERKEMUL - AL MUDATSTSIR
75 KIAMAT - AL QIYAMAH
76 MANUSIA - AL INSAN
77 MALAIKAT YANG DIUTUS - AL MURSALAT
78 BERITA BESAR - AN NABA’
79 MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT - AN NAZI ‘AT
80 IA BERMUKA MASAM - ‘ABASA
Cerita IX; (Surah 81 – 90)
Ombak MENGGULUNG, bumi TERBELAH, ORANG-ORANG YANG CURANG pun ikut TERBELAH. Mereka seperti GUGUSAN BINTANG YANG DATANG DI MALAM HARI. Mereka berada di tempat YANG PALING TINGGI. Pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.
NO KRONOLOGI CERITA
81 MENGGULUNG - AT TAKWIR
82 TERBELAH - AL INFITHOR
83 ORANG-ORANG YANG CURANG - AL MUTHOFFIFIN
84 TERBELAH - AL INSYIQOQ
85 GUGUSAN BINTANG - AL BURUJ
86 YANG DATANG DI MALAM HARI - ATH THORIQ
87 YANG PALING TINGGI - AL A ‘LA
88 HARI PEMBALASAN - AL GHOSYIYAH
89 FAJAR - AL FAJR
90 NEGERI - AL BALAD
Cerita X; (Surah 91 – 100)
MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba. Dan ketika WAKTU DHUHA, Allah MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN. Sementara itu manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tidak mempunyai KEMULIAAN sedikit pun. Ini adalah BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN di dunia. Hingga KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pun mati.
NO KRONOLOGI CERITA
91 MATAHARI - ASY SYAMS
92 MALAM - AL LAIL
93 WAKTU DHUHA - ADH DHUHA
94 MELAPANGKAN - AL INSYIROH
95 BUAH TIN - AT TIN
96 SEGUMPAL DARAH - AL ‘ALAQ
97 KEMULIAAN - AL QODR
98 BUKTI - AL BAYYINAH
99 KEGONCANGAN - AZ ZALZALAH
100. KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL`ADIYAT
Cerita XI; (Surah 101 – 110)
HARI KIAMAT, hari dimana manusia tidak bisa lagi BERMEGAH-MEGAHAN. Pada MASA itulah si PENGUMPAT mati diinjak-injak GAJAH. Sementara itu SUKU QURAISY bertengkar dengan pak MA’UN di tepi telaga KAUTSAR. Saat itu ORANG-ORANG KAFIR tidak mendapatkan PERTOLONGAN.
NO KRONOLOGI CERITA
101 HARI KIAMAT - AL QORI ‘AH
102 BERMEGAH-MEGAHAN - AT TAKATSUR
103 MASA - AL ‘ASHR
104 PENGUMPAT - AL HUMAZAH
105 GAJAH - AL FI-L
106 SUKU QURAISY - QURAISY
107 MA’UN - AL MA ‘UN
108 KAUTSAR - AL KAUTSAR
109 ORANG-ORANG KAFIR - AL KAFIRUN
110 PERTOLONGAN - AN NASHR
Cerita XII (Surah 111-114)
Insya Allah 4 surat terakhir ini semua dari kita sudah menghafalnya.
NO SURAT
111 AL LAHAB
112 AL IKHLASH
113 AL FALAQ
114 AN NAAS
http://bundaelly.multiply.com/reviews/item/14
Cerita I; (Surah 1 – 10)
Paman membaca AL FATIHAH sebelum memasak SAPI BETINA milik KELUARGA IMRAN yang punya anak wanita bernama AN NISA. Sebagian HIDANGAN itu diberikan untuk BINATANG TERNAK. Kemudian paman menuju TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, untuk mencuri HARTA RAMPASAN PERANG. Namun akhirnya paman ber-TAUBAT seperti taubatnya nabi YUNUS
NO KRONOLOGI CERITA
1 AL-FATIHAH
2 SAPI BETINA - AL-BAQOROH
3 KELUARGA IMRAN - ALI IMRON
4 AN NISA
5 HIDANGAN - AL MAIDAH
6 BINATANG TERNAK - AL AN ‘AM
7 TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI - AL A’ ROF
8 HARTA RAMPASAN PERANG - AL ANFAL
9 TAUBAT - AT TAUBAH
10 YUNUS
Cerita II; (Surah 11 – 20)
HUD dan YUSUF melihat PETIR. Sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR. Ia mencari LEBAH, untuk kemudian memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA untuk menemui MARYAM dan TOHA.
NO KRONOLOGI CERITA
11 HUD
12 YUSUF
13 PETIR - AR RA’D
14 IBRAHIM
15 PEGUNUNGAN HIJR - AL HIJR
16 LEBAH - AN NAHL
17 PERJALANAN MALAM - AL ISRO
18 GUA - AL KAHFI
19 MARYAM
20 TOHA
Cerita III; (Surah 21 – 30)
PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN. Mereka seperti CAHAYA. Inilah yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL. Sementara itu, PARA PENYAIR bercerita tentang SEMUT. Cerita itu terangkum dalam buku KISAH –KISAH. Dalam buku itu juga diceritakan tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.
NO KRONOLOGI CERITA
21 PARA NABI - AL ANBIYA
22 HAJI - AL HAJJ
23 ORANG - ORANG BERIMAN-AL MU’MINUN
24 CAHAYA - AN NUR
25 PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL - AL FURQON
26 PARA PENYAIR - ASY SYU ‘ARO
27 SEMUT-AN NAML
28 KISAH-KISAH - AL QOSHOSH
29 LABA-LABA - AL ‘ANKABUT
30 BANGSA ROMAWI - AR RUM
Cerita IV; (Surah 31 – 40)
LUKMAN tidak berSUJUD di kaum yang terkena AHZAB dan tidak juga kepada kaum SABA’. Sementara itu FATIR dan YASIN berdiri bersama orang YANG BERSHAF-SHAF dan membentuk huruf SHOD. Mereka teramasuk ROMBONGAN - ROMBONGAN yang memohon ampunan kepada YANG MAHA PENGAMPUN.
NO KRONOLOGI CERITA
31 LUKMAN - LUQMAN
32 SUJUD - AS SAJDAH
33 AL AHZAB
34 SABA’
35 FATHIR
36 YASIN
37 YANG BERSHAF-SHAF - ASH SHOOFFAT
38 SHOD
39 ROMBONGAN-ROMBONGAN - AZ ZUMAR
40 YANG MAHA PENGAMPUN - GHOFIR
Cerita V; (Surah 41 - 50)
YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah tentang PERHIASAN. Bukan tentang KABUT. Sementara itu banyak orang YANG BERLUTUT di BUKIT-BUKIT PASIR. Saat itulah MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN. Hal ini ditandai dengan KAMAR-KAMAR bertuliskan huruf QOF.
NO KRONOLOGI CERITA
41 YANG DIJELASKAN - FUSHSHILAT
42 MUSYAWARAH - ASY SYURA
43 PERHIASAN - AZ ZUKHRUF
44 KABUT - AD DUKHAN
45 YANG BERLUTUT - AL JATSIYAH
46 BUKIT-BUKIT PASIR - AL AHQOF
47 MUHAMMAD - MUHAMMAD
48 KEMENANGAN - AL FATH
49 KAMAR-KAMAR - AL HUJURAT
50 QOF
Cerita VI; (Surah 51 – 60)
ANGIN YANG MENERBANGKAN membawa awan ke bukit THURSINA. Ini terjadi saat BINTANG dan BULAN bersinar. Sementara itu pak RAHMAN sedang berceramah tentang HARI KIAMAT. Dimana BESI hancur, WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, dan banyak PEREMPUAN YANG DIUJI.
NO KRONOLOGI CERITA
51 ANGIN YANG MENERBANGKAN - ADZ DZARIYAT
52 THURSINA - ATH THUR
53 BINTANG - AN NAJM
54 BULAN - AL QOMAR
55 AR RAHMAN
56 HARI KIAMAT - AL WAQI ‘AH
57 BESI - AL HADID
58 WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN - AL MUJADILAH
59 PENGUSIRAN - AL HASYR
60 PEREMPUAN YANG DIUJI - AL MUMTAHANAH
Cerita VII; (Surah 61 – 70)
BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG - ORANG MUNAFIK. Demikian juga pada HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN. Ketika aku di-TALAK, aku MENGHARAMKAN dia untuk masuk rumah ini. KERAJAAN yang indah, PENA yang mahal, pada HARI KIAMAT tidak lagi berharga. Disinilah TEMPAT-TEMPAT NAIK bagi amal sholih.
NO KRONOLOGI CERITA
61 BARISAN - ASH SHOF
62 HARI JUM’AT - AL JUMU’AH
63 ORANG-ORANG MUNAFIK - AL MUNAFIQUN
64 HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN - AL TAGHOBUN
65 TALAK - ATH THOLAQ
66 MENGHARAMKAN - AT TAHRIM
67 KERAJAAN - AL MULK
68 PENA - AL QOLAM
69 HARI KIAMAT - AL HAAQQAH
70 TEMPAT-TEMPAT NAIK - AL MA ‘ARIJ
Cerita VIII; (Surah 71 – 80)
NUH diganggu JIN disaat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas. Ia tidak menyadari datangnya KIAMAT. Sementara itu, ketika MANUSIA bertemu dengan MALAIKAT YANG DIUTUS untuk menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian, MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedang melihat IA BERMUKA MASAM.
NO KRONOLOGI CERITA
71 NUH - NUH
72 JIN - AL JINN
73 ORANG YANG BERSELIMUT - AL MUZAMMIL
74 ORANG YANG BERKEMUL - AL MUDATSTSIR
75 KIAMAT - AL QIYAMAH
76 MANUSIA - AL INSAN
77 MALAIKAT YANG DIUTUS - AL MURSALAT
78 BERITA BESAR - AN NABA’
79 MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT - AN NAZI ‘AT
80 IA BERMUKA MASAM - ‘ABASA
Cerita IX; (Surah 81 – 90)
Ombak MENGGULUNG, bumi TERBELAH, ORANG-ORANG YANG CURANG pun ikut TERBELAH. Mereka seperti GUGUSAN BINTANG YANG DATANG DI MALAM HARI. Mereka berada di tempat YANG PALING TINGGI. Pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.
NO KRONOLOGI CERITA
81 MENGGULUNG - AT TAKWIR
82 TERBELAH - AL INFITHOR
83 ORANG-ORANG YANG CURANG - AL MUTHOFFIFIN
84 TERBELAH - AL INSYIQOQ
85 GUGUSAN BINTANG - AL BURUJ
86 YANG DATANG DI MALAM HARI - ATH THORIQ
87 YANG PALING TINGGI - AL A ‘LA
88 HARI PEMBALASAN - AL GHOSYIYAH
89 FAJAR - AL FAJR
90 NEGERI - AL BALAD
Cerita X; (Surah 91 – 100)
MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba. Dan ketika WAKTU DHUHA, Allah MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN. Sementara itu manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tidak mempunyai KEMULIAAN sedikit pun. Ini adalah BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN di dunia. Hingga KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pun mati.
NO KRONOLOGI CERITA
91 MATAHARI - ASY SYAMS
92 MALAM - AL LAIL
93 WAKTU DHUHA - ADH DHUHA
94 MELAPANGKAN - AL INSYIROH
95 BUAH TIN - AT TIN
96 SEGUMPAL DARAH - AL ‘ALAQ
97 KEMULIAAN - AL QODR
98 BUKTI - AL BAYYINAH
99 KEGONCANGAN - AZ ZALZALAH
100. KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL`ADIYAT
Cerita XI; (Surah 101 – 110)
HARI KIAMAT, hari dimana manusia tidak bisa lagi BERMEGAH-MEGAHAN. Pada MASA itulah si PENGUMPAT mati diinjak-injak GAJAH. Sementara itu SUKU QURAISY bertengkar dengan pak MA’UN di tepi telaga KAUTSAR. Saat itu ORANG-ORANG KAFIR tidak mendapatkan PERTOLONGAN.
NO KRONOLOGI CERITA
101 HARI KIAMAT - AL QORI ‘AH
102 BERMEGAH-MEGAHAN - AT TAKATSUR
103 MASA - AL ‘ASHR
104 PENGUMPAT - AL HUMAZAH
105 GAJAH - AL FI-L
106 SUKU QURAISY - QURAISY
107 MA’UN - AL MA ‘UN
108 KAUTSAR - AL KAUTSAR
109 ORANG-ORANG KAFIR - AL KAFIRUN
110 PERTOLONGAN - AN NASHR
Cerita XII (Surah 111-114)
Insya Allah 4 surat terakhir ini semua dari kita sudah menghafalnya.
NO SURAT
111 AL LAHAB
112 AL IKHLASH
113 AL FALAQ
114 AN NAAS
http://bundaelly.multiply.com/reviews/item/14
Iblis , Nafsu
لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا .١١٨
"Yang dila'nati Allah (Iblis) dan ia mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (nafsu)."
(Qs.an Nisa : 118)
Hasutan iblis inilah yang disebut dengan “qalam syarr” (bisikan jahat) yang apabila diiikuti manusia dan jin akan menimbulkan sifat jahat yang disebut syaithon. Karena lafadz syaithon berasal dari kata sayaatin (yang jauh dari kebaikan).
http://al-ulama.net
"Yang dila'nati Allah (Iblis) dan ia mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (nafsu)."
(Qs.an Nisa : 118)
Hasutan iblis inilah yang disebut dengan “qalam syarr” (bisikan jahat) yang apabila diiikuti manusia dan jin akan menimbulkan sifat jahat yang disebut syaithon. Karena lafadz syaithon berasal dari kata sayaatin (yang jauh dari kebaikan).
http://al-ulama.net
DUA POLA HIDUP YANG BERLAWANAN
Petunjuk Al Qur-an
Sebagaimana telah dipahami bahwa Allah telah tetapkan keberadaan ummat manusia yang hidup dalam dunia ini ada dua macam,yaitu “kafir dan mukmin”[qa2s64=at taghobun],maka sudah pasti antara mereka mempunyai pola dan system yang berbeda pula.Karena mukmin itu orang yang dapat menyambut hidayah Allah dengan melalui keterbukaan hatinya untuk menerima Nur Islam, sedangkan orang kafir itu adalah sebaliknya[qa22s39=az zumar].Maka dalam pandangan hidup mereka pun akan berbeda dan bahkan berlawanan,sebagaimana dinyatakan dalam Surah Al Mulk 22,yaitu:
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ .٢٢
“Maka apakah sama orang yang berjalan secara menelungkupkan mukanya itu lebih mendapatkan petunjuk, ataukah orang yang berjalan secara tegak lurus atas jalan yang lurus?”
Pembahasan
Ayat tersebut adalah merupakan bukti dari dua jalur perjalanan hidup yang saling berbeda,yaitu :
1. Pola hidup orang yang tertutup hatinya dari Kebenaran Islam,sehingga pandangan hidup mereka hanya semata-mata berdasarkan hawa nafsu dan logika[qa23-24s45=al jatsiyah].
2. Pola hidup orang yang terbuka hatinya terhadap Kebenaran Islam,yaitu dengan memotivasi diri secara benar[qa11-12s39=az zumar],kemudian berupaya untuk menepati seruan Kebenaran yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya[qa20s8=al anfal].
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan memperhatikan petunjuk Allah dalam Surah Az Zumar 22:
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ .٢٢
“Maka apakah sama orang yang Allah bukakan hatinya untuk menerima Islam,maka dia berada atas Nur dari Robbnya (seperti orang yang tidak tertutup hatinya),maka celakalah bagi mereka yang keras hati dari mengingati Allah, karena mereka itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.
Maka jelaslah bahwa akibat tertutup hatinya dari Kebenaran Islam,sudah pasti pola perjalanan hidupnya akan mengarah kepada berbagai kesesatan.Dan itulah dorongan nafsu manusia[qa53s12= yusuf] yang memang telah ditetapkan sebagai sarang bisikan syaithon[qa118s4=an nisa].
Adapun sebenarnya orang yang sadar sebagai makhluq dan hamba Allah,sudah barang tentu menyadari terhadap kewajiban menepati dimensi pengabdian secara benar dan pasti berdasarkan ketetapan dari Al Kholiq,sehingga Al Qur-an sebagai “sumber”[qa138s3=ali imron] dan Al Hadits Shahih sebagai panduan dalam menepati ketha’atan[qa64-65s4=an nisa];Inilah pola dasar pokok dalam Islam[qa19;85s3=ali imron].
Akan tetapi sebaliknya,bahwa orang yang tertutup hatinya, dalam istilah disebut “mengalami proses De-Humanisasi”,dalam pola dan sikap hidupnya adalah:
1. Mendewa-dewakan personalitas,atau yang diebut taqlid buta[qa36s17=al isra].
2. Mendewa-dewakan kekuatan,atau yang disebut superioritas[A Hadits Shahih].
3. Mendewa-dewakan rasionalitas,sedangkan hal itu hanya sebatas ekzak[qa7s30=ar rum].
4. Mendewa-dewakan relativitas,sehingga mengesampingkan dan bahkan menafikan terhadap Kebenaran dari Allah[qa27s76=ad dahr].
Inilah yang disebut jahiliyah atau dalam istilah disebut “krisis manusia modern”,maka secara pasti akan menutup suara nurani sehingga al’aqlu sudah tidak ada immunitasi lagi.Sehingga dalam penterapan kehidupan bermasyarakat pasti tidak akan memperoleh keberkatan[qa96s7=al a’rof].
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=163&Itemid=1
Sebagaimana telah dipahami bahwa Allah telah tetapkan keberadaan ummat manusia yang hidup dalam dunia ini ada dua macam,yaitu “kafir dan mukmin”[qa2s64=at taghobun],maka sudah pasti antara mereka mempunyai pola dan system yang berbeda pula.Karena mukmin itu orang yang dapat menyambut hidayah Allah dengan melalui keterbukaan hatinya untuk menerima Nur Islam, sedangkan orang kafir itu adalah sebaliknya[qa22s39=az zumar].Maka dalam pandangan hidup mereka pun akan berbeda dan bahkan berlawanan,sebagaimana dinyatakan dalam Surah Al Mulk 22,yaitu:
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ .٢٢
“Maka apakah sama orang yang berjalan secara menelungkupkan mukanya itu lebih mendapatkan petunjuk, ataukah orang yang berjalan secara tegak lurus atas jalan yang lurus?”
Pembahasan
Ayat tersebut adalah merupakan bukti dari dua jalur perjalanan hidup yang saling berbeda,yaitu :
1. Pola hidup orang yang tertutup hatinya dari Kebenaran Islam,sehingga pandangan hidup mereka hanya semata-mata berdasarkan hawa nafsu dan logika[qa23-24s45=al jatsiyah].
2. Pola hidup orang yang terbuka hatinya terhadap Kebenaran Islam,yaitu dengan memotivasi diri secara benar[qa11-12s39=az zumar],kemudian berupaya untuk menepati seruan Kebenaran yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya[qa20s8=al anfal].
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan memperhatikan petunjuk Allah dalam Surah Az Zumar 22:
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ .٢٢
“Maka apakah sama orang yang Allah bukakan hatinya untuk menerima Islam,maka dia berada atas Nur dari Robbnya (seperti orang yang tidak tertutup hatinya),maka celakalah bagi mereka yang keras hati dari mengingati Allah, karena mereka itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.
Maka jelaslah bahwa akibat tertutup hatinya dari Kebenaran Islam,sudah pasti pola perjalanan hidupnya akan mengarah kepada berbagai kesesatan.Dan itulah dorongan nafsu manusia[qa53s12= yusuf] yang memang telah ditetapkan sebagai sarang bisikan syaithon[qa118s4=an nisa].
Adapun sebenarnya orang yang sadar sebagai makhluq dan hamba Allah,sudah barang tentu menyadari terhadap kewajiban menepati dimensi pengabdian secara benar dan pasti berdasarkan ketetapan dari Al Kholiq,sehingga Al Qur-an sebagai “sumber”[qa138s3=ali imron] dan Al Hadits Shahih sebagai panduan dalam menepati ketha’atan[qa64-65s4=an nisa];Inilah pola dasar pokok dalam Islam[qa19;85s3=ali imron].
Akan tetapi sebaliknya,bahwa orang yang tertutup hatinya, dalam istilah disebut “mengalami proses De-Humanisasi”,dalam pola dan sikap hidupnya adalah:
1. Mendewa-dewakan personalitas,atau yang diebut taqlid buta[qa36s17=al isra].
2. Mendewa-dewakan kekuatan,atau yang disebut superioritas[A Hadits Shahih].
3. Mendewa-dewakan rasionalitas,sedangkan hal itu hanya sebatas ekzak[qa7s30=ar rum].
4. Mendewa-dewakan relativitas,sehingga mengesampingkan dan bahkan menafikan terhadap Kebenaran dari Allah[qa27s76=ad dahr].
Inilah yang disebut jahiliyah atau dalam istilah disebut “krisis manusia modern”,maka secara pasti akan menutup suara nurani sehingga al’aqlu sudah tidak ada immunitasi lagi.Sehingga dalam penterapan kehidupan bermasyarakat pasti tidak akan memperoleh keberkatan[qa96s7=al a’rof].
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=163&Itemid=1
Berharap Al Kautsar Dari Allah
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)“. (Al-Kautsar: 1-3)
Surah Al-Kautsar merupakan surah yang terpendek dalam Al-Qur’an yang hanya terdiri dari tiga ayat bersama dua surah lainnya, yaitu surah An-Nashr dan surah Al-Ashr. Namun susunan kalimat surah ini jelas lebih pendek dari keduanya. Karena pendeknya, para ulama menyimpulkan bahwa surah ini merupakan tantangan minimal kepada orang Arab untuk membuat semisal Al-Qur’an. Dan ternyata mereka tidak mampu dan memang tidak akan mampu selama-lamanya meskipun saling bergandeng bahu antara manusia dan jin, karena agungnya mu’jizat Al-Qur’an walaupun pada surah yang paling pendek, sehingga I’jazul Qur’an -kemukjizatan Al Qur’an- berlaku pada surah yang panjang dan yang terpendek sekalipun.
Berdasarkan khithab (sasaran)nya, surah ini menurut Sayyid Quthb murni ditujukan khusus kepada Rasulullah, seperti juga surah Asy-Syarh dan surah Ad-Duha. Inti dari ketiga surah ini memang untuk menghibur dan menjanjikan kebaikan yang banyak kepada Rasulullah saw serta mengarahkan beliau agar senantiasa bersyukur atas segalanya. Pada masa yang sama, surah ini sekaligus mengancam para musuhnya dengan pemutusan dari rahmat Allah swt.
Masih menurut Sayyid Quthb surah ini memberi gambaran aktual tentang kehidupan seorang da’i (Rasulullah) pada permulaan dakwah di Mekah yang mendapat tantangan dan hinaan sehingga Allah berkehendak untuk memberinya khabar gembira dan mengokohkan misi dakwahnya dengan jaminan kebaikan dalam bentuk ‘Al-Kautsar’ yang tiada terhingga. Gambaran aktual ini bisa difahami dari sebab turun surah Al-Kautsar seperti yang dikemukakan oleh As-Suyuthi bahwa ketika putra Nabi Muhammad meninggal, orang-orang musyrik di antaranya Abu Jahal, Al-Walid bin Mughirah dan Al-Wa’il bin Al-’Ash mencemooh nabi dengan mengatakan, “Telah terputus keturunan Muhammad”. Ada lagi yg mengatakan: “Biarkan saja dia. Dia akan mati tanpa pelanjut dan berakhir urusannya”. Nabi cukup sedih mendengar ucapan mereka, maka turunlah surah ini untuk membantah sekaligus menghibur Rasulullah bahwa beliau tidak seperti yang mereka duga.
Demikian hakikatnya, seorang da’i akan senantiasa dipelihara oleh Allah dan mendapat janji dan jaminan kebaikan di dunia dan di akhirat. Hal ini tentu sebanding dengan pengorbanan dan perjuangannya yang tidak pernah mengenal lelah dan batas waktu serta usia. Hanya dengan berdakwah -dalam arti yang luas- seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw pada sejarah surah ini, seseorang akan meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Secara bahasa, Al-Kautsar merupakan kata bentukan dari Al-Katsrah yang berarti banyak tak terbatas. Namun terdapat beberapa pengertian tentang makna Al-Kautsar yang kesemuanya berkisar pada kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir). Ikrimah misalnya memahami Al-Kautsar sebagai karunia kenabian (nubuwwah). Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa ia adalah Al-Qur’an. Abu Bakar bin Iyash memahami makna Al-Kautsar dengan banyaknya sahabat dan umat pengikutnya dan lain sebagainya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Sa’id bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang maksud Al-Kautsar berdasarkan pandangan mayoritas sahabat yang menyebut bahwa artinya adalah sungai di dalam syurga yang bernama kautsar yang dikhususkan untuk Rasulullah saw. Maka Ibnu Abbas menjawab bahwa telaga kautsar merupakan bagian dari kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir).
Terkait dengan penjelasan diatas, Imam Muslim menukil kronologis turunnya surah ini beserta maksud dari Al-Kautsar. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw tiba-tiba terdiam sebentar seolah-olah pingsan kemudian bangkit dan menengadahkan wajahnya ke langit sambil tersenyum. Melihat hal itu, para sahabat bertanya, “Apakah yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?”. Rasulullah saw bersabda, “Telah turun kepadaku sebentar tadi sebuah surah.
Lantas Rasulullah membaca surah Al-Kautsar dengan lengkap dan bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan Al-Kautsar?”. Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasulullah bersabda, “Ia adalah sebuah sungai di syurga yang dijanjikan Allah untukku. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Ia juga adalah telaga tempat umatku akan meminum daripadanya pada hari kiamat”.
Secara korelatif, keserasian surah ini dengan surah sebelumnya sangatlah jelas. Dalam surah Al-Ma’un digambarkan empat sifat Munafik yang ketara, yaitu: sangat bakhil dengan harta, ringan meninggalkan sholat, bersikap riya’ dan selalu menghindar dan menghalangi orang lain memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Sedangkan dalam surah Al-Kautsar diperintahkan lawan dari sikap tersebut, yaitu mendirikan shalat dengan baik sebagai tanda syukur (Fasholli), senantiasa ikhlas dalam berbuat (Lirabbik) dan siap serta ringan memberi santunan kepada orang (wanhar).
Al-Biqa’i menuturkan bahwa Surah Al-Ma’un yang dinamakan juga dengan surah Ad-Din banyak menyebutkan tentang perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji yang harus dihindari, sehingga sangat sesuai jika surah setelahnya berbicara tentang karunia nikmat yang besar yang disediakan bagi mereka yang mampu mensinergikan antara shalat (Fasholli) dan memberi bantuan kepada orang lain (wanhar) dengan tidak berbuat riya’ dalam menjalankan keduanya.
Sehingga dapat dirumuskan bahwa setelah Rasulullah menerima nikmat yang banyak yang melimpah ruah, Allah mengarahkannya untuk senantiasa mensyukuri nikmat tersebut dengan memenuhi haknya, yaitu: pertama, Keikhlasan dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah, terutama sholat. Dan kedua, Membangun hubungan baik dengan siapapun melalui jalan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Sungguh sinergi dan kesepaduan antara ibadah shalat yang mewakili ibadah mahdah yang paling utama dan perintah menjaga hubungan baik dengan sesama yang pada hakikatnya merupakan nilai dan natijah -hasil atau buah- dari ibadah mahdah merupakan dua hal yang selalu disebutkan secara berdampingan oleh Al-Qur’an seperti dalam surah Al-Ma’un dan dalam surah Al-Kautsar ini. Justru ketidakmampuan seseorang mengimplementasikan kedua hak tersebut dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi penghalang dari meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Dalam konteks yang lain, karena surah ini khusus ditujukan sasarannya untuk Rasulullah, maka memelihara dan mengamalkan sunnah Rasulullah merupakan pintu untuk meraih kebaikan yang banyak, sedangkan sebaliknya menurut Al-Maraghi kebencian terhadap sunnah dan ajaran Rasulullah yang diisyaratkan dengan ungkapan ‘inna syani’aka’, demikian juga kebencian terhadap pribadinya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kelompok yang disebut sebagai ‘abtar’ yang terputus dari segala kebaikan dan rahmat Allah swt.
Demikian agung posisi Rasulullah di mata Allah yang harus terus dijaga dan dipelihara sebagai bagian dari implementasi dari firman Allah swt, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali Imran: 31).
Hanya dengan semangat ‘ittiba’ dan ‘ta’assi’ -meneladani- beliau, dakwah ini akan senantiasa mendapat keberkahan dan kebaikan yang besar dari Allah swt. Amin. Allahu A’lam
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
http://www.dakwatuna.com/2008/berharap-al-kautsar-dari-allah/
Surah Al-Kautsar merupakan surah yang terpendek dalam Al-Qur’an yang hanya terdiri dari tiga ayat bersama dua surah lainnya, yaitu surah An-Nashr dan surah Al-Ashr. Namun susunan kalimat surah ini jelas lebih pendek dari keduanya. Karena pendeknya, para ulama menyimpulkan bahwa surah ini merupakan tantangan minimal kepada orang Arab untuk membuat semisal Al-Qur’an. Dan ternyata mereka tidak mampu dan memang tidak akan mampu selama-lamanya meskipun saling bergandeng bahu antara manusia dan jin, karena agungnya mu’jizat Al-Qur’an walaupun pada surah yang paling pendek, sehingga I’jazul Qur’an -kemukjizatan Al Qur’an- berlaku pada surah yang panjang dan yang terpendek sekalipun.
Berdasarkan khithab (sasaran)nya, surah ini menurut Sayyid Quthb murni ditujukan khusus kepada Rasulullah, seperti juga surah Asy-Syarh dan surah Ad-Duha. Inti dari ketiga surah ini memang untuk menghibur dan menjanjikan kebaikan yang banyak kepada Rasulullah saw serta mengarahkan beliau agar senantiasa bersyukur atas segalanya. Pada masa yang sama, surah ini sekaligus mengancam para musuhnya dengan pemutusan dari rahmat Allah swt.
Masih menurut Sayyid Quthb surah ini memberi gambaran aktual tentang kehidupan seorang da’i (Rasulullah) pada permulaan dakwah di Mekah yang mendapat tantangan dan hinaan sehingga Allah berkehendak untuk memberinya khabar gembira dan mengokohkan misi dakwahnya dengan jaminan kebaikan dalam bentuk ‘Al-Kautsar’ yang tiada terhingga. Gambaran aktual ini bisa difahami dari sebab turun surah Al-Kautsar seperti yang dikemukakan oleh As-Suyuthi bahwa ketika putra Nabi Muhammad meninggal, orang-orang musyrik di antaranya Abu Jahal, Al-Walid bin Mughirah dan Al-Wa’il bin Al-’Ash mencemooh nabi dengan mengatakan, “Telah terputus keturunan Muhammad”. Ada lagi yg mengatakan: “Biarkan saja dia. Dia akan mati tanpa pelanjut dan berakhir urusannya”. Nabi cukup sedih mendengar ucapan mereka, maka turunlah surah ini untuk membantah sekaligus menghibur Rasulullah bahwa beliau tidak seperti yang mereka duga.
Demikian hakikatnya, seorang da’i akan senantiasa dipelihara oleh Allah dan mendapat janji dan jaminan kebaikan di dunia dan di akhirat. Hal ini tentu sebanding dengan pengorbanan dan perjuangannya yang tidak pernah mengenal lelah dan batas waktu serta usia. Hanya dengan berdakwah -dalam arti yang luas- seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw pada sejarah surah ini, seseorang akan meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Secara bahasa, Al-Kautsar merupakan kata bentukan dari Al-Katsrah yang berarti banyak tak terbatas. Namun terdapat beberapa pengertian tentang makna Al-Kautsar yang kesemuanya berkisar pada kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir). Ikrimah misalnya memahami Al-Kautsar sebagai karunia kenabian (nubuwwah). Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa ia adalah Al-Qur’an. Abu Bakar bin Iyash memahami makna Al-Kautsar dengan banyaknya sahabat dan umat pengikutnya dan lain sebagainya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Sa’id bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang maksud Al-Kautsar berdasarkan pandangan mayoritas sahabat yang menyebut bahwa artinya adalah sungai di dalam syurga yang bernama kautsar yang dikhususkan untuk Rasulullah saw. Maka Ibnu Abbas menjawab bahwa telaga kautsar merupakan bagian dari kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir).
Terkait dengan penjelasan diatas, Imam Muslim menukil kronologis turunnya surah ini beserta maksud dari Al-Kautsar. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw tiba-tiba terdiam sebentar seolah-olah pingsan kemudian bangkit dan menengadahkan wajahnya ke langit sambil tersenyum. Melihat hal itu, para sahabat bertanya, “Apakah yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?”. Rasulullah saw bersabda, “Telah turun kepadaku sebentar tadi sebuah surah.
Lantas Rasulullah membaca surah Al-Kautsar dengan lengkap dan bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan Al-Kautsar?”. Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasulullah bersabda, “Ia adalah sebuah sungai di syurga yang dijanjikan Allah untukku. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Ia juga adalah telaga tempat umatku akan meminum daripadanya pada hari kiamat”.
Secara korelatif, keserasian surah ini dengan surah sebelumnya sangatlah jelas. Dalam surah Al-Ma’un digambarkan empat sifat Munafik yang ketara, yaitu: sangat bakhil dengan harta, ringan meninggalkan sholat, bersikap riya’ dan selalu menghindar dan menghalangi orang lain memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Sedangkan dalam surah Al-Kautsar diperintahkan lawan dari sikap tersebut, yaitu mendirikan shalat dengan baik sebagai tanda syukur (Fasholli), senantiasa ikhlas dalam berbuat (Lirabbik) dan siap serta ringan memberi santunan kepada orang (wanhar).
Al-Biqa’i menuturkan bahwa Surah Al-Ma’un yang dinamakan juga dengan surah Ad-Din banyak menyebutkan tentang perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji yang harus dihindari, sehingga sangat sesuai jika surah setelahnya berbicara tentang karunia nikmat yang besar yang disediakan bagi mereka yang mampu mensinergikan antara shalat (Fasholli) dan memberi bantuan kepada orang lain (wanhar) dengan tidak berbuat riya’ dalam menjalankan keduanya.
Sehingga dapat dirumuskan bahwa setelah Rasulullah menerima nikmat yang banyak yang melimpah ruah, Allah mengarahkannya untuk senantiasa mensyukuri nikmat tersebut dengan memenuhi haknya, yaitu: pertama, Keikhlasan dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah, terutama sholat. Dan kedua, Membangun hubungan baik dengan siapapun melalui jalan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Sungguh sinergi dan kesepaduan antara ibadah shalat yang mewakili ibadah mahdah yang paling utama dan perintah menjaga hubungan baik dengan sesama yang pada hakikatnya merupakan nilai dan natijah -hasil atau buah- dari ibadah mahdah merupakan dua hal yang selalu disebutkan secara berdampingan oleh Al-Qur’an seperti dalam surah Al-Ma’un dan dalam surah Al-Kautsar ini. Justru ketidakmampuan seseorang mengimplementasikan kedua hak tersebut dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi penghalang dari meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Dalam konteks yang lain, karena surah ini khusus ditujukan sasarannya untuk Rasulullah, maka memelihara dan mengamalkan sunnah Rasulullah merupakan pintu untuk meraih kebaikan yang banyak, sedangkan sebaliknya menurut Al-Maraghi kebencian terhadap sunnah dan ajaran Rasulullah yang diisyaratkan dengan ungkapan ‘inna syani’aka’, demikian juga kebencian terhadap pribadinya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kelompok yang disebut sebagai ‘abtar’ yang terputus dari segala kebaikan dan rahmat Allah swt.
Demikian agung posisi Rasulullah di mata Allah yang harus terus dijaga dan dipelihara sebagai bagian dari implementasi dari firman Allah swt, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali Imran: 31).
Hanya dengan semangat ‘ittiba’ dan ‘ta’assi’ -meneladani- beliau, dakwah ini akan senantiasa mendapat keberkahan dan kebaikan yang besar dari Allah swt. Amin. Allahu A’lam
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
http://www.dakwatuna.com/2008/berharap-al-kautsar-dari-allah/
Subscribe to:
Posts (Atom)
