Jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
Dengan begitu maka anda telah berlepas diri dari dosa yang dilakukan mereka seandainya tetap menggunakan cara yang tidak benar dan anda terbebas dihadapan Allah swt atas pelanggaran itu serta terhindar dari tolong menolong dalam perbuatan dosa dan maksiat, sebagaimana firman Allah swt :
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya : “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)
Dan ketika mereka mau mendengarkan nasehat anda lalu melaksanakannya dengan membatalkan rencana untuk menggunakan cara-cara yang mengandung dosa itu dan beralih menggunakan cara-cara yang jujur walaupun terasa berat maka sungguh pahala yang besar dari Allah bagi anda dan para pimpinan yang lainnya.
Untuk selanjutnya tidak ada yang lebih baik kecuali bertawakal kepada Allah swt saja terhadap hasilnya dengan tetap meyakini bahwa semua itu adalah ketentuan dan ketetapan-Nya yang tidak bisa seorangpun lari darinya. Bersyukurlah kepada-Nya jika ketetapan-Nya sesuai dengan harapan anda dan bersabarlah jika sebaliknya dan yakinilah bahwa semua itu adalah baik bagi seorang yang beriman kepada-Nya.
Ustadz Sigit Pranowo, Lc.
www.eramuslim.com
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya : “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)
Dan ketika mereka mau mendengarkan nasehat anda lalu melaksanakannya dengan membatalkan rencana untuk menggunakan cara-cara yang mengandung dosa itu dan beralih menggunakan cara-cara yang jujur walaupun terasa berat maka sungguh pahala yang besar dari Allah bagi anda dan para pimpinan yang lainnya.
Untuk selanjutnya tidak ada yang lebih baik kecuali bertawakal kepada Allah swt saja terhadap hasilnya dengan tetap meyakini bahwa semua itu adalah ketentuan dan ketetapan-Nya yang tidak bisa seorangpun lari darinya. Bersyukurlah kepada-Nya jika ketetapan-Nya sesuai dengan harapan anda dan bersabarlah jika sebaliknya dan yakinilah bahwa semua itu adalah baik bagi seorang yang beriman kepada-Nya.
Ustadz Sigit Pranowo, Lc.
www.eramuslim.com
Kekuatan adalah Memanah
عن عقبة بن عمرو – ر – قال : سمعتُ رسول الله صلى الله عليه و سلم يَقُول على المِنْبَرِ
( و اعدُّ وا ما استطعتم من قُوَّ ةٍ ) الا اِ نَّ القوَّةَ الرَّمْيُ
(مسلم )
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr r.a. berkata : “Aku mendengar Rasulullah bersabda sedangkan dia di atas mimbar (“Dan persiapkanlah oleh kamu berdasar apa yang kamu mampu dari kekuatan, Al Maidah : 60). Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah."
Catatan :
Memanah adalah ketangkasan, sedangkan olah raga yang disenangi oleh Rasulullah adalah berenang, memanah, dan berkuda.
www.al-ulama.net
( و اعدُّ وا ما استطعتم من قُوَّ ةٍ ) الا اِ نَّ القوَّةَ الرَّمْيُ
(مسلم )
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr r.a. berkata : “Aku mendengar Rasulullah bersabda sedangkan dia di atas mimbar (“Dan persiapkanlah oleh kamu berdasar apa yang kamu mampu dari kekuatan, Al Maidah : 60). Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah."
Catatan :
Memanah adalah ketangkasan, sedangkan olah raga yang disenangi oleh Rasulullah adalah berenang, memanah, dan berkuda.
www.al-ulama.net
Mubah (boleh)
Dasar kemubahannya adalah hadis Nabi SAW,
" Kamu lebih mengetahui urusan dunia kamu." (antum a'lamu bi-amri dun-yakum).
(HR Muslim, no 4358).
Latar belakang hadis ini adalah Nabi SAW suatu saat pernah melarang menyerbukkan kurma (ta`bir an-nakhiil).
Ternyata kurmanya tidak berbuah. Nabi SAW pun kemudian mengucapkan sabdanya tersebut. Hadis ini menerangkan bahwa "urusan dunia", yaitu apa saja yang tidak terdapat ketentuan hukumnya dari wahyu, maka hal itu diserahkan kepada pendapat manusia. (Lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim, 8/85).
Jadi hadis ini adalah dalil bahwa secara umum syara' membolehkan segala produk sains dan teknologi, selama tidak bertentangan dengan Aqidah dan Syariah Islam. (Abdul Qadim Zallum, Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufur, hal. 12).
Selain berdasarkan hadis itu, kemubahan juga dapat didasarkan pada kaidah fiqih :
al-ashlu fi al-asy-syaa` al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu 'ala at-tahrim.
Artinya, hukum asal sesuatu (benda/barang) adalah boleh, hingga terdapat dalil yang mengharamkannya. (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa al-Nazha`ir fi Al-Furu', hal. 108; Imam Syaukani, Nailul Authar, 12/443).
Yang dimaksud dengan al-asy-yaa' (jamak dari asy-syai`) dalam kaidah ini adalah segala materi (zat) yang digunakan manusia dalam perbuatannya (al-mawaad allaty yatasharrafu fiiha al-insaanu bi-af'alihi). (M. Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islami, hal. 41).
Muhammad Shiddiq Al Jawi
" Kamu lebih mengetahui urusan dunia kamu." (antum a'lamu bi-amri dun-yakum).
(HR Muslim, no 4358).
Latar belakang hadis ini adalah Nabi SAW suatu saat pernah melarang menyerbukkan kurma (ta`bir an-nakhiil).
Ternyata kurmanya tidak berbuah. Nabi SAW pun kemudian mengucapkan sabdanya tersebut. Hadis ini menerangkan bahwa "urusan dunia", yaitu apa saja yang tidak terdapat ketentuan hukumnya dari wahyu, maka hal itu diserahkan kepada pendapat manusia. (Lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim, 8/85).
Jadi hadis ini adalah dalil bahwa secara umum syara' membolehkan segala produk sains dan teknologi, selama tidak bertentangan dengan Aqidah dan Syariah Islam. (Abdul Qadim Zallum, Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufur, hal. 12).
Selain berdasarkan hadis itu, kemubahan juga dapat didasarkan pada kaidah fiqih :
al-ashlu fi al-asy-syaa` al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu 'ala at-tahrim.
Artinya, hukum asal sesuatu (benda/barang) adalah boleh, hingga terdapat dalil yang mengharamkannya. (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa al-Nazha`ir fi Al-Furu', hal. 108; Imam Syaukani, Nailul Authar, 12/443).
Yang dimaksud dengan al-asy-yaa' (jamak dari asy-syai`) dalam kaidah ini adalah segala materi (zat) yang digunakan manusia dalam perbuatannya (al-mawaad allaty yatasharrafu fiiha al-insaanu bi-af'alihi). (M. Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islami, hal. 41).
Muhammad Shiddiq Al Jawi
MENGAPA AL ‘ULAMA'
Pokok Kajian
Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk berupa gambaran dari satu sikap dari hamba Allah yang tidak terlena oleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan gejolak kehidupan duniawiyah, sebagaimana digambarkan dalam Surah An Nur 37,yaitu:
رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (٣٧)
“Para lelaki yang tidak dapat terlalaikan mereka oleh perniagaan dan jual beli, dari mengingati Allah, dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat,(lantaran) mereka takut akan suatu hari (dimana) terjadi goncang pada waktu itu, hati dan pandangan”
Ayat tersebut dengan keterkaitan ayat sebelum dan sesudahnya, sangat jelas menggambarkan tentang sikap “Al ’Ulama”, yang senantiasa berupaya menepati tugas dan tanggung jawabnya dalam menjunjung tinggi Kalimatullah. Dan karena itu maka Rasulullah menjelaskan bahwa ‘Ulama itu adalah pemegang amanah Allah atas makhluknya [Surah Fathir(35) 34], dan sebagai pemegang amanah para Rasul [Surah Asy Syura(42) 13], sehingga akan senantiasa berupaya untuk mematuhi dan menepati batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.
Pembahasan
Bahwa sebenarnya “Al ‘Ulama” adalah hamba Allah yang faqir, artinya senantiasa berharap keredlaan Allah dalam segala kiprah hidupnya untuk menepati pengabdiannya. Berarti kepribadian nya sudah harus terukur, bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya dan jihad di jalanNya adalah diatas segalanya [Surah At Taubah(9) 24]. Inilah tatanan utama yang membuat Al ‘Ulama disebut Al’Arif dan Al ‘Khowasy, karena ketulusan hatinya dalam tha’at, sehingga berupaya sekuat mungkin menepati perintah Allah, untuk tidak akan mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil [Surah Al Baqarah(2) 42]. Dengan demikian akan bermuatan makna antara lain:
1. Al‘Ulama dituntut kemampuannya dalam memahami beberapa batasan dari Allah, antara lain, Ketetapan Allah untuk memiliki “hija ban mastu ra” [Surah Al Isra’(17) 45]; Dengan itu akan mampu menjelaskan keberadaan sifat antagonistic antara As Siyasah dengan Politik.
2. Dituntut kemampuannya dalam mewaspadai diri terhadap keberadaan nafsu dan al’aqlu, yang antara keduanya ada pembatas [Surah Al Anfal(8) 24], yang dengan itu akan dapat melakukan pengkondisian terhadap Ummat Islam, agar tidak terpengaruh bisikan nafsu angkara murka [Surah Yusuf(12) 53]. Dan akan tetap mengutamakan cinta kasih terhadap ummat manusia, karena masalah manusia adalah topik utama dalam al Qur-an [Surah Al Maidah(5) 32].
Manakala hal tersebut telah faham, maka dengan mempedomani pada Kaidah Menejemen al Qur-an [Surah Al Furqon(25) 52] serta wujud dari menejemen al Qur-an [Surah An’am(6) 153], karena dihadapkan beberapa kenyataan, antara lain:
1. Dalam kehidupan global, secara pasti setiap Negara di dunia terjadi proses integrasi.
2. Dalam hubungan antar bangsa secara pasti terjadi proses ter-interdependensi, yaitu terjadi saling memberi dan menerima, antara lain dalam hal peradaban dan sebagainya.
Mengatasi hal tersebut, jelas tidak mungkin, ”selama para ‘Ulama hanya berfikir sebatas rumah tangga”. Karena yang dihadapi adalah 9 aktor intellektual yang dimotori oleh ”sistem Mafia” [Surah An Naml(27) 48-49]; Padahal kesemuanya itu tanggung jawabnya telah Allah dan Rasul tetapkan kepada “Al ‘Ulama”, dalam menjemput janji Allah yang telah ditetapkanNya [Surah At Taubah(9) 33].
Oleh karena itu perintah Allah yang ditujukan kepada para ‘Ulama menuntut kesiapan ‘Ulama untuk melakukan”ittifa qul ‘Ulama” [Surah Al Baqarah(2) 208], yang diprakarsai Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana (anshorullah-) [Surah Ash Shaf(61) 14] dengan melalui proses “Mudzakarah ‘Ulama”.
Written by mubarki
www.al-ulama.net
Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk berupa gambaran dari satu sikap dari hamba Allah yang tidak terlena oleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan gejolak kehidupan duniawiyah, sebagaimana digambarkan dalam Surah An Nur 37,yaitu:
رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (٣٧)
“Para lelaki yang tidak dapat terlalaikan mereka oleh perniagaan dan jual beli, dari mengingati Allah, dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat,(lantaran) mereka takut akan suatu hari (dimana) terjadi goncang pada waktu itu, hati dan pandangan”
Ayat tersebut dengan keterkaitan ayat sebelum dan sesudahnya, sangat jelas menggambarkan tentang sikap “Al ’Ulama”, yang senantiasa berupaya menepati tugas dan tanggung jawabnya dalam menjunjung tinggi Kalimatullah. Dan karena itu maka Rasulullah menjelaskan bahwa ‘Ulama itu adalah pemegang amanah Allah atas makhluknya [Surah Fathir(35) 34], dan sebagai pemegang amanah para Rasul [Surah Asy Syura(42) 13], sehingga akan senantiasa berupaya untuk mematuhi dan menepati batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.
Pembahasan
Bahwa sebenarnya “Al ‘Ulama” adalah hamba Allah yang faqir, artinya senantiasa berharap keredlaan Allah dalam segala kiprah hidupnya untuk menepati pengabdiannya. Berarti kepribadian nya sudah harus terukur, bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya dan jihad di jalanNya adalah diatas segalanya [Surah At Taubah(9) 24]. Inilah tatanan utama yang membuat Al ‘Ulama disebut Al’Arif dan Al ‘Khowasy, karena ketulusan hatinya dalam tha’at, sehingga berupaya sekuat mungkin menepati perintah Allah, untuk tidak akan mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil [Surah Al Baqarah(2) 42]. Dengan demikian akan bermuatan makna antara lain:
1. Al‘Ulama dituntut kemampuannya dalam memahami beberapa batasan dari Allah, antara lain, Ketetapan Allah untuk memiliki “hija ban mastu ra” [Surah Al Isra’(17) 45]; Dengan itu akan mampu menjelaskan keberadaan sifat antagonistic antara As Siyasah dengan Politik.
2. Dituntut kemampuannya dalam mewaspadai diri terhadap keberadaan nafsu dan al’aqlu, yang antara keduanya ada pembatas [Surah Al Anfal(8) 24], yang dengan itu akan dapat melakukan pengkondisian terhadap Ummat Islam, agar tidak terpengaruh bisikan nafsu angkara murka [Surah Yusuf(12) 53]. Dan akan tetap mengutamakan cinta kasih terhadap ummat manusia, karena masalah manusia adalah topik utama dalam al Qur-an [Surah Al Maidah(5) 32].
Manakala hal tersebut telah faham, maka dengan mempedomani pada Kaidah Menejemen al Qur-an [Surah Al Furqon(25) 52] serta wujud dari menejemen al Qur-an [Surah An’am(6) 153], karena dihadapkan beberapa kenyataan, antara lain:
1. Dalam kehidupan global, secara pasti setiap Negara di dunia terjadi proses integrasi.
2. Dalam hubungan antar bangsa secara pasti terjadi proses ter-interdependensi, yaitu terjadi saling memberi dan menerima, antara lain dalam hal peradaban dan sebagainya.
Mengatasi hal tersebut, jelas tidak mungkin, ”selama para ‘Ulama hanya berfikir sebatas rumah tangga”. Karena yang dihadapi adalah 9 aktor intellektual yang dimotori oleh ”sistem Mafia” [Surah An Naml(27) 48-49]; Padahal kesemuanya itu tanggung jawabnya telah Allah dan Rasul tetapkan kepada “Al ‘Ulama”, dalam menjemput janji Allah yang telah ditetapkanNya [Surah At Taubah(9) 33].
Oleh karena itu perintah Allah yang ditujukan kepada para ‘Ulama menuntut kesiapan ‘Ulama untuk melakukan”ittifa qul ‘Ulama” [Surah Al Baqarah(2) 208], yang diprakarsai Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana (anshorullah-) [Surah Ash Shaf(61) 14] dengan melalui proses “Mudzakarah ‘Ulama”.
Written by mubarki
www.al-ulama.net
Doa
Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa dan meminta pada-Nya. Karena dalam doa itu ada ketundukan dan kerendahan diri Dalam doa terselip rasa bahwa kita sedang menghamba pada Dzat Yang tangan-Nya senantiasa terbuka menerima permintaan hamba-Nya.
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina". (Ghafir : 60).
Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa dan meminta pada-Nya. Karena dalam doa itu ada ketundukan dan kerendahan diri Dalam doa terselip rasa bahwa kita sedang menghamba pada Dzat Yang tangan-Nya senantiasa terbuka menerima permintaan hamba-Nya. Dalam doa terkandung makna bahwa kita serba kurang dan tidak berkecukupan. Sehingga kita pantas menengadahkan tangan pada Sang Maha Kaya, Sang Maha Pemberi yang tatkala diminta semakin mencintai hamba-hamba-Nya.
Ustadz Samson Rahman
www.eramuslim.com
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina". (Ghafir : 60).
Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa dan meminta pada-Nya. Karena dalam doa itu ada ketundukan dan kerendahan diri Dalam doa terselip rasa bahwa kita sedang menghamba pada Dzat Yang tangan-Nya senantiasa terbuka menerima permintaan hamba-Nya. Dalam doa terkandung makna bahwa kita serba kurang dan tidak berkecukupan. Sehingga kita pantas menengadahkan tangan pada Sang Maha Kaya, Sang Maha Pemberi yang tatkala diminta semakin mencintai hamba-hamba-Nya.
Ustadz Samson Rahman
www.eramuslim.com
Hadis
Menurut para ulama, hadis adalah segala ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW atau segala berita yang bersumber dari Rasulullah berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan) maupun deskripsi sifat-sifat Nabi SAW. Menurut ahli ushul fikih, hadis berarti sehala berkataan, perbuatan dan takris Nabi SAW yang bersangkut paut dengan hukum.
Istilah lain untuk sebutan hadis ialah sunah, kabar dan asar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu, titik berat penekanan sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.
Asar yang juga berarti nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi, meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada Nabi SAW. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi SAW disebut doa ma'sur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata 'tradisi' juga dipakai sebagai padanan kata hadis.
Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni hadis qudsi dan hadis nabawi. Hadis qudsi yang juga disebut dengan istilah hadis Ilahi atau hadis rabbani, adalah suatu hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allah SWT.
Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi SAW. Dengan begitu, hadis qudsi berbeda dengan hadis nabawi yaitu hadis yang lafal maupun maknanya berasal dari Rasulullah sendiri.
Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan, pertama, sanadnya bersambung, kedua, diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kahormatan dirinya) dan dabit, ketiga, matan-nya tidak syadz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak ber-illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).
Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan cara lain, ia dinamakan sahih li gairih.
Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matan-nya tidak syadz dan ber-illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian disebut hasan li zatih.
Adapun hadis daif (lemah) ialah hadis yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan. Pembagian hadis daif tidak sesederhana pembagian hadis sahih dan hasan karena kemungkinan kekurangan persyaratan sahih dan hasan itu sangat bervariasi. Karena itu, Ibnu Hibban, ahli hadis, menyebutkan bahwa hadis daif ada 49 macam.
Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal itu dapat menggambarkan banyaknya macam hadis daif. Kebanyakan kepustakaan menyebutkan jumlahnya terbatas.
yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.
http://www.republika.co.id/berita/61446/Hadis
Istilah lain untuk sebutan hadis ialah sunah, kabar dan asar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu, titik berat penekanan sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.
Asar yang juga berarti nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi, meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada Nabi SAW. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi SAW disebut doa ma'sur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata 'tradisi' juga dipakai sebagai padanan kata hadis.
Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni hadis qudsi dan hadis nabawi. Hadis qudsi yang juga disebut dengan istilah hadis Ilahi atau hadis rabbani, adalah suatu hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allah SWT.
Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi SAW. Dengan begitu, hadis qudsi berbeda dengan hadis nabawi yaitu hadis yang lafal maupun maknanya berasal dari Rasulullah sendiri.
Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan, pertama, sanadnya bersambung, kedua, diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kahormatan dirinya) dan dabit, ketiga, matan-nya tidak syadz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak ber-illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).
Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan cara lain, ia dinamakan sahih li gairih.
Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matan-nya tidak syadz dan ber-illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian disebut hasan li zatih.
Adapun hadis daif (lemah) ialah hadis yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan. Pembagian hadis daif tidak sesederhana pembagian hadis sahih dan hasan karena kemungkinan kekurangan persyaratan sahih dan hasan itu sangat bervariasi. Karena itu, Ibnu Hibban, ahli hadis, menyebutkan bahwa hadis daif ada 49 macam.
Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal itu dapat menggambarkan banyaknya macam hadis daif. Kebanyakan kepustakaan menyebutkan jumlahnya terbatas.
yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.
http://www.republika.co.id/berita/61446/Hadis
Haji
Ibadah haji yang merupakan salah satu dari rukun islam ini tidaklah diwajibkan kecuali kepada setiap muslim yang berakal, baligh, merdeka serta memiliki kesanggupan untuk menunaikannya sebagaimana firman Allah swt :
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya : “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al Imron : 97)
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya : “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al Imron : 97)
Huruf-huruf dan Rohnya
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang menunaikan shalat. Tiba-tiba datang seseorang dengan nafas terengah-engah.
Lalu dia berkata,
"Allahu akbar Al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubdrakan fihi"
(Allah Mahabesar, Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan mengandung berkah).
Setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya,
"Siapa di antara kamu yang telah mengucapkan kata-kata itu?"
Tetapi orang~orang itu diam saja.
Maka beliau bersabda,
"Dia tidak mengucapkan kejelekan."
Lalu orang itu berkata,
"Saya, wahai Rasulullah. Sayalah yang mengucapkannya."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"Saya melihat dua belas malaikat berlomba-lomba menghampiri ucapan itu untuk mengangkatnya."1)
(H.R.Muslim & Nasai')
http://akhirzaman.info/component/content/article/38-hadits/938-huruf-huruf-dan-rohnya
Lalu dia berkata,
"Allahu akbar Al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubdrakan fihi"
(Allah Mahabesar, Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan mengandung berkah).
Setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya,
"Siapa di antara kamu yang telah mengucapkan kata-kata itu?"
Tetapi orang~orang itu diam saja.
Maka beliau bersabda,
"Dia tidak mengucapkan kejelekan."
Lalu orang itu berkata,
"Saya, wahai Rasulullah. Sayalah yang mengucapkannya."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"Saya melihat dua belas malaikat berlomba-lomba menghampiri ucapan itu untuk mengangkatnya."1)
(H.R.Muslim & Nasai')
http://akhirzaman.info/component/content/article/38-hadits/938-huruf-huruf-dan-rohnya
Syaitan Berada Dibelakang Sihir Hitam & Putih - Madaniyah
سُوۡرَةُ البَقَرَة
وَاتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوۡا الشَّيٰطِيۡنُ عَلٰى مُلۡكِ سُلَيۡمٰنَۚ وَمَا کَفَرَ سُلَيۡمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيۡنَ كَفَرُوۡا يُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ وَمَآ اُنۡزِلَ عَلَى الۡمَلَـکَيۡنِ بِبَابِلَ هَارُوۡتَ وَمَارُوۡتَؕ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡؕ فَيَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُوۡنَ بِهٖ بَيۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِهٖؕ وَمَا هُمۡ بِضَآرِّيۡنَ بِهٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ وَيَتَعَلَّمُوۡنَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنۡفَعُهُمۡؕ وَلَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰٮهُ مَا لَهٗ فِىۡ الۡاٰخِرَةِ مِنۡ خَلَاقٍؕ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِهٖۤ اَنۡفُسَهُمۡؕ لَوۡ کَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ﴿۱۰۲﴾
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malak di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malak itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui."
(Q.S. Al-Baqarah 2:102)
وَاتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوۡا الشَّيٰطِيۡنُ عَلٰى مُلۡكِ سُلَيۡمٰنَۚ وَمَا کَفَرَ سُلَيۡمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيۡنَ كَفَرُوۡا يُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ وَمَآ اُنۡزِلَ عَلَى الۡمَلَـکَيۡنِ بِبَابِلَ هَارُوۡتَ وَمَارُوۡتَؕ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡؕ فَيَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُوۡنَ بِهٖ بَيۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِهٖؕ وَمَا هُمۡ بِضَآرِّيۡنَ بِهٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ وَيَتَعَلَّمُوۡنَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنۡفَعُهُمۡؕ وَلَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰٮهُ مَا لَهٗ فِىۡ الۡاٰخِرَةِ مِنۡ خَلَاقٍؕ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِهٖۤ اَنۡفُسَهُمۡؕ لَوۡ کَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ﴿۱۰۲﴾
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malak di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malak itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui."
(Q.S. Al-Baqarah 2:102)
Manusia

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (1)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur [3] yang Kami hendak mengujinya [dengan perintah dan larangan], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (2)
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (3)
Jujur
Dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang senantiasa bersikap jujur dan benar-benar suka jujur sehingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan. Dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan benar-benar berdusta sehingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang pendusta.
[HR. Bukhari]
[HR. Bukhari]
Pribadi Al-Akh yang diinginkan oleh Ikhwanul Muslimin
Bahwa karakter dan pribadi Qur’ani adalah merupakan sosok yang terbaik dari berbagai sisi dan lininya, sarana untuk melakukan perbaikan terhadap hati dan jasadnya, yang berusaha menjadikan dunia sebagai ladang kebaikan untuk dirinya tanpa melupakan bagiannya di akhirat kelak, selalu mengumandangkan ikrar setiap pagi dan petang
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam”. (Al-An’am:162).
Bukan shalatnya dan ibadahnya saja untuk dan karena Allah, namun hidupnya secara keseluruhan untuk dan karena Allah dan bahkan matinya juga hanya untuk dan karena Allah Tuhan semesta alam.
Demikianlah sosok, pribadi dan karakter yang diinginkan oleh Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang dibentuk oleh Al-Qur’an Al-Karim, sehingga dengan demikian mampu mencerahkan kehidupannya dan menghadirkan nikmat dunia, dengan amal yang sungguh-sungguh dan dakwah kepada Allah yang berkesinambungan dengan penuh bashirah (kejelian), sehingga Allah berkenan menampakkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan menghancurkan tipu daya orang-orang kafir, maka dari itu ambillah Al-Qur’an wahai Ikhwan dan genggamlah, pahamilah dan berinteraksilah dengan baik pada ilmu dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, beretikalah dengan etika yang ada di dalamnya, realisasikanlah dalam kehidupan nyata kalian akan makna yang selalu kalian kumandangkan “Al-Qur’an adalah dustur (petunjuk dan undang-undang) kami” niscaya Allah akan selalu bersama kalian dan tidak menyia-nyiakan amal perbuatan kalian.
http://www.al-ikhwan.net/suara-dari-dalam-hati-2-al-akh-al-qurani-2801/
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam”. (Al-An’am:162).
Bukan shalatnya dan ibadahnya saja untuk dan karena Allah, namun hidupnya secara keseluruhan untuk dan karena Allah dan bahkan matinya juga hanya untuk dan karena Allah Tuhan semesta alam.
Demikianlah sosok, pribadi dan karakter yang diinginkan oleh Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang dibentuk oleh Al-Qur’an Al-Karim, sehingga dengan demikian mampu mencerahkan kehidupannya dan menghadirkan nikmat dunia, dengan amal yang sungguh-sungguh dan dakwah kepada Allah yang berkesinambungan dengan penuh bashirah (kejelian), sehingga Allah berkenan menampakkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan menghancurkan tipu daya orang-orang kafir, maka dari itu ambillah Al-Qur’an wahai Ikhwan dan genggamlah, pahamilah dan berinteraksilah dengan baik pada ilmu dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, beretikalah dengan etika yang ada di dalamnya, realisasikanlah dalam kehidupan nyata kalian akan makna yang selalu kalian kumandangkan “Al-Qur’an adalah dustur (petunjuk dan undang-undang) kami” niscaya Allah akan selalu bersama kalian dan tidak menyia-nyiakan amal perbuatan kalian.
http://www.al-ikhwan.net/suara-dari-dalam-hati-2-al-akh-al-qurani-2801/
Ruh Orang yang Meninggal Dunia
Allah swt. berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar : 42)
Ibnu Qoyyim menyebutkan riwaayat dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, dia,”Telah sampai kepadaku bahwa roh orang-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah mati bisa bertemu didalam mimpi. Mereka saling bertanya lalu Allah swt menahan roh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan roh orang-orang yang masih hidup menemui jasadnya.”
Ibnu Abi Hatim didalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari as Suddiy tentang makna firman Allah swt “dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya” adalah mematikannya saat tidurnya lalu roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah mati dan mereka saling berbincang, berkenalan. Dia mengatakan,”lalu roh orang yang masih hidup dikembalikan kepada jasadnya di dunia hingga sisa waktu yang telah ditentukan sementara itu roh orang yang sudah mati menginginkan kembali ke jasadnya namun dia tertahan.”
www.eramuslim.com
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar : 42)
Ibnu Qoyyim menyebutkan riwaayat dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, dia,”Telah sampai kepadaku bahwa roh orang-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah mati bisa bertemu didalam mimpi. Mereka saling bertanya lalu Allah swt menahan roh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan roh orang-orang yang masih hidup menemui jasadnya.”
Ibnu Abi Hatim didalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari as Suddiy tentang makna firman Allah swt “dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya” adalah mematikannya saat tidurnya lalu roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah mati dan mereka saling berbincang, berkenalan. Dia mengatakan,”lalu roh orang yang masih hidup dikembalikan kepada jasadnya di dunia hingga sisa waktu yang telah ditentukan sementara itu roh orang yang sudah mati menginginkan kembali ke jasadnya namun dia tertahan.”
www.eramuslim.com
Syirik Termasuk Kezhaliman yang Sangat Besar
عن ابن مسعود – ر – لَمَّا نَزَّلَتْ هذه الأيةُ ( 6 : 82 ), شَكّ ذلِكَ على النّاسِ فَقَا لوا يا رسول الله وا َيّنا لا يَظْلِمُ نَفْسَهُ ؟ قال : اِنّه ليس الذلى تَعْنُونً. اَلَمْ تَسْمَعُوا ما قال العَبْدُ الصّالحُ (31: 13) انّمَا هو الشِّرْكُ . (متفق عليه)
Dari Ibnu Mas’ud r.a. : “Ketika turun ayat ini (Q.S. 6 : 82) menjadi resah yang demikian itu atas manusia. Maka mereka berkata : “Ya Rasul, siapakah di antara kita ini yang tidak mendhalimi dirinya ? Bersabda : “Sesungguhnya bukan yang kamu maksudkan itu (atau kamu fahami), belumkah kamu mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang shaleh (Q.s. 31 : 13) Adapun sebenarnya dimaksudkan adalah syirik” (Mutafaqun alaihi)
Written by sekret
www.al-ulama.net
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (6 : 82)
Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar". (31 : 13)
Dari Ibnu Mas’ud r.a. : “Ketika turun ayat ini (Q.S. 6 : 82) menjadi resah yang demikian itu atas manusia. Maka mereka berkata : “Ya Rasul, siapakah di antara kita ini yang tidak mendhalimi dirinya ? Bersabda : “Sesungguhnya bukan yang kamu maksudkan itu (atau kamu fahami), belumkah kamu mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang shaleh (Q.s. 31 : 13) Adapun sebenarnya dimaksudkan adalah syirik” (Mutafaqun alaihi)
Written by sekret
www.al-ulama.net
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (6 : 82)
Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar". (31 : 13)
Cara Menutupi Fitnah
عن حزيفة ابنُ اليَمَان قال : كان النَّبِىَّ صلعم قال : فِتْنَةُ الرَّجُلِ فى اَهْلِهِ و مَالِهِ و وَلِدِهِ و نَفْسِهِ و جَارِهِ و يُكََفِّرْها الصِّيَامُ و الصَّلا ةُ و الصَّدَقَةُ و الآمْرُ بالمَعْرُوفِ و النَّهْيُ عنِ المُنْكَرِ (الـبـخـارى)
Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : “Adalah Nabi bersabda : “Fitnah sekarang dalam hal menghadapi keluarganya dan hartanya dan anak-anaknya dan dirinya dan tetangganya, niscaya dapat ditutup dia dengan syiyam dan shalat dan shadaqah dan memerintah dengan kebajikan dan mencegah dari yang mungkar.”
Jadi antisipasinya adalah Pendekatan Kepada Allah / taqarrub ilallah. Dan hadits ini terkait dengan Q.S. At Taqhabun (64) : 15-16.
Written by sekret
www.al-ulama.net
Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : “Adalah Nabi bersabda : “Fitnah sekarang dalam hal menghadapi keluarganya dan hartanya dan anak-anaknya dan dirinya dan tetangganya, niscaya dapat ditutup dia dengan syiyam dan shalat dan shadaqah dan memerintah dengan kebajikan dan mencegah dari yang mungkar.”
Jadi antisipasinya adalah Pendekatan Kepada Allah / taqarrub ilallah. Dan hadits ini terkait dengan Q.S. At Taqhabun (64) : 15-16.
Written by sekret
www.al-ulama.net
Subscribe to:
Posts (Atom)
