Agung Yulianto Pelajaran Berpikir Positif dari Surat Adh-Dhuha
Surat Adh-Dhuha memberikan pengajaran dengan sangat mendalam tentang Berpikir Positif. Di lain pihak, Shalat Sunnah Dhuha banyak dianggap sebagai Shalat Sunnah mohon rezki. Lantas apa hubungan dari hal itu semua?
Arti dari Dhuha adalah saat matahari naik di pagi hari. Oleh karena itu waktu ideal melaksanakan shalat Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalan atau sekitar pukul 8, walaupun diperkenankan sejak matahari mulai terbit (sekitar pukul 6.00 s.d 6.30).
Surat ini dimulai dengan qasam (sumpah) dengan huruf wâw (و) dan dhuhâ (ضُحَى) sebagai muqsamu bih-nya (مُقْسَمٌ بِهِ, obyek yang digunakan untuk bersumpah). Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah al-Qur’an dengan wâw mengandung makna pengagungan terhadap muqsamu bih (مُقْسَمٌ بِهِ). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar. Menurut Muhammad Abduh, sumpah dengan dhuhâ (cahaya matahari di waktu pagi) dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya dan besarnya kadar kenikmatan di dalamnya. Berarti pada saat matahari naik di pagi hari (Dhuha) dan pada saat sunyinya malam ada rahasia penting tentang nikmat Allah di dalamnya.
Mari kita renungkan satu persatu lanjutan ayat-ayatnya.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”
Para mufassir sepakat bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhan nya dan dibenci-Nya.
Ayat ini memberikan taujih (arahan) kepada Rasulullah SAW agar tetap berpikir positif kepada Allah SWT, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk seperti yang ada di pikiran orang-orang munafik dan musyrik.
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk…” (QS. 48 ayat 6)
Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْفَأَلَ و يَكْرَهُ التَّسَاؤُم
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Hadits)
Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”
Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat yang seluas lautan itu sendiri.
Bagaimana agar kita selalu berpikir positif? Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ, وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”
Ingat, renungkan rasakan betapa luas nikmat Allah kepada kita. Apa nikmat Allah yang paling Anda syukuri? Di antaranya adalah, Anda bisa melihat tulisan ini, yang melibatkan kerja milyaran sel, prajurit-prajurit Allah SWT. Bagaimana jika sel-sel itu tidak bekerja?
Yuk kita bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan. Nikmat sekecil apapun! Dengan lisan ucapkan “Alhamdulillah”, didukung dengan pikiran dan perasaan kita. Sampaikan rasa terima kasih tak berhingga seperti seorang pengemis yang berhari-hari kekurangan makan dan diberi makan oleh seorang kaya, seperti seorang pasien yang sudah berbulan-bulan menderita sakit dan disembuhkan dengan bantuan seorang dokter. Yang Allah berikan kepada kita lebih dari orang kaya dan dokter tersebut di atas, namun mengapa kita lupa mengucapkan terima kasih kepada-Nya? Pantas jika Allah belum menambah nikmat kepada kita, nikmat-nikmat yang lalu saja belum kita syukuri sebagaimana mestinya.
Kalaupun ada kesulitan dan kekurangan dalam hidup kita, tetap saja karunia dan kelimpahan dari Allah masih jauh lebih besar. Lihatlah ke bawah, orang-orang yang lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita, lebih miskin dari kita. Jangan selalu melihat ke atas. Melihat ke bawah akan menghaluskan jiwa, melembutkan perasaan, menghidupkan syukur dan mengobati stress, ketidakpuasan dan putus asa.
Setelah bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan, syukur sejati adalah syukur dengan ‘amal.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ, وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
Seorang yang bersyukur akan memanfaatkan nikmat-nikmat yang diperolehnya untuk ibadah, amal shalih, dan perbuatan baik terhadap sesama. Itulah yang dimaksud dalam ayat pamungkas surat ini :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Wallahu a’lam. []
Oleh: Agung Yulianto
http://www.dakwatuna.com/2009/pelajaran-berpikir-positif-dari-surat-adh-dhuha/
Arti dari Dhuha adalah saat matahari naik di pagi hari. Oleh karena itu waktu ideal melaksanakan shalat Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalan atau sekitar pukul 8, walaupun diperkenankan sejak matahari mulai terbit (sekitar pukul 6.00 s.d 6.30).
Surat ini dimulai dengan qasam (sumpah) dengan huruf wâw (و) dan dhuhâ (ضُحَى) sebagai muqsamu bih-nya (مُقْسَمٌ بِهِ, obyek yang digunakan untuk bersumpah). Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah al-Qur’an dengan wâw mengandung makna pengagungan terhadap muqsamu bih (مُقْسَمٌ بِهِ). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar. Menurut Muhammad Abduh, sumpah dengan dhuhâ (cahaya matahari di waktu pagi) dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya dan besarnya kadar kenikmatan di dalamnya. Berarti pada saat matahari naik di pagi hari (Dhuha) dan pada saat sunyinya malam ada rahasia penting tentang nikmat Allah di dalamnya.
Mari kita renungkan satu persatu lanjutan ayat-ayatnya.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”
Para mufassir sepakat bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhan nya dan dibenci-Nya.
Ayat ini memberikan taujih (arahan) kepada Rasulullah SAW agar tetap berpikir positif kepada Allah SWT, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk seperti yang ada di pikiran orang-orang munafik dan musyrik.
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk…” (QS. 48 ayat 6)
Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْفَأَلَ و يَكْرَهُ التَّسَاؤُم
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Hadits)
Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”
Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat yang seluas lautan itu sendiri.
Bagaimana agar kita selalu berpikir positif? Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ, وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”
Ingat, renungkan rasakan betapa luas nikmat Allah kepada kita. Apa nikmat Allah yang paling Anda syukuri? Di antaranya adalah, Anda bisa melihat tulisan ini, yang melibatkan kerja milyaran sel, prajurit-prajurit Allah SWT. Bagaimana jika sel-sel itu tidak bekerja?
Yuk kita bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan. Nikmat sekecil apapun! Dengan lisan ucapkan “Alhamdulillah”, didukung dengan pikiran dan perasaan kita. Sampaikan rasa terima kasih tak berhingga seperti seorang pengemis yang berhari-hari kekurangan makan dan diberi makan oleh seorang kaya, seperti seorang pasien yang sudah berbulan-bulan menderita sakit dan disembuhkan dengan bantuan seorang dokter. Yang Allah berikan kepada kita lebih dari orang kaya dan dokter tersebut di atas, namun mengapa kita lupa mengucapkan terima kasih kepada-Nya? Pantas jika Allah belum menambah nikmat kepada kita, nikmat-nikmat yang lalu saja belum kita syukuri sebagaimana mestinya.
Kalaupun ada kesulitan dan kekurangan dalam hidup kita, tetap saja karunia dan kelimpahan dari Allah masih jauh lebih besar. Lihatlah ke bawah, orang-orang yang lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita, lebih miskin dari kita. Jangan selalu melihat ke atas. Melihat ke bawah akan menghaluskan jiwa, melembutkan perasaan, menghidupkan syukur dan mengobati stress, ketidakpuasan dan putus asa.
Setelah bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan, syukur sejati adalah syukur dengan ‘amal.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ, وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
Seorang yang bersyukur akan memanfaatkan nikmat-nikmat yang diperolehnya untuk ibadah, amal shalih, dan perbuatan baik terhadap sesama. Itulah yang dimaksud dalam ayat pamungkas surat ini :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Wallahu a’lam. []
Oleh: Agung Yulianto
http://www.dakwatuna.com/2009/pelajaran-berpikir-positif-dari-surat-adh-dhuha/
Samudra Kebaikan
Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Alhamdulillah itu memberatkan timbangan. Subhanallah dan Alhamdulillah keduanya memenuhi ruang antara langit dan bumi. Shalat itu adalah cahaya, shadaqah itu adalah burhan (bukti/petunjuk). Kesabaran adalah cahaya. Al-Qur’an adalah hujjah (bukti) untuk membelamu atau menentangmu. Setiap manusia bekerja, maka ada yang menjual dirinya dengan bekerja berat untuk keselamatannya atau kehancurannya.” (HR. Muslim)
Takhrij Hadits
Hadits ini (sebagaimana teks hadits di atas, riwayat Imam Muslim) melalui jalur Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari dari Abu Sallam dan Zaid, diriwayatkan oleh:
• Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Thaharah, Bab Fadhl Al-Wudhu’, hadits no. 328.
• Imam Turmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Da’awat ‘Anir Rasul, Bab Minhu, hadits no. 3439, dengan sanad serupa.
• Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Zakat, Bab Wujub Al-Zakat, hadits no. 2394, dengan sanad serupa.
• Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam dua tempat yaitu pada Baqi Musnad Al-Anshar, Hadits Abi Malik Al-Anshari, hadits no 21828 dan no 21834, keduanya dengan sanad serupa.
• Imam Al-Darimi dalam Sunannya, Kitab Al-Thaharah, Bab Ma Ja’a Fi Al-Thahur, hadits no. 651, dengan sanad serupa.
Gambaran Tentang Hadits
Hadits di atas memberikan gambaran kepada kita, betapa sesungguhnya “peluang” dan kesempatan untuk melakukan amal kebaikan begitu terbuka lebar. Hadits dibuka dengan ungkapan Rasulullah saw. ; “Kebersihan adalah bagian dari iman”. Yaitu bahwa Islam merupakan Diin yang membawa manusia pada hakekat kesucian. Baik kesucian yang bersifat lahiriyah seperti wudhu dan mandi, ataupun kesucian yang sifatnya ma’nawiyah, seperti kesucian hati dan jiwa. Ini semua artinya bahwa Islam ditegakkan atas prinsip kesucian. Segala sesuatu harus dimulai dari kesucian, baik kesucian niat maupun kesucian fisik dan pakaian, seperti shalat, membaca Al-Qur’an dsb.
Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan bahwa segala amal kebaikan adalah shadaqah. Mengucapkan alhamdulillah, subhanallah, shalat, shadaqah, kesabaran, membaca Al-Qur’an dan sebagainya. Masing-masing dari kebaikan tersebut memiliki nilai luhur yang mulia, meskipun merupakan hal-hal sesungguhnya sangat sederhana.
Namun pada akhirnya, manusia sendirilah yang akan menentukan arah dan tujuan hidupnya. Rasulullah saw. mengatakan, “Setiap manusia itu bekerja, maka ada yang menjual dirinya dengan bekerja berat untuk keselamatannya atau kecelakaannya.” Artinya, ada manusia yang menjual dirinya kepada Allah swt. dengan melakukan segala ketaatan, dan oleh karenanya ia membebaskan dirinya dari azab api neraka. Namun ada juga yang menjual dirinya kepada syaitan, dengan berlaku sebaliknya; senantiasa bergelimang dengan kemaksiatan, maka ia telah menghancurkan dirinya dan menjerumuskannya ke dalam api neraka.
Kebersihan Adalah Setengah Dari Iman
Dalam Syarah Muslimnya, Imam Nawawi mengemukakan bahwa di antara makna ‘kebersihan bagian dari iman’, adalah :
1. Bahwa pahala dalam bersuci dapat berlipat pahalanya sampai setengahnya pahala keimanan.
2. Bahwa ‘keimanan’ akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan seseorang sebelumnya, demikian juga dengan wudhu. Karena wudhu tidak sah dilaksanakan tanpa iman…
Hikmah yang dapat dipetik dari keharusan adanya proses ‘thaharah’ ini adalah bahwa seluruh ibadah yang dilakukan oleh setiap hamba Allah adalah bertujuan untuk ‘mensucikan’ pelakunya sendiri dari karat-karat dan noda kehidupan dunia. (QS. Al-Maidah: 6)
Hikmah lain adalah, bahwa sesungguhnya Allah swt. sendiri sangat mencintai orang-orang yang senantiasa bersuci (QS. Al-Baqarah: 222), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang senantiasa mensucikan diri.”
Karena dengan bersuci, dosa-dosa seseorang akan diampuni oleh Allah swt.. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Utsman bin Affan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang berwudhu kemudian ia menyempurnakan wudhu’nya, maka akan keluar dosa-dosa dari jasadnya, hingga keluar (dosa-dosanya tersebut) dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim)
Fadhilah Subhanallah Dan Alhamdulillah
Hadits di atas menggambarkan bahwa “Alhamdulillah” memberatkan timbangan. Bahkan Rasulullah saw. mengulanginya lagi dengan mengatakan bahwa fadhilah, “subhanallah” dan “Alhamdulillah” adalah akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Dalam hadits lain, Rasulullah saw. menguatkan fadhilah”dzikir” ini dengan mengatakan : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan namun berat di atas timbangan dan disukai oleh Allah yang Maha Rahman, yaitu “subhanallah wa bihamdihi” dan “subhanallahil adzim”. (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang bertasbih seratus kali pada setiap selesai shalat, dan bertahlil seratus kali, maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun dosa-dosanya tersebut seumpama buih di lautan. (HR. Nasa’i)
Urgensi Dzikrullah Dalam Kehidupan Muslim
Rasulullah saw. juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR. Bukhari)
Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah saw. juga mengumpamakannya dengan rumah. Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.
Seorang mu’min yang senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa. Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak-poranda.
Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak mungkin memisahkan dzikir dengan hati. Karena pemisahan seperti ini pada hakekatnya sama seperti pemisahan ruh dan jasad dalam diri insan. Seorang manusia sudah bukan manusia lagi manakala ruhnya sudah hengkang dari jasadnya. Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)
Ketenangan hati juga berkaitan erat dengan kebersihan hati. Hati yang tidak bersih, tidak dapat menjadikan diri insan menjadi tenang. Bahkan penulis melihat bahwa kebersihan hatilah yang menjadi pondasi tegaknya bangunan ketenangan hati. Dan disinilah dzikir dapat mengantisipasi hati menjadi bersih, sebagaimana dzikir juga dapat menjadikan hati menjadi tenang. Dan ini pulalah letak urgensitas dzikir dalam hati seorang da’i.
Adalah suatu hal yang teramat tabu bagi seorang da’i, meninggalkan dzikir dalam setiap detik yang dilaluinya. Karena dzikir memiliki banyak keistimewaan yang teramat penting guna menjadi bekalan da’wah yang akan mereka lalui. Salah seorang salafuna saleh ada yang mengatakan,
“Lisan yang tidak berdzikir adalah seperti mata yang buta, seperti telinga yang tuli dan seperti tangan yang lumpuh. Hati merupakan pintu besar Allah yang senantiasa terbuka antara hamba dan Rabnya, selama hamba tersebut tidak menguncinya sendiri.”
Adalah Syekh Hasan al-Basri, mengungkapkan dalam sebuah kata mutiara yang sangat indah: “Raihlah keindahan dalam tiga hal; dalam shalat, dalam dzikir dan dalam tilawatul Qur’an, dan kalian akan mendapatkannya…. Jika tidak maka ketahuilah, bahwa pintu telah tertutup.”
Inilah pentingnya dzikir bagi kebersihan hati seorang da’i. Dengan dzikir, seorang hamba akan mampu menundukkan syaitan, sebagaimana syaitan menundukkan manusia yang lupa dan lalai. Dengan dzikir pulalah, amal shaleh menjadi hidup. Dan tanpa dzikir, amal shaleh seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Akankan aktifitas da’wah yang dilakukan da’i menjadi seperti jasad tanpa ruh?
Shalat Adalah Cahaya
Shalat merupakan kewajiban seorang muslim dalam seluruh masa dari kehidupannya, dan merupakan rukun Islam kedua. Dalam hadits di atas Rasulullah saw. menggambarkan bahwa “shalat adalah cahaya”, Imam Nawawi mengemukakan, bahwa terdapat beberapa makna mengenai hal ini :
• Bahwa shalat mencegah dari kemaksiatan, membentengi dari perbuatan keji dan kemungkaran dan menunjukkan pada kebenaran, sebagaimana cahaya menerangi jalannya.
• Bahwa pahala dari shalat itu akan menjadi cahaya bagi pelakunya pada hari kiamat kelak.
• Bahwa shalat itu akan menjadi cahaya yang terlihat terang pada wajah pelakunya di hari kiamat, dan di duniapun seseorang yang shalat akan terlihat pada wajahnya kecerahan, berbeda dengan orang-orang yang tidak shalat.
Dalam Al-Qur’an Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Shalat merupakan cahaya ma’nawi yang menerangi jalan hidayah dan kebenaran sebagaimana cahaya menerangi jalan yang lurus dan akhlak yang benar, dengannya seorang muslim akan menjadi orang yang berwibawa dan terhormat di dunia dan wajahnya akan bersinar pada hari kiamat. Dalam ayat lain, Allah mengatakan, “Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Shadaqah Adalah Burhan (Bukti/ Petunjuk)
Shadaqah merupakan ‘bukti’ dari ‘keimanan’ seseorang. Karena orang yang beriman senantiasa akan menyisihkan sebagian hartanya untuk shadaqah fi sabilillah. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah swt. Mengatakan, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Ayat di atas menggambarkan bahwa seseorang tidak akan pernah mencapai derajat ‘kebaikan’ hingga ia mau menginfakkan di jalan Allah, harta yang paling dicintainya. Dan dari ayat tersebut, terlahir sebuah kisah, bagaimana salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abu Thalhah ketika mendengar ayat ini beliau langsung pergi menemui Rasulullah saw.. Beliau mengatakan bahwa harta yang paling dicintainya adalah Bairaha, yaitu sebidang tanah yang berada persis di depan masjid nabawi.
Bahkan diriwayatkan Rasulullah saw. sangat menyukai untuk memasuki tanahnya tersebut untuk meminum air dari mata air yang terdapat di dalamnya. Beliau mengemukakan bahwa tanahya itu diinfakkan fi sabilillah. Ketika itu Rasulullah saw. mengatakan, bahwa ini adalah harta yang menguntungkan, ini adalah harta yang menguntungkan.
Disamping itu, Allah swt. juga menjanjikan kepada orang-orang yang mau berinfak dengan balasan pahala yang demikian besar. Dalam Al-Qur’an Allah swt. Mengatakan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Oleh: Rikza Maulan, M.Ag
http://www.dakwatuna.com/2008/samudra-kebaikan/
Tafsir Surat An-Naba’
”Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, Yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, Selain air yang mendidih dan nanah, Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, Dan gadis-gadis remaja yang sebaya, Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”.
Pengantar
Juz ini seluruhnya termasuk surat ini memiliki karakter yang umum surat Makkiyah, kecuali dua surat yaitu surat Al-Bayyinah dan An-Nashr. Semuanya merupakan surat-surat pendek yang berbeda beda satu lama lain. Dan yang terpenting dalam hal ini adalah karakter khususnya yang menjadikannya sebagai satu kesatuan saling berdekatan tema dan arahnya, kesannya, gambarannya, ba yang -ba yang nya, dan uslub nya ‘metodenya’ secara umum.
Juz ini merupakan ketukan-ketukan beruntun yang keras, kuat, dan tinggi nadanya terhadap perasaan. Juga teriakan terhadap orang-orang yang tidur lelap atau orang-orang yang mabuk kepayang . Atau, terhadap orang-orang yang bermain-main sambil begadang dan menari-nari dengan hiruk-pikuk, bersiul-siul, dan bertepuk tangan. hati dan perasaan mereka terus-menerus diketuk dengan ketukan-ketukan dan teriakan-teriakan dari surat-surat dalam juz ini, yang semuanya dengan nada dan peringatan tunggal, “Ingatlah! Sadarilah! Lihatlah! Perhatikanlah! Pikirkanlah! Renungkanlah bahwa di sana ada Tuhan, di sana ada pengaturan, di sana ada takdir, di sana ada ketentuan, di sana ada ujian, di sana ada tanggung jawab, di sana ada perhitungan, di sana ada pembalasan, dan di sana ada azab yang pedih dan nikmat yang besar. Ingatlah, sadarilah, lihatlah, perhatikanlah, pikirkanlah, renungkanlah. Demikianlah pada kali lain, pada kali ketiga, keempat, kelima, dan kesepuluh.”
Di samping ketukan-ketukan, seruan- seruan, dan teriakan-teriakan itu, ada tangan kuat yang mengguncang orang-orang yang tidur, mabuk, dan terlena, dengan guncangan yang keras. Seakan-akan mereka sedang membuka matanya dan melihat dengan ter bingung-bingung, lalu kembali kepada keadaannya semula. Maka, kembalilah tangan kuat itu mengguncang mereka dengan guncangan yang keras, teriakan keras terdengar kembali, dan ketukan-ketukan keras pun mengenai pendengaran dan hati mereka lagi. Kadang-kadang orang-orang yang tidur tadi terbangun sedikit dan berkata dalam kebandelan dan kekerasan hatinya, ‘Tidak…!” Kemudian melempari orang yang berseru dan memberi peringatan itu dengan batu dan caci maki, lalu mereka kembali kepada keadaan semula lagi. Kemudian mereka diguncang dengan guncangan baru lagi.
Demikianlah yang dirasakan ketika membaca surat Ath-Thaariq ayat 5, Al-Ghaasyiyah ayat 17-20, An-Naazi’aat ayat 27-33, An-Naba’ ayat 6-16, ‘Abasa ayat 24-32, Al-Infithaar ayat 6-8, Al A’1aa ayat 1-5, At-Tiin ayat 4-8, At-Takwiir ayat 1-14, Al-Infithaar ayat 1-5, Al-Insyiqaaq ayat 1-5, dan Al-Zalzalah ayat 1-5. Juga ketika membaca isyarat-isyarat Ialam pada permulaan dan pertengahan 1-8, dan Adh-Dhuhaa ayat 1-2.
Juz ini secara keseluruhan menekankan pembicaraan tentang kejadian pertama manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya di muka bumi seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Juga menekankan pembicaraan tentang pemandangan-pemandangan alam; ayat-ayat Allah yang terbuka; pemandangan-pemandangan hari kiamat yang keras, mengerikan, mengagetkan, menggemparkan, dan menakutkan; dan pemandangan-pemandangan yang berupa hisab dan pembalasan dengan kenikmatan dan azab dalam gambaran-gambaran yang mengetuk hati, membingungkan, dan mengguncangkan, seperti pemandangan kiamat nya semesta raya yang amat besar dan menakutkan.
Semua itu menjadi bukti adanya penciptaan, pengaturan, dan penciptaan ulang dengan timbangan-timbangan dan ukuran-ukurannya yang pasti, di samping untuk mengetuk, menakut-nakuti, dan memperingatkan hati manusia. Kadang-kadang paparan-paparan ini diiringi dengan menampilkan kisah-kisah dan pemandangan-pemandangan orang dahulu yang mendustakan ayat-ayat Allah dengan segala akibatnya. Seperti itulah kandungan juz ini seluruhnya, tetapi kami hanya ingin menunjuk beberapa contoh saja di dalam pengantar ini.
Surat An-Naba’ secara keseluruhan merupakan contoh yang sempurna bagi penekanan pembicaraan terhadap hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan ini. Surat semacam surat An-Naazi’aat dan surat ‘Abasa, bagian permulaannya mengandung isyarat mengenai suatu peristiwa tertentu di antara peristiwa-peristiwa dakwah. Sedangkan, sisanya secara keseluruhan merupakan pembahasan tentang kehidupan manusia dan tumbuh-tumbuhan. Setelah itu, diceritakan tentang datangnya suara yang memekakkan telinga (yaitu ditiup nya sangkakala kedua),
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dengan gembira ria. Banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (‘Abasa: 34-41)
Surat At-Takwiir menggambarkan pemandangan tentang ter bolak-baliknya alam semesta secara dahsyat dan menakutkan pada hari itu, disertai dengan menampilkan pemandangan-pemandangan alam dalam bentuk-bentuk sumpah yang menunjukkan hakikat wahyu dan kebenaran Rasul. Demikian juga surat Al-Infithaar yang menampilkan pemandangan tentang ter bolak-baliknya alam beserta pemandangan tentang nikmat dan azab, dan mengguncang hati manusia di depan semua itu,
‘Hai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah ?” (Al Infithaar: 6)
Pemandangan alam dan pemandangan-pemandangan hari itu dengan menunjuk penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap segolongan kaum mukminin di dunia dengan api, dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka (orang-orang kafir) itu di akhirat dengan api neraka yang lebih dahsyat dan lebih menyakitkan.
Surat Ath-Thaariq memaparkan pemandangan-pemandangan alam di samping tentang penciptaan manusia dan tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan sumpah bagi semuanya, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. “(Ath Thaariq:13-14)
Surat Al-A’laa membicarakan penciptaan, penyempurnaan ciptaan, takdir, hidayah, dan penumbuhan tumbuh-tumbuhan dan perkembangannya sebagai pengantar bagi pembicaraan tentang peringatan, akhirat, hisab, dan pembalasan. Surat Al-Ghaasyiyah menggambarkan pemandangan-pemandangan tentang kenikmatan dan azab, kemudian mengarah kepada penciptaan unta, langit bumi, dan gunung-gunung. Hingga akhir juz gambaran pemandangan-pemandangan seperti itu diberikan.
Namun, ada beberapa surat yang membicarakan hakikat aqidah dan manhaj iman, seperti surat Al-Ikhlash, surat Al-Kaafiruun, surat Al-Maa’uun, surat Al-’Ashr, surat Al-Qadr, dan surat An-Nashr. Atau, beberapa surat yang menggembirakan hati Rasulullah saw, menenangkannya, dan mengarahkannya untuk memohon perlindungan kepada Tuhannya dari semua kejelekan dan kejahatan, seperti surat Adh-Dhuhaa, Al-Insyirah (Alam Nasyrah), Al-Kautsar, Al-Falaq, dan surat An-Naas, yang merupakan surat-surat pendek.
Di sana terdapat fenomena lain di dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimatnya dalam juz ini. Ada keelokan yang jelas di dalam pengungkapan nya yang disertai dengan sentuhan-sentuhan yang dituju di tempat-tempat yang indah di alam dan di dalam jiwa. Juga ada kemasan bahasa yang indah di dalam lukisan-lukisannya, bayang-ba yangnya, kesan-kesan musikalnya, rima (persamaan bunyi) dan iramanya, dan pembagian segmen nya yang sangat selaras dengan karakternya di dalam berbicara kepada orang-orang yang lengah, tidur, dan tidak ambil peduli. Tujuannya untuk menyadarkan mereka dan menarik perasaan dan indra mereka dengan bermacam-macam warna, kesan, dan pengaruh.
Semua ini tampak jelas dalam gambaran yang terang benderang seperti dalam pengungkapan nya yang halus tentang bintang-bintang yang beredar dan bersembunyi (tenggelam) seperti kijang yang bersembunyi dalam persembunyiannya lalu muncul keluar. Juga tentang malam yang seakan-akan ia itu makhluk hidup yang meronda dalam kegelapan, dan waktu fajar yang seakan-akan makhluk hidup yang bernafas dengan cahaya,
“sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”(At Takwiir: 15-18)
Di dalam menampilkan pemandangan saat terbenamnya matahari, malam, dan rembulan, dilukiskan,
Maka Sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, Dan dengan bulan apabila jadi purnama, (Al Insyiqaaq: 16-18)
Atau, pemandangan-pemandangan tentang fajar dan malam hari yang terus berjalan dan berlalu,
‘Demi fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. ” (Al Fajr: 1-4)
“Demi waktu Dhuha, dan malam bila gelap gulita. ” (Adh Dhuhaa: 1-2)
Di dalam firman Nya yang diarahkan kepada hati manusia, dikatakan,
‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang “(Al Infithaar: 6-7)
Kemudian dalam menyifati surga, Dia berfirman,
‘Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam surga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. “(Al Ghaasyiyah: 8-11)
Dalam menyifati neraka, Dia berfirman,
‘Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hamiyah. Tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (Al Qaari’ah: 8-11)
Keindahan ungkapannya begitu jelas, sejelas maksud sentuhannya yang indah terhadap pemandangan-pemandangan alam dan relung-relung jiwa. Kadang-kadang tidak dipergunakan perkataan yang lugas, tetapi dipergunakannya kata konotasi, kata kiasan. Kadang-kadang tidak dipergunakan kata-kata yang dekat dengan objek pembicaraan, melainkan digunakan bentukan kata yang jauh. Tujuannya untuk mewujudkan nada-nada instrumental yang dimaksud dan menegaskan peralihan di celah-celah juz ini dengan mendekatkan satu sama lain.
Surat An-Naba’ adalah sebuah contoh bagi arah juz ini dengan tema-tema nya, hakikat-hakikatnya, kesan-kesannya, lukisan-lukisannya, bayang -bayang nya, nuansa musikalnya, sentuhan-sentuhannya pada alam dan jiwa serta dunia dan akhirat, dan pilihan kata dan kalimat-kalimatnya untuk menguatkan kesan dan pengaruhnya di dalam perasaan dan hati.
Surat ini dimulai dengan pertanyaan yang mengisyaratkan dan mengesankan besar dan agungnya hakikat yang mereka perselisihkan. Yaitu, persoalan besar yang tidak ada keraguan padanya dan tidak ada syubhat. Pertanyaan ini diakhiri dengan mengemukakan ancaman kepada mereka terhadap hari yang kelak akan mereka ketahui hakikatnya,
‘Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 1-5)
Dari sana kemudian segmen berikutnya beralih dari makna pembicaraan itu, dari berita ini, dan dibiarkannya ia hingga waktunya kemudian dibawanya mereka beralih kepada sesuatu yang terjadi di hadapan mereka dan di sekitar mereka, mengenai diri mereka sendiri dan alam semesta yang padanya terdapat persoalan yang besar juga. Alam itu menunjukkan sesuatu yang ada di baliknya dan mengisyaratkan kepada apa yang akan dibacanya,
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (An Naba’: 6-16)
Dari kumpulan hakikat-hakikat, pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan kesan-kesan ini mereka dibawa kembali kepada berita besar yang mereka perselisihkan dan yang diancamkan kepada mereka pada hari mereka mengetahuinya, untuk dikatakan kepada mereka apakah ia dan bagaimana terjadi.
‘Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukakan langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan Dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 17-20)
Kemudian dibentangkan lah pemandangan azab dengan segala kekuatan dan kekerasan nya,
‘Sesungguhnya neraka, jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan (tidak pula) mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab.”(An Naba’: 21-30)
Kemudian ditunjukkan pula pemandangan nikmat yang memancar demikian derasnya,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun, buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (An Naba’: 31-36)
Kemudian surat ini ditutup dengan memberikan kesan yang luhur mengenai hakikat hari itu di dalam pemandangan yang ditampakkan padanya. Juga dengan memberikan peringatan kepada manusia sebelum datangnya hari yang padanya terdapat pemandangan yang agung ini,
‘Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Karena itu, barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. “‘ (An Naba’: 37-40)
Itulah berita besar yang mereka pertanyakan. Itulah berita besar yang kelak akan mereka ketahui.
Berita Besar
“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 1-5)
Inilah bagian permulaan yang mengandung pertanyaan bernada ingkar terhadap persoalan yang mereka pertanyakan dan mengandung keheranan mengapa persoalan seperti itu mereka pertanyakan. Mereka mempertanyakan hari kebangkitan dan berita tentang kiamat. Inilah persoalan yang mereka perdebatkan dengan sengit, dan hampir-hampir mereka tidak pernah membayangkan terjadinya, padahal inilah yang paling utama mereka lakukan.
‘Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ? ” (An Naba’: 1)
Persoalan apakah yang mereka perbincangkan? Kemudian dijawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengetahui jawabannya dari mereka, tetapi hanya untuk menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka dan untuk mengarahkan perhatian terhadap keganjilan pertanyaan mereka. Diungkaplah persoalan yang mereka pertanyakan dan dijelaskanlah hakikat dan tabiatnya,
‘Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini.” (An Naba’: 2-3)
Tidak disebutkan batas tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu dengan menyebutkan wujudnya, melainkan hanya disebutkan sifatnya saja. Penyebutan sifatnya ini untuk menyampaikan berita yang besar dengan menunjukkan ketakjuban. Juga untuk mengagungkan dan menunjukkan perbedaan sikap terhadap hari itu antara orang-orang yang mengimaninya dan orang-orang yang tidak mempercayai terjadinya. Adapun yang mempertanyakannya hanyalah mereka saja. Kemudian tidak diberikan jawaban tentang apa yang mereka pertanyakan itu. Tidak dipaparkan pula hakikat sesuatu yang mereka pertanyakan itu, melainkan dibiarkan dengan sifatnya saja yang besar. Kemudian pembicaraan beralih kepada ancaman yang ditujukan kepada mereka. Hal ini lebih mengena daripada jawaban secara langsung, dan lebih mendalam ketakutan yang ditimbulkannya,
“Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian, sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 4-5)
Lafal “kallaa” sekali-kali tidak!’ diucapkan untuk membentak dan menghardik. Karena itu, lafal ini sangat tepat dipakai di sini sesuai dengan bayangan yang perlu disampaikan. Diulangnya lafal ini beserta kalimatnya adalah untuk mengancam.
Fenomena Alam yang Perlu Diperhatikan
Kemudian, di luar tema berita besar yang mereka perselisihkan itu, di bawalah mereka untuk melakukan perjalanan yang dekat di alam semesta yang terlihat ini bersama sejumlah benda-benda yang berwujud, fenomena-fenomena, hakikat-hakikat, dan pemandangan-pemandangan yang menggetarkan hati yang mau merenungkannya,
‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (An Naba’: 6-16)
Perjalanan di hamparan alam semesta yang luas dengan lukisan-lukisan dan pemandangan-pemandangan nya yang besar, dikemas dengan kata-kata dan kalimat kalimat singkat sehingga, memberikan kesan yang tajam, berat, dan mengena. Ia seakan akan alat pengetuk yang mengetuk bertalu-talu dengan nada berhenti dan nada putusnya.
Kalimat tanya yang diarahkan kepada lawan bicara, yang menurut ilmu bahasa menunjukkan penetapan, memang merupakan bentuk kalimat yang sengaja dibuat demikian. Seakan-akan ia merupakan tangan kuat yang mengguncangkan orang-orang lalai. Yakni, orang-orang yang mengarahkan pandangan dan hali mereka kepada himpunan makhluk dan fenomenafenomena yang mengisyaratkan adanya pengaturan dan penentuan di belakangnya. Juga mengisyaratkan adanya kekuasaan yang mampu menciptakan dan mengulang penciptaan itu kembali, dan mengisyaratkan adanya hikmah yang tidak membiarkan makhluk (manusia) tanpa pertanggungjawaban, tanpa dihisab, dan tanpa diberi pembalasan. Di sini, bertemulah ia dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu.
Sentuhan pertama dalam perjalanan ini adalah tentang bumi dan gunung-gunung,
‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan .dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An Naba’: 6-7)
‘Al-mihaad’ berarti dihamparkan untuk tempat berjalan di atasnya, dan hamparan yang lunak bagaikan buaian. Kedua makna ini saling berdekatan. Ini adalah hakikat yang dapat dirasakan manusia apa pun tingkat kebudayaan dan pengetahuannya. Sehingga, tidak memerlukan pengetahuan yang banyak untuk memahaminya dalam bentuknya yang nyata.
Keberadaan gunung-gunung sebagai pasak bumi ini merupakan sebuah fenomena yang dapat dilihat oleh mata orang pedalaman sekalipun. Baik yang ini bumi dengan hamparannya maupun yang itu gunung yang menjadi pasak bumi) memiliki kesan tersendiri di dalam perasaan apabila jiwa manusia ter arahkan ke sana untuk merenungkannya. Akan tetapi, hakikat ini lebih besar dan lebih luas ,jangkauannya daripada apa yang diperkirakan oleh manusia badui (pedalaman) ketika ia semata-mata menerima dengan indra nya. Setiap kali meningkat dan bertambah pengetahuan manusia tentang tabiat dan perkembangannya, maka semakin besarlah kesannya terhadap ini di dalam jiwanya. Lalu, mengerti lah ia bahwa di balik itu terdapat kekuasaan Ilahi yang agung dan rencana-Nya yang halus penuh hikmah. Demikian juga dengan adanya kesesuaian antara anggota-anggota alam semesta ini dan kebutuhan-kebutuhannya, beserta disiapkan nya bumi ini untuk menerima kehidupan manusia dan mengaturnya. Juga disiapkan nya manusia untuk menyelesaikan diri dengan lingkungannya dan untuk saling mengerti.
Dihamparkan nya bumi bagi kehidupan, dan bagi kehidupan manusia secara khusus, menjadi saksi tak terbantahkan yang memberikan kesaksian akan adanya akal yang mengatur di balik alam wujud yang nyata ini. Karena itu, rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan bumi dengan semua kondisinya, atau rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan kehidupan untuk hidup di bumi, maka kerusakan di sini ataupun di sana tidak akan menjadikan bumi sebagai hamparan. Juga tidak akan ada lagi hakikat yang diisyaratkan oleh Al Qur’ an secara global, untuk dimengerti oleh setiap manusia sesuai dengan tingkat ilmu dan pengetahuannya.
Dijadikannya gunung sebagai pasak bagi bumi, dapat dimengerti oleh manusia dari segi bentuknya dengan pandangannya semata-mata, karena ia lebih mirip dengan pasak-pasak kemah yang diikatkan padanya. Adapun hakikatnya kita terima dari informasi Al Qur’an. Darinya kita mengetahui bahwa gunung-gunung itu memantapkan bumi dan menjaga keseimbangannya. Mungkin karena gunung-gunung itu menyeimbangkan antara kerendahan lautan dan ketinggian gunung-gunung; menyeimbangkan antara pengerutan rongga bumi dan pengerutan atapnya; dan menekan bumi pada titik tertentu hingga ia tidak lenyap dengan adanya gempa bumi, gunung meletus, dan guncangan-guncangan dalam perutnya. Atau, mungkin karena ada alasan lain yang belum terungkap hingga kini. Karena, banyak sekali aturan dan hakikat-hakikat yang tidak
diketahui manusia yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an-Al-Karim, kemudian diketahui sebagiannya oleh manusia setelah beratus-ratus tahun berikutnya!
Sentuhan kedua adalah mengenai jiwa manusia, dalam beberapa segi dan hakikat yang berbeda-beda, “… Kami jadikan kamu berpasang pasangan…. ” (An Naba’: 8)
Ini juga merupakan satu fenomena yang perlu diperhatikan, yang dapat diketahui oleh setiap manusia dengan mudah dan sederhana. Allah telah menjadikan manusia terdiri dari laki-laki dan wanita, dan menjadikan kehidupan dan pelestarian nya dengan adanya perbedaan jenis kelamin yang berpasangan dan pertemuan antara kedua jenis kelamin yang berbeda itu. Setiap orang mengetahui fenomena ini dan merasakan adanya kegembiraan, kenikmatan, kesenangan, dan kebaruan suasana tanpa memerlukan ilmu yang banyak. Karena itu, Al Qur’an membicarakan hal ini kepada manusia di lingkungan manapun ia berada. Sehingga, ia mengetahuinya dan terkesan olehnya apabila ia mengarahkan pikirannya ke sana, dan merasakan adanya tujuan, kesesuaian, dan pengaturan padanya.
Di belakang perasaan-perasaan yang bersifat global terhadap nilai hakikat ini dan kedalamannya, terdapat -pemikiran lain ketika manusia itu meningkat pengetahuan dan perasaannya. Di sana terdapat pemikiran tentang kekuasaan yang menjadikan nutfah (mani) itu anak laki-laki dan nutfah ini anak wanita. Padahal, tidak ada sesuatu yang membedakan secara jelas di dalam nutfah ini atau itu, yang menjadikannya menempuh jalannya untuk menjadi anak laki-laki atau anak wanita.
Ya Allah, ini tidak lain kecuali karena adanya iradah kodrat yang menciptakan dengan rencana yang halus, dan pengarahan yang lembut. Juga pemberian ciri-ciri khusus yang dikehendaki-Nya pada nutfah ini dan itu, untuk menciptakan dari keduanya dua insan berpasangan, guna mengembangkan dan melestarikan kehidupan.
“…Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan….”(An Naba’: 9-11)
Di antara pengaturan Allah terhadap manusia ialah menjadikan tidur sebagai istirahat dan menghentikan mereka dari berpikir dan beraktivitas. Dia menjadikan mereka dalam keadaan yang tidak mati dan tidak pula hidup, untuk mengistirahatkan fisik dan syaraf-syarafnya. Juga untuk memulihkan tenaga yang dikeluarkannya pada saat jaga, bekerja, dan sibuk dengan urusan kehidupan. Semua ini terjadi dengan cara menakjubkan yang manusia tidak mengerti caranya. Tidak ada andil sedikit pun iradah manusia di dalam hal ini, dan tidak mungkin ia mengetahui bagaimana hal ini berjalan dengan sempurna sedemikian rupa. Ketika dalam keadaan jaga pun, ia tidak mengetahui bagaimana cars kerjanya pada scat tidur. Apalagi dalam keadaan tertidur. Sudah tentu ia tidak mengetahui keadaan ini dan tidak dapat memperhatikannya.
Ini adalah salah satu rahasia bangunan makhluk hidup yang tidak diketahui kecuali oleh yang menciptakannya dan meletakkan rahasia itu padanya, serta menjadikan kehidupannya bergantung atasnya. Maka, tidak ada seorang pun yang mampu hidup tanpa tidur kecuali dalam waktu yang sangat terbatas. Kalau ia memaksakan diri dengan menggunakan sarana luar agar terus berjaga (tidak tidur), maka sudah tentu ia akan binasa. Di dalam tidur pun terdapat rahasia yang tidak berkaitan dengan kebutuhan fisik dan saraf yaitu, berhenti nya ruh dari melakukan pergulatan hidup yang keras. Ketenangan mengunjunginya sehingga ia meletakkan senjata dan meninggalkan kebunnya, senang ataupun tidak senang. Ia menyerah kepada saat kedamaian yang penuh keamanan, yang dibutuhkan setiap orang sebagaimana kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.
Terjadilah sesuatu yang mirip mukjizat pada saat saat tertentu ketika rasa kantuk menimpa kelopak mata, ruh merasa berat, saraf-saraf telah letih, jiwa gelisah, dan hati merasa takut. Kantuk ini yang kadang-kadang hanya beberapa saat saja seakan akan membuat pembalikan (perubahan) total bagi keberadaan manusia dan memperbarui bukan hanya kekuatannya melainkan dirinya, sehingga ia seakan-akan sebagai wujud baru setelah bangun. Kemukjizatan (keluarbiasaan) ini pernah terjadi dalam bentuk yang jelas bagi kaum muslimin yang kelelahan dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Allah memberi kenikmatan dan ketenteraman kepada mereka dengan kantuk ini sebagaimana yang terjadi pada banyak orang dalam keadaan keadaan yang mirip. Firman Nya,
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya. “(Al Anfaal: 11)
‘Kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu.”(Ali Imran: 154)
Maka, istirahat yakni menghentikan berpikir dan beraktivitas dengan tidur ini merupakan suatu keharusan dari keharusan bangunan kehidupan. Ia merupakan satu rahasia dari rahasia-rahasia kekuasaan yang mencipta dan salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang tidak ada seorang pun yang mampu memberikannya selain Dia. Adapun mengarahkan perhatian kepadanya sebagaimana yang dicontohkan Al Qur’an ini, mengingatkan dan menyadarkan hati kepada kekhususan-kekhususan Dzat-Nya. Juga kepada tangan yang mewujudkan eksistensinya dan menyentuh hati tersebut dengan sentuhan yang membangkitkannya untuk memikirkan dan merenungkan serta mengambil kesan darinya.
Di antara pengaturan Allah juga ialah Dia menjadikan gerakan alam ini selaras dengan gerakan makhluk-makhluk hidup. Sebagaimana Dia meletakkan pada manusia rahasia tidur dan istirahat sesudah bekerja dan melakukan aktivitas, maka Dia meletakkan pada alam ini fenomena malam sebagai pakaian penutup yang menjadikan istirahat dan pengenduran saraf itu berjalan dengan sempurna. Juga meletakkan fenomena siang untuk mencari penghidupan, yang dalam waktu siang inilah gerak dan aktivitas dapat berjalan dengan sempurna.
Dengan demikian, selaras dan serasi lah ciptaan Allah, dan alam ini pun sangat cocok bagi makhluk hidup dengan segala kekhususan nya. Makhluk-makhluk hidup itu dibekali dengan susunan yang cocok dengan gerak dan kebutuhan-kebutuhannya, sesuai dengan kekhususan dan kesesuaian yang diletakkan pada alam semesta. Semua ini keluar dari tangan kekuasaan yang mencipta dan mengatur dengan serapi-rapi nya.
Sentuhan ketiga adalah tentang penciptaan langit yang sangat serasi dan sesuai dengan bumi dan makhluk hidup,
‘Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?”(An Naba’: 12-16)
Tujuh buah langit yang kokoh yang dibangun Allah di atas bumi itu adalah langit yang tujuh, yaitu tujuh petala langit sebagaimana disebutkan di tempat lain. Dan, yang dimaksud dengannya dengan pembatasan ini hanya Allah yang mengetahuinya. Mungkin yang dimaksudkan adalah tujuh gugusan bintang, yang setiap satu gugusan nya bisa mencapai ratusan bintang. Ketujuh gugusan inilah yang mempunyai hubungan dengan bumi dan tata surya kita. Mungkin yang dimaksudkan bukan ini dan bukan itu. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam susunan alam semesta ini, sedangkan yang diketahui oleh manusia hanya sedikit.
Sesungguhnya ayat ini hanya mengisyaratkan bahwa tujuh buah langit yang kokoh itu sangat kokoh dan kuat bangunannya, yang tidak mungkin retak dan berantakan. Inilah yang kita lihat dan kita ketahui dari tabiat tata surya dan benda-benda angkasa yang biasa kita sebut dengan langit, yang dapat diketahui oleh setiap orang. Di samping itu, ayat ini juga mengisyaratkan bahwa bangunan wajah langit yang kokoh itu serasi dengan planet bumi dan manusia. Karena itulah, ia disebutkan di dalam membicarakan pengaturan Allah dan penentuan Nya terhadap kehidupan bumi dan manusia, yang ditunjuki oleh ayat sesudahnya, ‘Kami jadikan pelita yang amat terang.”(An Naba’:13), yaitu, matahari yang bersinar terang benderang yang menimbulkan rasa panas untuk hidupnya bumi dan makhluk-makhluk hidup di atasnya. Juga menimbulkan pengaruh bagi terbentuknya awan yang membawa uap air dari lautan yang luas di bumi dan menyalaminya ke lapisan lapisan udara yang sangat tinggi. Itulah Al mu’shirat ‘awan’ sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“… dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.”(An Naba’: 14)
Ketika ia diperas, lalu turun dan berjatuhan yang berupa air. Siapakah yang memerasnya? Mungkin angin atau kehampaan aliran listrik pada beberapa tingkatan udara. Di balik semua itu terdapat tangan kekuasaan yang menimbulkan pengaruh-pengaruh pada alam semesta. Pada pelita terdapat penyalaan, panas dan cahaya, yang semuanya terdapat pada matahari. Karena itu, dipilihnya kata “siraj” ‘pelita’ di sini merupakan pilihan yang sangat cermat dan jeli. Dari pelita yang amat terang dengan segala cahaya terang dan panasnya, dan dari awan dengan air yang diperas darinya hingga banyak tercurah, tumbuhlah biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan untuk dimakan, kebun-kebun yang lebat, serta pohon-pohon yang rimbun dan bercabang-cabang.
Keserasian dan keselarasan di alam ini tidak mungkin terjadi kecuali di baliknya ada tangan yang mengaturnya, ada kebijaksanaan yang menentukannya, dan ada iradah yang menatanya. Hal ini dapat diketahui oleh setiap insan dengan hati dan perasaannya ketika perasaannya diarahkan ke sana. Apabila ilmu dan pengetahuannya meningkat, maka akan terkuak lah keserasian dan kerapian ini sedemikian luas dengan tingkatan-tingkatannya yang menjadikan akal dan pikiran kebingungan dan terkagum-kagum. Juga menjadikan pendapat yang mengatakannya sebagai kebetulan adalah pendapat yang tidak berbobot dan tidak perlu ditanggapi, sebagaimana sikap orang yang tidak mau menghiraukan adanya tujuan dan pengaturan pada alam ini hanyalah sikap keras kepala yang tidak perlu dihormati.
Alam ini ada penciptanya. Di belakang alam ini, terdapat penataan, penentuan, dan pengaturan. Hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan ini disebutkan secara beruntun di dalam nash Al Qur’an dengan urutan seperti ini. Yaitu, dijadikannya bumi sebagai hamparan, gunung sebagai pasak bagi bumi, manusia berpasang-pasangan, tidur mereka sebagai istirahat (sesudah bergerak, berpikir, dan melakukan aktivitas), malam sebagai pakaian untuk menutup dan menyelimuti, dan siang untuk mencari penghidupan, berpikir, dan beraktivitas. Kemudian dibangunnya rajah langit yang kokoh, dijadikannya pelita yang amat terang (matahari), dan diturunkannya air yang tercurah dari awan untuk menumbuhkan biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun.
Keberuntungan hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan yang seperti ini mengesankan adanya pengaturan yang cermat, mengisyaratkan adanya pengaturan dan penentuan, dan mengesankan adanya Sang Maha Pencipta yang Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa. Disentuhnya hali dengan sentuhan-sentuhan yang mengesankan dan mengisyaratkan adanya maksud dan tujuan di belakang kehidupan ini. Dari sini, bertemulah konteks ini dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu!
Hari Perhitungan dan Pembalasan
Semua itu adalah agar manusia bisa berbuat dan bersenang-senang, dan di belakangnya terdapat perhitungan dan pembalasan. Hari keputusan itu sudah ditentukan waktunya,
‘Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 17-20)
Sesungguhnya manusia tidak diciptakan dengan sia-sia dan tidak dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Dzat yang telah menentukan kehidupan mereka dengan ketentuan sebagaimana telah disebutkan di muka dan menyerasikan kehidupan mereka dengan alam tempat hidup mereka, tidak mungkin membiarkan mereka hidup tiada guna dan mati dengan sia-sia, membiarkan mereka berbuat kebaikan atau kerusakan di bumi, lantas mereka pergi ke dalam tanah dengan sia-sia begitu saja. Tidak mungkin Dia membiarkan mereka mengikuti petunjuk jalan yang lurus dalam kehidupan atau mengikuti jalan yang sesat, lantas semuanya dipertemukan dalam satu tempat kembali. Tidak mungkin mereka berbuat adil dan berbuat zhalim, lantas keadilan atau kezhaliman itu berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pembalasan.
Sungguh di sana akan ada suatu hari untuk memberikan ketetapan, membedakan (antara yang benar dan yang salah, yang adil dan yang zhalim, yang baik dan yang buruk), dan memberi keputusan terhadap segala sesuatu. Yaitu, hari yang sudah ditentukan dan ditetapkan waktunya oleh Allah,
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. ” (An Naba’: 17)
Yaitu, hari yang ketika itu tatanan alam semesta sudah terbalik, ikatan-ikatan peraturannya sudah berantakan dan tidak berlaku lagi.
“Yaitu, hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. ” (An Naba’: 18)
Ash-shuur artinya ’sangkakala’. Kita tidak mengetahui nama lain selain itu. Kita tidak mengetahui kecuali akan ditiup. Kita tidak perlu menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana caranya. Karena, memikirkan cara peniupan nya itu tidak akan menambah keimanan kita dan tidak ada pengaruhnya terhadap peristiwa itu. Allah telah memelihara potensi kita agar tidak kita gunakan secara sewenang-wenang untuk membicarakan apa yang ada di balik perkara gaib yang tersembunyi ini. Dia telah memberikan kepada kita ukuran tertentu yang bermanfaat bagi kita, sehingga kita tidak menambah-nambahnya. Kita hanya membayangkan tiupan sangkakala yang membangkitkan dan mengumpulkan manusia untuk datang berkelompok-kelompok. Kita bayangkan pemandangan ini dan manusia-manusia yang telah hilang jati diri dan sosoknya dari generasi demi generasi, dan meninggalkan permukaan bumi untuk ditempati oleh orang-orang yang datang sesudahnya agar tidak menjadi sempit bagi mereka permukaan bumi yang terbatas ini.
Kita bayangkan pemandangan yang berupa manusia secara keseluruhan (sejak manusia pertama hingga manusia terakhir) bangun dan berdiri, lalu datang berbondong-bondong dari setiap lembah menuju ke tempat mereka dikumpulkan. Kita bayangkan kubur-kubur yang berserakan dan manusia-manusia yang bangun darinya. Kita bayangkan semuanya berkumpul menjadi satu dan ketika itu yang pertama tidak mengenal yang belakangan. Kita bayangkan ketakutan yang ditimbulkan oleh berkumpulnya manusia sedemikian rupa yang tidak pernah terjadi semua manusia berkumpul dalam satu waktu seperti yang terjadi pada hari ini. Di mana? Kita tidak tahu. Karena, di alam yang kita ketahui pernah terjadi berbagai peristiwa dan hal-hal menakutkan yang bersifat fisik itu, telah terjadi perubahan luar biasa,
‘Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 19-20)
Langit yang dibangun dengan kokoh, dibuka lalu terdapat beberapa pintu. Ia pecah terbelah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dan surat lain. Langit berubah keadaannya dengan keadaan yang belum pernah kita alami selama ini. Sedangkan, gunung-gunung yang menjadi pasak bumi dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. Ia dihancur-lebur kan, berantakan, dan berhamburan ke udara, digerakkan oleh angin, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat dan surat-surat lain. Karena itu, ia tidak ada wujudnya lagi bagaikan fatamorgana, atau ia yang telah menjadi debu itu diterpa cahaya sehingga menjadi seperti fatamorgana. Sungguh menakutkan dan mengerikan terjadinya ke-amburadul-an alam yang dapat dipandang mata itu, sebagaimana menakutkan nya ketika manusia dikumpulkan setelah ditiup nya sangkakala. Inilah hari keputusan yang sudah ditentukan bakal terjadinya itu, dengan hikmah dan rencana Allah.
Neraka Jahannam dan Penghuninya
Ayat-ayat berikutnya melanjutkan perjalanan ke belakang peniupan sangkakala dan pengumpulan manusia di padang mahsyar. Maka, dilukiskan lah tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertaqwa. Pembahasan dimulai dengan membicarakan kelompok pertama yang mendustakan dan mempertanyakan berita yang besar itu,
Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain azab. “( An Naba’: 21-30)
Sesungguhnya neraka Jahannam itu sudah diciptakan, sudah ada, dan padanya ada tempat pengintai bagi orang-orang yang melampaui batas. Ia menunggu dan menantikan mereka yang akan sampai juga ke sana, karena ia memang disediakan dan disiapkan untuk menyambut mereka. Seakan-akan mereka melakukan perjalanan (tour) di bumi, kemudian mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka datang ke tempat kembalinya ini untuk menetap di sini dalam masa yang amat panjang, berabad-abad, ‘Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman.”(An Naba’: 24)
Kemudian dikecualikan, tetapi pengecualian ini lebih pahit dan lebih pedih,
“… selain air yang mendidih dan nanah. ” (An Naba’: 25)
Kecuali air yang panas mendidih, yang memanggang kerongkongan dan perut. Nah, inilah kesejukan itu. Juga kecuali nanah yang meleleh dan mengalir dari tubuh orang-orang yang dibakar itu. Maka, inilah minumannya!
‘:..sebagai pembalasan yang setimpal. ” (An Naba’: 26)
Setimpal dengan tindakan dan kelakuan mereka pada masa lalu sewaktu di dunia dulu.
“Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab. ” (An Naba’: 27)
Mereka tidak takut pada tempat kembalinya nanti.
“.. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya….” (An Naba’: 28)
Tekanan keras pada lafal ini mengisyaratkan sangat kerasnya pendustaan dan kebandelan mereka. Allah menghitung atas mereka setiap sesuatunya dengan hitungan yang amat cermat dan tidak satu pun yang terluput,
“Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. ” (An Naba’: 29)
Di sini datanglah ledekan yang memutuskannya dari segala harapan untuk mendapat perubahan atau keringanan,
“Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain dari azab!” (An Naba’: 30)
Keadaan Orang-rang yang Bertaqwa
Sesudah dibentangkan pemandangan orang-orang yang melampaui batas di dalam air yang mendidih, dibeberkan lah pemandangan sebaliknya. Yakni, pemandangan orang-orang bertaqwa yang ada di dalam surga,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. ” (An Naba’: 31-36)
Apabila Jahannam itu menjadi pengintai dan tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, yang mereka tidak dapat lepas dan melintas darinya, maka orang-orang yang bertaqwa akan berkesudahan di tempat keberuntungan dan keselamatan yang berupa “kebun-kebun dan buah anggur”. Disebutkan nya buah anggur secara khusus dan tertentu di sini adalah karena anggur itulah yang populer di kalangan orang-orang yang mendengar firman ini. Juga gadis-gadis remaja yang sebaya “umur dan kecantikannya. ‘Dan, gelas gelas yang penuh” berisi minuman.
Ini adalah kenikmatan-kenikmatan yang lahirnya bersifat inderawi, untuk mendekatkannya kepada apa yang dibayangkan manusia. Adapun hakikat rasa dan kenikmatannya belum pernah dirasakan oleh penduduk dunia karena mereka terikat dengan batas-batas dan gambaran-gambaran duniawi. Di samping kenikmatan lahiriah yang demikian, mereka juga mengalami keadaan yang dirasakan oleh hati dan perasaan,
‘Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. ” (An Naba’: 35)
Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang terpelihara dari kesia-siaan dan kebohongan yang biasanya diiringi dengan bantahan dan sanggahan. Maka, hakikat (keadaan yang sebenarnya) di sini diungkapkan, tidak ada peluang untuk membantah dan mendustakan, sebagaimana tidak ada peluang untuk berkata sia-sia yang tidak ada kebaikan padanya. Inilah suatu keadaan dari keluhuran dan kesenangan yang cocok dengan negeri akhirat yang kekal.
“Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.”(An Naba’: 36)
Di sini kita menjumpai fenomena keindahan dalam ungkapannya dan kesamaan bunyi pada kata dan sebagaimana kita rasakan juga iramanya pada akhir setiap kalimatnya dengan bunyi yang hampir sama. Ini merupakan fenomena yang jelas di dalam juz ini seluruhnya secara global.
Malaikat pun Merasa Takut
Untuk melengkapi pemandangan-pemandangan hari yang padanya sempurna segala urusan itu, dan yang dipertanyakan oleh orang-orang yang mempertanyakan, serta diperselisihkan oleh orang-orang yang memperselisihkan, maka datanglah pemandangan terakhir dalam surat ini. Yakni, ketika malaikat Jibril dan malaikat-malaikat lainnya berdiri berbaris dengan khusyu di hadapan Allah yang Rahman, tanpa berkata sepatah kata pun kecuali yang diizinkan oleh yang Rahman di tempat yang menakutkan dan agung itu,
‘Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (An Naba’: 37-38)
Pembalasan yang dijelaskan pada segmen di atas adalah pembalasan bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertaqwa. Pembalasan ini adalah “dari Tuhanmu, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah”.
Kalimat ini serasi benar dengan sentuhan dan hakikat yang besar ini. Hakikat rububiyah ‘pemeliharaan Tuhan’ yang Esa, meliputi seluruh manusia sebagaimana ia meliputi langit dan bumi serta dunia dan akhirat, dan memberikan balasan kepada perbuatan melampaui batas dan perbuatan takwa, serta berujung padanyalah urusan akhirat dan dunia Kemudian, Dia adalah ‘Maha Pemurah, Pemilik dan Pemberi rahmat”.
Karena rahmat-Nya inilah, maka diberikan balasan kepada mereka ini dan mereka itu. Sehingga, pemberian hukuman kepada orang-orang yang melampaui batas itu bersumber dari rahmat Tuhan yang Rahman ini. Karena rahmat ini pula, maka keburukan mendapatkan balasan yang tidak sama dengan balasan bagi kebaikan di tempat kembali nanti.
Di samping rahmat dan keagungan ini, “mereka tidak dapat berbicara dengan Dia” pada hari yang menakutkan ketika malaikat Jibril as dan malaikat-malaikat lain berdiri “bershaf–shaf tanpa berbicara sepatah kata pun’ kecuali dengan adanya izin dari yang Maha Pemurah untuk mengucapkan perkataan yang benar. Maka, tidak ada yang diizinkan oleh Ar-Rahman kecuali yang sudah diketahui bahwa ia benar.
Hari yang Pasti Terjadi
Sikap orang-orang yang didekatkan kepada Allah, yang bersih dari dosa-dosa dan kemaksiatan ini adalah diam tanpa berkata-kata sedikit pun kecuali dengan adanya izin dari Allah dan dengan perhitungan. Suasananya dipenuhi dengan ketakutan, kesedihan, keagungan, dan ketundukan. Di bawah bayang-bayang pemandangan ini terdengarlah seruan yang berisi peringatan dan mengguncang orang-orang yang tertidur dan mabuk kepalang ,
“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka, barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. ” (An Naba’: 39-40)
Inilah guncangan keras terhadap mereka yang hatinya dipenuhi keraguan dan selalu mempertanyakan “hari yang Pasti terjadi” itu. Maka, tidak ada peluang untuk mempertanyakan dan memperselisihkannya. Selagi masih ada kesempatan, “maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada, Tuhannya “sebelum neraka Jahannam mengintai nya dan menjadi tempat kembalinya.
Inilah peringatan untuk menyadarkan orang-orang yang mabuk kepalang, “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu siksa yang dekat”. Maka, Jahannam itu senantiasa menantikan dan mengintaimu seperti yang kamu ketahui. Dunia ini secara keseluruhan adalah perjalanan yang pendek dan usia yang singkat!
Inilah azab yang mengerikan dan menakutkan, sehingga orang kafir lebih memilih hilang eksistensinya daripada masih berwujud,
‘Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu hanyalah tanah. ” (An Naba’: 40)
Tidaklah orang berkata seperti ini kecuali dia berada dalam kesempitan dan kesedihan yang sangat. Ini adalah kalimat yang memberikan bayang-bayang ketakutan dan penyesalan. Sehingga, ia berangan-angan untuk tidak pernah menjadi manusia, dan menjadi unsur yang diabaikan dan disia-siakan (tak diperhitungkan). la melihat bahwa yang demi kian itu lebih ringan daripada menghadapi keadaan yang menakutkan dan mengerikan. Ini suatu sikap yang bertolak belakang dengan keadaan ketika mereka mempertanyakan dan meragukan berita besar tersebut!!! Allahu a’lam
http://www.dakwatuna.com/2009/tafsir-surat-an-naba/
Pengantar
Juz ini seluruhnya termasuk surat ini memiliki karakter yang umum surat Makkiyah, kecuali dua surat yaitu surat Al-Bayyinah dan An-Nashr. Semuanya merupakan surat-surat pendek yang berbeda beda satu lama lain. Dan yang terpenting dalam hal ini adalah karakter khususnya yang menjadikannya sebagai satu kesatuan saling berdekatan tema dan arahnya, kesannya, gambarannya, ba yang -ba yang nya, dan uslub nya ‘metodenya’ secara umum.
Juz ini merupakan ketukan-ketukan beruntun yang keras, kuat, dan tinggi nadanya terhadap perasaan. Juga teriakan terhadap orang-orang yang tidur lelap atau orang-orang yang mabuk kepayang . Atau, terhadap orang-orang yang bermain-main sambil begadang dan menari-nari dengan hiruk-pikuk, bersiul-siul, dan bertepuk tangan. hati dan perasaan mereka terus-menerus diketuk dengan ketukan-ketukan dan teriakan-teriakan dari surat-surat dalam juz ini, yang semuanya dengan nada dan peringatan tunggal, “Ingatlah! Sadarilah! Lihatlah! Perhatikanlah! Pikirkanlah! Renungkanlah bahwa di sana ada Tuhan, di sana ada pengaturan, di sana ada takdir, di sana ada ketentuan, di sana ada ujian, di sana ada tanggung jawab, di sana ada perhitungan, di sana ada pembalasan, dan di sana ada azab yang pedih dan nikmat yang besar. Ingatlah, sadarilah, lihatlah, perhatikanlah, pikirkanlah, renungkanlah. Demikianlah pada kali lain, pada kali ketiga, keempat, kelima, dan kesepuluh.”
Di samping ketukan-ketukan, seruan- seruan, dan teriakan-teriakan itu, ada tangan kuat yang mengguncang orang-orang yang tidur, mabuk, dan terlena, dengan guncangan yang keras. Seakan-akan mereka sedang membuka matanya dan melihat dengan ter bingung-bingung, lalu kembali kepada keadaannya semula. Maka, kembalilah tangan kuat itu mengguncang mereka dengan guncangan yang keras, teriakan keras terdengar kembali, dan ketukan-ketukan keras pun mengenai pendengaran dan hati mereka lagi. Kadang-kadang orang-orang yang tidur tadi terbangun sedikit dan berkata dalam kebandelan dan kekerasan hatinya, ‘Tidak…!” Kemudian melempari orang yang berseru dan memberi peringatan itu dengan batu dan caci maki, lalu mereka kembali kepada keadaan semula lagi. Kemudian mereka diguncang dengan guncangan baru lagi.
Demikianlah yang dirasakan ketika membaca surat Ath-Thaariq ayat 5, Al-Ghaasyiyah ayat 17-20, An-Naazi’aat ayat 27-33, An-Naba’ ayat 6-16, ‘Abasa ayat 24-32, Al-Infithaar ayat 6-8, Al A’1aa ayat 1-5, At-Tiin ayat 4-8, At-Takwiir ayat 1-14, Al-Infithaar ayat 1-5, Al-Insyiqaaq ayat 1-5, dan Al-Zalzalah ayat 1-5. Juga ketika membaca isyarat-isyarat Ialam pada permulaan dan pertengahan 1-8, dan Adh-Dhuhaa ayat 1-2.
Juz ini secara keseluruhan menekankan pembicaraan tentang kejadian pertama manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya di muka bumi seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Juga menekankan pembicaraan tentang pemandangan-pemandangan alam; ayat-ayat Allah yang terbuka; pemandangan-pemandangan hari kiamat yang keras, mengerikan, mengagetkan, menggemparkan, dan menakutkan; dan pemandangan-pemandangan yang berupa hisab dan pembalasan dengan kenikmatan dan azab dalam gambaran-gambaran yang mengetuk hati, membingungkan, dan mengguncangkan, seperti pemandangan kiamat nya semesta raya yang amat besar dan menakutkan.
Semua itu menjadi bukti adanya penciptaan, pengaturan, dan penciptaan ulang dengan timbangan-timbangan dan ukuran-ukurannya yang pasti, di samping untuk mengetuk, menakut-nakuti, dan memperingatkan hati manusia. Kadang-kadang paparan-paparan ini diiringi dengan menampilkan kisah-kisah dan pemandangan-pemandangan orang dahulu yang mendustakan ayat-ayat Allah dengan segala akibatnya. Seperti itulah kandungan juz ini seluruhnya, tetapi kami hanya ingin menunjuk beberapa contoh saja di dalam pengantar ini.
Surat An-Naba’ secara keseluruhan merupakan contoh yang sempurna bagi penekanan pembicaraan terhadap hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan ini. Surat semacam surat An-Naazi’aat dan surat ‘Abasa, bagian permulaannya mengandung isyarat mengenai suatu peristiwa tertentu di antara peristiwa-peristiwa dakwah. Sedangkan, sisanya secara keseluruhan merupakan pembahasan tentang kehidupan manusia dan tumbuh-tumbuhan. Setelah itu, diceritakan tentang datangnya suara yang memekakkan telinga (yaitu ditiup nya sangkakala kedua),
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dengan gembira ria. Banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (‘Abasa: 34-41)
Surat At-Takwiir menggambarkan pemandangan tentang ter bolak-baliknya alam semesta secara dahsyat dan menakutkan pada hari itu, disertai dengan menampilkan pemandangan-pemandangan alam dalam bentuk-bentuk sumpah yang menunjukkan hakikat wahyu dan kebenaran Rasul. Demikian juga surat Al-Infithaar yang menampilkan pemandangan tentang ter bolak-baliknya alam beserta pemandangan tentang nikmat dan azab, dan mengguncang hati manusia di depan semua itu,
‘Hai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah ?” (Al Infithaar: 6)
Pemandangan alam dan pemandangan-pemandangan hari itu dengan menunjuk penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap segolongan kaum mukminin di dunia dengan api, dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka (orang-orang kafir) itu di akhirat dengan api neraka yang lebih dahsyat dan lebih menyakitkan.
Surat Ath-Thaariq memaparkan pemandangan-pemandangan alam di samping tentang penciptaan manusia dan tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan sumpah bagi semuanya, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. “(Ath Thaariq:13-14)
Surat Al-A’laa membicarakan penciptaan, penyempurnaan ciptaan, takdir, hidayah, dan penumbuhan tumbuh-tumbuhan dan perkembangannya sebagai pengantar bagi pembicaraan tentang peringatan, akhirat, hisab, dan pembalasan. Surat Al-Ghaasyiyah menggambarkan pemandangan-pemandangan tentang kenikmatan dan azab, kemudian mengarah kepada penciptaan unta, langit bumi, dan gunung-gunung. Hingga akhir juz gambaran pemandangan-pemandangan seperti itu diberikan.
Namun, ada beberapa surat yang membicarakan hakikat aqidah dan manhaj iman, seperti surat Al-Ikhlash, surat Al-Kaafiruun, surat Al-Maa’uun, surat Al-’Ashr, surat Al-Qadr, dan surat An-Nashr. Atau, beberapa surat yang menggembirakan hati Rasulullah saw, menenangkannya, dan mengarahkannya untuk memohon perlindungan kepada Tuhannya dari semua kejelekan dan kejahatan, seperti surat Adh-Dhuhaa, Al-Insyirah (Alam Nasyrah), Al-Kautsar, Al-Falaq, dan surat An-Naas, yang merupakan surat-surat pendek.
Di sana terdapat fenomena lain di dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimatnya dalam juz ini. Ada keelokan yang jelas di dalam pengungkapan nya yang disertai dengan sentuhan-sentuhan yang dituju di tempat-tempat yang indah di alam dan di dalam jiwa. Juga ada kemasan bahasa yang indah di dalam lukisan-lukisannya, bayang-ba yangnya, kesan-kesan musikalnya, rima (persamaan bunyi) dan iramanya, dan pembagian segmen nya yang sangat selaras dengan karakternya di dalam berbicara kepada orang-orang yang lengah, tidur, dan tidak ambil peduli. Tujuannya untuk menyadarkan mereka dan menarik perasaan dan indra mereka dengan bermacam-macam warna, kesan, dan pengaruh.
Semua ini tampak jelas dalam gambaran yang terang benderang seperti dalam pengungkapan nya yang halus tentang bintang-bintang yang beredar dan bersembunyi (tenggelam) seperti kijang yang bersembunyi dalam persembunyiannya lalu muncul keluar. Juga tentang malam yang seakan-akan ia itu makhluk hidup yang meronda dalam kegelapan, dan waktu fajar yang seakan-akan makhluk hidup yang bernafas dengan cahaya,
“sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”(At Takwiir: 15-18)
Di dalam menampilkan pemandangan saat terbenamnya matahari, malam, dan rembulan, dilukiskan,
Maka Sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, Dan dengan bulan apabila jadi purnama, (Al Insyiqaaq: 16-18)
Atau, pemandangan-pemandangan tentang fajar dan malam hari yang terus berjalan dan berlalu,
‘Demi fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. ” (Al Fajr: 1-4)
“Demi waktu Dhuha, dan malam bila gelap gulita. ” (Adh Dhuhaa: 1-2)
Di dalam firman Nya yang diarahkan kepada hati manusia, dikatakan,
‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang “(Al Infithaar: 6-7)
Kemudian dalam menyifati surga, Dia berfirman,
‘Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam surga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. “(Al Ghaasyiyah: 8-11)
Dalam menyifati neraka, Dia berfirman,
‘Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hamiyah. Tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (Al Qaari’ah: 8-11)
Keindahan ungkapannya begitu jelas, sejelas maksud sentuhannya yang indah terhadap pemandangan-pemandangan alam dan relung-relung jiwa. Kadang-kadang tidak dipergunakan perkataan yang lugas, tetapi dipergunakannya kata konotasi, kata kiasan. Kadang-kadang tidak dipergunakan kata-kata yang dekat dengan objek pembicaraan, melainkan digunakan bentukan kata yang jauh. Tujuannya untuk mewujudkan nada-nada instrumental yang dimaksud dan menegaskan peralihan di celah-celah juz ini dengan mendekatkan satu sama lain.
Surat An-Naba’ adalah sebuah contoh bagi arah juz ini dengan tema-tema nya, hakikat-hakikatnya, kesan-kesannya, lukisan-lukisannya, bayang -bayang nya, nuansa musikalnya, sentuhan-sentuhannya pada alam dan jiwa serta dunia dan akhirat, dan pilihan kata dan kalimat-kalimatnya untuk menguatkan kesan dan pengaruhnya di dalam perasaan dan hati.
Surat ini dimulai dengan pertanyaan yang mengisyaratkan dan mengesankan besar dan agungnya hakikat yang mereka perselisihkan. Yaitu, persoalan besar yang tidak ada keraguan padanya dan tidak ada syubhat. Pertanyaan ini diakhiri dengan mengemukakan ancaman kepada mereka terhadap hari yang kelak akan mereka ketahui hakikatnya,
‘Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 1-5)
Dari sana kemudian segmen berikutnya beralih dari makna pembicaraan itu, dari berita ini, dan dibiarkannya ia hingga waktunya kemudian dibawanya mereka beralih kepada sesuatu yang terjadi di hadapan mereka dan di sekitar mereka, mengenai diri mereka sendiri dan alam semesta yang padanya terdapat persoalan yang besar juga. Alam itu menunjukkan sesuatu yang ada di baliknya dan mengisyaratkan kepada apa yang akan dibacanya,
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (An Naba’: 6-16)
Dari kumpulan hakikat-hakikat, pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan kesan-kesan ini mereka dibawa kembali kepada berita besar yang mereka perselisihkan dan yang diancamkan kepada mereka pada hari mereka mengetahuinya, untuk dikatakan kepada mereka apakah ia dan bagaimana terjadi.
‘Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukakan langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan Dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 17-20)
Kemudian dibentangkan lah pemandangan azab dengan segala kekuatan dan kekerasan nya,
‘Sesungguhnya neraka, jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan (tidak pula) mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab.”(An Naba’: 21-30)
Kemudian ditunjukkan pula pemandangan nikmat yang memancar demikian derasnya,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun, buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (An Naba’: 31-36)
Kemudian surat ini ditutup dengan memberikan kesan yang luhur mengenai hakikat hari itu di dalam pemandangan yang ditampakkan padanya. Juga dengan memberikan peringatan kepada manusia sebelum datangnya hari yang padanya terdapat pemandangan yang agung ini,
‘Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Karena itu, barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. “‘ (An Naba’: 37-40)
Itulah berita besar yang mereka pertanyakan. Itulah berita besar yang kelak akan mereka ketahui.
Berita Besar
“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 1-5)
Inilah bagian permulaan yang mengandung pertanyaan bernada ingkar terhadap persoalan yang mereka pertanyakan dan mengandung keheranan mengapa persoalan seperti itu mereka pertanyakan. Mereka mempertanyakan hari kebangkitan dan berita tentang kiamat. Inilah persoalan yang mereka perdebatkan dengan sengit, dan hampir-hampir mereka tidak pernah membayangkan terjadinya, padahal inilah yang paling utama mereka lakukan.
‘Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ? ” (An Naba’: 1)
Persoalan apakah yang mereka perbincangkan? Kemudian dijawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengetahui jawabannya dari mereka, tetapi hanya untuk menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka dan untuk mengarahkan perhatian terhadap keganjilan pertanyaan mereka. Diungkaplah persoalan yang mereka pertanyakan dan dijelaskanlah hakikat dan tabiatnya,
‘Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini.” (An Naba’: 2-3)
Tidak disebutkan batas tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu dengan menyebutkan wujudnya, melainkan hanya disebutkan sifatnya saja. Penyebutan sifatnya ini untuk menyampaikan berita yang besar dengan menunjukkan ketakjuban. Juga untuk mengagungkan dan menunjukkan perbedaan sikap terhadap hari itu antara orang-orang yang mengimaninya dan orang-orang yang tidak mempercayai terjadinya. Adapun yang mempertanyakannya hanyalah mereka saja. Kemudian tidak diberikan jawaban tentang apa yang mereka pertanyakan itu. Tidak dipaparkan pula hakikat sesuatu yang mereka pertanyakan itu, melainkan dibiarkan dengan sifatnya saja yang besar. Kemudian pembicaraan beralih kepada ancaman yang ditujukan kepada mereka. Hal ini lebih mengena daripada jawaban secara langsung, dan lebih mendalam ketakutan yang ditimbulkannya,
“Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian, sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. ” (An Naba’: 4-5)
Lafal “kallaa” sekali-kali tidak!’ diucapkan untuk membentak dan menghardik. Karena itu, lafal ini sangat tepat dipakai di sini sesuai dengan bayangan yang perlu disampaikan. Diulangnya lafal ini beserta kalimatnya adalah untuk mengancam.
Fenomena Alam yang Perlu Diperhatikan
Kemudian, di luar tema berita besar yang mereka perselisihkan itu, di bawalah mereka untuk melakukan perjalanan yang dekat di alam semesta yang terlihat ini bersama sejumlah benda-benda yang berwujud, fenomena-fenomena, hakikat-hakikat, dan pemandangan-pemandangan yang menggetarkan hati yang mau merenungkannya,
‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (An Naba’: 6-16)
Perjalanan di hamparan alam semesta yang luas dengan lukisan-lukisan dan pemandangan-pemandangan nya yang besar, dikemas dengan kata-kata dan kalimat kalimat singkat sehingga, memberikan kesan yang tajam, berat, dan mengena. Ia seakan akan alat pengetuk yang mengetuk bertalu-talu dengan nada berhenti dan nada putusnya.
Kalimat tanya yang diarahkan kepada lawan bicara, yang menurut ilmu bahasa menunjukkan penetapan, memang merupakan bentuk kalimat yang sengaja dibuat demikian. Seakan-akan ia merupakan tangan kuat yang mengguncangkan orang-orang lalai. Yakni, orang-orang yang mengarahkan pandangan dan hali mereka kepada himpunan makhluk dan fenomenafenomena yang mengisyaratkan adanya pengaturan dan penentuan di belakangnya. Juga mengisyaratkan adanya kekuasaan yang mampu menciptakan dan mengulang penciptaan itu kembali, dan mengisyaratkan adanya hikmah yang tidak membiarkan makhluk (manusia) tanpa pertanggungjawaban, tanpa dihisab, dan tanpa diberi pembalasan. Di sini, bertemulah ia dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu.
Sentuhan pertama dalam perjalanan ini adalah tentang bumi dan gunung-gunung,
‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan .dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An Naba’: 6-7)
‘Al-mihaad’ berarti dihamparkan untuk tempat berjalan di atasnya, dan hamparan yang lunak bagaikan buaian. Kedua makna ini saling berdekatan. Ini adalah hakikat yang dapat dirasakan manusia apa pun tingkat kebudayaan dan pengetahuannya. Sehingga, tidak memerlukan pengetahuan yang banyak untuk memahaminya dalam bentuknya yang nyata.
Keberadaan gunung-gunung sebagai pasak bumi ini merupakan sebuah fenomena yang dapat dilihat oleh mata orang pedalaman sekalipun. Baik yang ini bumi dengan hamparannya maupun yang itu gunung yang menjadi pasak bumi) memiliki kesan tersendiri di dalam perasaan apabila jiwa manusia ter arahkan ke sana untuk merenungkannya. Akan tetapi, hakikat ini lebih besar dan lebih luas ,jangkauannya daripada apa yang diperkirakan oleh manusia badui (pedalaman) ketika ia semata-mata menerima dengan indra nya. Setiap kali meningkat dan bertambah pengetahuan manusia tentang tabiat dan perkembangannya, maka semakin besarlah kesannya terhadap ini di dalam jiwanya. Lalu, mengerti lah ia bahwa di balik itu terdapat kekuasaan Ilahi yang agung dan rencana-Nya yang halus penuh hikmah. Demikian juga dengan adanya kesesuaian antara anggota-anggota alam semesta ini dan kebutuhan-kebutuhannya, beserta disiapkan nya bumi ini untuk menerima kehidupan manusia dan mengaturnya. Juga disiapkan nya manusia untuk menyelesaikan diri dengan lingkungannya dan untuk saling mengerti.
Dihamparkan nya bumi bagi kehidupan, dan bagi kehidupan manusia secara khusus, menjadi saksi tak terbantahkan yang memberikan kesaksian akan adanya akal yang mengatur di balik alam wujud yang nyata ini. Karena itu, rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan bumi dengan semua kondisinya, atau rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan kehidupan untuk hidup di bumi, maka kerusakan di sini ataupun di sana tidak akan menjadikan bumi sebagai hamparan. Juga tidak akan ada lagi hakikat yang diisyaratkan oleh Al Qur’ an secara global, untuk dimengerti oleh setiap manusia sesuai dengan tingkat ilmu dan pengetahuannya.
Dijadikannya gunung sebagai pasak bagi bumi, dapat dimengerti oleh manusia dari segi bentuknya dengan pandangannya semata-mata, karena ia lebih mirip dengan pasak-pasak kemah yang diikatkan padanya. Adapun hakikatnya kita terima dari informasi Al Qur’an. Darinya kita mengetahui bahwa gunung-gunung itu memantapkan bumi dan menjaga keseimbangannya. Mungkin karena gunung-gunung itu menyeimbangkan antara kerendahan lautan dan ketinggian gunung-gunung; menyeimbangkan antara pengerutan rongga bumi dan pengerutan atapnya; dan menekan bumi pada titik tertentu hingga ia tidak lenyap dengan adanya gempa bumi, gunung meletus, dan guncangan-guncangan dalam perutnya. Atau, mungkin karena ada alasan lain yang belum terungkap hingga kini. Karena, banyak sekali aturan dan hakikat-hakikat yang tidak
diketahui manusia yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an-Al-Karim, kemudian diketahui sebagiannya oleh manusia setelah beratus-ratus tahun berikutnya!
Sentuhan kedua adalah mengenai jiwa manusia, dalam beberapa segi dan hakikat yang berbeda-beda, “… Kami jadikan kamu berpasang pasangan…. ” (An Naba’: 8)
Ini juga merupakan satu fenomena yang perlu diperhatikan, yang dapat diketahui oleh setiap manusia dengan mudah dan sederhana. Allah telah menjadikan manusia terdiri dari laki-laki dan wanita, dan menjadikan kehidupan dan pelestarian nya dengan adanya perbedaan jenis kelamin yang berpasangan dan pertemuan antara kedua jenis kelamin yang berbeda itu. Setiap orang mengetahui fenomena ini dan merasakan adanya kegembiraan, kenikmatan, kesenangan, dan kebaruan suasana tanpa memerlukan ilmu yang banyak. Karena itu, Al Qur’an membicarakan hal ini kepada manusia di lingkungan manapun ia berada. Sehingga, ia mengetahuinya dan terkesan olehnya apabila ia mengarahkan pikirannya ke sana, dan merasakan adanya tujuan, kesesuaian, dan pengaturan padanya.
Di belakang perasaan-perasaan yang bersifat global terhadap nilai hakikat ini dan kedalamannya, terdapat -pemikiran lain ketika manusia itu meningkat pengetahuan dan perasaannya. Di sana terdapat pemikiran tentang kekuasaan yang menjadikan nutfah (mani) itu anak laki-laki dan nutfah ini anak wanita. Padahal, tidak ada sesuatu yang membedakan secara jelas di dalam nutfah ini atau itu, yang menjadikannya menempuh jalannya untuk menjadi anak laki-laki atau anak wanita.
Ya Allah, ini tidak lain kecuali karena adanya iradah kodrat yang menciptakan dengan rencana yang halus, dan pengarahan yang lembut. Juga pemberian ciri-ciri khusus yang dikehendaki-Nya pada nutfah ini dan itu, untuk menciptakan dari keduanya dua insan berpasangan, guna mengembangkan dan melestarikan kehidupan.
“…Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan….”(An Naba’: 9-11)
Di antara pengaturan Allah terhadap manusia ialah menjadikan tidur sebagai istirahat dan menghentikan mereka dari berpikir dan beraktivitas. Dia menjadikan mereka dalam keadaan yang tidak mati dan tidak pula hidup, untuk mengistirahatkan fisik dan syaraf-syarafnya. Juga untuk memulihkan tenaga yang dikeluarkannya pada saat jaga, bekerja, dan sibuk dengan urusan kehidupan. Semua ini terjadi dengan cara menakjubkan yang manusia tidak mengerti caranya. Tidak ada andil sedikit pun iradah manusia di dalam hal ini, dan tidak mungkin ia mengetahui bagaimana hal ini berjalan dengan sempurna sedemikian rupa. Ketika dalam keadaan jaga pun, ia tidak mengetahui bagaimana cars kerjanya pada scat tidur. Apalagi dalam keadaan tertidur. Sudah tentu ia tidak mengetahui keadaan ini dan tidak dapat memperhatikannya.
Ini adalah salah satu rahasia bangunan makhluk hidup yang tidak diketahui kecuali oleh yang menciptakannya dan meletakkan rahasia itu padanya, serta menjadikan kehidupannya bergantung atasnya. Maka, tidak ada seorang pun yang mampu hidup tanpa tidur kecuali dalam waktu yang sangat terbatas. Kalau ia memaksakan diri dengan menggunakan sarana luar agar terus berjaga (tidak tidur), maka sudah tentu ia akan binasa. Di dalam tidur pun terdapat rahasia yang tidak berkaitan dengan kebutuhan fisik dan saraf yaitu, berhenti nya ruh dari melakukan pergulatan hidup yang keras. Ketenangan mengunjunginya sehingga ia meletakkan senjata dan meninggalkan kebunnya, senang ataupun tidak senang. Ia menyerah kepada saat kedamaian yang penuh keamanan, yang dibutuhkan setiap orang sebagaimana kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.
Terjadilah sesuatu yang mirip mukjizat pada saat saat tertentu ketika rasa kantuk menimpa kelopak mata, ruh merasa berat, saraf-saraf telah letih, jiwa gelisah, dan hati merasa takut. Kantuk ini yang kadang-kadang hanya beberapa saat saja seakan akan membuat pembalikan (perubahan) total bagi keberadaan manusia dan memperbarui bukan hanya kekuatannya melainkan dirinya, sehingga ia seakan-akan sebagai wujud baru setelah bangun. Kemukjizatan (keluarbiasaan) ini pernah terjadi dalam bentuk yang jelas bagi kaum muslimin yang kelelahan dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Allah memberi kenikmatan dan ketenteraman kepada mereka dengan kantuk ini sebagaimana yang terjadi pada banyak orang dalam keadaan keadaan yang mirip. Firman Nya,
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya. “(Al Anfaal: 11)
‘Kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu.”(Ali Imran: 154)
Maka, istirahat yakni menghentikan berpikir dan beraktivitas dengan tidur ini merupakan suatu keharusan dari keharusan bangunan kehidupan. Ia merupakan satu rahasia dari rahasia-rahasia kekuasaan yang mencipta dan salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang tidak ada seorang pun yang mampu memberikannya selain Dia. Adapun mengarahkan perhatian kepadanya sebagaimana yang dicontohkan Al Qur’an ini, mengingatkan dan menyadarkan hati kepada kekhususan-kekhususan Dzat-Nya. Juga kepada tangan yang mewujudkan eksistensinya dan menyentuh hati tersebut dengan sentuhan yang membangkitkannya untuk memikirkan dan merenungkan serta mengambil kesan darinya.
Di antara pengaturan Allah juga ialah Dia menjadikan gerakan alam ini selaras dengan gerakan makhluk-makhluk hidup. Sebagaimana Dia meletakkan pada manusia rahasia tidur dan istirahat sesudah bekerja dan melakukan aktivitas, maka Dia meletakkan pada alam ini fenomena malam sebagai pakaian penutup yang menjadikan istirahat dan pengenduran saraf itu berjalan dengan sempurna. Juga meletakkan fenomena siang untuk mencari penghidupan, yang dalam waktu siang inilah gerak dan aktivitas dapat berjalan dengan sempurna.
Dengan demikian, selaras dan serasi lah ciptaan Allah, dan alam ini pun sangat cocok bagi makhluk hidup dengan segala kekhususan nya. Makhluk-makhluk hidup itu dibekali dengan susunan yang cocok dengan gerak dan kebutuhan-kebutuhannya, sesuai dengan kekhususan dan kesesuaian yang diletakkan pada alam semesta. Semua ini keluar dari tangan kekuasaan yang mencipta dan mengatur dengan serapi-rapi nya.
Sentuhan ketiga adalah tentang penciptaan langit yang sangat serasi dan sesuai dengan bumi dan makhluk hidup,
‘Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?”(An Naba’: 12-16)
Tujuh buah langit yang kokoh yang dibangun Allah di atas bumi itu adalah langit yang tujuh, yaitu tujuh petala langit sebagaimana disebutkan di tempat lain. Dan, yang dimaksud dengannya dengan pembatasan ini hanya Allah yang mengetahuinya. Mungkin yang dimaksudkan adalah tujuh gugusan bintang, yang setiap satu gugusan nya bisa mencapai ratusan bintang. Ketujuh gugusan inilah yang mempunyai hubungan dengan bumi dan tata surya kita. Mungkin yang dimaksudkan bukan ini dan bukan itu. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam susunan alam semesta ini, sedangkan yang diketahui oleh manusia hanya sedikit.
Sesungguhnya ayat ini hanya mengisyaratkan bahwa tujuh buah langit yang kokoh itu sangat kokoh dan kuat bangunannya, yang tidak mungkin retak dan berantakan. Inilah yang kita lihat dan kita ketahui dari tabiat tata surya dan benda-benda angkasa yang biasa kita sebut dengan langit, yang dapat diketahui oleh setiap orang. Di samping itu, ayat ini juga mengisyaratkan bahwa bangunan wajah langit yang kokoh itu serasi dengan planet bumi dan manusia. Karena itulah, ia disebutkan di dalam membicarakan pengaturan Allah dan penentuan Nya terhadap kehidupan bumi dan manusia, yang ditunjuki oleh ayat sesudahnya, ‘Kami jadikan pelita yang amat terang.”(An Naba’:13), yaitu, matahari yang bersinar terang benderang yang menimbulkan rasa panas untuk hidupnya bumi dan makhluk-makhluk hidup di atasnya. Juga menimbulkan pengaruh bagi terbentuknya awan yang membawa uap air dari lautan yang luas di bumi dan menyalaminya ke lapisan lapisan udara yang sangat tinggi. Itulah Al mu’shirat ‘awan’ sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“… dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.”(An Naba’: 14)
Ketika ia diperas, lalu turun dan berjatuhan yang berupa air. Siapakah yang memerasnya? Mungkin angin atau kehampaan aliran listrik pada beberapa tingkatan udara. Di balik semua itu terdapat tangan kekuasaan yang menimbulkan pengaruh-pengaruh pada alam semesta. Pada pelita terdapat penyalaan, panas dan cahaya, yang semuanya terdapat pada matahari. Karena itu, dipilihnya kata “siraj” ‘pelita’ di sini merupakan pilihan yang sangat cermat dan jeli. Dari pelita yang amat terang dengan segala cahaya terang dan panasnya, dan dari awan dengan air yang diperas darinya hingga banyak tercurah, tumbuhlah biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan untuk dimakan, kebun-kebun yang lebat, serta pohon-pohon yang rimbun dan bercabang-cabang.
Keserasian dan keselarasan di alam ini tidak mungkin terjadi kecuali di baliknya ada tangan yang mengaturnya, ada kebijaksanaan yang menentukannya, dan ada iradah yang menatanya. Hal ini dapat diketahui oleh setiap insan dengan hati dan perasaannya ketika perasaannya diarahkan ke sana. Apabila ilmu dan pengetahuannya meningkat, maka akan terkuak lah keserasian dan kerapian ini sedemikian luas dengan tingkatan-tingkatannya yang menjadikan akal dan pikiran kebingungan dan terkagum-kagum. Juga menjadikan pendapat yang mengatakannya sebagai kebetulan adalah pendapat yang tidak berbobot dan tidak perlu ditanggapi, sebagaimana sikap orang yang tidak mau menghiraukan adanya tujuan dan pengaturan pada alam ini hanyalah sikap keras kepala yang tidak perlu dihormati.
Alam ini ada penciptanya. Di belakang alam ini, terdapat penataan, penentuan, dan pengaturan. Hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan ini disebutkan secara beruntun di dalam nash Al Qur’an dengan urutan seperti ini. Yaitu, dijadikannya bumi sebagai hamparan, gunung sebagai pasak bagi bumi, manusia berpasang-pasangan, tidur mereka sebagai istirahat (sesudah bergerak, berpikir, dan melakukan aktivitas), malam sebagai pakaian untuk menutup dan menyelimuti, dan siang untuk mencari penghidupan, berpikir, dan beraktivitas. Kemudian dibangunnya rajah langit yang kokoh, dijadikannya pelita yang amat terang (matahari), dan diturunkannya air yang tercurah dari awan untuk menumbuhkan biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun.
Keberuntungan hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan yang seperti ini mengesankan adanya pengaturan yang cermat, mengisyaratkan adanya pengaturan dan penentuan, dan mengesankan adanya Sang Maha Pencipta yang Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa. Disentuhnya hali dengan sentuhan-sentuhan yang mengesankan dan mengisyaratkan adanya maksud dan tujuan di belakang kehidupan ini. Dari sini, bertemulah konteks ini dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu!
Hari Perhitungan dan Pembalasan
Semua itu adalah agar manusia bisa berbuat dan bersenang-senang, dan di belakangnya terdapat perhitungan dan pembalasan. Hari keputusan itu sudah ditentukan waktunya,
‘Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 17-20)
Sesungguhnya manusia tidak diciptakan dengan sia-sia dan tidak dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Dzat yang telah menentukan kehidupan mereka dengan ketentuan sebagaimana telah disebutkan di muka dan menyerasikan kehidupan mereka dengan alam tempat hidup mereka, tidak mungkin membiarkan mereka hidup tiada guna dan mati dengan sia-sia, membiarkan mereka berbuat kebaikan atau kerusakan di bumi, lantas mereka pergi ke dalam tanah dengan sia-sia begitu saja. Tidak mungkin Dia membiarkan mereka mengikuti petunjuk jalan yang lurus dalam kehidupan atau mengikuti jalan yang sesat, lantas semuanya dipertemukan dalam satu tempat kembali. Tidak mungkin mereka berbuat adil dan berbuat zhalim, lantas keadilan atau kezhaliman itu berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pembalasan.
Sungguh di sana akan ada suatu hari untuk memberikan ketetapan, membedakan (antara yang benar dan yang salah, yang adil dan yang zhalim, yang baik dan yang buruk), dan memberi keputusan terhadap segala sesuatu. Yaitu, hari yang sudah ditentukan dan ditetapkan waktunya oleh Allah,
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. ” (An Naba’: 17)
Yaitu, hari yang ketika itu tatanan alam semesta sudah terbalik, ikatan-ikatan peraturannya sudah berantakan dan tidak berlaku lagi.
“Yaitu, hari ( yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. ” (An Naba’: 18)
Ash-shuur artinya ’sangkakala’. Kita tidak mengetahui nama lain selain itu. Kita tidak mengetahui kecuali akan ditiup. Kita tidak perlu menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana caranya. Karena, memikirkan cara peniupan nya itu tidak akan menambah keimanan kita dan tidak ada pengaruhnya terhadap peristiwa itu. Allah telah memelihara potensi kita agar tidak kita gunakan secara sewenang-wenang untuk membicarakan apa yang ada di balik perkara gaib yang tersembunyi ini. Dia telah memberikan kepada kita ukuran tertentu yang bermanfaat bagi kita, sehingga kita tidak menambah-nambahnya. Kita hanya membayangkan tiupan sangkakala yang membangkitkan dan mengumpulkan manusia untuk datang berkelompok-kelompok. Kita bayangkan pemandangan ini dan manusia-manusia yang telah hilang jati diri dan sosoknya dari generasi demi generasi, dan meninggalkan permukaan bumi untuk ditempati oleh orang-orang yang datang sesudahnya agar tidak menjadi sempit bagi mereka permukaan bumi yang terbatas ini.
Kita bayangkan pemandangan yang berupa manusia secara keseluruhan (sejak manusia pertama hingga manusia terakhir) bangun dan berdiri, lalu datang berbondong-bondong dari setiap lembah menuju ke tempat mereka dikumpulkan. Kita bayangkan kubur-kubur yang berserakan dan manusia-manusia yang bangun darinya. Kita bayangkan semuanya berkumpul menjadi satu dan ketika itu yang pertama tidak mengenal yang belakangan. Kita bayangkan ketakutan yang ditimbulkan oleh berkumpulnya manusia sedemikian rupa yang tidak pernah terjadi semua manusia berkumpul dalam satu waktu seperti yang terjadi pada hari ini. Di mana? Kita tidak tahu. Karena, di alam yang kita ketahui pernah terjadi berbagai peristiwa dan hal-hal menakutkan yang bersifat fisik itu, telah terjadi perubahan luar biasa,
‘Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (An Naba’: 19-20)
Langit yang dibangun dengan kokoh, dibuka lalu terdapat beberapa pintu. Ia pecah terbelah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dan surat lain. Langit berubah keadaannya dengan keadaan yang belum pernah kita alami selama ini. Sedangkan, gunung-gunung yang menjadi pasak bumi dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. Ia dihancur-lebur kan, berantakan, dan berhamburan ke udara, digerakkan oleh angin, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat dan surat-surat lain. Karena itu, ia tidak ada wujudnya lagi bagaikan fatamorgana, atau ia yang telah menjadi debu itu diterpa cahaya sehingga menjadi seperti fatamorgana. Sungguh menakutkan dan mengerikan terjadinya ke-amburadul-an alam yang dapat dipandang mata itu, sebagaimana menakutkan nya ketika manusia dikumpulkan setelah ditiup nya sangkakala. Inilah hari keputusan yang sudah ditentukan bakal terjadinya itu, dengan hikmah dan rencana Allah.
Neraka Jahannam dan Penghuninya
Ayat-ayat berikutnya melanjutkan perjalanan ke belakang peniupan sangkakala dan pengumpulan manusia di padang mahsyar. Maka, dilukiskan lah tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertaqwa. Pembahasan dimulai dengan membicarakan kelompok pertama yang mendustakan dan mempertanyakan berita yang besar itu,
Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain azab. “( An Naba’: 21-30)
Sesungguhnya neraka Jahannam itu sudah diciptakan, sudah ada, dan padanya ada tempat pengintai bagi orang-orang yang melampaui batas. Ia menunggu dan menantikan mereka yang akan sampai juga ke sana, karena ia memang disediakan dan disiapkan untuk menyambut mereka. Seakan-akan mereka melakukan perjalanan (tour) di bumi, kemudian mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka datang ke tempat kembalinya ini untuk menetap di sini dalam masa yang amat panjang, berabad-abad, ‘Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman.”(An Naba’: 24)
Kemudian dikecualikan, tetapi pengecualian ini lebih pahit dan lebih pedih,
“… selain air yang mendidih dan nanah. ” (An Naba’: 25)
Kecuali air yang panas mendidih, yang memanggang kerongkongan dan perut. Nah, inilah kesejukan itu. Juga kecuali nanah yang meleleh dan mengalir dari tubuh orang-orang yang dibakar itu. Maka, inilah minumannya!
‘:..sebagai pembalasan yang setimpal. ” (An Naba’: 26)
Setimpal dengan tindakan dan kelakuan mereka pada masa lalu sewaktu di dunia dulu.
“Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab. ” (An Naba’: 27)
Mereka tidak takut pada tempat kembalinya nanti.
“.. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya….” (An Naba’: 28)
Tekanan keras pada lafal ini mengisyaratkan sangat kerasnya pendustaan dan kebandelan mereka. Allah menghitung atas mereka setiap sesuatunya dengan hitungan yang amat cermat dan tidak satu pun yang terluput,
“Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. ” (An Naba’: 29)
Di sini datanglah ledekan yang memutuskannya dari segala harapan untuk mendapat perubahan atau keringanan,
“Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain dari azab!” (An Naba’: 30)
Keadaan Orang-rang yang Bertaqwa
Sesudah dibentangkan pemandangan orang-orang yang melampaui batas di dalam air yang mendidih, dibeberkan lah pemandangan sebaliknya. Yakni, pemandangan orang-orang bertaqwa yang ada di dalam surga,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. ” (An Naba’: 31-36)
Apabila Jahannam itu menjadi pengintai dan tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, yang mereka tidak dapat lepas dan melintas darinya, maka orang-orang yang bertaqwa akan berkesudahan di tempat keberuntungan dan keselamatan yang berupa “kebun-kebun dan buah anggur”. Disebutkan nya buah anggur secara khusus dan tertentu di sini adalah karena anggur itulah yang populer di kalangan orang-orang yang mendengar firman ini. Juga gadis-gadis remaja yang sebaya “umur dan kecantikannya. ‘Dan, gelas gelas yang penuh” berisi minuman.
Ini adalah kenikmatan-kenikmatan yang lahirnya bersifat inderawi, untuk mendekatkannya kepada apa yang dibayangkan manusia. Adapun hakikat rasa dan kenikmatannya belum pernah dirasakan oleh penduduk dunia karena mereka terikat dengan batas-batas dan gambaran-gambaran duniawi. Di samping kenikmatan lahiriah yang demikian, mereka juga mengalami keadaan yang dirasakan oleh hati dan perasaan,
‘Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. ” (An Naba’: 35)
Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang terpelihara dari kesia-siaan dan kebohongan yang biasanya diiringi dengan bantahan dan sanggahan. Maka, hakikat (keadaan yang sebenarnya) di sini diungkapkan, tidak ada peluang untuk membantah dan mendustakan, sebagaimana tidak ada peluang untuk berkata sia-sia yang tidak ada kebaikan padanya. Inilah suatu keadaan dari keluhuran dan kesenangan yang cocok dengan negeri akhirat yang kekal.
“Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.”(An Naba’: 36)
Di sini kita menjumpai fenomena keindahan dalam ungkapannya dan kesamaan bunyi pada kata dan sebagaimana kita rasakan juga iramanya pada akhir setiap kalimatnya dengan bunyi yang hampir sama. Ini merupakan fenomena yang jelas di dalam juz ini seluruhnya secara global.
Malaikat pun Merasa Takut
Untuk melengkapi pemandangan-pemandangan hari yang padanya sempurna segala urusan itu, dan yang dipertanyakan oleh orang-orang yang mempertanyakan, serta diperselisihkan oleh orang-orang yang memperselisihkan, maka datanglah pemandangan terakhir dalam surat ini. Yakni, ketika malaikat Jibril dan malaikat-malaikat lainnya berdiri berbaris dengan khusyu di hadapan Allah yang Rahman, tanpa berkata sepatah kata pun kecuali yang diizinkan oleh yang Rahman di tempat yang menakutkan dan agung itu,
‘Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (An Naba’: 37-38)
Pembalasan yang dijelaskan pada segmen di atas adalah pembalasan bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertaqwa. Pembalasan ini adalah “dari Tuhanmu, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah”.
Kalimat ini serasi benar dengan sentuhan dan hakikat yang besar ini. Hakikat rububiyah ‘pemeliharaan Tuhan’ yang Esa, meliputi seluruh manusia sebagaimana ia meliputi langit dan bumi serta dunia dan akhirat, dan memberikan balasan kepada perbuatan melampaui batas dan perbuatan takwa, serta berujung padanyalah urusan akhirat dan dunia Kemudian, Dia adalah ‘Maha Pemurah, Pemilik dan Pemberi rahmat”.
Karena rahmat-Nya inilah, maka diberikan balasan kepada mereka ini dan mereka itu. Sehingga, pemberian hukuman kepada orang-orang yang melampaui batas itu bersumber dari rahmat Tuhan yang Rahman ini. Karena rahmat ini pula, maka keburukan mendapatkan balasan yang tidak sama dengan balasan bagi kebaikan di tempat kembali nanti.
Di samping rahmat dan keagungan ini, “mereka tidak dapat berbicara dengan Dia” pada hari yang menakutkan ketika malaikat Jibril as dan malaikat-malaikat lain berdiri “bershaf–shaf tanpa berbicara sepatah kata pun’ kecuali dengan adanya izin dari yang Maha Pemurah untuk mengucapkan perkataan yang benar. Maka, tidak ada yang diizinkan oleh Ar-Rahman kecuali yang sudah diketahui bahwa ia benar.
Hari yang Pasti Terjadi
Sikap orang-orang yang didekatkan kepada Allah, yang bersih dari dosa-dosa dan kemaksiatan ini adalah diam tanpa berkata-kata sedikit pun kecuali dengan adanya izin dari Allah dan dengan perhitungan. Suasananya dipenuhi dengan ketakutan, kesedihan, keagungan, dan ketundukan. Di bawah bayang-bayang pemandangan ini terdengarlah seruan yang berisi peringatan dan mengguncang orang-orang yang tertidur dan mabuk kepalang ,
“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka, barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. ” (An Naba’: 39-40)
Inilah guncangan keras terhadap mereka yang hatinya dipenuhi keraguan dan selalu mempertanyakan “hari yang Pasti terjadi” itu. Maka, tidak ada peluang untuk mempertanyakan dan memperselisihkannya. Selagi masih ada kesempatan, “maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada, Tuhannya “sebelum neraka Jahannam mengintai nya dan menjadi tempat kembalinya.
Inilah peringatan untuk menyadarkan orang-orang yang mabuk kepalang, “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu siksa yang dekat”. Maka, Jahannam itu senantiasa menantikan dan mengintaimu seperti yang kamu ketahui. Dunia ini secara keseluruhan adalah perjalanan yang pendek dan usia yang singkat!
Inilah azab yang mengerikan dan menakutkan, sehingga orang kafir lebih memilih hilang eksistensinya daripada masih berwujud,
‘Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu hanyalah tanah. ” (An Naba’: 40)
Tidaklah orang berkata seperti ini kecuali dia berada dalam kesempitan dan kesedihan yang sangat. Ini adalah kalimat yang memberikan bayang-bayang ketakutan dan penyesalan. Sehingga, ia berangan-angan untuk tidak pernah menjadi manusia, dan menjadi unsur yang diabaikan dan disia-siakan (tak diperhitungkan). la melihat bahwa yang demi kian itu lebih ringan daripada menghadapi keadaan yang menakutkan dan mengerikan. Ini suatu sikap yang bertolak belakang dengan keadaan ketika mereka mempertanyakan dan meragukan berita besar tersebut!!! Allahu a’lam
http://www.dakwatuna.com/2009/tafsir-surat-an-naba/
“Hanya Sebatas Ilmu Dunia, Lalai Akan Ilmu Agama”
Khutbah Pertama :
Sesungguhnya Alloh tidaklah menciptakan manusia sia-sia. Namun, Alloh ciptakan [manusia] karena akan adanya tujuan yang agung, [yaitu] dalamrangka beribadah kepada Alloh rabbul ‘alamin. Alloh berfirman :
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al-Qiyamah : 36) Tidak diperintah dan tidak diberikan larangan? Tidak Mungkin.
Maka dari itu Alloh mewajibkan hamba-hambaNya untuk mengetahui dan berilmu tentang Alloh, berilmu tentang kehidupan akhirat. Dan Alloh memberikan ganjaran yag besar bagi mereka yang senantiasa berusaha lebih mengetahui kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Dan Alloh mengecam orang-orang yang menjadikan ilmunya [hanya] sebatas dunia, Alloh berfirman ketika mensifati orang-orang yang dikecam oleh Alloh, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Alloh. Alloh berfirman :
يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar-Ruum : 7)
Mereka [kata Alloh] يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ilmunya hanya sebatas lahiriah kehidupan dunia. Mereka hanya berilmu, mereka hanya mengetahui tentang kehidupan dunia] وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat]
Oleh karena itu, Rosululloh ketika menyebutkan 5 (lima) orang yang dibenci oleh Alloh, dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan, dari hadits Abu Hurairoh –radhiyallohu ‘anhu-, Rosululloh bersabda :
“Sesunggunya Alloh murka, marah kepada setiap orang yang (1)yang keras, kasar lagi sombong (2) yang serakah lagi tamak (3) yang suka berteriak2 dan bertengkar (4) bagaikan bangkai dimalam hari (5) berilmu tentang dunia, tapi bodoh tentang akhirat.”
Sifat yang terakhir ini, Rosululloh sebutkan sebagai sifat yang dibenci oleh Alloh, yaitu berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang kehidupan akhirat.
Makanya Rosulululloh berdo’a kepada Alloh : [artinya] “Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita kami yang paling tinggi..”. Dan Rosululloh memohon kepada Alloh perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Maka wahai saudarku, janganlah kita [menjadi seperti orang] yang disebutkan Alloh tadi, يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, [Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia] وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai]
Jangan pula kita [menjadi] seperti yang disebutkan oleh Rosululloh, bahwa Alloh murka kepada orang yang berilmu tentang dunia, tapi jahil [bodoh] tentang kehidupan akhirat.
Orang yang ada di dalam hatinya Iman, orang yang ada di dalam hatinya Islam, tidak ridho dirinya dimurkai oleh Alloh, tidak ingin bila ia dimurkai oleh Alloh.
Banyak [diantara] kaum muslimin, mereka rajin mencari ilmu dunia namun mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirtanya. Dia tidak mau peduli tentang ilmu-ilmu agama. Padahal -ayyuhal ikhwah- kebahagiaan seorang hamba terletak pada pengetahuannya tentang agamanya, [pengetahuannya] tentang akhiratnya, [pengetahuannya] tentang tujuan hidupnya, [pengetahuannya] tentang siapa rabbnya, siapa yang akan ia sembah.
Karena memang tujuan hidup kita sebagaimana Alloh firmankan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzariyat : 56)
Bagaimana kita akan beribadah kepada Alloh, sementara kita tidak tahu ilmu tentang ibadah itu sendiri? Bagaimana kita akan merealisasikan hakikat ubudiyah, sementara kita tidak pernah berilmu bagaimana tatacara beribadaha kepada Alloh yang shahih?
Maka -ummatal Islam- kewajiban kita tentu, berusaha untuk berilmu tentang kehidupan akhirat. Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyuruh kita untuk mencari kehidupan akhirat namun jangan melupakan kehidupan dunia.
Alloh berfirman
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi (Al-Qoshosh : 77)
Jangan kamu lupakan bagianmu dari kehidupan dunia, artinya akhirat adalah tujuan kita -yaa akhi- adapun dunia adalah wasilah yang kita jadikan alat menuju kehidupan akhirat.
Antum mencari naskah, tiada lain dalam rangka mencari keridhoan Alloh -subhanahu wa ta’ala-, pahala yang besar. Tentunya, ketika antum mencari nafkah, antum harus faham dan berilmu tentang perdagangan, perbisnisan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mata pencahariannya tersebut.
Dizaman Umar –radhiyallohu ‘anhu-, pedagang yang tidak faham tentang fiqih perdagangan tidak boleh berdagang. [Tapi], dizaman ini siapa saja berdagang. Terkadang kita lihat, [mereka] tidak peduli halal ataupun haram, bahkan riba pun dia makan. Bahkan -na ‘udzu billah- dia mengatakan, katanya, ‘sesuatu yang haram saja sulit untuk didapatkan bagaimana yang halal.?’
‘Ajaban!! sungguh sangat aneh orang seperti ini!!, Sehingga akhirnya pengetahuan dia hanya sebatas dunia. Tidak pernah pengetahuan dunianya diikat dengan pengetahuan akhirat.
Seorang ahli ekonomi yang ternyata jahil [bodoh], tidak faham tentang kehidupan akhirat dan hukum-hukum agama pastilah akan mencetuskan kaidah-kaidah ekonomi yang sangat bertabrakan dengan syari’at islam.
Ikhwatal Islam a ‘azzaniyalloh wa iyyakum, maka Rosululloh menegaskan kepada kita bahwasanya sifat yang dibenci oleh Alloh, orang yang dibenci oleh Alloh,
Orang yang berilmu tentang dunia tapi dia bodoh terhadap kehidupan akhirat
Tentu setiap kita [harus] instrospeksi diri yaa akhi.. Sudahkah kita berilmu tentang kehidupan akhirat ? sudahkah kita berilmu tentang agama kita lebih daripada pengetahuan kita tentang kehidupan dunia ? Sudahkan kita mempelajari tentang sholat kita, tentang tauhidulloh, tentang sunnah-sunnah Rosululloh?
Ini adalah bahan pemikiran, ini adalah tempat kita untuk senantiasa berlomba-lomba
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (Al Muthaffifin : 26)
Khutbah kedua
Ummatal Islam, maka berbahagia orang yang dijadikan oleh Alloh faqih dalam agamanya. Rosul kita yang mulia ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;
[artinya] barangsiapa yang dihendaki oleh Alloh kebaikan untuk dirinya, dia akan difaqihkan tentang agama.
Kebalikannya, barang siapa yang Alloh tidak inginkan kebaikan untuknya, tidak akan difaqihkan dalam agama. Dia tidak akan lagi peduli terhadap agamanya, sehingga pada waktu itu dia lebih mengikuti hawa nafsunya daripada mengikuti ayat-ayat Rabbnya..
Padahal Alloh -subhanahu wa ta’ala- ayyuhal ikhwah mempermisalkan orang-orang seperti itu bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab besar
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (Al Jumu’ah : 5)
Maka sudah saatnya kita untuk duduk di majlis-majlis ilmu, karena [majlis ilmu] itu adalah merupakan taman dari taman-taman surga. Sebagiamana dikatakan oleh Abdulloh ibn Mas’ud –radhiyallohu ‘anhu-
‘Apabila kalian melewati taman dari taman-taman surga maka singgahlah!’. Lalu beliau ditanya, “Wahai abu Abdirrahman, apa yang dimaksud dengan taman surga itu”. Kata beliau, ‘Halaqoh-halaqoh Ilmu’
Rosululloh bersabda, “Aku duduk bersama kaum yang mereka bedzikir kepada Alloh setelah selesai sholat fajar sampai matahari terbit, itu lebih aku sukai daripada matahari yang terbit pada hari itu”
Lalu Anas –radhiyallohu ‘anhu- berkata, ‘tahukah kalian apa yang dimaksud dengan majlis dzikir yang disebutkan oleh Rosululloh tadi?’ Bukanlah majlis dzikir disini seperti yang kalian fahami. Akan tetapi -kata Anas-, ‘Ia adalah majlis-majlis ilmu’
[Majlis ilmu adalah majlis] yang dibahas padanya ilmu tentang Alloh, yang dibahas padanya ilmu tentang Rosuulloh. Yang dibahas padanya ilmu tentang hak-hak Alloh, tentang sunnah Rosululloh, tentang tauhidulloh, qola Alloh wa qola Rosul [Firman Alloh dan Sabda RosulNya]..
Sebagaimana Adz Dzhahabi berkata, ‘Ilmu itu adalah firman Alloh, sabda Rosululloh, dan apa yang difahami oleh Shahabat Rosululloh, bukan apa yang diada-adakan. Ilmu itu bukan engkau menegakkan pertentangan anatara pendapat ulama dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits.’
Maka -ikhwatal islam- jadilah kita termasuk abna ul akhiroh (Anak-anak akhirat) dan jangan kita menjadi abna ud dunya (Anak-anak dunia). Rosululloh mencela anak-anak dunia beliau bersabda,
“Celaka hambanya dinar, celaka hambanya dirham, celaka hambanya pakaian”
Rosululloh mendo’akan kecelakaan buat anak-anak dunia, maka kita berusaha menjadi anak-anak akhirat. Yang berusaha menjadikan akhirat tujuan kita tanpa melupakan kehidupan dunia.
Sumber : Khutbah Jum’at Radio RODJA 756 AM, 5 Juni 2009 disampaikan oleh Ust. Badrusalam
http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/06/23/download-audio-hanya-sebatas-ilmu-dunia-lalai-akan-ilmu-agama-ustadz-badrusalamlc/
Sesungguhnya Alloh tidaklah menciptakan manusia sia-sia. Namun, Alloh ciptakan [manusia] karena akan adanya tujuan yang agung, [yaitu] dalamrangka beribadah kepada Alloh rabbul ‘alamin. Alloh berfirman :
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al-Qiyamah : 36) Tidak diperintah dan tidak diberikan larangan? Tidak Mungkin.
Maka dari itu Alloh mewajibkan hamba-hambaNya untuk mengetahui dan berilmu tentang Alloh, berilmu tentang kehidupan akhirat. Dan Alloh memberikan ganjaran yag besar bagi mereka yang senantiasa berusaha lebih mengetahui kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Dan Alloh mengecam orang-orang yang menjadikan ilmunya [hanya] sebatas dunia, Alloh berfirman ketika mensifati orang-orang yang dikecam oleh Alloh, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Alloh. Alloh berfirman :
يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar-Ruum : 7)
Mereka [kata Alloh] يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ilmunya hanya sebatas lahiriah kehidupan dunia. Mereka hanya berilmu, mereka hanya mengetahui tentang kehidupan dunia] وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat]
Oleh karena itu, Rosululloh ketika menyebutkan 5 (lima) orang yang dibenci oleh Alloh, dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan, dari hadits Abu Hurairoh –radhiyallohu ‘anhu-, Rosululloh bersabda :
“Sesunggunya Alloh murka, marah kepada setiap orang yang (1)yang keras, kasar lagi sombong (2) yang serakah lagi tamak (3) yang suka berteriak2 dan bertengkar (4) bagaikan bangkai dimalam hari (5) berilmu tentang dunia, tapi bodoh tentang akhirat.”
Sifat yang terakhir ini, Rosululloh sebutkan sebagai sifat yang dibenci oleh Alloh, yaitu berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang kehidupan akhirat.
Makanya Rosulululloh berdo’a kepada Alloh : [artinya] “Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita kami yang paling tinggi..”. Dan Rosululloh memohon kepada Alloh perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Maka wahai saudarku, janganlah kita [menjadi seperti orang] yang disebutkan Alloh tadi, يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, [Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia] وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai]
Jangan pula kita [menjadi] seperti yang disebutkan oleh Rosululloh, bahwa Alloh murka kepada orang yang berilmu tentang dunia, tapi jahil [bodoh] tentang kehidupan akhirat.
Orang yang ada di dalam hatinya Iman, orang yang ada di dalam hatinya Islam, tidak ridho dirinya dimurkai oleh Alloh, tidak ingin bila ia dimurkai oleh Alloh.
Banyak [diantara] kaum muslimin, mereka rajin mencari ilmu dunia namun mereka tidak peduli dengan kehidupan akhirtanya. Dia tidak mau peduli tentang ilmu-ilmu agama. Padahal -ayyuhal ikhwah- kebahagiaan seorang hamba terletak pada pengetahuannya tentang agamanya, [pengetahuannya] tentang akhiratnya, [pengetahuannya] tentang tujuan hidupnya, [pengetahuannya] tentang siapa rabbnya, siapa yang akan ia sembah.
Karena memang tujuan hidup kita sebagaimana Alloh firmankan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzariyat : 56)
Bagaimana kita akan beribadah kepada Alloh, sementara kita tidak tahu ilmu tentang ibadah itu sendiri? Bagaimana kita akan merealisasikan hakikat ubudiyah, sementara kita tidak pernah berilmu bagaimana tatacara beribadaha kepada Alloh yang shahih?
Maka -ummatal Islam- kewajiban kita tentu, berusaha untuk berilmu tentang kehidupan akhirat. Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyuruh kita untuk mencari kehidupan akhirat namun jangan melupakan kehidupan dunia.
Alloh berfirman
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi (Al-Qoshosh : 77)
Jangan kamu lupakan bagianmu dari kehidupan dunia, artinya akhirat adalah tujuan kita -yaa akhi- adapun dunia adalah wasilah yang kita jadikan alat menuju kehidupan akhirat.
Antum mencari naskah, tiada lain dalam rangka mencari keridhoan Alloh -subhanahu wa ta’ala-, pahala yang besar. Tentunya, ketika antum mencari nafkah, antum harus faham dan berilmu tentang perdagangan, perbisnisan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mata pencahariannya tersebut.
Dizaman Umar –radhiyallohu ‘anhu-, pedagang yang tidak faham tentang fiqih perdagangan tidak boleh berdagang. [Tapi], dizaman ini siapa saja berdagang. Terkadang kita lihat, [mereka] tidak peduli halal ataupun haram, bahkan riba pun dia makan. Bahkan -na ‘udzu billah- dia mengatakan, katanya, ‘sesuatu yang haram saja sulit untuk didapatkan bagaimana yang halal.?’
‘Ajaban!! sungguh sangat aneh orang seperti ini!!, Sehingga akhirnya pengetahuan dia hanya sebatas dunia. Tidak pernah pengetahuan dunianya diikat dengan pengetahuan akhirat.
Seorang ahli ekonomi yang ternyata jahil [bodoh], tidak faham tentang kehidupan akhirat dan hukum-hukum agama pastilah akan mencetuskan kaidah-kaidah ekonomi yang sangat bertabrakan dengan syari’at islam.
Ikhwatal Islam a ‘azzaniyalloh wa iyyakum, maka Rosululloh menegaskan kepada kita bahwasanya sifat yang dibenci oleh Alloh, orang yang dibenci oleh Alloh,
Orang yang berilmu tentang dunia tapi dia bodoh terhadap kehidupan akhirat
Tentu setiap kita [harus] instrospeksi diri yaa akhi.. Sudahkah kita berilmu tentang kehidupan akhirat ? sudahkah kita berilmu tentang agama kita lebih daripada pengetahuan kita tentang kehidupan dunia ? Sudahkan kita mempelajari tentang sholat kita, tentang tauhidulloh, tentang sunnah-sunnah Rosululloh?
Ini adalah bahan pemikiran, ini adalah tempat kita untuk senantiasa berlomba-lomba
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (Al Muthaffifin : 26)
Khutbah kedua
Ummatal Islam, maka berbahagia orang yang dijadikan oleh Alloh faqih dalam agamanya. Rosul kita yang mulia ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;
[artinya] barangsiapa yang dihendaki oleh Alloh kebaikan untuk dirinya, dia akan difaqihkan tentang agama.
Kebalikannya, barang siapa yang Alloh tidak inginkan kebaikan untuknya, tidak akan difaqihkan dalam agama. Dia tidak akan lagi peduli terhadap agamanya, sehingga pada waktu itu dia lebih mengikuti hawa nafsunya daripada mengikuti ayat-ayat Rabbnya..
Padahal Alloh -subhanahu wa ta’ala- ayyuhal ikhwah mempermisalkan orang-orang seperti itu bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab besar
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (Al Jumu’ah : 5)
Maka sudah saatnya kita untuk duduk di majlis-majlis ilmu, karena [majlis ilmu] itu adalah merupakan taman dari taman-taman surga. Sebagiamana dikatakan oleh Abdulloh ibn Mas’ud –radhiyallohu ‘anhu-
‘Apabila kalian melewati taman dari taman-taman surga maka singgahlah!’. Lalu beliau ditanya, “Wahai abu Abdirrahman, apa yang dimaksud dengan taman surga itu”. Kata beliau, ‘Halaqoh-halaqoh Ilmu’
Rosululloh bersabda, “Aku duduk bersama kaum yang mereka bedzikir kepada Alloh setelah selesai sholat fajar sampai matahari terbit, itu lebih aku sukai daripada matahari yang terbit pada hari itu”
Lalu Anas –radhiyallohu ‘anhu- berkata, ‘tahukah kalian apa yang dimaksud dengan majlis dzikir yang disebutkan oleh Rosululloh tadi?’ Bukanlah majlis dzikir disini seperti yang kalian fahami. Akan tetapi -kata Anas-, ‘Ia adalah majlis-majlis ilmu’
[Majlis ilmu adalah majlis] yang dibahas padanya ilmu tentang Alloh, yang dibahas padanya ilmu tentang Rosuulloh. Yang dibahas padanya ilmu tentang hak-hak Alloh, tentang sunnah Rosululloh, tentang tauhidulloh, qola Alloh wa qola Rosul [Firman Alloh dan Sabda RosulNya]..
Sebagaimana Adz Dzhahabi berkata, ‘Ilmu itu adalah firman Alloh, sabda Rosululloh, dan apa yang difahami oleh Shahabat Rosululloh, bukan apa yang diada-adakan. Ilmu itu bukan engkau menegakkan pertentangan anatara pendapat ulama dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits.’
Maka -ikhwatal islam- jadilah kita termasuk abna ul akhiroh (Anak-anak akhirat) dan jangan kita menjadi abna ud dunya (Anak-anak dunia). Rosululloh mencela anak-anak dunia beliau bersabda,
“Celaka hambanya dinar, celaka hambanya dirham, celaka hambanya pakaian”
Rosululloh mendo’akan kecelakaan buat anak-anak dunia, maka kita berusaha menjadi anak-anak akhirat. Yang berusaha menjadikan akhirat tujuan kita tanpa melupakan kehidupan dunia.
Sumber : Khutbah Jum’at Radio RODJA 756 AM, 5 Juni 2009 disampaikan oleh Ust. Badrusalam
http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/06/23/download-audio-hanya-sebatas-ilmu-dunia-lalai-akan-ilmu-agama-ustadz-badrusalamlc/
Mengenali Kesalahan dan Kelemahan Diri
Allah SWT berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“……maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm:32).
Mengetahui dan menyadari kesalahan adalah awal kebaikan. Sementara merasa benar terus adalah awal dari kehancuran. Kesalahan memang merupakan tabiat manusia, namun tidaklah bijaksana bila kita terus menerus melanggengkan kesalahan apalagi mewariskannya kepada binaan-binaan atau anak-anak kita.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”. (An-Nisa:9)
Ayat diatas mengingatkan kita adanya keterkaitan yang erat antara kuat atau lemahnya generasi penerus dengan ketakwaan dan kebenaran ucapan orang tua atau pembina. Oleh karena itu sepantasnyalah kita selalu mawas diri jangan sampai kita mewariskan keburukan kepada penerus-penerus kita.
Hendaklah kita menjadi pribadi yang malu bila berbuat salah. Malu kepada Allah dan malu kepada orang-orang beriman. Tidak cukup sekadar mengetahui bahwa diri kita salah, tetapi kita begitu manja meminta permakluman dari Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Yang harus kita lakukan bukan hanya menjauhi kesalahan-kesalahan yang besar dan fatal tetapi juga berusaha menghindarkan diri dari kekeliruan-kekeliruan kecil. Sebab apapun bentuknya bila kita sadar melakukan kesalahan tetap saja itu merupakan dosa.
Siapa pun kita pasti pernah terjatuh pada kesalahan. Tugas kita adalah memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Untuk kesalahan pada sesama manusia tentu saja kita harus meminta maaf lebih dulu kepada mereka. Jangan gengsi untuk mengakui kesalahan. Jangan sampai kita berbohong untuk membela kesalahan kita. Apalagi kita berargumen untuk membela kesalahan tersebut dan meminta orang lain menganggap bahwa kesalahan kita adalah kebenaran, na’udzubillahi min dzalik.
Allah paling mengetahui tentang diri kita dan melebihi pengetahuan kita. Maka janganlah kita merasa diri kita bersih dan merasa diri paling benar. Kalaupun kita benar dan orang lain salah kita tidak boleh melecehkan kesalahannya. Kalau kita tidak ingin aib kita dibuka orang lain maka jangan buka aib orang lain. Meluruskan diri sendiri dan orang lain tidak perlu dengan cara membuka aib. Cukuplah kita meminta ampun kepada Allah dan melakukan langkah-langkah perbaikan yang lebih menjaga kehormatan diri dan orang lain. Terkadang ada orang yang karena kesalahannya terlanjur dibeberkan menjadi malu dan bersikap antipati, bukan hanya kepada yang membeberkan tetapi juga kepada wadah di mana si pembeber aib bernaung.
“Janganlah karena engkau orang jadi benci terhadap Islam” (Al Hadits).
Kebenaran harus diperjuangkan dengan cara yang benar pula,
الغاية لا تبرر الوسيلة
(tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara).
Jadi masalahnya bukan tidak boleh mengungkap kesalahan orang lain, tapi bagaimana caranya agar pengungkapan itu tidak membawa dampak negative bagi yang bersangkutan: menghalanginya dari jalan Allah. Teruslah memperjuangkan kebenaran. Jantanlah mengakui kesalahan dan bijaksanalah dalam meluruskan kesalahan orang lain. Keberhasilan berawal dari kesadaran akan kesalahan, sehingga setiap pribadi senantiasa terus memperbaiki diri menuju kepada kesempurnaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah:208)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran:133-135)
Ikhwan dan akhwat fillah…
Dalam sirah mencatat akan pengakuan seorang wanita Al Ghamidiyah yang telah terjatuh kepada perzinahan. Bukan hanya sekadar mengaku tetapi wanita tersebut ingin bertaubat dan minta dirajam. Saat itu Rasulullah menyuruh wanita tersebut melahirkan dan menyusui dulu anak dari hasil perzinahan tersebut. Setelah si anak sudah disapih barulah dilaksanakan hukum rajam. Dalam peristiwa itu terucap dari lisan Rasul bahwa wanita tersebut dijamin masuk surga.
Hikmah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah betapa dengan pemahaman yang seadanya saja seseorang berani mengakui kesalahannya. Maka sepantasnyalah mereka yang memiliki pemahaman yang dalam lebih bersikap kesatria mengakui kesalahannya. Tidak cukup sekadar mengakui kesalahan tetapi harus dilanjutkan dengan taubat, kembali kepada kebenaran. Bila mengakui kesalahan tetapi tetap berkubang di kemaksiatan bagaikan kuda nil yang berkubang di lumpur kotor dan bau.
Bertaubat berarti mau membersihkan diri, bersedia dihukum dan siap melakukan hal-hal yang dapat menghapus kesalahannya. Rajam adalah salah satu bentuk hukuman sekaligus penyucian. Dan tentu saja harapan utama yang ingin dicapai adalah keridhaan Allah dan surganya. Bagi yang berwenang untuk melaksanakan hukuman tentu harus bijaksana sebagaimana Rasul. Jangan jijik dan sinis mengetahui kesalahan orang lain. Hantarkan kesalahan orang menuju kepada taubatnya. Mengantarkan si salah untuk meraih surga. Bukan membuat dia putus asa, mengurung diri atau, na’udzubillahi min dzalik, bunuh diri.
Kalau kita ingin orang lain memaklumi kesalahan kita dan memberi kesempatan kita untuk berbenah diri maka kita juga harus mau memaklumi kesalahan orang lain dan memberinya kesempatan bertaubat.
Berkenaan dengan sosialisasi penjatuhan sanksi seyogyanya ikhwan dan akhwat fillah memandangnya sebagai sarana bersuci. Inilah kesempatan untuk lebih menyelami arti haasibuu anfusakum qabla antuhaasabuu.
Kita bahkan harus merasa dibantu oleh saudara-saudara kita lewat program tersebut. Tentunya program ini berlaku bagi semua. Tidak ada yang kebal hukum. Fatimah pun kalau mencuri pasti dipotong tangannya oleh Rasul. Maka di manapun posisi kita dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus berani mengakui kesalahan, dan tentu saja juga siap dikenakan sanksi. Namun jangan kaget bila ada orang yang kita hormati atau kita kagumi suatu ketika juga terkena sanksi. Itu manusiawi. Bahkan itu menunjukkan kematangan tokoh kita tersebut (mau mengakui kesalahannya). Semua benda yang tidak steril (bukan nabi) pasti berdebu, pasti punya salah dan dosa. Maka jangan kita biarkan debu itu melekat, mari sama-sama bersihkan dengan semangat bersuci diri.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya”(As-Syams: 9-10)
Betapa kita menyadari seringkali kita gagal untuk terus bertahan dalam kebaikan. Mungkin itu disebabkan karena kita terlalu menganggap remeh kesalahan atau terlalu memanjakan diri dengan sifat Allah yang Maha Pengampun. Dengan penjatuhan sanksi kita terbiasa untuk lebih waspada terhadap kesalahan. Hukuman manusia masih begitu ringan. Terkadang masih terbalut dengan rasa kasihan dan permakluman. Semoga dengan terbiasa menjaga diri agar terhindar dari penjatuhan sanksi insya Allah akan mengantarkan kita untuk terbiasa menghindari dosa agar selamat dari azab Allah nanti di yaumil akhir.
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Maka barang siapa yang dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh sangat beruntunglah ia” (Ali Imran:185).
http://www.al-ikhwan.net/mengenali-kesalahan-dan-kelemahan-diri-3326/
Islam dan Korupsi

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ اْلأ َرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَاضِيْنَ
“Barangsiapa yang mengambil hak orang lain walaupun hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan di lehernya (pada hari Kiamat nanti) seberat 7 lapis bumi.”
Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh :
1. Bukhari, juz-V/76.
2. Muslim, hadits no.1612.
Kandungan Hadits
Hukum dapat dibedakan dari norma sosial yang lain sebagai sebuah mekanisme kontrol sosial, sebab ia menggantikan kontrol sosial yang tidak legal (extra legal), dan hukum digunakan untuk mengontrol berbagai perilaku yang secara mendasar tidak terkontrol[i]. Hukum juga merupakan salah satu unsur dan produk dari sejarah, aspek yang memberikan daya bagi sebuah masyarakat yang terorganisasi untuk mengatur individu-individu dan kelompok-kelompok dalam hubungannya untuk menjaga, menata kembali atau memberikan sanksi atas penyimpangan-penyimpangan dari norma-norma sosial yang telah disepakati[ii]. Hukum telah ditemukan pada tiga tingkatan masyarakat; sejak mulainya hukum pada masyarakat pra baca yang disebut sebagai hukum primitif, pada masyarakat peralihan yang didefinisikan sebagai hukum kuno (archaic law), serta hukum yang dijalankan pada masa peradaban pembangunan yang dikenal sebagai hukum modern sekarang ini[iii].
Mengambil hak orang lain tanpa sepengetahuan ataupun dengan sepengetahuan namun tanpa perkenan, dalam hukum manapun di dunia ini adalah terlarang, setiap sistem kemasyarakatan di dunia dari yang paling primitif hingga yang paling modern memberikan pelbagai sanksi atas perbuatan tersebut. Sanksi yang dijatuhkan dapat berupa sanksi moral (teguran sampai pengucilan atau pengusiran) sampai dengan sanksi material dan fisik (pukulan sampai penjara). Semua sistem kemanusiaan memiliki cara sendiri dalam memberikan sanksi kepada perampas hak milik maupun kehormatan orang lain.
Sebagai sistem yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Islam telah menggariskan sebuah sistem sanksi sendiri terhadap para pelaku kezhaliman, namun uniknya sanksi yang ditetapkan Islam memiliki kelebihan dibandingkan dengan sistem buatan manusia, yaitu bahwa sanksi tersebut memiliki 2 dimensi, dimensi fisik yaitu dipotong tangannya dan dimensi metafisik (ukhrawi) yaitu kemurkaan ALLAH SWT dan balasan di akhirat kelak.
Salah satu contoh sanksi non fisik tersebut adalah dalam hadits di atas, nabi SAW menyebutkan kepada para penganutnya yang telah percaya (mukmin) bahwa barangsiapa di antara mereka yang melakukan kezhaliman merampas sejengkal tanah orang lain maka ia akan dibebani sejengkal tanah tersebut namun dengan seluruh bobotnya ke bawah sampai menembus 7 lapis bumi… Inna liLLAH wa inna ‘ilaihi raji’un… Alangkah beratnya dan alangkah ngerinya balasan tersebut, maka bagaimanakah dengan orang-orang yang mengambil tanah orang lain lebih banyak lagi dari itu…?!
Contoh dimensi fisik yang lain yang dijelaskan oleh Islam adalah sanksi terhadap perbuatan kezhaliman suap-menyuap dan korupsi, sebagaimana kesempurnaannya, Islam membasmi kejahatan ini sampai ke tingkat yang sekecil-kecilnya, simaklah perkataan rasul SAW berikut ini terhadap salah seorang petugas pemungut zakatnya:
“Sesungguhnya aku telah mengutus seorang di antara kalian tugas yang diberikan ALLAH kepadaku, lalu ia datang dan berkata: Ini untukmu, sedangkan yang ini hadiah mereka untukku. Andaikata ia memang benar, maka mengapa ia tidak duduk saja di rumahnya, hingga hadiah itu diberikan padanya. Demi ALLAH siapa saja di antara kalian yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, niscaya nanti di hari Kiamat ia akan menghadap ALLAH sambil memikul apa yang diambilnya di dunia. Demi ALLAH aku tidak ingin melihat salah seorang di antara kalian yang menghadap ALLAH dengan memikul unta, lembu atau kambing yang mengembek. Lalu nabi SAW mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya sambil bersabda: Ya ALLAH bukankah aku telah menyampaikannya?”[iv]
Bukankah aku katakan kepadamu Islam telah memberantas suap dan korupsi pada tingkat yang sekecil-kecilnya? Lihatlah bagaimana nabi SAW telah mengharamkan hadiah-hadiah yang diberikan kepada seorang karena jabatan yang dipikulnya, karena hadiah tersebut diberikan dikaitkan dengan jabatan orang tersebut? Perhatikanlah dengan teliti sabda beliau SAW di atas: “Maka mengapa ia tidak diam saja di rumahnya (tidak menjabat apa-apa) hingga hadiah itu datang padanya?” Artinya jika benar itu hadiah, maka tidak akan diberikan ketika sahabat tersebut menjabat, karena ketika ia tidak menjabat hadiah tersebut tidak ada yang memberi. Maka jelaslah bahwa hadiah tersebut ada maunya, alias termasuk suap-menyuap…
Hal lain yang berkaitan dengan pemberantasan perilaku zhalim ini secara fundamental dalam Islam adalah di antaranya memberantas bentuk-bentuk pengakuan terhadap hak orang lain melalui sumpah atau di bawah sumpah, walaupun betapapun kecilnya apalagi jika sumpah tersebut bersifat besar seperti sumpah jabatan, lalu kemudian digunakan untuk berbuat zhalim, simaklah hadits berikut ini:
“Siapa saja yang merampas hak seorang muslim dg sumpahnya, maka ALLAH benar-benar mewajibkan neraka baginya dan diharamkan Jannah untuknya. Lalu seorang sahabat bertanya: Walaupun yang dirampas itu sesuatu yang amat sedikit ya RasuluLLAH? Maka jawab nabi SAW: Walaupun sekecil batang kayu arak (kayu untuk bersiwak).”[v]
Hal lain berkenaan dengan perbuatan kezhaliman yang ditumpas oleh Islam ini adalah dalam bentuk kezhaliman dan kejahatan yang dilakukan seseorang di lembaga peradilan, yaitu perbuatan mengadukan suatu perkara dengan tujuan mengambil sesuatu yang bukan miliknya dengan memperkarakannya di lembaga peradilan. Sabda nabi SAW:
‘Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, sedangkan kalian mengadukan persoalan kepadaku. Mungkin salah seorang di antara kalian lebih pandai berbicara daripada yang lain, lalu aku putuskan baginya sesuai dengan yang aku dengar. Maka barangsiapa yang telah aku menangkan perkaranya dengan mengalahkan yang benar, maka sama saja dengan aku telah memberinya sepotong bara api neraka.” [vi]
Lalu bagaimana jika terlanjur melakukan yang demikian itu? Segeralah minta maaf jika kezhaliman tersebut berkaitan dengan diri atau kehormatan seseorang atau kembalikan harta haram tersebut jika berbentuk uang atau materi, sebagaimana sabda nabi SAW:
“Barangsiapa yang pernah menganiaya saudaranya baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain hendaklah ia minta maaf sekarang juga sebelum saatnya dinar dan dirham tidak berguna. Jika tidak, apabila ia memiliki amal shalih maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaan yang dilakukannya. Apabila tidak memiliki amal baik lagi, maka kejahatan orang yang dianiaya itu diambil dan dibebankan kepadanya.” [vii]
RABBanaghfirlana wa israfana fi amrina…
Oleh: Aba AbduLLAAH
Catatan Kaki:
[i] Social Control, Jack P. Gibbs, p. 83, Sage Publ., Beverly Hills.
[ii] Simpson, SP., dan Ruth Field dalam Hoebel, E. Adamson, The Law of Primitive Man, p. 4, Harvard University Press, Cambridge, Massachussets.
[iii] Ibid, p. 5.
[iv] HR Bukhari, V/162; Muslim (1832); Ahmad, V/423.
[v] HR Muslim (137)
[vi] HR Bukhari, XII/299-300; Muslim (1713); Ahmad VI/203, 290, 307.
[vii] HR Bukhari, V/73
http://www.al-ikhwan.net/islam-dan-korupsi-3345/
Subscribe to:
Posts (Atom)
