Hawa Nafsu
Manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya. Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mau. Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka. Merdeka menentukan segala yang dia mau. Merdeka juga berpikir apa saja yang dia bayangkan. Independensi memang penting untuk membentuk kepribadian. Tanpa independensi seorang manusia hanyalah angka satuan yang tidak terlalu penting di tengah milyaran manusia. Tetapi independensi ada batasnya. Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung egois dan egosentris. Lebih jauh bahkan al-Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman di surat al-Jatsiyah ayat 23:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)
23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
www.dakwatuna.com
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)
23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
www.dakwatuna.com
Shalat Rawatib
"Wahai para Malaikat-Ku, periksalah shalat hamba-Ku,sudahkah sempurna shalatnya atau masih kurang? Apabila didapatkan sudah cukup sempurna, akan dicatat sudah sempurna. Akan tetapi, apabila didapati kurang sempurna, periksa kembali, apakah hamba-Ku itu memiliki amalan shalat sunah (rawatib)? Apabila ia memiliki amalan sunah tambahan (shalat sunah rawatib), Aku akan cukupkan dan sempurnakan shalat fardhu hamba-Ku itu dengan shalat sunahnya." (HR Abu Daud)
Begitulah salah satu keutamaan shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang mengiringi shalat fardhu. Masih banyak keutamaan shalat sunah ini. Karena shalat merupakan amalan pertama yang diperhitungkan, selayaknyalah kita memerhatikan ibadah ini.
Begitulah salah satu keutamaan shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang mengiringi shalat fardhu. Masih banyak keutamaan shalat sunah ini. Karena shalat merupakan amalan pertama yang diperhitungkan, selayaknyalah kita memerhatikan ibadah ini.
Islam dan Ucapan Selamat
Rasulullah Saw bersabda, "Jika kalian mencintai saudaranya (sesama mu'min), maka hendaklah ia memberitahukan kepadanya."
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh :
1. Abu Daud, kitab al-Adab, bab Ikhbarur Rajuli ar-Rajula bi Mahabbatihilahu;
2. Tirmidzi, kitab az-Zuhdu, bab Ma Ja'a fi I'lamil Hubbi;
3. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani dlm ash-Shahihah (417, 2515)
KANDUNGAN HADITS
Sebuah sistem yang sempurna aspeknya dan diturunkan oleh Yang Maha Sempurna pastilah tidak akan meninggalkan berbagai sisi, melainkan ia memberikan pedoman serta arahan bagi penganutnya. Demikianlah Islam sebagai sistem agama juga negara, politik dan ekonomi, dzikir dan aqidah, sosial dan seni, pengetahuan dan militer telah mengatur berbagai sisi yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh ummatnya walaupun kerap kali dianggap sepele, dan diantara sisi yang sering diremehkan itu adalah masalah tahni'ah (ucapan selamat) dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahni'ah adalah bagian dari kehidupan berteman dan etika dalam bermasyarakat, oleh sebab itu Islam tidak mengabaikan hal ini dalam aturannya yang sempurna. Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita agar jika kita menyenangi perbuatan seseorang maka jangan segan-segan untuk menyampaikan kepadanya, sehingga yang bersangkutan dapat mensyukuri kelebihan yang dimilikinya dan merespon perhatian dari saudaranya. Dan orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah Swt adalah orang yang paling tinggi perhatiannya kepada saudaranya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw "Dua orang yang saling mencintai karena Alloh Swt, maka yang paling tinggi diantara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya[1]."
Dan kebiasaan memberikan ucapan selamat ini (sepanjang tidak menyalahi aturan syariat) merupakan tradisi yang sangat mulia (shifat al-'ulya) yang dicontohkan oleh Allah Swt sendiri, simaklah bagaimana Alloh Swt senantiasa memberikan ucapan selamat kepada para hamba-Nya di dalam al-Qur'an. Ia memberikan ucapan selamat kepada hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya : "Rabb mereka memberi ucapan selamat kepada mereka dengan rahmat, keridhaan dan jannah-Nya, dan mereka mendapatkan di dalamnya kesenangan yang abadi." (Qur'an Surat at-Taubah, 9:21).
Demikian pula Ia memberikan ucapan selamat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang jujur dan selalu mengambil yang terbaik, sebagaimana dalam firman-Nya : "Dan oleh sebab itu sampaikanlah ucapan selamat kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya." (Qur'an Surat az-Zumar, 39:17-18).
Kebalikan dari hal ini, maka Islam pun melarang kita untuk memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan orang lain apalagi jika kemudian menyebar-nyebarkan keburukan yang dialami oleh saudaranya tersebut kepada orang lain. Kepada mereka yang berbuat demikian, Allah Swt mengancam dengan azab yang pedih (artinya hal tersebut merupakan perbuatan dosa besar), sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur'an : "Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang beriman, maka bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat." (Qur'an Surat an-Nur, 24:19)
Ucapan selamat inipun berlaku bagi non-muslim, artinya kita dibolehkan bergembira dan mengucapkan selamat atas kegembiraan yang diraih oleh kenalan ataupun kolega yang non-muslim (dzimmi), sepanjang tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah (seperti ucapan selamat untuk hari keagamaan tertentu misalnya), karena dalam masalah aqidah dan ibadah maka bukanlah termasuk hal-hal yang masuk dalam wilayah bolehnya ditoleransi. Pembolehan pengucapan selamat dalam selain masalah aqidah dan ibadah ini didasarkan pada sunnah para sahabat radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Seandainya Fir'aun berkata kepadaku : Semoga Tuhan memberikan kebaikan atasmu, maka akan saya jawab: Dan juga atasmu. Tetapi Fir'aun telah mati[2]. Dibolehkan juga berdoa untuk orang kafir (dzimmi) sepanjang bukan doa yang berkaitan dengan keselamatan, rahmat dan barakah Alloh Swt (atau yang semisal dengan itu). Artinya seperti doa agar ia diberi hidayah, dipanjangkan umur dan diberikan kesehatan dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam atsar sahabat berikut ini : Dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ia melewati seorang yang penampilannya seperti muslim, maka iapun mengucapkan salam dan dijawab oleh orang itu. Maka seorang anak tiba-tiba berkata kepadanya : Ia itu orang Nasrani! Maka Uqbah menghampirinya kembali lalu berkata : Sesungguhnya rahmat dan barakah Allah Swt hanyalah bagi orang-orang mu'min. Tetapi semoga Allah Swt memanjangkan hidupmu dan membuat harta dan anakmu menjadi banyak [3].
Wala taj'al fi qulubina ghillan lilladzina amanu...
[1] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, 423/544 dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (450).
[2] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul-Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (2/329).
[3] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani (al-Irwa 1274).
Dan dia (Albani) berkata : Aku katakan atsar dari sahabat yang mulia ini menunjukkan bolehnya berdoa untuk panjang umur, sekalipun untuk orang kafir, apalagi untuk orang muslim tentu lebih utama. Tapi harus diperhatikan bahwa orang kafir itu haruslah bukan musuh umat Islam, dan karenanya berlaku juga ta'ziyyah kepada mereka, berdasarkan hal yang terkandung dalam atsar ini, maka ambillah faidah (hukum) ini.
Oleh Ustadz Nabiel Al Musawwa
http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=1
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh :
1. Abu Daud, kitab al-Adab, bab Ikhbarur Rajuli ar-Rajula bi Mahabbatihilahu;
2. Tirmidzi, kitab az-Zuhdu, bab Ma Ja'a fi I'lamil Hubbi;
3. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani dlm ash-Shahihah (417, 2515)
KANDUNGAN HADITS
Sebuah sistem yang sempurna aspeknya dan diturunkan oleh Yang Maha Sempurna pastilah tidak akan meninggalkan berbagai sisi, melainkan ia memberikan pedoman serta arahan bagi penganutnya. Demikianlah Islam sebagai sistem agama juga negara, politik dan ekonomi, dzikir dan aqidah, sosial dan seni, pengetahuan dan militer telah mengatur berbagai sisi yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh ummatnya walaupun kerap kali dianggap sepele, dan diantara sisi yang sering diremehkan itu adalah masalah tahni'ah (ucapan selamat) dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahni'ah adalah bagian dari kehidupan berteman dan etika dalam bermasyarakat, oleh sebab itu Islam tidak mengabaikan hal ini dalam aturannya yang sempurna. Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita agar jika kita menyenangi perbuatan seseorang maka jangan segan-segan untuk menyampaikan kepadanya, sehingga yang bersangkutan dapat mensyukuri kelebihan yang dimilikinya dan merespon perhatian dari saudaranya. Dan orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah Swt adalah orang yang paling tinggi perhatiannya kepada saudaranya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw "Dua orang yang saling mencintai karena Alloh Swt, maka yang paling tinggi diantara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya[1]."
Dan kebiasaan memberikan ucapan selamat ini (sepanjang tidak menyalahi aturan syariat) merupakan tradisi yang sangat mulia (shifat al-'ulya) yang dicontohkan oleh Allah Swt sendiri, simaklah bagaimana Alloh Swt senantiasa memberikan ucapan selamat kepada para hamba-Nya di dalam al-Qur'an. Ia memberikan ucapan selamat kepada hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya : "Rabb mereka memberi ucapan selamat kepada mereka dengan rahmat, keridhaan dan jannah-Nya, dan mereka mendapatkan di dalamnya kesenangan yang abadi." (Qur'an Surat at-Taubah, 9:21).
Demikian pula Ia memberikan ucapan selamat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang jujur dan selalu mengambil yang terbaik, sebagaimana dalam firman-Nya : "Dan oleh sebab itu sampaikanlah ucapan selamat kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya." (Qur'an Surat az-Zumar, 39:17-18).
Kebalikan dari hal ini, maka Islam pun melarang kita untuk memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan orang lain apalagi jika kemudian menyebar-nyebarkan keburukan yang dialami oleh saudaranya tersebut kepada orang lain. Kepada mereka yang berbuat demikian, Allah Swt mengancam dengan azab yang pedih (artinya hal tersebut merupakan perbuatan dosa besar), sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur'an : "Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang beriman, maka bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat." (Qur'an Surat an-Nur, 24:19)
Ucapan selamat inipun berlaku bagi non-muslim, artinya kita dibolehkan bergembira dan mengucapkan selamat atas kegembiraan yang diraih oleh kenalan ataupun kolega yang non-muslim (dzimmi), sepanjang tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah (seperti ucapan selamat untuk hari keagamaan tertentu misalnya), karena dalam masalah aqidah dan ibadah maka bukanlah termasuk hal-hal yang masuk dalam wilayah bolehnya ditoleransi. Pembolehan pengucapan selamat dalam selain masalah aqidah dan ibadah ini didasarkan pada sunnah para sahabat radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Seandainya Fir'aun berkata kepadaku : Semoga Tuhan memberikan kebaikan atasmu, maka akan saya jawab: Dan juga atasmu. Tetapi Fir'aun telah mati[2]. Dibolehkan juga berdoa untuk orang kafir (dzimmi) sepanjang bukan doa yang berkaitan dengan keselamatan, rahmat dan barakah Alloh Swt (atau yang semisal dengan itu). Artinya seperti doa agar ia diberi hidayah, dipanjangkan umur dan diberikan kesehatan dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam atsar sahabat berikut ini : Dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ia melewati seorang yang penampilannya seperti muslim, maka iapun mengucapkan salam dan dijawab oleh orang itu. Maka seorang anak tiba-tiba berkata kepadanya : Ia itu orang Nasrani! Maka Uqbah menghampirinya kembali lalu berkata : Sesungguhnya rahmat dan barakah Allah Swt hanyalah bagi orang-orang mu'min. Tetapi semoga Allah Swt memanjangkan hidupmu dan membuat harta dan anakmu menjadi banyak [3].
Wala taj'al fi qulubina ghillan lilladzina amanu...
[1] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, 423/544 dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (450).
[2] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul-Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (2/329).
[3] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani (al-Irwa 1274).
Dan dia (Albani) berkata : Aku katakan atsar dari sahabat yang mulia ini menunjukkan bolehnya berdoa untuk panjang umur, sekalipun untuk orang kafir, apalagi untuk orang muslim tentu lebih utama. Tapi harus diperhatikan bahwa orang kafir itu haruslah bukan musuh umat Islam, dan karenanya berlaku juga ta'ziyyah kepada mereka, berdasarkan hal yang terkandung dalam atsar ini, maka ambillah faidah (hukum) ini.
Oleh Ustadz Nabiel Al Musawwa
http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=1
Keteladanan Adalah Kunci Pendidikan Sepanjang Masa
“Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim)
Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak.
Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak
Pertama, cara mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.
Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Kedua, pentingnya teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21)
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Qs. Luqman [31]: 12)
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)
Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak. Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah. Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka.
Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk direalisasikan. Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi anak-anak kita??
Ketiga, Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.
Khatimah
Mempunyai anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua, dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah. [Rusydatun Nasirah]
http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=80&Itemid=57
Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak.
Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak
Pertama, cara mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.
Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Kedua, pentingnya teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21)
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Qs. Luqman [31]: 12)
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)
Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak. Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah. Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka.
Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk direalisasikan. Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi anak-anak kita??
Ketiga, Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.
Khatimah
Mempunyai anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua, dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah. [Rusydatun Nasirah]
http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=80&Itemid=57
Haq(kebenaran) vs Bathil(kejahatan)
Allah telah menetapkan melalui firmanNya dalam surah Al-Baqarah 208 sebagai berikut:
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ .٢٠٨
“Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah kamu dalam Islam secara keseluruhan !,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon, karena sesungguhnya ia itu bagi kamu adalah musuh yang nyata”.
Ayat tersebut bila ditelaah berdasarkan ayat sebelum dan sesudahnya adalah merupakan petunjuk yang tegas dengan maksud yang jelas, antara lain:
1. Ayat tersebut ditekankan pada khususnya kepada “’Ulama” , sebagai hamba yang peka terhadap faktor lingkungan bagi “proses sinkronisasi”[qa28s35=fathir].
2. Sebagai “pembeda”antara haq(kebenaran) dengan yang bathil(kejahatan)[qa42s2=al baqarah] dan antara mukmin dengan orang yang tidak beriman dengan akherat[qa45s17=al isra].
3. Menjelaskan berbagai kemadorotan dari pola syaithon, yaitu menejemen Jibti dan metode operasional Thaghut[qa51s4=an nisa].
4. Untuk memberikan ketegasan tentang keberadaan sistem yang muthlaq dan wajib dipedomani oleh mukmin[qa153s6=al an’am].
Dengan yang tersebut maka pengertian dari perkataan “fis silmi ka-ffatan” adalah “fil ittifa-qul ‘ulama’”(:suatu bentuk kesepakatan ‘Ulama) melalui metode “Mudza-karah” yang berarti mengingatkan berdasarkan dalil yang jelas dan bukan kaidah dari hasil buah fikiran.
www.al-ulama.net
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ .٢٠٨
“Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah kamu dalam Islam secara keseluruhan !,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon, karena sesungguhnya ia itu bagi kamu adalah musuh yang nyata”.
Ayat tersebut bila ditelaah berdasarkan ayat sebelum dan sesudahnya adalah merupakan petunjuk yang tegas dengan maksud yang jelas, antara lain:
1. Ayat tersebut ditekankan pada khususnya kepada “’Ulama” , sebagai hamba yang peka terhadap faktor lingkungan bagi “proses sinkronisasi”[qa28s35=fathir].
2. Sebagai “pembeda”antara haq(kebenaran) dengan yang bathil(kejahatan)[qa42s2=al baqarah] dan antara mukmin dengan orang yang tidak beriman dengan akherat[qa45s17=al isra].
3. Menjelaskan berbagai kemadorotan dari pola syaithon, yaitu menejemen Jibti dan metode operasional Thaghut[qa51s4=an nisa].
4. Untuk memberikan ketegasan tentang keberadaan sistem yang muthlaq dan wajib dipedomani oleh mukmin[qa153s6=al an’am].
Dengan yang tersebut maka pengertian dari perkataan “fis silmi ka-ffatan” adalah “fil ittifa-qul ‘ulama’”(:suatu bentuk kesepakatan ‘Ulama) melalui metode “Mudza-karah” yang berarti mengingatkan berdasarkan dalil yang jelas dan bukan kaidah dari hasil buah fikiran.
www.al-ulama.net
Mengingkari Nikmat Allah
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها[
“Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya…” (QS. An Nahl, 83).
Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang : “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.”
Aun bin Abdullah mengatakan : “Yakni kata mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini’.”
Ibnu Qutaibah berkata, menafsiri ayat di atas : “mereka mengatakan : ini adalah sebab syafa’at sembahan-sembahan kami”.
Abul Abbas([1]) setelah mengupas hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid yang didalamnya terdapat sabda Nabi : “sesungguhnya Allah berfirman : “pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kifir …, sebagaimana yang telah disebutkan di atas[2] ia mengatakan :
“Hal ini banyak terdapat dalam Al qur’an maupun As sunnah, Allah Subhanahu wata’ala mencela orang yang menyekutukanNya dengan menisbatkan nikmat yang telah diberikan kepada selainNya”.
Sebagian ulama salaf mengatakan : “yaitu seperti ucapan mereka : anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang bisa muncul dari ucapan banyak orang.
Kandungan bab ini :
1.
Penjelasan tentang firman Allah yang terdapat dalam surat An Nahl, yang menyatakan adanya banyak orang yang mengetahui nikmat Allah tapi mereka mengingkarinya.
2.
Hal itu sering terjadi dalam ucapan banyak orang. (karena itu harus dihindari).
3.
Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah.
4.
Adanya dua hal yang kontradiksi (mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya), bisa terjadi dalam diri manusia.
http://darussunnah.or.id/materi-khusus/kitabut-tauhid-mengingkari-nikmat-allah/
]يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها[
“Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya…” (QS. An Nahl, 83).
Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang : “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.”
Aun bin Abdullah mengatakan : “Yakni kata mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini’.”
Ibnu Qutaibah berkata, menafsiri ayat di atas : “mereka mengatakan : ini adalah sebab syafa’at sembahan-sembahan kami”.
Abul Abbas([1]) setelah mengupas hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid yang didalamnya terdapat sabda Nabi : “sesungguhnya Allah berfirman : “pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kifir …, sebagaimana yang telah disebutkan di atas[2] ia mengatakan :
“Hal ini banyak terdapat dalam Al qur’an maupun As sunnah, Allah Subhanahu wata’ala mencela orang yang menyekutukanNya dengan menisbatkan nikmat yang telah diberikan kepada selainNya”.
Sebagian ulama salaf mengatakan : “yaitu seperti ucapan mereka : anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang bisa muncul dari ucapan banyak orang.
Kandungan bab ini :
1.
Penjelasan tentang firman Allah yang terdapat dalam surat An Nahl, yang menyatakan adanya banyak orang yang mengetahui nikmat Allah tapi mereka mengingkarinya.
2.
Hal itu sering terjadi dalam ucapan banyak orang. (karena itu harus dihindari).
3.
Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah.
4.
Adanya dua hal yang kontradiksi (mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya), bisa terjadi dalam diri manusia.
http://darussunnah.or.id/materi-khusus/kitabut-tauhid-mengingkari-nikmat-allah/
Anugerah yang Terzholimi (Tentang Poligami)
Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah disempurnakan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan, pengurangan dan otak-atik.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
http://menikahsunnah.wordpress.com/category/sunnah-poligami/
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
http://menikahsunnah.wordpress.com/category/sunnah-poligami/
Tanggung Jawab Orang Tua
Sepertinya sekarang ini hampir setiap orang tua merasa khawatir terhadap perkembangan pergaulan anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anak-anaknya rusak, baik rusak agamanya, rusak akhlaknya, maupun rusak badannya (karena merokok atau karena makan-makanan haram ataupun beracun).
Tetapi yang jadi masalah besar, justru para orang tua sekarang sebagian besar tidak mendidik anak-anak secara benar, tidak mendidik secara kontinyu atau terus-menerus. Kebanyakan orang tua sekarang sering mendiamkan anak-anaknya, tidak memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Menjauhkan anak dari pendididkan agama, bahkan membanggakan anak pada sekolah umum, dan tidak dididik tentang akhlak yang baik. Inilah kondisi sekarang. Anak dibiarkan tumbuh tanpa peraturan agama, tanpa mengerti agama; tetapi maunya anak menjadi orang baik. Padahal, “Buah jatuh tak juah dari pohonnya”.
Lain hal dengan para orang tua yang sudah bersusah payah memberi contoh yang baik kepada anaknya, mendidik anaknya dengan agama, mendidik akhlaknya. Lalu karena pertemanan, lingkungan yang jelek dan contoh-contoh yang bertebaran dari para artis dengan aneka polah tingkahnya, kemudian si anak bisa tercebur kepada kenakalan remaja yang sedang marak sekarang ini. Kejadian begini yang membuat orang tua menangis yang tiada henti, walau hanya dalam batinnya.
Orang tua mengkhawatiri anak-anaknya
Sesungguhnya para orang tua yang agamanya masih baik akan sangat takut kepada firman Allah Ta’ala yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNYA kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim. 6).
www.nahimunkar.com
Tetapi yang jadi masalah besar, justru para orang tua sekarang sebagian besar tidak mendidik anak-anak secara benar, tidak mendidik secara kontinyu atau terus-menerus. Kebanyakan orang tua sekarang sering mendiamkan anak-anaknya, tidak memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Menjauhkan anak dari pendididkan agama, bahkan membanggakan anak pada sekolah umum, dan tidak dididik tentang akhlak yang baik. Inilah kondisi sekarang. Anak dibiarkan tumbuh tanpa peraturan agama, tanpa mengerti agama; tetapi maunya anak menjadi orang baik. Padahal, “Buah jatuh tak juah dari pohonnya”.
Lain hal dengan para orang tua yang sudah bersusah payah memberi contoh yang baik kepada anaknya, mendidik anaknya dengan agama, mendidik akhlaknya. Lalu karena pertemanan, lingkungan yang jelek dan contoh-contoh yang bertebaran dari para artis dengan aneka polah tingkahnya, kemudian si anak bisa tercebur kepada kenakalan remaja yang sedang marak sekarang ini. Kejadian begini yang membuat orang tua menangis yang tiada henti, walau hanya dalam batinnya.
Orang tua mengkhawatiri anak-anaknya
Sesungguhnya para orang tua yang agamanya masih baik akan sangat takut kepada firman Allah Ta’ala yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNYA kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim. 6).
www.nahimunkar.com
Film Forno
Apakah Nonton Film Porno Termasuk Dosa Besar?
Sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga pandangan dari melihat aurat atau kehormatan orang lain, sebagaimana firman Allah swt
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)
Senada dengan ayat diatas, Nabi saw juga telah melarang seseorang melihat aurat orang lain walaupun seorang laki-laki terhadap laki-laki yang lain atau seorang wanita terhadap wanita yang lain baik dengan syahwat maupun tanpa syahwat, sebagaimana sabdanya saw,”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki (lain) dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita (lain). Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain dan janganlah seorang wanita berada dalam satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Al Baihaqi)
Didalam film-film porno, batas-batas aurat atau bahkan inti dari aurat seseorang diperlihatkan dan dipertontonkan kepada orang-orang yang tidak halal melihatnya, ini merupakan perbuatan yang diharamkan baik orang yang mempertontokan maupun yang menontonnya.
Untuk itu tidak diperbolehkan bagi seseorang menyaksikan film porno walaupun dengan alasan belajar tentang cara-cara berhubungan atau menghilangkan kelemahan syahwatnya karena untuk alasan ini tidak mesti dengan menyaksikan film tersebut akan tetapi bisa dengan cara-cara lainnya yang didalamnya tidak ditampakkan aurat orang lain, seperti buku-buku agama yang menjelaskan tentang seks, buku-buku fiqih tentang pernikahan atau mungkin buku-buku umum tentang seks yang bebas dari penampakan aurat seseorang didalamnya.
www.eramuslim.com
Sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga pandangan dari melihat aurat atau kehormatan orang lain, sebagaimana firman Allah swt
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)
Senada dengan ayat diatas, Nabi saw juga telah melarang seseorang melihat aurat orang lain walaupun seorang laki-laki terhadap laki-laki yang lain atau seorang wanita terhadap wanita yang lain baik dengan syahwat maupun tanpa syahwat, sebagaimana sabdanya saw,”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki (lain) dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita (lain). Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain dan janganlah seorang wanita berada dalam satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Al Baihaqi)
Didalam film-film porno, batas-batas aurat atau bahkan inti dari aurat seseorang diperlihatkan dan dipertontonkan kepada orang-orang yang tidak halal melihatnya, ini merupakan perbuatan yang diharamkan baik orang yang mempertontokan maupun yang menontonnya.
Untuk itu tidak diperbolehkan bagi seseorang menyaksikan film porno walaupun dengan alasan belajar tentang cara-cara berhubungan atau menghilangkan kelemahan syahwatnya karena untuk alasan ini tidak mesti dengan menyaksikan film tersebut akan tetapi bisa dengan cara-cara lainnya yang didalamnya tidak ditampakkan aurat orang lain, seperti buku-buku agama yang menjelaskan tentang seks, buku-buku fiqih tentang pernikahan atau mungkin buku-buku umum tentang seks yang bebas dari penampakan aurat seseorang didalamnya.
www.eramuslim.com
Berserah Diri
Dituntut kecondongan dirinya sebagai mukmin yang berittiba’ kepada Rasulullah dengan keterkaitannya untuk berada dalam golongan para saksi yang berserah diri dalam Islam dan sebagai anshorullah seperti dituntunkan dalam surah Ali Imron 53,yaitu:
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ .٥٣
“Ya Robb kami,(sesungguhnya)kami beriman dengan segala apa yang Engkau turunkan, dan kami berittiba’kepada Rasul,maka (kami memohon semoga)Engkau masukkanlah kami beserta golongan orang-orang yang menjadi saksi (terhadap Daulah Islam Dunia yang Engkau telah janjikan)”.
www.al-ulama.net
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ .٥٣
“Ya Robb kami,(sesungguhnya)kami beriman dengan segala apa yang Engkau turunkan, dan kami berittiba’kepada Rasul,maka (kami memohon semoga)Engkau masukkanlah kami beserta golongan orang-orang yang menjadi saksi (terhadap Daulah Islam Dunia yang Engkau telah janjikan)”.
www.al-ulama.net
PESONA AL QUR-AN
Bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan Al Qur-an dengan pesona yang maha sempurna dan tidak mungkin dapat diatasi oleh upaya seluruh makhluq, sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Az Zumar ayat 23, yaitu :
“Allah yang telah turunkan sebaik-baik perkataan (yaitu) sebuah Kitab (Al Qur-an), yang serupa, yang diulang ulang. Akan menjadi seram terhadapnya kulit orang-orang yang takut terhadap Robb mereka, kemudian lembutlah kulit dan hati mereka kepada peringatan Allah. Demikianlah petunjuk Allah, Dia tunjuki dengan-nya siapa yang Dia Kehendaki, Dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tiadalah baginya yang dapat memberikan petunjuk”.-
Ayat tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa kemegahan Al Qur-an sebagai rangkaian perkataan yang tidak mungkin teratasi oleh seluruh makhluq [qa23s2=al baqarah], yang sebagian isinya telah dicantumkan dalam Kitab-Kitab terdahulu [qa196s26=asy syu’ara]. Yang dengan itu maka Al Qur-an merupakan penyempurna dan penghapus daripada keberlakuan Kitab-Kitab terdahulu[qa106s2=al baqarah], serta menetapkan kemuthlaqannya sebagai Norma Hukum atas ummat manusia sedunia sampai akhir zaman [qa20s45=al jatsiyah].-
www.al-ulama.net
“Allah yang telah turunkan sebaik-baik perkataan (yaitu) sebuah Kitab (Al Qur-an), yang serupa, yang diulang ulang. Akan menjadi seram terhadapnya kulit orang-orang yang takut terhadap Robb mereka, kemudian lembutlah kulit dan hati mereka kepada peringatan Allah. Demikianlah petunjuk Allah, Dia tunjuki dengan-nya siapa yang Dia Kehendaki, Dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tiadalah baginya yang dapat memberikan petunjuk”.-
Ayat tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa kemegahan Al Qur-an sebagai rangkaian perkataan yang tidak mungkin teratasi oleh seluruh makhluq [qa23s2=al baqarah], yang sebagian isinya telah dicantumkan dalam Kitab-Kitab terdahulu [qa196s26=asy syu’ara]. Yang dengan itu maka Al Qur-an merupakan penyempurna dan penghapus daripada keberlakuan Kitab-Kitab terdahulu[qa106s2=al baqarah], serta menetapkan kemuthlaqannya sebagai Norma Hukum atas ummat manusia sedunia sampai akhir zaman [qa20s45=al jatsiyah].-
www.al-ulama.net
Jadal (DEBAT)
Sedangkan kebolehan melakukan jadal itu hanya dikhususkan kepada Ahli Kitab, dan itupun harus tepat waktu dan dengan cara yang sebaik-baiknya, karena Al Qur-an itu posisinya membenarkan dan menyempurnakan Kitab-Kitab dari Allah yang terdahulu. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al ‘Ankabut 46-47, sebagai berikut:
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ .٤٦ وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ .٤٧
“46. dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri.
47. dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran)dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. dan Tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.”
Maka jelas bahwa “jadal” itu hanya ditujukan untuk menghadapi Ahli Kitab, dan bukan untuk menghadapi permasalahan hukum yang bersumber dari buah fikiran manusia, karena pada dasarnya Rasul telah melarang penggunaan fikiran untuk mendominasi Hukum Allah. Sesama muslim dibenarkan untuk bermunadharah, yaitu mencari titik temu dari beberapa dalil sehingga mendapat maksud yang benar. Tujuannya mencari kebenaran bukan mempertahankan pendapat pribadi.
www.al-ulama.net
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ .٤٦ وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ .٤٧
“46. dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri.
47. dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran)dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. dan Tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.”
Maka jelas bahwa “jadal” itu hanya ditujukan untuk menghadapi Ahli Kitab, dan bukan untuk menghadapi permasalahan hukum yang bersumber dari buah fikiran manusia, karena pada dasarnya Rasul telah melarang penggunaan fikiran untuk mendominasi Hukum Allah. Sesama muslim dibenarkan untuk bermunadharah, yaitu mencari titik temu dari beberapa dalil sehingga mendapat maksud yang benar. Tujuannya mencari kebenaran bukan mempertahankan pendapat pribadi.
www.al-ulama.net
Isyarat dari Al Qur-an
Sebagaimana telah difaham,bahwa Al Qur-an telah memberikan beberapa isyarat penting untuk menjadi dasar petunjuk, antara lain :
a. Dalam surah Al Isra : 45-46
وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا .٤٥ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا .٤٦
"45.Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.46. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. dan apabila kamu menyebut Robbmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya."
Dari ayat diatas jelas bahwa upaya pengembalian kepada Hukum Al Qur-an pasti Robb buatkan hijab yang tersembunyi, dan membuat kaum eklektisisme dan kaum pluralis menolak dengan segala cara.
b. Dalam Surah Al Isra’ : 9
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا .٩
"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
Dari ayat diatas jelas bahwa kemukjizatan Al Qur-an secara pasti akan dapat mengatasi permasalahan keummatan, dan memberikan petunjuk langkah secara pasti yang positif dan akurat.
www.al-ulama.net
a. Dalam surah Al Isra : 45-46
وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا .٤٥ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا .٤٦
"45.Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.46. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. dan apabila kamu menyebut Robbmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya."
Dari ayat diatas jelas bahwa upaya pengembalian kepada Hukum Al Qur-an pasti Robb buatkan hijab yang tersembunyi, dan membuat kaum eklektisisme dan kaum pluralis menolak dengan segala cara.
b. Dalam Surah Al Isra’ : 9
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا .٩
"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
Dari ayat diatas jelas bahwa kemukjizatan Al Qur-an secara pasti akan dapat mengatasi permasalahan keummatan, dan memberikan petunjuk langkah secara pasti yang positif dan akurat.
www.al-ulama.net
Panduan al Qur-an
Petunjuk Dalil
Bahwa dalam memahami makna manusia sebagai “makhluq sosial” [qa1s4=an nisa],untuk dapat berinteraksi secara positif bagi memelihara “nilai kemanusiaan”[qa13s49=al hujurat],maka Allah telah dipandukan “suatu gambaran pedoman Kebenaran”sebagaimana yang diterangkan dalam Surah Al Maidah 67 sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ. ٦٧
“Wahai Rasul! Sampaikanlah segala apa yang diturunkan kepadamu dari Robb kamu,Dan jika tidak kamu kerja kan,maka(berarti) tiadalah kamu menyampaikan risalah-Nya, danAllah itu memelihara kamu dari (berbagai gangguan yang direncanakan oleh) manusia.Sesungguhnya Allah itu tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang sama kafir”.
Pengkajian
Petunjuk dari ayat tersebut bila dicermati secara seksama, maka dapat diambil diantara pengertiannya antara lain:
1. Pernyataan Allah langsung kepada RasulNya, adalah merupakan petunjuk muthlaq bagi umatnya tentang keberadaan Rasulullah, yaitu sebagai “sosok petunjuk pelaksana strategi” dari Allah,maka dengan pengenalannya tersebut maka wajib dijadikan pedoman oleh umatnya[qa64-65s4=an nisa].
2. Tentang tekanan pada kalimat “risa-latahu”memberikan hukum muthlaq tentang keberadaan al Qur-an[qa153s6=al an’am], karena al Qur-an adalah penyempurna dari seluruh risalah Allah atas para RasulNya[qa106s2=al baqarah].
3. Kalimat”wallahu ya’shimuka minannasi”, maka didalamnya tersirat bentuk isyarat yang ditujukan kepada para pemegang amanah para Rasul, yaitu Al’Ulama[ qa28s35=fathir].
4. Secara umum petunjuk ayat tersebut dalam keterkaitan dengan ayat sebelum dan
sesudahnya,adalah merupakan petunjuk tentang “solusi dalam perbaikan ummat manusia yang telah terkondisi oleh pola dan program Ahli Kitab”,bahwa awal kerusakan Yahudi dan
Nashara adalah ditangan “para Pendeta”(Al’Ulama)[qa34s9=at taubah].Maka berarti bahwa
solusi perbaikannya adalah kesadaran “Para ‘Ulama” yang menjadi pusat pandang umat
sebagai Al’Arif atau Al Khowasy[qa37s24=an nur].
Dengan yang tersebut maka jelas bahwa peran ‘Ulama dituntut kebersamaannya untuk mengangkat al Qur-an sebagai Norma Hukum atas umat manusia[qa20s45=al jatsiyah] menuju janji Allah,yaitu tegak Daulah Islam Dunia, sebagaimana telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam menjelaskan kedudukan kedudukan ayat.[qa33 s9=at taubah].
Pembahasan ringkas
Bahwa sesungguhnya petunjuk Allah dan panduan Rasulullah sudah cukup dan sangat jelas, maka berarti bahwa “getaran suara nurani umat manusia sedunia telah menjadi satu nada, yaitu Suara Rindu” terhadap bangunan Khilafah dan Imamah berdasarkan KetetapanNya yang akan dijadikanNya sebagai mengawali perjalanan bagi perubahan dunia secara total sampai akhir zaman.
Dengan demikian bagi perjalanan ‘Ulama akan berarti,antara lain:
1. Perihal terjadi “firqoh-firqoh” dalam Islam adalah bukan merupakan kendala, karena hal tersebut telah diisyaratkan Allah terhadap RasulNya[qa159s6=al an’am].
2. Perjalanan ‘Ulama menuju kesepakatan dunia merupakan perintah muthlaq, sebagai poros perjalanan Islam dan umat Islam kedepan[qa208s2=al baqarah].
3. Perjalanan Mudzakarah ‘Ulama adalah merupakan proses pengkondisian sebagai pemegang amanah para Rasul bagi penggelaran perintah yang ditetapkan Allah terhadap 5 rasul pilihan[qa13s42=asy syura], dan sebagai pemegang amanah Allah atas makhluqNya [qa27-28s35=fathir],sebagai wujud dari isyarat penunjukan Allah kepada Muhammad saw penutup para Nabi[qa40s33=al ahzab] dan sebagai Rasul atas seluruh umat berbagai bangsa didunia[qa28s34=as saba].
Inilah kajian ringkas panduan al Qur-an dalam menuju Daulah Islam Dunia.
Written by mubarki
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=164&Itemid=1
Bahwa dalam memahami makna manusia sebagai “makhluq sosial” [qa1s4=an nisa],untuk dapat berinteraksi secara positif bagi memelihara “nilai kemanusiaan”[qa13s49=al hujurat],maka Allah telah dipandukan “suatu gambaran pedoman Kebenaran”sebagaimana yang diterangkan dalam Surah Al Maidah 67 sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ. ٦٧
“Wahai Rasul! Sampaikanlah segala apa yang diturunkan kepadamu dari Robb kamu,Dan jika tidak kamu kerja kan,maka(berarti) tiadalah kamu menyampaikan risalah-Nya, danAllah itu memelihara kamu dari (berbagai gangguan yang direncanakan oleh) manusia.Sesungguhnya Allah itu tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang sama kafir”.
Pengkajian
Petunjuk dari ayat tersebut bila dicermati secara seksama, maka dapat diambil diantara pengertiannya antara lain:
1. Pernyataan Allah langsung kepada RasulNya, adalah merupakan petunjuk muthlaq bagi umatnya tentang keberadaan Rasulullah, yaitu sebagai “sosok petunjuk pelaksana strategi” dari Allah,maka dengan pengenalannya tersebut maka wajib dijadikan pedoman oleh umatnya[qa64-65s4=an nisa].
2. Tentang tekanan pada kalimat “risa-latahu”memberikan hukum muthlaq tentang keberadaan al Qur-an[qa153s6=al an’am], karena al Qur-an adalah penyempurna dari seluruh risalah Allah atas para RasulNya[qa106s2=al baqarah].
3. Kalimat”wallahu ya’shimuka minannasi”, maka didalamnya tersirat bentuk isyarat yang ditujukan kepada para pemegang amanah para Rasul, yaitu Al’Ulama[ qa28s35=fathir].
4. Secara umum petunjuk ayat tersebut dalam keterkaitan dengan ayat sebelum dan
sesudahnya,adalah merupakan petunjuk tentang “solusi dalam perbaikan ummat manusia yang telah terkondisi oleh pola dan program Ahli Kitab”,bahwa awal kerusakan Yahudi dan
Nashara adalah ditangan “para Pendeta”(Al’Ulama)[qa34s9=at taubah].Maka berarti bahwa
solusi perbaikannya adalah kesadaran “Para ‘Ulama” yang menjadi pusat pandang umat
sebagai Al’Arif atau Al Khowasy[qa37s24=an nur].
Dengan yang tersebut maka jelas bahwa peran ‘Ulama dituntut kebersamaannya untuk mengangkat al Qur-an sebagai Norma Hukum atas umat manusia[qa20s45=al jatsiyah] menuju janji Allah,yaitu tegak Daulah Islam Dunia, sebagaimana telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam menjelaskan kedudukan kedudukan ayat.[qa33 s9=at taubah].
Pembahasan ringkas
Bahwa sesungguhnya petunjuk Allah dan panduan Rasulullah sudah cukup dan sangat jelas, maka berarti bahwa “getaran suara nurani umat manusia sedunia telah menjadi satu nada, yaitu Suara Rindu” terhadap bangunan Khilafah dan Imamah berdasarkan KetetapanNya yang akan dijadikanNya sebagai mengawali perjalanan bagi perubahan dunia secara total sampai akhir zaman.
Dengan demikian bagi perjalanan ‘Ulama akan berarti,antara lain:
1. Perihal terjadi “firqoh-firqoh” dalam Islam adalah bukan merupakan kendala, karena hal tersebut telah diisyaratkan Allah terhadap RasulNya[qa159s6=al an’am].
2. Perjalanan ‘Ulama menuju kesepakatan dunia merupakan perintah muthlaq, sebagai poros perjalanan Islam dan umat Islam kedepan[qa208s2=al baqarah].
3. Perjalanan Mudzakarah ‘Ulama adalah merupakan proses pengkondisian sebagai pemegang amanah para Rasul bagi penggelaran perintah yang ditetapkan Allah terhadap 5 rasul pilihan[qa13s42=asy syura], dan sebagai pemegang amanah Allah atas makhluqNya [qa27-28s35=fathir],sebagai wujud dari isyarat penunjukan Allah kepada Muhammad saw penutup para Nabi[qa40s33=al ahzab] dan sebagai Rasul atas seluruh umat berbagai bangsa didunia[qa28s34=as saba].
Inilah kajian ringkas panduan al Qur-an dalam menuju Daulah Islam Dunia.
Written by mubarki
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=164&Itemid=1
Kebesaran Al Qur-an
Petunjuk Al Qur-an
Sesungguhnya pada dasarnya ummat Islam yakin dan faham bahwa Al Qur-an sebagai “sumber” [qa138s3=ali imron], akan tetapi dalam kenyataannya sedikit sekali yang menjadikannya sebagai pedoman dan panduan hidup dalam dunia ini, walaupun Allah telah menegaskannya secara jelas dan tegas[qa153s6=al an’am].Padahal Allah telah terangkan perihal himpunan tingkat ilmu yang terkandung dalam al Qur-an, sebagaimana difirmankan dalam Surah At Takwir 23-28, sebagai berikut:
وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ .٢٣وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ .٢٤وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ .٢٥فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ .٢٦إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ .٢٧لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ .٢٨
“Dan sungguh pasti dia(Muhammad)telah melihat(Jibril)itu difihak atas yang nyata”;”Dan tiadalah dia(Muhammad) itu atas yang ghaib bersikap kikir”;”Dan tiadalah dia(al Qur-an)itu perekataan syaithon yang terkutuk”; ”Maka kemanakah kamu akan pergi(menghindar dari adzab)”;”Tiada lain (al Qur-an)itu peringatan untuk semesta alam”;”Bagi barang siapa dari antara kamu yang akan berlaku lurus”;”Dan tiadalah kamu menghendaki melainkan Kehendak Allah Robb sekalian alam”.
Ayat-ayat tersebut memberikan bukti nyata tentang keberadaan Jibril untuk menemui Muhammad yang ditetapkan Allah sebagai penutup dari seluruh nabi[qa40s33=al Ahzab]untuk menyampaikan wahyuNya, yang tersimpan dan diambil di Lauhin Mahfudz atas perintahNya[qa77-80s56=al waqi’ah].Maka dapat dipahami bahawa Al Qur-an adalah petunjuk final”bagi proses sinkronisasi” seluruh makhluq semesta alam, melalui pembuktian pelaksanaan tasbih, shalat[qa41s24=an nur] dan sujud yang dilakukan oleh semesta alam[qa18s22=al hajj], kemudian perintah beribadat bagi jin dan manusia[qa56s51=adz dzariyat];Dan hal ini berakhir dengan”kesaksian dan janji” dari Allah atas makhluqNya pada Hari Peradilan, dan inilah pula gambaran dari”Bukti-bukti Yang Besar” [qa18s53= an najm].
Pembahasan
Bahwa sesungguhnya Al Qur-an sebagai penuntas dan penyempurna dari seluruh wahyu yang telah Allah berikan kepada para RasulNya [qa106s2=al baqarah].Kesempurnaan isinya, maka dalam hal pembuktiannya, Allah memberikan beberapa petunjuk agar dipahami secara seksama, antara lain:
1. Allah menyajikan tantangan kepada siapapun, yang berambisi untuk menandinginya, lantaran ada beberapa tanggapan yang negative terhadap Al Qur-an[qa23-24s2=al baqarah].
2. Penyajian tentang kesempurnaan Al Qur-an, yang meliputi tingkatan-tingkatan , dari ekzak, abstrak, relative abstrak,dan absolute abstrak.Maka untuk kemampuan memahami kepada tingkatan tersebut, manusia diberi dengan tiga perantara pemahaman, yaitu as sam’a(pendengaran), al abshor(penglihatan),dan al af-idah(daya kemampuan berfikir)[qa78s16=an nahl].Kemudian disempurnakan dengan kunci keterbatasan dan yang menjembatani terhadap pemahaman tingkatan-tingkatan isi Al Qur-an[qa7-8s30=ar rum].
3. Perintah memahami isi Al Qur-an melalui penjelasan yang simple dan mudah diterima [qa 27-28s39=az zumar], dengan maksud, bagi yang telah paham akan dapat menangkap sinyal pembatas antara nafsu sebagai sarang hambatan mental[qa118s4=an nisa] dengan hati sebagai tempat meletakkan hidayah[qa99s10=yunus],untuk kewaspadaan diri[qa24s8=anfal].
Inilah beberapa bukti dari kesempurnaan Al Qur-an, dan manusia diberi kewenangan untuk menentukan dirinya, sejauh mana kesadarannya terhadap maksud dan tujuan hidup dalam dunia ini, dan kemana dia akan menentukan dirinya.
Written by mubarki
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=169&Itemid=1
Sesungguhnya pada dasarnya ummat Islam yakin dan faham bahwa Al Qur-an sebagai “sumber” [qa138s3=ali imron], akan tetapi dalam kenyataannya sedikit sekali yang menjadikannya sebagai pedoman dan panduan hidup dalam dunia ini, walaupun Allah telah menegaskannya secara jelas dan tegas[qa153s6=al an’am].Padahal Allah telah terangkan perihal himpunan tingkat ilmu yang terkandung dalam al Qur-an, sebagaimana difirmankan dalam Surah At Takwir 23-28, sebagai berikut:
وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ .٢٣وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ .٢٤وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ .٢٥فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ .٢٦إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ .٢٧لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ .٢٨
“Dan sungguh pasti dia(Muhammad)telah melihat(Jibril)itu difihak atas yang nyata”;”Dan tiadalah dia(Muhammad) itu atas yang ghaib bersikap kikir”;”Dan tiadalah dia(al Qur-an)itu perekataan syaithon yang terkutuk”; ”Maka kemanakah kamu akan pergi(menghindar dari adzab)”;”Tiada lain (al Qur-an)itu peringatan untuk semesta alam”;”Bagi barang siapa dari antara kamu yang akan berlaku lurus”;”Dan tiadalah kamu menghendaki melainkan Kehendak Allah Robb sekalian alam”.
Ayat-ayat tersebut memberikan bukti nyata tentang keberadaan Jibril untuk menemui Muhammad yang ditetapkan Allah sebagai penutup dari seluruh nabi[qa40s33=al Ahzab]untuk menyampaikan wahyuNya, yang tersimpan dan diambil di Lauhin Mahfudz atas perintahNya[qa77-80s56=al waqi’ah].Maka dapat dipahami bahawa Al Qur-an adalah petunjuk final”bagi proses sinkronisasi” seluruh makhluq semesta alam, melalui pembuktian pelaksanaan tasbih, shalat[qa41s24=an nur] dan sujud yang dilakukan oleh semesta alam[qa18s22=al hajj], kemudian perintah beribadat bagi jin dan manusia[qa56s51=adz dzariyat];Dan hal ini berakhir dengan”kesaksian dan janji” dari Allah atas makhluqNya pada Hari Peradilan, dan inilah pula gambaran dari”Bukti-bukti Yang Besar” [qa18s53= an najm].
Pembahasan
Bahwa sesungguhnya Al Qur-an sebagai penuntas dan penyempurna dari seluruh wahyu yang telah Allah berikan kepada para RasulNya [qa106s2=al baqarah].Kesempurnaan isinya, maka dalam hal pembuktiannya, Allah memberikan beberapa petunjuk agar dipahami secara seksama, antara lain:
1. Allah menyajikan tantangan kepada siapapun, yang berambisi untuk menandinginya, lantaran ada beberapa tanggapan yang negative terhadap Al Qur-an[qa23-24s2=al baqarah].
2. Penyajian tentang kesempurnaan Al Qur-an, yang meliputi tingkatan-tingkatan , dari ekzak, abstrak, relative abstrak,dan absolute abstrak.Maka untuk kemampuan memahami kepada tingkatan tersebut, manusia diberi dengan tiga perantara pemahaman, yaitu as sam’a(pendengaran), al abshor(penglihatan),dan al af-idah(daya kemampuan berfikir)[qa78s16=an nahl].Kemudian disempurnakan dengan kunci keterbatasan dan yang menjembatani terhadap pemahaman tingkatan-tingkatan isi Al Qur-an[qa7-8s30=ar rum].
3. Perintah memahami isi Al Qur-an melalui penjelasan yang simple dan mudah diterima [qa 27-28s39=az zumar], dengan maksud, bagi yang telah paham akan dapat menangkap sinyal pembatas antara nafsu sebagai sarang hambatan mental[qa118s4=an nisa] dengan hati sebagai tempat meletakkan hidayah[qa99s10=yunus],untuk kewaspadaan diri[qa24s8=anfal].
Inilah beberapa bukti dari kesempurnaan Al Qur-an, dan manusia diberi kewenangan untuk menentukan dirinya, sejauh mana kesadarannya terhadap maksud dan tujuan hidup dalam dunia ini, dan kemana dia akan menentukan dirinya.
Written by mubarki
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=169&Itemid=1
Subscribe to:
Posts (Atom)
