Para Ulama Ahlul Hadits

بسم الله الرحمن الرحيم

Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :

1. Khalifah ar-Rasyidin :

2. Al-Abadillah :

3. Para Tabi’in :

4. Para Tabi’ut tabi’in :

5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:

6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :

7. Kemudian murid-muridnya seperti:

8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:

9. Murid-Murid Mereka :

10. Ulama Generasi Akhir :

Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan.
http://ahlulhadist.wordpress.com/

Tafsir Surat Al-Falaq

Surat An-Falaq ini Makkiyah. Ada yang mengatakan Madaniyyah. Terdiri dari 5 ayat, dan merupakan salah satu dari dua ayat perlindungan.


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

1.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2.  Dari kejahatan makhluk-Nya,
3.  Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,
4.  Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
5.  Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”
 
Makna Mufradat:
Arti Mufradat
1. Asalnya terbelahnya sesuatu dan jelasnya sesuatu dari yang lain. Maksudnya pada surat ini adalah semua yang dibelah Allah baik berupa bumi untuk tumbuhan, gunung untuk mata air, gunung untuk hujan, dan rahim untuk jabang bayi. 1. الفلق
2. Malam yang sangat gelap gulita. 2. غاسق
3. Masuk ke dalam apa saja dan menutupi apa saja. 3. إذا وقب
4. Nafatsah maksudnya hembusan yang keluar dari mulut. 4. النفاثات
5. Jamak dari ‘uqdah, apakah maksudnya buhul tali atau yang dimaksud ikatan cinta dan hubungan antar manusia. 5. في العقد
Syarah:
 
Diriwayatkan bahwa ada orang Yahudi menyihir Nabi saw. Hingga beliau sakit sampai tiga hari. Sakit beliau sangat parah sampai-sampai tidak sadar terhadap apa yang dilakukan. Kemudian Jibril datang dan memberitahu tentang bagian yang terkena sihir. Setelah itu beliau dibacakan surat An-Nas dan Al-Falaq akhirnya kembali sadar seperti semula.

Menurutku riwayat ini tidak benar sebagaimana pendapat para ulama. Ia hanya celoteh orang-orang Yahudi dengan tujuan agar manusia ragu terhadap Nabi saw. Dan menganggap beliau terkena sihir. Padahal Allah berfirman,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
﴿٩٥﴾

“Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. Al-Hijr: 95).

Katakan kepada mereka, ya Muhammad, “Aku berlindung kepada Tuhan seluruh Alam yang dapat membelah tanah dan langit, aku berlabuh kepada-Nya dari semua kejahatan yang menimpaku, keluargaku, dakwahku, dan sahabatku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan malam jika telah menjadi gelap gulita dan menutupi seluruh alam. Karena kegelapan malam bisa menjadi tabir bagi setiap orang yang melampaui batas dan pendosa. Aku juga berlindung kepada-Mu dari para wanita peniup buhul tali yang mereka ikat.” Sebagaimana yang dijelaskan tadi. Namun maksud yang sebenarnya adalah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan para pengadu domba yang memutuskan hubungan cinta kasih. Dengan demikian ta’ pada kata,

النفاثة

bermakna hiperbol dan tidak menujukkan ta’nits (feminim). Yakni orang yang berusaha mengadu domba, mengerahkan segenap upayanya untuk menyakiti orang yang dipuji. Tidak ada jalan untuk mendapatkan keridhaan orang semacam ini. Maka tidak ada cara lain  menghadapi orang tersebut selain menghadap kepada Allah agar berkenan memelihara kita dari kejahatannya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

http://www.dakwatuna.com/2010/tafsir-surat-al-falaq/

Al-Qur'an Menurut Kaum Oportunis

 Masalah:

Penulis pernah diminta beberapa orang mahasiswa untuk menanggapi pernyataan-pernyataan satu kelompok, yang menurut pengakuannya, mengajak ummat kepada kebebasan berpikir. Maka penulis menjawab: bila kita menanggapi mereka, pasti mereka akan menjadi besar. Dan itulah yang mereka harapkan. Karena itu janganlah membuang waktu dan energi untuk sesuatu yang kurang berarti. Namun sayang sekali diantara kita ada yang terpancing, hingga terjadilah perdebatan di layar televisi, dan akhirnya terjadilah apa yang diduga sebelumnya. Sebenarnya mereka membuat masalah untuk mendapat perhatian masyarkat. Padahal masyarakat telah menghadapi banyak masalah yang perlu solusi. Mereka berkata:
  • Kitab al Qur'an masih diragukan keasliannya, karena baru dibukukan atas perintah Khalifah Utsman bin Affan sesudah Rasulullah saw wafat.
  • Al Quran harus dikoreksi segala ketentuan hukumnuya agar sesuai dengan perkembangan zaman kehidupan manusia.
  • Dalam perkara yang telah ada ketetapannya dalam alQuran dan al Hadis
  • boleh dipertanyakan kebenarannya dan keabasahannnya.
  • Dan lain-lain.
Apa yang mereka cari hingga berani menghina al-Quran?

Pembahasan:

Sejak al-Quran turun pada empatbelas abad yang lalu, manusia terbagi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima dan yang menolak. Dan sejak awal, alQuran telah menantang semua pemikir dan ahli bahasa Arab untuk membuat al-Quran tandingan , bila tidak mampu satu Quran maka buatlah sepuluh surat , dan bila tidak mampu juga maka buatlah satu surat saja, ternyata sejak turun al-Quran hingga saat ini tak pernah ada yang berhasil membuat al-Quran tandingan meski mereka mencurahkan segala upaya untuk melakukannya.

Setiapkali mereka mencoba maka yang terjadi hanyalah memperlihatkan kebodohan dan kehinaannya sendiri padahal mereka adalah orang Arab yang ahli dan terkemukan seperti yang pernah dialami Musailimah al Kadzdzab. Karena itu bila saat ini ditemukan kembali kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai kelompok intelektual atau kelompok studi Islam actual atau lainnya, lalu mereka mencurahkan segala upaya untuk merendahkan alQuran, maka sesungguhnya mereka tidak lain kecuali merupakan pelanjut kelompok terdahulu yang akan menjatuhkan dirinya sendiri di kemudian hari, dan membuktikan bahwa mereka belum mengerti al-Quran.

Dan sungguh rasional bila orang Indonesia tidak dapat membedakan antara bahasa Arab manusia dengan bahasa Arab alQuran yang sudah tersusun sejak sebelum orang Arab lahir. Bila orang Arab yang menentang al-Quran bukan karena tidak mengakui ketinggian bahasa al-Quran akan tetapi semata-mata karena terkuasai hawa nafsunya, maka orang Indonesia mengingkari al-Quran bukan saja karena terkuasai hawa nafsu akan tetapi juga karena tidak dapat membedakan mana bahasa Arab susunan manusia dan mana bahasa Arab yang diturunkan Allah kepada hamba pilihan-Nya.

AlQuran diturunkan pada masa Bahasa Arab mencapai puncak kesusasteraannya. Namun demikian para sastrawan dan penyair ketika itu tunduk kepada ketinggian bahasa al-Quran. Seorang sastrawan dan penyair yang tiada duanya di kalangan Quraisy bernama al Walid bin al Mughirah mengakui dan merasakan ketinggian bahasa al-Quran dan kedalaman maknanya.

عن بن عباس رضي الله عنهما أن الوليد بن المغيرة جاء إلى النبي صلى
الله عليه وسلم فقرأ عليه القرآن فكأنه رق له فبلغ ذلك أبا جهل فأتاه
فقال يا عم إن قومك يرون أن يجمعوا لك مالا قال لم قال ليعطوكه فإنك أتيت
محمدا لتعرض لما قبله قال قد علمت قريش أني من أكثرها مالا قال فقل فيه
قولا يبلغ قومك إنك منكر له أو إنك كاره له قال وماذا أقول فوالله ما
فيكم رجل أعلم بالأشعار مني ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني ولا بأشعار
الجن والله ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا ووالله إن لقوله الذي يقول
حلاوة وإن عليه لطلاوة وأنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله وإنه ليعلو وما يعلى
وإنه ليحطم فاتحته قال لا يرضى عنك قومك حتى تقول فيه قال فدعني حتى أفكر
فلما فكر قال هذا سحر يؤثر يأثره من غيره فنزلت ذرني ومن خلقت وحيدا

Dari ibnu Abas ra bahwa al Walid bin al Mughirah datang kepada Nabi saw. Maka beliau membacakan al-Quran kepadanya hingga hanyutlah qalbunya. Berita ini sampai kepada Abu Jahal. Maka dia mendatanginya dan berkata: wahai pamanku, bawahanmu sepakat mengumpulkan harta untukmu. Dia berkata: untuk apa? Ia berkata: untuk diberikan padamu, karena kamu telah mendatangi Muhammad untuk menyampaikan tawaran yang dapat dia terima.

Dia berkata: orang Quraisy semua mengetahui bahwa aku adalah orang Quraisy yang terkaya. Ia berkata: kalau begitu, katakanlah satu kalimat yang dapat diketahui bawahanmu bahwa kamu mengingkari (Muhammad) dan membencinya. Dia berkata: apa yang harus kukatakan. Tak ada seorangpun diantaramu yang mengetahui syair, rajaz atau qasidah melebihi pengetahuanku.

Demikian juga pengetahuan tentang syair dari jin. Demi Allah semua itu tidak menyerupai apa yang dia bacakan. Demi Allah sungguh pada apa yang dia (Muhammad) bacakan terdapat yang sangat manis dan menarik. Ia bagaikan (pohon) yang diatasnya penuh dengan buah-buahan dan akarnya tertancap kedalam. Ia sangat tinggi tidak dapat dijangkau. Abu Jahal berkata: kamu akan dibenci rakyatmu hingga kamu mencacinya. Dia berkata: baiklah, beri aku kesempatan untuk berpikir. Setelah dia berpikir, maka berkata: ini adalah sihir yang sangat berpengaruh. Maka turunlah ayat:
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا(11)
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.
Pelajaran dari peristiwa diatas:
  • Al Walid sebagai seorang sastrawan yang diharapkan dapat mempengaruhi Muhammad ternyata dia tenggelam dalam kedalaman makna alQuran, dan dia tunduk dihadapan keindahan susunannya.
  • Al Walid terus terang kepada Abu Jahal mengungkapakan apa yang ditemukan dan dirsakannya dari al-Quran.
  • Al Walid mencabut pengakuannya karena karena takut kehilangan pengikut. Hal ini mnunjukkan bahwa dia ingkar kepada al-Quran bukan karena ragu-ragu akan kebenarannya melainkan karena tunduk kepada tuntutan hawa nafsunya dan patuh kepada akalnya.
Tugas kita sebagai muslim sangat banyak, karena itu kita jangan terjebak dengan pancingan-pancingan dari orang yang mengutamakan membuat masalah daripada mangatasi masalah. Bila kita melihat perjalanan sejarah maka kita akan mengetahui bahwa semua yang mereka kemukakan bukan masalah baru. Walaupun redaksinya baru namun isinya sama dengan yang dikemukakan orang-orang munafiq yang hidup pada zaman Rasulullah dan orang-orang kafir yang hidup pada zaman berikutnya.

Sungguh semua yang mereka kemukakan bukan pernyataan yang muncul dari pemikiran mereka akan tetapi mereka hanya melanjutkan pernyataan yang sudah lama yang telah disampaikan orang-orang yang menjadi hamba hawa nafsu dan mempertuhan akalnya. Mereka pasti menyadari bahwa pola berpikir manusia berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Lalu, kalau kita berpedoman kepada hasil pikiran manusia maka hasil pikiran siapa yang mesti dijadikan pegangan hidup bagi semua manusia.

Bila mereka sepakat untuk menentukan susuatu pedoman hidup, maka ketentuan yang mereka sepakati tidak akan sesuai dengan ketentuan yang disepakati kelompok lain. Lalu, kentuan yang mana yang dapat diterapkan untuk kepentigan semua manusia. Dan jika hasil pikiran manusia tidak dapat dijadikan pedoman hidup bagi semua manusia, maka pedoman mana yang akan mereka jadikan sebagai pegangan? Mereka meragukan keaslian kitab al-Quran. Apakah ada kitab lain yang mereka yakini kasliannya selain al-Quran. Atas dasar apa mereka meragukan alqruan dan meyakini yang lain. Apakah mereka tidak melihat bahwa:
  • Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang memiliki bahasa yang sama meski pembacanya berbeda bahasa?
  • Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang memiliki aturan baca yang tersebar di seluruh dunia dan dipelajari serta diikuti umat di dunia.
  • Al Quran satu-satu kitab suci yang tak pernah berhenti dibaca oleh umat Islam selama duapuluh emapat jam setiap hari. Bila berhenti bacaan di satu tempat maka ditempat lain di dunia pasti ada yang membacanya.
  • Al Quran satu-satunya kitab suci yang dipelihara dengan para penghapal yang tidak terhitung jumlahnya, baik didalam atau di luar negri. Adakah kitab lain yang memiliki penghapal secara keseluruhan selain al-Quran. Bila ada kitab lain yang dihapal secara keseluruhan di Barat maka yang dihapal di Timur, meski nama kitabnya sama namun
  • Isinya berbeda karena bahasanya berbeda, sehingga kedua penghapal tersebut tidak akan bertemu dalam hapalan yang sama. Berbeda dengan al-Quran siapapun yang mengapal dan dengan bahasa apapun mereka berbicara pasti alQuran yang mereka baca adalah sama.
  • Al Quran satu-satunya kitab yang tidak pernah mengalami perubahan bahasa kendatipun para pembacanya berbeda bahasa.
  • Al Quran satu-satunya kitab suci yang tetap bertahan tidak pernah mengalami perubahan baik bahasa ataupun susunan kalimat meski tangan-tangan kotor telah berupaya untuk merubah dan merusaknya - Al Quran satu-satunya kitab yang bila dibacakan selalu berpengaruh bagi pendengarnya kendatipun sebagian pendengar tidak mengerti bahasanya.
  • Al Quran satu-satunya kitab yang diakui keaslian bahasanya. Karena bahasa Al Quran diseluruh dunia adalah sama. Meski telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa namun tak seorang pun didunia yang mengaku mampu membaca alQuran kecuali dengan membaca bahasa aslinya. Karena itu, orang yang membaca terjemahannya tidak disebut membaca al-Quran.
  • Adakah kitab lain yang dapat menandingi al-Quran?
Semua orang yang mengkaji banding antara satu kitab dengan kitab lainnya dengan objektif pasti akan berkata bahwa al-Quran adalah kitab yang tidak dapat disamakan dengan kitab lainnya. Dan kepada yang mengajak berpikir bebas perlu kita tanyakan: Atas dasar apa anda berkata:
  • Kitab al Qur'an masih diragukan keasliannya, karena baru dibukukan atas perintah Khalifah Utsman bin Affan sesudah Rasulullah saw wafat. Apakan Anda berkata demikian setelah memaca salah satu buku sejarah? Buku sejarah yang anda baca hanyalah karya seorang penulis yang tidak menyaksikan pembukuan al-Quran. Dan anda pun tidak mengenalnya. Mengapa anda percaya begitu saja kepada buku sejarah yang tidak dapat diteliti kebenarannya? Sementara kepada al-Quran anda ragu-ragu. Padahal pembawa al-Quran tidak terhitung jumlahnya sementara pembawa sejarah dapat dihitung dengan jari. Kemudian anda berkata:
  • Al Quran harus dikoreksi segala ketentuan hukumnuya agar sesuai dengan perkembangan zaman kehidupan manusia. Siapakah yang akan mengoreksi ketentuan hukum tersebut? Apakah anda sendiri, dengan keterbatasan ilmu hingga tidak mampu membedakan mana bahasa manusia dan mana bahasa yang telah Allah tetapkan untuk alQuran. Atau anda mengangkat orang lain yang anda percayai, lalu apakah dia mendapat kepercayaan dari para ulama dunia yang telah banyak berbuat untuk umat?
Bila tidak, maka siapa yang akan menerima hasil koreksi tersebut. Kalau tidak ada dapat menyetujui dan mendukung Apakah anda akan terus melakukan hal-hal yang tidak berguna. Sungguh orang yang sehat akan selalu memilih pekerjaan yang berguna bagi umat dan menjauhi yang tidak berguna. Lalu anda berkata:
Dalam perkara yang telah ada ketetapannya dalam al-Quran dan al-Hadis boleh dipertanyakan kebenarannya dan keabasahannnya. Untuk apa anda mempertanyakan hal-hal yang sudah dijadikan pegangan seluruh umat Islam di dunia sejak dahulu? Yang perlu dipertanyakan justru pola berpikir dan keislaman anda kalau anda mengaku seorang muslim.

Bila anda ragu terhadap keaslian al-Quran dan anda memandang hukumnya tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dan mempertanyakan kebenaran dan keabsahan ketetapan al-Quran dan hadis, maka siapa yang mau mengakui ke-islaman anda selain segelintir orang yang terjebak dengan ungkapan anda?

Maka sia-sialah semua yang anda kemukakan kepada kaum muslimin. karena semua umat Islam di dunia akan mengetawakan anda. Mereka lebih percaya kepaa para ulama yang telah banyak berbuat untuk umat daripada anda yang tidak dikenal kecuali melalui pernyataan-pernyataan yang menjatuhkan diri anda sendiri.

Perselisihan, Perbedaan Pendapat

“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” 

(HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)

Tafsir Surat An-Naas

Surat An-Nas ini Makkiyah menurut pendapat paling benar, terdiri dari 6 ayat. Ini merupakan ayat perlindungan yang kedua.


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾

1.  Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2.  Raja manusia.
3.  Sembahan manusia.
4.  Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5.  Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6.  Dari (golongan) jin dan manusia.”

Mana Mufradat:
Arti Mufradat
1. Yang membisikkkan kata-kata jahat di dada manusia. 1.     الوسواس
2. Bentuk hiperbola dari kata Al-Khunus yang berarti kembali atau terlambat. Karena kalau ia diusir ia mundur dan kembali. 2.     الخناس
3. Makhluk tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya selain Penciptanya. 3.     من الجِنَّة
Syarah:

Katakan kepada mereka, “Aku berlindung kepada Allah agar menjagaku dari kejahatan makhluk yang berbisik kepadaku. Aku berlindung kepada Tuhan manusia yang mendidik dan mengambil sumpah kepada mereka di kala mereka kecil atau lemah. Allah telah menguasai urusan mereka dan Dialah Pemilik Manusia.

Dia Ilah mereka dan mereka budak-Nya. Dia yang layak disembah, ditunduki, dan dituju. Sebab Dialah Allah Taala yang menciptakan manusia, menumbuhkembangkan mereka, serta menguasai urusan mereka. Karena

Dialah tempat berlindung dan meminta pertolongan. Bernaung kepada-Nya dari kejahatan bisikan di dalam hati yang biasa menghiasi kejahatan dan menampakkan keburukan dengan bentuk kebaikan. Itulah bisikan yang kebanyakan mengajak kepada larangan, baik dari bangsa jin, makhluk yang tersembunyi, yang mereka itu anak-anak dan tentara iblis atau dari bangsa manusia seperti halnya teman-teman buruk.

Mudah-mudahan kita dipelihara Allah dari kejahatan setan jin dan setan manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Dia juga Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah sendiri telah mengajarkan kita bagaimana berlindung diri dari kejahatan lahir maupun batin.” Wallahu A’lam.

http://www.dakwatuna.com/2010/tafsir-surat-an-naas/

Indahnya Pertemuan itu

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai banyak malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang yang ahli dzikir. Apabila mereka mendapati sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling berseru, ’mari  tunaikan hajat kalian’.”

Rasulullah bersabda,” Lalu mereka menaungi sekelompok orang tersebut dengan sayap-sayap mereka hingga sampai ke langit dunia.”

Beliau  bersabda,” Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka padahal Dia Maha Mengetahui keadaan mereka,’ Apa yang diucakan hamba-hamba-Ku?’”

Beliau  bersabda,” Malaikat menjawab,’ Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid dan memuliakan-Mu’.”
Beliau  bersabda,” Allah Ta’ala berfirman,’ Apakah mereka melihat-Ku?’.”
Beliau  bersabda,”Para malaikat menjawab,’ Demi Allah tidak mereka tidak melihat-Mu’.”
Beliau  bersabda,”Allah berfirman,’ Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’.”
Beliau bersabda,” Para malaikat menjawab,’Jika mereka melihat-Mu, pasti mereka lebih giat beribadah, memuliakan, memuji, dan bertasbih untuk-Mu’.”

Beliau bersabda,”Allah berfirman,’  Apa yang mereka minta kepada-Ku?’.”
Beliau  bersabda,”Para malaikat menjawab,’ Mereka meminta surga kepada-Mu?’.”
Beliau  bersabda,”Allah berfirman,’ Apakah mereka pernah melihatnya?’.”
Beliau  bersabda,” Para malaikat menjawab,’ Wahai Rabb, demi Allah tidak, mereka tidak melihatnya’.”
Beliau bersabda,”Allah berfirman,’ Bagimana seandainya mereka mereka melihatnya?’.’’
Beliau bersabda,”Para malaikat menjawab,’ Seandainya mereka melihatnya pasti mereka lebih semangat, lebih bersungguh-sungguh dan sangat besar kecintaan mereka untuk mendapatkannya’.”

Beliau  bersabda,”Allah berfirman,’ Mereka meminta perlindungan dari apa?’”
Beliau bersabda,” Para malaikat menjawab,’ Dari api neraka’.”
Beliaubersabda,”Allah berfirman,’ Apakah mereka pernah melihatnya?’”
Beliau bersabda,”Para malaikat menjawab,’  Wahai Rabb, demi Allah tidak, mereka tidak melihatnya’.”
Beliau bersabda,”Allah berfirman,’ Bagimana seandainya mereka mereka melihatnya?’.’’
Beliau  bersabda,”Para malaikat menjawab,’ Kalau seandainya mereka melihatnya pasti mereka sangat takut dan menjauhinya’.”

Beliau bersabda,”Allah berfirman,’ Aku persaksikan pada kalian, sungguh Aku telah mengampuni mereka’.”

Beliau bersabda,” Kemudian ada salah satu malaikat berkata,’ Tapi diantara mereka ada si Fulan yang tidak termasuk golongan mereka, dia datang untuk keperluan lain?’”

Allah Berfirman,” Mereka adalah adalah satu mejelis dan orang yang bermajelis dengan mereka tidak 
akan celaka’.” (Mutafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,” Allah ta’ala berfirman,’ Dan baginya ampunan-Ku, karena mereka dan orang yang bermajelis dengan mereka adalah salah satu kaum yang tidak akan celaka’.”

Dikutip dari buku,” Tiket Perjalanan Ke Alam Surga.” Terbitan: Pustaka At-Tibyan

Ulama tapi pencuri

اذا رايت عالم يخلدُ السّلطان مخلطت كثير فاعلم انهَُ لصٌ

”Jika kamu lihat seorang ’alim mendekati penguasa atau banyak campur tangan urusan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri” HR.Muslim

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/hadits/317-ulama-tapi-pencuri.html

Kepada Anda yang Sedang Sakit, Berbahagialah !

Segala puji bagi Allah, yang menentukan segala takdir, yang menyembuhkan segala penyakit serta menyingkirkan segala mcam bentuk musibah. Shalawat dan Salam semoga terlimpahkan kepada NabiNya yang terpilih, kepada sanak keluarga beliau yang mulia serta para sahabat beliau yang terbaik.

Teruntuk mereka yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan berbagai musibah dan kesulitan.
Teruntuk mereka yang Allah kehendaki untuk menjadi lebih bersih melalui terpaan berbagai macam penyakit.

Teruntuk juga mereka yang ingin mengenal dan memahami hakikat penyait yang sedang menimpanya.

Atau, mereka yang kehilangan tenaga dan kesegaran jasmaninya, namun tetap berdzikir kepada Allah bersyukur dan mengharapkan pahala dariNya.

Camkanlah, firman Allah ‘Azza Wa Jalla, artinya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. Al Baqarah : 216).

Wahai Saudaraku yang sedang sakit!

Semoga Allah memberikan kesembuhan dan keselamatan kepadamu. Cobalah sejenak unuk membuka kelopak matamu dalam kesempatan yang selintas ini. Perbesarlah pandangan jiwamu untuk menyelami tulisan singkat yang semoga berisi pelajaran berharga dan ungkapan yang baik ini. Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai hiburan saat dibaca, sebagai obat bagi jiwa yang sedang lemah, dan sebagai jalan untuk bermunajat kepadaNya.

Berbaik Sangka Kepada Allah

Nikmat kesehatan dan ’afiat laksana mahkota raja di atas kepala, yang tidak dapat dilihat kecuali oleh mereka yang sedang terbaring lemas, merana dan merintih menderita sakit di atas ranjang-ranjang putih. Namun, ketahuilah, hal itu merupakan ketetapan Allah Yang Maha Penyayang terhadap setiap hambaNya. Yakinlah, bahwa setiap ketetapan itu tidak lepas dari hikmah dan kasihNya kepada makhlukNya, melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah!!. Ya, demikianlah seorang mukmin mesti bersikap. Ingatlah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, artinya :”Aku tergantung biknya sangka hamba terhadapKu. Jika baik,maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya”. (HR.Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Cobaan adalah Tanda Kasih Allah

Siapa saja yang mencermati perjalanan hidup para nabi dan rasul ’alaihimussalam sebagai orang-orang yang paling dicintai oleh Allah, pasti akan mendapatkan bahwa cobaan adalah garis hidup mereka, kesusahan dan penyakit seolah menjadi senandung mereka.
Betapa tidak, sebab cobaan dan penyakit yang menimpa orang yang memilki hubungan yang baik dengan Allah, lalu ia mendapatkan karunia untuk bisa bersabar, niscaya semua itu menjadi tanda kebaikan dan cinta kasih dari Rabbnya.

Dan hal ini terus berlangsung dalam garis kehidupan mereka dan orang-orang beriman sebagai ujian kebenaran atas keimanan yang terpatri dalam qalbu mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta “ (QS. Al Ankabut : 1-3).

Dari Anas bin Malik radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yag ridha menerima cobaannya, maka ia aman menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kermurkaan Allah” .(HR. Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya” .(HR. Bukhari).

Dan juga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jika sekiranya Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan memberikan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi, Baihaqi).

Sa’ad bin Abi Waqqas pernah ditanya oleh seseorang : ”siapakah yang paling besar cobaannya? ”, beliau menjawab : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Orang yang paling berat cabaannya adalah para nabi, baru diikuti oleh orang di bawah kedudukan mereka secara berturut. Seorang hamba hamaba akan mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kuat, maka cobaan yang menimpanya juga berat. Kalau imannya lemah, maka cabaan yang menimpanya disesuaikan dengan kadar keimanannya. Cobaan akan terus menimpa seorang hamba, sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa memilki dosa lagi.” (HR. Tirmidzi).

Demikianlah, para ulama salaf telah menyelami makna hadits-hadits tersebut sehingga mereka mendapatkan pelita terang di dalamnya. Mereka menganggap bahwa cobaan dan penyakit adalah kenikmatan, kabar gembira dan cinta kasih dari Rabbnya Yang Maha Kasih dan Lembut bagi setiap hambaNya.

Cobaan Adalah Jalan Menuju Jannah

Sekali lagi, sesungguhnya berbagai wabah dan penyakit termasuk di antara bentuk cobaan Allah terhadap para hambaNya, sebagai ujian atas kesabaran dan keimanan mereka. Bahkan bagi orang yang memiliki pemahaman dan daya merenung yang tinggi, bisa menjadi kenikmatan yang besar yang wajib disyukuri. Sebab, berbagai terpaan cobaan dan penyakit tersebut, menjadi jalan diampuninya dosa-dosa dan ditinggikannya derajat mereka di sisi Allah.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahnnya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunya (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).

Begitu pula, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim sampai duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengan itu kesalahan – kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, aku akan mendoakan agar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib? Wanita itu menjawab : Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada berkahnya sama sekali. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi” .( HR. Muslim).

Saudaraku tercinta!.

Kemungkinan engkau memliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat dicapai oleh amal perbuatanmu semata. Allah akan terus menurunkan cobaan kepadamu dengan hikmahNya yang mungkin engkau tidak sukai, lalu Allah memberikan kesabaran kepadamu untuk menghadapiya sehingga engkau mencapai kedudukan tersebut. Bila demikian, kenapa esti bersedih?.

Pahala yang Terus Mengalir

Di antara ke-Maha Lembut-an Allah dan rahmatNya, bahwa apabila Allah menutup satu pintu kebajikan bagi seseorang, pasti Allah akan membukakan banyak pintu kebajikan lain. Lebih dari sekesar pahala yang dituliskan bagi orang yang sakit sebagai balasan dari penyakit dan kesulitan yang dideritanya, Allah ternyata juga tidak menghalangi mereka mendapatkan pahala dari berbagai ibadah yang biasa mereka lakukan, meskipun mereka tidak sempurna melakukannya lagi karena mereka sedang sakit.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :” Kalau seorang hamba sakit atau sedang bepergian, pasti Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia mengamalkan ibadah di masa masih sehat dan sedang bermukim.” (HR. Bukhari).

Dan satu lagi, bahwa setiap keadaan yang dihadapi oleh seorang hamba beriman menjadi kebaikan buat dirinya. Rasulullah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sungguh ajaib kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja. Apabila ia memperoleh kenikmatan akan bersyukur, maka kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Apabila ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itu pu akan menjadi kebaikan buat dirinya”. (HR. Muslim).

Kemuliaan apa lagi yang bisa didapatkan setelah kemuliaan yang Allah berikan ini? Keutamaan apa pula yang lebih luas dari keutamaan Allah yang mengaruniai berbagai keutamaan?.

Saat sakit, seorang hamba beristirahat, namun Allah masih menuliskan pahala dari perbuatan yang diamalkannya di masa sehat.

Akhirnya, Semoga Allah melimpahkan kesehatan kepada Anda, kami dan kepada setiap mreka yang sedang diuji oleh Allah dengan penyakit. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mapu bersyukur dan bersabar. Dan, semoga musibah dan bala’ TIDAK ditimpakan dalam agama kita. Amin, Ya Mujiib As Saa’iliin. (abm)

Referensi : Absyir Ayyuhal Maridh, DR.Muhammad Ar Rukban, Rasaa’il Tarbawiyah, Shalih bin Ali Ab ’Arrad Asy Syahri.

Syarah Hadits Arbain An Nawawiyah Ke 8 (Kehormatan Muslim)



Matan Hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى)  رواه البخاري ومسلم
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka  bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika mereka telah melakukan ini maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Takhrij Hadits:
-          Imam Bukhari, dalam Shahihnya No. 25, dari Ibnu Umar
-          Imam Muslim, dalam Shahihnya No. 35, dari Jabir bin Abdullah, juga No. 36 dari Ibnu Umar
-          Imam Ahmad, dalam Musnadnya No. 8544, dari Abu Hurairah
-          Imam Abu Daud, dalam Sunannya No. 2641, dari Anas bin Malik, dengan lafaz: (…. sampai mereka bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhamamd adalah hamba dan rasulNya, mereka berkiblat dengan kiblat kita, memakan sembelihan kita,  salat dengan shalat kita, dan jika mereka melakukan itu maka haram atas kita terhadap darah dan harta mereka, kecuali karena haknya. Hak mereka sama dengan kaum muslimin, dan apa yang wajib bagi mereka juga wajib bagi  kaum muslimin.)  juga No. 2640, dari Abu Hurairah dengan lafaz: ( … sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah, jika mereka mengatakannya maka mereka tercegah dariku darah dan hartanya, kecuali dengan haknya, dan atas Allah-lah perhitungan mereka).  Lalu No. 2642, dari Abu Hurairah dengan lafaz: (Aku diperintahkan untuk memerangi orang musyrik)
-          Imam At Tirmidzi, dalam Sunannya No. 2608, dari Anas dengan lafaz sama dengan Abu Daud.
-          Imam Ibnu Majah, dalam Sunannya No. 71, dari Abu Hurairah, dengan lafaz lebih singkat: (Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka  bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat). Juga No. 72, dari  Muadz bin Jabal dengan lafaz yang sama.
-          Imam An Nasa’i, dalam Sunannya No. 3967, dari Anas bin Malik dengan lafaz sama dengan riwayat Abu Daud. Juga No. 3966, dari Anas juga dengan lafaz sama dengan Abu Daud  tapi hanya sampai: kecuali karena haknya.
-          Imam Ibnu Khuzaimah, dalam Shahihnya No. 2248, dari Abu Hurairah dengan lafaz:  “… kemudian diharamkan atasku darah dan harta mereka, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.”
Syaikh Al Albani mengatakan: hadits ini shahih mutawatir. (Shahih Ibnu Majah No. 71)

Makna Hadits Secara Global
  1. Hadits ini menyebutkan salah satu metode menyebarkan Islam, yakni berperang. Metode ini bukan metode satu-satunya, dan bukan pula jalan pertama yang ditempuh dalam sejarah awal Islam. Metode utamanya adalah dakwah dengan hikmah dan bukan paksaan, perang ditempuh ketika dakwah Islam dihalang-halangi dan  diganggu. Demikian itulah fakta sejarah yang terjadi.
Allah Ta’ala berfirman:
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ  
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al Baqarah (2): 256)
Ayat lain:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?  (QS. Yunus (10): 99)
Ayat lain:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ  
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An Nahl (16): 125)
Ayat lain:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ   لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS. Al Ghasyiyah (88): 21-22)
Hadits ini sering dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa perang di dalam Islam adalah bersifat ofensif (menyerang), bukan difensif (bertahan). Insya Allah tentang pembahasan perang akan di bahas pada waktunya nanti.
2. Hadits ini mengajarkan dua tujuan utama dakwah Islam, yakni aqidah dan syariah.
Aqidah dengan mentauhidkan Allah Ta’ala dan mengakui kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan, syariah dengan menjalankan –minimal- aturan pokok dalam agama Islam seperti shalat dan zakat, dan syariat lainnya.
3. Hadits ini menegaskan tentang keterjagaan kehormatan dan hak seorang yang sudah bersyahadat, shalat, dan zakat. Posisi mereka sama dengan kaum muslimin lainnya dalam hak dan kewajiban, termasuk dalam perlindungan terhadap darah dan harta mereka.
4. Hadits ini juga memuat bukti kewibawaan Islam, disamping sebagai agama yang mencintai perdamaian.
Allah Ta’ala berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik  maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Asy Syura (42):40)

Makna Kata dan Kalimat

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : Dari Ibnu Umar semoga Allah meridhai keduanya ..
                Tentang Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma telah dijelaskan dalam Syarah hadits ke tiga. Silahkan merujuk ke sana.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: bahwa sesungguhnya  Rasulullah bersabda
أُمِرْتُ :  Aku diperintah, Yaitu Rasulullah diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Syaikh Ismail Al Anshari menjelaskan:
أمرني ربي ، لأنه لا آمر لرسول الله صلى الله عليه وسلم إلا الله عز وجل
“Rabbku memerintahkanku’, karena tidak ada perintah kepada Rasulullah selain dari Allah ‘Azza wa Jalla.” (Tuhfah Rabbaniyah, syarah no. 8)
أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ : untuk memerangi manusia
                Yaitu untuk memerangi orang musyrik yang bukan Ahli Kitab.
Syaikh Ismail Al Anshari menjelaskan:
الناس : المشركين من غير أهل الكتاب ، لرواية النسائي  : أمرت أن أقاتل المشركين حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ، يبين معنى هذه الكلمة
Makna Manusia: yaitu kaum musyrikin selain ahli kitab, sesuai riwayat Imam An Nasa’i, “Aku diperintah untuk memerangi kaum musyrikin sampai mereka bersaksi tiada Ilah selain Allah,” riwayat ini menjelaskan makna kalimat ini. (Ibid)
Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:
قال الخطابي وغيره: المراد بهذا أهل الأوثان ومشركو العرب ومن لا يؤمن دون أهل الكتاب، ومن يقر بالتوحيد
Al Khathabi dan lainnya mengatakan: maksudnya adalah para penyembah berhala dan kaum musyrikin Arab dan orang yang tidak beriman kepada Allah selain Ahli Kitab dan yang mengikrarkan tauhid. (Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 54. Maktabah Al Misykah)
Hal ini sesuai pula dengan ayat:
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ
“Maka perangilah orang-orang musyrik di mana pun kalian temui mereka.” (QS. At Taubah (9): 5)
Ayat lain:
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً
“Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka telah memerangimu semua.” (QS. At Taubah (9): 36)

Dalam ayat lain:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah  dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal (8): 39)
Berkata Imam Ibnu Katsir Rahmatullah ‘Alaih:
وقال الضحاك، عن ابن عباس: { وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ } يعني: [حتى]   لا يكون شرك، وكذا قال أبو العالية، ومجاهد، والحسن، وقتادة، والربيع عن أنس، والسدي، ومُقاتِل بن حَيَّان، وزيد بن أسلم.
Adh Dhahak mengatakan, dari Ibnu Abbas (Dan perangilah mereka supaya jangan ada finah) yakni  (sampai) tidak ada kesyirikan. Demikian juga yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Al Hasan, Qatadah, Ar Rabi’ bin Anas, As Suddi, Muqatil bin Hayyan, dan Zaid bin Aslam. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/56)

حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ : sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah
                Yakni mereka diajak untuk mengikrarkan kalimat tauhid secara sadar dan mengerti, serta  menjalankan konsekuensinya tidak sekedar ucap.
                Di antara konsekuensinya adalah:
 وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ : mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat
                Maka, tidak dibenarkan mengaku muslim hanya sekedar bersyahadat tanpa melakukan perbuatan yang menjadi tuntutan bagi orang yang bersyahadat, di antaranya menegakkan shalat dan menunaikan zakat.
Berkata Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id:
فلا يكفي في عصمته بقوله: لا إله إلا الله، إذ كان يقولها في كفره وهي من اعتقاده
“Tidak cukup untuk mendapatkan keterjagaan (Ishmah) hanya dengan mengucapkan Laa Ilaha Illallah, karena ucapan itu juga telah mereka katakan ketika masa-masa kafir dahulu dan telah menjadi keyakinannya.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 54. Maktabah Al Misykah)
                Jadi, orang-orang kafir terdahulu mereka pun menyakini ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi mereka sama sekali tidak menjalankan tuntutan dari kalimat tersebut.
                Imam An Nawawi menambahkan:
ولا بد مع هذا من الإيمان بجميع ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم كما جاء في الرواية الأخرى لأبي هريرة: "حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ويؤمنوا بي وبما جئت به“
                “Disamping kalimat ini, dia juga mesti mengimani semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana terdapat dalam riwayat lain dari Abu Hurairah: “sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah, mengiman saya, dan apa yang saya bawa.”  (Ibid)
فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ  : maka jika mereka sudah melakukan itu
                Yakni jika mereka sudah mengikrarkan dua syahadat dan menjalankan konsekuensi kalimat syahadat. (Untuk masalah posisi dua limat syahadat di dalam Islam dan hak apa yang diperoleh seseorang yang sudah mengikrarkannya sudah kami bahas pada Syarah hadits ke tiga)
 عَصَمُوا مِنِّي  : mereka telah terjaga dariku
                Yaitu: منعوا وحفظوا : mereka telah tercegah dan terjaga (At Tuhfah, Syarah No. 8)
                Mereka telah mendapat jaminan keamanan dari syariat Islam. Maka, mengganggu mereka adalah haram.
دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ : darah mereka dan harta mereka
                Darah dan harta mereka terlindungi tidak boleh diganggu sedikit pun.
  
               
Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
أي فلا يحل أن أقاتلهم وأستبيح دماءهم، ولا أن أغنم أموالهم، لأنهم دخلوا في الإسلام.
“Yaitu tidak dihalalkan memerangi mereka dan menumpahkan darah mereka, dan tidak boleh menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, karena mereka sudah masuk Islam.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 124. Mawqi’ Ruh Al Islam)

إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ : kecuali dengan haq Islam 


                Yaitu kecuali jika mereka melakukan kejahatan, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan lainnya, maka mereka akan mendapatkan hukuman, berupa qishash, dera, dan rajam. Hal ini berlaku umum untuk semua muslim, bukan hanya mereka. Syaikh Ibnul ‘Utsaimin mengatakan:

هذا استثناء لكنه استثناء عام، يعني: إلا أن تباح دماؤهم وأموالهم بحق الإسلام، مثل: زنا الثيّب، والقصاص وما أشبه ذلك، يعني: إلا بحق يوجبه الإسلام.
“Ini adalah pengecualian tetapi pengecualian yang umum, maknanya dikecualikan penghalalan terhadap darah dan harta mereka karena hak Islam, seperti: zinanya orang yang telah bersuami, qishas, dan yang semisalnya, makna kecuali dengan hak , yaitu: yang diwajibkan oleh Islam.” (Ibid)

  :وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى dan atas Allah-lah perhitungan mereka

                Berkata Imam Al Khathabi Rahimahullah:

 وفيه أن من أظهر الإسلام وأسر الكفر يقبل إسلامه في الظاهر وهذا قول أكثر أهل العلم وذهب مالك إلى أن توبة الزنديق لا تقبل وهي رواية عن الإمام أحمد.
“Dalam hadits ini  menunjukkan bahwa orang yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran, maka secara zahir keislamannya itu diterima. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dan,  pendapat Imam Malik menyebutkan bahwa tobatnya orang zindik tidaklah diterima, dan ini juga pendapat Imam Ahmad.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 55)

                Seandainya, ada orang yang pura-pura masuk Islam, maka kita melihat secara zahirnya saja bahwa dia seorang Muslim. Itulah yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan dalam menyikapi Abdullah bin Ubai , seorang tokoh munafiq saat itu. Secara zahir dia menampakkan keislaman, walau di hatinya dia amat membenci Islam, nabi, dan para sahabat.

Wallahu A’lam wa ilaihil musytaka …….
Oleh: Farid Nu’man Hasan
http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/215