TENTANG RUH
عن ابن مسعود – ر – قال : كنتُ اَمْشي مع النّبي صلعم, بالمدينةِ و هو يَـتَوَكَّآُ على عَسِيبٍ فَمَرَّ بِنَفْرٍ مِنَ اليهودِ فقال بَعْضُهم
لَوْسَآَلْتُمُوهُ : فقالُوا حَدَّثَنَا عَن الرُّوحِ فقامَ سَاعَةً و رَفَعَ رَآسَهُ.فَعَرَفْتُ اَنّهُ يُوْلِجُو اِلَيْهِ حَتَّى صَعَدَ الوَحْيُ. ثُمّ قال :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥) . البخاري
Terjemah:
Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata : Adalah Aku berjalan beserta Nabi SAW di Madinah dan Dia bertelekan atas tongkat (pelepah korma), maka lewat se-rombongan dari orang Yahudi. Maka berkatalah sebagian mereka; cobalah tanya oleh kamu kepadanya, maka mereka berkata : ceritakan pada kami tentang ruh, maka Rasul berdiri sejenak dan mengangkat kepalanya, maka aku kenal bahwa dia sedang diberi wahyu kepadanya, sampai selesainya kemudian bersabda :dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(Q.S. 17 : 85) (Buchari)
www.al-ulama.net
لَوْسَآَلْتُمُوهُ : فقالُوا حَدَّثَنَا عَن الرُّوحِ فقامَ سَاعَةً و رَفَعَ رَآسَهُ.فَعَرَفْتُ اَنّهُ يُوْلِجُو اِلَيْهِ حَتَّى صَعَدَ الوَحْيُ. ثُمّ قال :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥) . البخاري
Terjemah:
Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata : Adalah Aku berjalan beserta Nabi SAW di Madinah dan Dia bertelekan atas tongkat (pelepah korma), maka lewat se-rombongan dari orang Yahudi. Maka berkatalah sebagian mereka; cobalah tanya oleh kamu kepadanya, maka mereka berkata : ceritakan pada kami tentang ruh, maka Rasul berdiri sejenak dan mengangkat kepalanya, maka aku kenal bahwa dia sedang diberi wahyu kepadanya, sampai selesainya kemudian bersabda :dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(Q.S. 17 : 85) (Buchari)
www.al-ulama.net
syaithon
Allah telah ingatkan dalam Surah Fathir 6,yaitu:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ.٦
“Sesungguhnya syaithon itu bagi (kemanusiaam)kamu adalah sebagai musuh,maka perlakukanlah ia itu sebagai musuh.Adapun sebenarnya syaithon itu menyeru pengikutnya supaya mereka menjadi golongan penduduk neraka”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa sesungguhnya syaithon itu “musuh kemanusiaan”, maka seluruh pola syaithon itu pada haqiqatnya akan menelanjangi faktor kemanusiaan,sehingga membuat lupa diri dan menafikan terhadap nilai-nilai Tauhid dan kemanusiaan.
www.al-ulama.net
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ.٦
“Sesungguhnya syaithon itu bagi (kemanusiaam)kamu adalah sebagai musuh,maka perlakukanlah ia itu sebagai musuh.Adapun sebenarnya syaithon itu menyeru pengikutnya supaya mereka menjadi golongan penduduk neraka”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa sesungguhnya syaithon itu “musuh kemanusiaan”, maka seluruh pola syaithon itu pada haqiqatnya akan menelanjangi faktor kemanusiaan,sehingga membuat lupa diri dan menafikan terhadap nilai-nilai Tauhid dan kemanusiaan.
www.al-ulama.net
Sangat Beruntung
Petunjuk Al Qur-an
Sesungguhnya bagi hamba Allah yang mau untuk memahami dan menghayati terhadap al Qur-an,maka secara pasti memperoleh multi keberuntungan yang diberikan Allah atasnya,karena Allah telah firmankan dalam surah Az Zumar 27-28, sebagai berikut:
“Dan sungguh Kami telah tetapkan untuk manusia dalam(seluruh isian) Al Qur-an ini dari berbagai perumpamaan,mudah-mudahan mereka mengambil pelajaran”;”Al Qur-an berbahasa arab yang tiada terdapat kebengkokan, mudah-mudahan mereka bertaqwa”.
Pembahasan
Dalam istilah keilmuan,maka lafadz “amtsal” mempunyai beberapa pengertian,yaitu:
A=al matsal ; artinya perumpamaan.
B=asy sybhi; artinya gambaran.
C=an najhi-ri; artinya keserupaan.
D=al qoshosh; artinya kisah-kisah.
E=sifat atau keadaan.
Dengan memahami pengertian-pengertian tersebut,maka Al Qur-an itu meliputi beberapa tingkatan Ilmu,yaitu ekzak,abtrak,relative abstrak,dan absolute abstrak.Maka inilah yang digambarkanNya ketika Rasulullah saw diperjalankanNya dalam satu malam[qa1s17=al isra] untuk menerima bukti-bukti KebesaranNya [qa18s53=an najm].
Maka pemahaman melalui aktivitas majlis Ilmu yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan [qa18s39=az zumar] dengan melakukan proses tadabbur[qa24s47=Muhammad] . Secara positif akan membuahkan ketaqwaan,yang meliputi antara lain:
1. Kesadaran dalam menempatkan diri sebagai muttabi’urrasul bagi mengemban amanah Millah Ibrahim[qa68s3=ali imron].Dan akan memperoleh kepahaman yang cukup perihal keberadaan Rasulullah saw,sebagai sosok yang peka lingkungan dan penuh kepedulian bagi kepentingan penggelaran Islam[qa128s9=at taubah].
2. Kesadaran beristiqomah, yaitu bersikap lurus dalam menepati perintah Dinullah(Islam) [qa30s41=fusilat].
3. Kesadaran memotivasi diri,sehingga dalam menepati perintah Islam semata-mata mendambakan kesaksian dari Allah [qa53s3=ali imron].
Dengan yang tersebut,maka dengan sendirinya pada satu sisi,akan berupaya menjadikan Al Qur-an sebagai panduan dalam hidupnya,sehingga akan senantiasa memandang positif terhadap berbagai petunjuk Rasulullah saw dengan tanpa keraguan [qa51s24=an nur].
Sedangkan pada sisi lain akan senantiasa sadar diri dalam menyambut seruan Allah dan RasulNya, karena sangat paham bahwa antara nafsu dengan ‘aqal, ada pembatas yang wajib dijadikan kunci dasar dalam melangkah[qa24s8=al anfal].
Oleh karena itu,dengan melalui pemahaman Al Qur-an secara baik dan benar berdasarkan kaidah keilmuan yang telah digambarkan oleh Al Qur-an itu sendiri,maka secara pasti akan memberikan pedoman ‘amal yang positif dengan tanpa pernah merusak “citra perjalanan”,bagi menuju cita yang dikehendaki Allah.
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=137&Itemid=2
Sesungguhnya bagi hamba Allah yang mau untuk memahami dan menghayati terhadap al Qur-an,maka secara pasti memperoleh multi keberuntungan yang diberikan Allah atasnya,karena Allah telah firmankan dalam surah Az Zumar 27-28, sebagai berikut:
“Dan sungguh Kami telah tetapkan untuk manusia dalam(seluruh isian) Al Qur-an ini dari berbagai perumpamaan,mudah-mudahan mereka mengambil pelajaran”;”Al Qur-an berbahasa arab yang tiada terdapat kebengkokan, mudah-mudahan mereka bertaqwa”.
Pembahasan
Dalam istilah keilmuan,maka lafadz “amtsal” mempunyai beberapa pengertian,yaitu:
A=al matsal ; artinya perumpamaan.
B=asy sybhi; artinya gambaran.
C=an najhi-ri; artinya keserupaan.
D=al qoshosh; artinya kisah-kisah.
E=sifat atau keadaan.
Dengan memahami pengertian-pengertian tersebut,maka Al Qur-an itu meliputi beberapa tingkatan Ilmu,yaitu ekzak,abtrak,relative abstrak,dan absolute abstrak.Maka inilah yang digambarkanNya ketika Rasulullah saw diperjalankanNya dalam satu malam[qa1s17=al isra] untuk menerima bukti-bukti KebesaranNya [qa18s53=an najm].
Maka pemahaman melalui aktivitas majlis Ilmu yang dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan [qa18s39=az zumar] dengan melakukan proses tadabbur[qa24s47=Muhammad] . Secara positif akan membuahkan ketaqwaan,yang meliputi antara lain:
1. Kesadaran dalam menempatkan diri sebagai muttabi’urrasul bagi mengemban amanah Millah Ibrahim[qa68s3=ali imron].Dan akan memperoleh kepahaman yang cukup perihal keberadaan Rasulullah saw,sebagai sosok yang peka lingkungan dan penuh kepedulian bagi kepentingan penggelaran Islam[qa128s9=at taubah].
2. Kesadaran beristiqomah, yaitu bersikap lurus dalam menepati perintah Dinullah(Islam) [qa30s41=fusilat].
3. Kesadaran memotivasi diri,sehingga dalam menepati perintah Islam semata-mata mendambakan kesaksian dari Allah [qa53s3=ali imron].
Dengan yang tersebut,maka dengan sendirinya pada satu sisi,akan berupaya menjadikan Al Qur-an sebagai panduan dalam hidupnya,sehingga akan senantiasa memandang positif terhadap berbagai petunjuk Rasulullah saw dengan tanpa keraguan [qa51s24=an nur].
Sedangkan pada sisi lain akan senantiasa sadar diri dalam menyambut seruan Allah dan RasulNya, karena sangat paham bahwa antara nafsu dengan ‘aqal, ada pembatas yang wajib dijadikan kunci dasar dalam melangkah[qa24s8=al anfal].
Oleh karena itu,dengan melalui pemahaman Al Qur-an secara baik dan benar berdasarkan kaidah keilmuan yang telah digambarkan oleh Al Qur-an itu sendiri,maka secara pasti akan memberikan pedoman ‘amal yang positif dengan tanpa pernah merusak “citra perjalanan”,bagi menuju cita yang dikehendaki Allah.
http://al-ulama.net/index.php?option=com_content&task=view&id=137&Itemid=2
Kesabaran dalam Kepasrahan
Untuk diketahui, bahwa dalam menepati rasa kebersamaan,yang diajarkan Rasulullah saw, yaitu “menepati keutuhan”dalam suka dan duka,dalam kelapangan dan kesempitan, yang maksudnya dalam segala keadaan.Adalah merupakan tugas yang palimg mulia bagi memelihara hubungan hati(:tansiq) antara mukmin.Hal tersebut dituntunkan dalam Surah al Furqon 58,yaitu:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَم ْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا ٥٨
“Dan bertawakallah hanya kepada (Allah),Yang Maha Hidup tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya,dan cukuplah denganNya terhadap dosa hamba-hambaNya (bahwa Dia) itu Maha Mengerti”.
Ayat tersebut merupakan perintah muthlaq atas tiap individu yang telah merasa memperoleh”Nur Islam”
www.al-ulama.net
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَم ْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا ٥٨
“Dan bertawakallah hanya kepada (Allah),Yang Maha Hidup tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya,dan cukuplah denganNya terhadap dosa hamba-hambaNya (bahwa Dia) itu Maha Mengerti”.
Ayat tersebut merupakan perintah muthlaq atas tiap individu yang telah merasa memperoleh”Nur Islam”
www.al-ulama.net
Jalan Yang Lurus
Karena dengan itu akan dapat mengatasi seluruh kendala yang akan menjadi hambatannya,yang digambarkan dalam surah Al an’am 153,yaitu:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. ١٥٣
“Dan bahwa (Al Qur-an)ini jalanKu yang lurus,maka turutlah ia,dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain,maka berakibat membuat kamu akan terpecah-belah lagi terpisah dari jalanNya Demikian itu Allah wasiatkan kepadamu dengannya, mudah-mudahan kamu sama bertaqwa”
www.al-ulama.net
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. ١٥٣
“Dan bahwa (Al Qur-an)ini jalanKu yang lurus,maka turutlah ia,dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain,maka berakibat membuat kamu akan terpecah-belah lagi terpisah dari jalanNya Demikian itu Allah wasiatkan kepadamu dengannya, mudah-mudahan kamu sama bertaqwa”
www.al-ulama.net
Petunjuk paling akurat
Bahwa Allah telah menetapkan melalui firman-Nya dalam Surah Al Isra 09, sebagai berikut:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا. ٩
“Sesungguhnya Al Qur-an ini memimpin kepada (bukti-bukti) yang sangat lurus,dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang melakukan berbagai ‘amal shalih, bahwa bagi mereka adalah ganjaran yang besar”.
Pembahasan
Ayat tersebut bersifat mutlak,
dan dengan menggunakan bentuk kata “sangat/paling/lebih/ter”(:isim tafdlil/super latif), memberikan bentuk tuntutan yang wajib dilaksanakan oleh mukmin. Karena perkataan dalam bentuk “tafdlil(super latif)” tersebut terkandung “wasiat” dalam memilih dan melaksanakannya.
www.al-ulama.net
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا. ٩
“Sesungguhnya Al Qur-an ini memimpin kepada (bukti-bukti) yang sangat lurus,dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang melakukan berbagai ‘amal shalih, bahwa bagi mereka adalah ganjaran yang besar”.
Pembahasan
Ayat tersebut bersifat mutlak,
dan dengan menggunakan bentuk kata “sangat/paling/lebih/ter”(:isim tafdlil/super latif), memberikan bentuk tuntutan yang wajib dilaksanakan oleh mukmin. Karena perkataan dalam bentuk “tafdlil(super latif)” tersebut terkandung “wasiat” dalam memilih dan melaksanakannya.
www.al-ulama.net
MANUSIA PETERNAK SYAITHON
Allah memberikan pengajaran tentang gambaran manusia yang egois dan sombong seolah-olah kejadiannya tidak ada keterkaitan dengan ketetapan Allah,sebagaiman tersebut dalam Surah Al Jatsiyah 8-9,sebagai berikut:
“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan atasnya ,kemudian tetap menyombongkan diri (dengan besikap) seolah-olah seperti tidak pernah mendengarnya.Maka gembirakanlah ia dengan ancaman siksaan yang pedih”;”Dan apabila dia mengetahui dari sesuatu ayat-ayat Kami, dia mengambilnya sebagai olok-olok.Bagi mereka itu pasti mendapatkan siksaan yang hina”.
Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa “sikap kibriya’(takabur)” itu mengakibatkan hati, pandangan dan pendengarannya telah terkunci, sehingga tertutup dari Kebenaran dari Allah, yang berarti bahwa orang itu sudah mempersiapkan secara penuh untuk menjadi penghuni neraka jahanam
www.al-ulama.net
“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan atasnya ,kemudian tetap menyombongkan diri (dengan besikap) seolah-olah seperti tidak pernah mendengarnya.Maka gembirakanlah ia dengan ancaman siksaan yang pedih”;”Dan apabila dia mengetahui dari sesuatu ayat-ayat Kami, dia mengambilnya sebagai olok-olok.Bagi mereka itu pasti mendapatkan siksaan yang hina”.
Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa “sikap kibriya’(takabur)” itu mengakibatkan hati, pandangan dan pendengarannya telah terkunci, sehingga tertutup dari Kebenaran dari Allah, yang berarti bahwa orang itu sudah mempersiapkan secara penuh untuk menjadi penghuni neraka jahanam
www.al-ulama.net
Petunjuk Keselamatan
Dalam menata perjalanan hidup bagi tiap pribadi,Allah telah memberikan gambaran petunjuk dalam Surah At Taghobun 16,sebagai berikut:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .١٦
“Maka(lantaran itu) bertakwalah kamu menurut kemampuan kamu, dan dengarkanlah ,dan tha’atilah, dan infaqkanlah (hartamu) secara baik untuk dirimu sendiri.Dan barang siapa yang terpelihara dari kebakhilan dirinya, maka mereka itu orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan”.
Ayat tersebut dalam mengambil salah satu jurusan,adalah merupakan pembinaan untuk mencapai kesadaran dan kesiapan yang utama, bahwa rumah tangga Muslim adalah merupakan lembaga inti bagi pembangunan masyarakat dunia, karena dilandasi dengan sikap “mawaddah wa rahmah” [qa21s30=ar rum].
www.al-ulama.net
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .١٦
“Maka(lantaran itu) bertakwalah kamu menurut kemampuan kamu, dan dengarkanlah ,dan tha’atilah, dan infaqkanlah (hartamu) secara baik untuk dirimu sendiri.Dan barang siapa yang terpelihara dari kebakhilan dirinya, maka mereka itu orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan”.
Ayat tersebut dalam mengambil salah satu jurusan,adalah merupakan pembinaan untuk mencapai kesadaran dan kesiapan yang utama, bahwa rumah tangga Muslim adalah merupakan lembaga inti bagi pembangunan masyarakat dunia, karena dilandasi dengan sikap “mawaddah wa rahmah” [qa21s30=ar rum].
www.al-ulama.net
Kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya)
Surah Ali Imran 139:
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Sejarah membuktikan pada masa Rosulullah dan Khulafaurrasyidin hidup ada dua kekuatan Negara adidaya, yaitu Roma dan Persia. Namun keduanya tidak dapat mendatangkan kemudharatan bagi ummat mukmin. Justru keduanya akhirnya mau tunduk menerima Dinul Islam. Semuanya dikarenakan mereka generasi yang memenuhi criteria mukmin sebenarnya. Yaitu benar aqidah, akhlaq, ilmu, pola fikir, dan ‘amal (karya). Dengan persyaratan ini maka Allah mengangkat derajat mereka atas orang kafir.
www.al-ulama.net
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Sejarah membuktikan pada masa Rosulullah dan Khulafaurrasyidin hidup ada dua kekuatan Negara adidaya, yaitu Roma dan Persia. Namun keduanya tidak dapat mendatangkan kemudharatan bagi ummat mukmin. Justru keduanya akhirnya mau tunduk menerima Dinul Islam. Semuanya dikarenakan mereka generasi yang memenuhi criteria mukmin sebenarnya. Yaitu benar aqidah, akhlaq, ilmu, pola fikir, dan ‘amal (karya). Dengan persyaratan ini maka Allah mengangkat derajat mereka atas orang kafir.
www.al-ulama.net
Sedikitpun orang-orang sesat (kafir) tidak dapat mengalahkan mukmin.
Dua hari menjelang pleno ke IV DP3MU, tamu undangan mulai berdatangan. Diantaranya Ustad Ahmad Hariadi dari Jawa Barat. Maka ba’da sholat subuh esok harinya, Jum-at 16 Rabiul Ula 1430 H beliau di daulat untuk mengisi Kuliah Subuh di Masjid al Muqoffa di Komplek AKUIS, yang biasanya diisi oleh Ustad Muhammad Bardan Kindarto. Dalam kesempatan itu beliau memberikan uraian tafsir al-quran surah al Maidah ayat 105.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”
Allah berjanji kepada hambaNya yang beriman bahwa sedikitpun orang-orang sesat (kafir) tidak dapat mengalahkan mukmin.
www.al-ulama.net
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”
Allah berjanji kepada hambaNya yang beriman bahwa sedikitpun orang-orang sesat (kafir) tidak dapat mengalahkan mukmin.
www.al-ulama.net
Kebahagiaan
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ .٧٧
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al Qoshos : 77).
Sesungguhnya setiap manusia mendambakan kehidupan bahagia, aman dan sejahtera. Tak satupun yang menginginkan kesusahan, terancam, dan sengsara. Inilah insting naluriah dan kebutuhan mendasar manusia yang selalu ingin digapai dengan bermacam cara menurut konsep hidup yang tertanam dalam fikirannya. Munculnya insting tersebut dikarenakan dorongan potensi nafsu yang sengaja Allah adakan bagi tiap insan. Dengan adanya nafsu, maka manusia akan berupaya mempertahankan eksistensi (keberadaannya) di dunia, karena nafsu diciptakan untuk melayani kebutuhan pokok manusia selaku makhluq hidup.
www.al-ulama.net
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al Qoshos : 77).
Sesungguhnya setiap manusia mendambakan kehidupan bahagia, aman dan sejahtera. Tak satupun yang menginginkan kesusahan, terancam, dan sengsara. Inilah insting naluriah dan kebutuhan mendasar manusia yang selalu ingin digapai dengan bermacam cara menurut konsep hidup yang tertanam dalam fikirannya. Munculnya insting tersebut dikarenakan dorongan potensi nafsu yang sengaja Allah adakan bagi tiap insan. Dengan adanya nafsu, maka manusia akan berupaya mempertahankan eksistensi (keberadaannya) di dunia, karena nafsu diciptakan untuk melayani kebutuhan pokok manusia selaku makhluq hidup.
www.al-ulama.net
Hidup berlandaskan al Qur-an
Tentu sama kita fahami bahwa bagi setiap muslim, al Qur-an adalah satu-satunya pilihan jalan lurus yang mampu menghantarkan manusia kepada tujuan hidup sebenarnya yaitu ridho Allah.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .١٥٣
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Qs. Al an’am : 153).
www.al-ulama.net
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .١٥٣
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Qs. Al an’am : 153).
www.al-ulama.net
Akhirat - Lalai
Allah menyatakan dalam Surah Ruum ayat 7 :
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ .٧
“mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
Sekarang ini dapat disaksikan secara jelas bahwa sebagian besar manusia bahkan dari kalangan muslim yang mengambil aturan hidup selain dari Dienullah. Satu contoh kasus, mereka gandrung dengan sistem hidup miliknya orang kafir dari buah fikiran Socrates, plato, Machiavelli, Kent, Dente, dan penerusnya. Yaitu sistem politik berasaskan kebatilan “suara rakyat adalah suara tuhan”. Lalu dipadukanlah dengan aturan dari Allah sehingga muncul istilah “Politik Islam” dan “Demokrasi ‘ala Islam. Terbukti sampai saat ini tidak ada bukti keberhasilan sistem bathil tersebut dalam menjaga hak-hak manusia secara adil dan jujur.
www.al-ulama.net
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ .٧
“mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
Sekarang ini dapat disaksikan secara jelas bahwa sebagian besar manusia bahkan dari kalangan muslim yang mengambil aturan hidup selain dari Dienullah. Satu contoh kasus, mereka gandrung dengan sistem hidup miliknya orang kafir dari buah fikiran Socrates, plato, Machiavelli, Kent, Dente, dan penerusnya. Yaitu sistem politik berasaskan kebatilan “suara rakyat adalah suara tuhan”. Lalu dipadukanlah dengan aturan dari Allah sehingga muncul istilah “Politik Islam” dan “Demokrasi ‘ala Islam. Terbukti sampai saat ini tidak ada bukti keberhasilan sistem bathil tersebut dalam menjaga hak-hak manusia secara adil dan jujur.
www.al-ulama.net
Hidup Berlandaskan Nafsu
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ. ٢٣ وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ .٢٤
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai illah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
(Qs. Al Jaatsiyah :23-24)
Banyak orang yang merasa berilmu namun justru mengingkari/mangkir dari konsep al Qur-an. Mereka hanya mengandalkan ro’yun (buah fikiran) yang dilandasi nafsu dan sudah merasa benar. Akibatnya mereka dibiarkan Allah sesat dengan ilmu mereka sendiri. Sedangkan kemampuan fikiran manusia hanya sebatas masalah-masalah lahiriyah / materi duniawiyah. Artinya segala sesuatu yang kasat mata di segala penjuru langit dan bumi dapat dianalisa secara eksakta oleh fikiran manusia. Namun masalah ghoib (antara lain : Zat Allah, malaikat, ruh, akhirat, rizqi, takdir, bala’ dan maut) mustahil dapat dianalisa fikiran manusia. Ruh yang terdapat dalam jasad manusia saja tidak dapat dianalisa manusia apalagi perkara ghaib lainnya.
www.al-ulama.net
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai illah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
(Qs. Al Jaatsiyah :23-24)
Banyak orang yang merasa berilmu namun justru mengingkari/mangkir dari konsep al Qur-an. Mereka hanya mengandalkan ro’yun (buah fikiran) yang dilandasi nafsu dan sudah merasa benar. Akibatnya mereka dibiarkan Allah sesat dengan ilmu mereka sendiri. Sedangkan kemampuan fikiran manusia hanya sebatas masalah-masalah lahiriyah / materi duniawiyah. Artinya segala sesuatu yang kasat mata di segala penjuru langit dan bumi dapat dianalisa secara eksakta oleh fikiran manusia. Namun masalah ghoib (antara lain : Zat Allah, malaikat, ruh, akhirat, rizqi, takdir, bala’ dan maut) mustahil dapat dianalisa fikiran manusia. Ruh yang terdapat dalam jasad manusia saja tidak dapat dianalisa manusia apalagi perkara ghaib lainnya.
www.al-ulama.net
Menjaga Kemurnian Alquran Tugas Segenap Umat
Sebanyak 251 naskah Alquran kuno masih tersimpan. Upaya pemeliharaan juga melalui penghafalan dan penulisan kembali Alquran.
Pada masa kenabian, setiap tahun, Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW. Dia lantas memeriksa bacaan Alquran dengan cara meminta Rasulullah mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan sebelumnya.
Hal yang sama kemudian juga dilakukan oleh Rasulullah dengan mengontrol bacaan para sahabat. Demikianlah upaya yang dilakukan untuk menjaga serta memelihara kemurnian ayat-ayat Alquran, yang merupakan firman Allah SWT.
Dari hal tersebut, dapat dicermati, bahwa menjaga kemurnian Alquran amatlah ditekankan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini mengingat kemuliaan Alquran sebagai pedoman hidup bagi umat manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Maka itulah, dari masa ke masa, upaya tersebut harus senantiasa terpelihara, baik dari kesalahan penulisan, terlebih dari kemungkinan 'sabotase' oleh musuh-musuh umat Islam, berupa pengubahan huruf, makna ataupun penafsiran secara sengaja.
Keinginan untuk meneguhkan tekad dalam memelihara kemurnian Alquran, mengemuka pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran yang diselenggarakan Departemen Agama (Depag) RI di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, 23-25 Maret lalu. Tercatat sebanyak 97 ulama dan pakar ilmu Alquran mengikuti kegiatan ini.
Para peserta sepakat, bahwa kemurnian Alquran harus dijaga, baik tulisan Arab-nya maupun penafsirannya. Seperti dikatakan Kepala Litbang dan Diklat Departemen Agama Prof Dr H Atho Mudzhar, pemerintah (umara) dan umat Islam Indonesia telah menaruh perhatian besar terhadap upaya ini.
Hal itu dikonkretkan dengan pembentukan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, tim penerjemah Alquran serta penulisan tafsirnya. Tak ketinggalan adanya lembaga pendidikan dan pengajaran Alquran serta penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
Lebih lanjut diungkapkan, dari penelitian, kini terdapat sekitar 251 naskah Alquran kuno yang tersimpan, baik di museum-museum daerah maupun perorangan. Ini membuktikan bahwa Alquran akan tetap terpelihara, baik melalui hafalan para penghafal Alquran maupun penulisan kembali yang dilakukan secara terus menerus.
Sebenarnya, usaha menjaga berbagai kesalahan dan kekurangan dalam penulisan Alquran, sudah intensif diupayakan sejak tahun 1957. Kala itu, dibentuklah suatu lembaga semacam kepanitiaan untuk me-nashih setiap mushaf Alquran yang akan dicetak dan diedarkan ke masyarakat.
Lembaga ini bernama Lajnah Pentashihah Mushaf Alquran. Lantaran tugasnya semakin berat, sejak tahun 2007 lajnah lantas dinaikkan posisinya sebagai institusi sendiri dalam organisasi di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama.
Pada kesempatan sama, Menteri Agama Dr Muhammad Maftuh Basyuni menilai mukernas sangat penting dalam menjaring masukan dan saran dari para alim ulama dan pakar dalam menjaga kemurnian Alquran sekaligus pemasyarakatan Alquran. ''Khususnya dalam penyempurnaan tafsir Alquran yang dilakukan Depag,'' tegas dia.
Menag menekankan, selain menjadi kewajiban umat Islam di seluruh dunia untuk memelihara ayat Alquran, tugas berat juga diamanatkan kepada lembaga-lembaga dengan kompetensi yang di dalamnya ditetapkan para ahli di bidangnya baik dari segi tahfiz, rasm, tanda baca, tanda waqaf, qiraat, tajwid, terjamah, tafsir, dan ulumul Quran.
Mengawal pemahaman
Lebih lanjut Menag mengingatkan, titik krusial dalam teks keagamaan adalah pada penafsirannya, terutama yang terkait dengan pola hubungan antara lafal dan makna. Tidak jarang ditemukan pemahaman keagamaan yang begitu ketat dan literal, bahkan terkadang menyulitkan, namun tidak sedikit juga ditemukan pemahaman yang begitu longgar bahkan liberal.
''Oleh karena itu, tugas berat para ulama adalah mengawal pemahaman teks-teks keagamaan tersebut agar tetap benar dan baik, terhindar dari segala bentuk penyelewengan,'' tandas Maftuh.
Terlalu berpegang pada lahir teks dan mengesampingkan maslahat atau maksud di balik teks, jelas Maftuh, bakal berakibat pada kesan syariat Islam tidak sejalan dengan perkembangan zaman dan jumud (kaku) dalam menyikapi persoalan.
''Sebaliknya, terlampau jauh menyelami makna batin akan berakibat pada upaya menggugurkan berbagai ketentuan syariat. Keduanya merupakan kesalahan dan penyelewengan yang tidak dapat ditolerir,'' paparnya.
Di tengah masyarakat global yang plural seperti saat ini, menurut Menag, diperlukan sebuah metode yang menengahi keduanya. Yakni tetap mempertimbangkan perkembangan zaman dan maslahat manusia tanpa menggugurkan makna lahir teks.
Sementara Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Nangroe Aceh Darussalam --sederajat MUI (Majelis Ulama Indonesia) Prof Dr Muslim Ibrahim MA sependapat bahwa tugas ulama dan seluruh umat Islam untuk menjaga kemurnian ayat-ayat suci Alquran, baik dari segi penulisan, terjemah, pemahaman dan sebagainya.
''Kemurnian Alquran harus kita jaga, baik tulisan Arabnya maupun penafsirannya,'' tegas dia. dam/taq
http://www.republika.co.id/berita/41877/Menjaga_Kemurnian_Alquran_Tugas_Segenap_Umat
Pada masa kenabian, setiap tahun, Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW. Dia lantas memeriksa bacaan Alquran dengan cara meminta Rasulullah mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan sebelumnya.
Hal yang sama kemudian juga dilakukan oleh Rasulullah dengan mengontrol bacaan para sahabat. Demikianlah upaya yang dilakukan untuk menjaga serta memelihara kemurnian ayat-ayat Alquran, yang merupakan firman Allah SWT.
Dari hal tersebut, dapat dicermati, bahwa menjaga kemurnian Alquran amatlah ditekankan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini mengingat kemuliaan Alquran sebagai pedoman hidup bagi umat manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Maka itulah, dari masa ke masa, upaya tersebut harus senantiasa terpelihara, baik dari kesalahan penulisan, terlebih dari kemungkinan 'sabotase' oleh musuh-musuh umat Islam, berupa pengubahan huruf, makna ataupun penafsiran secara sengaja.
Keinginan untuk meneguhkan tekad dalam memelihara kemurnian Alquran, mengemuka pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran yang diselenggarakan Departemen Agama (Depag) RI di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, 23-25 Maret lalu. Tercatat sebanyak 97 ulama dan pakar ilmu Alquran mengikuti kegiatan ini.
Para peserta sepakat, bahwa kemurnian Alquran harus dijaga, baik tulisan Arab-nya maupun penafsirannya. Seperti dikatakan Kepala Litbang dan Diklat Departemen Agama Prof Dr H Atho Mudzhar, pemerintah (umara) dan umat Islam Indonesia telah menaruh perhatian besar terhadap upaya ini.
Hal itu dikonkretkan dengan pembentukan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, tim penerjemah Alquran serta penulisan tafsirnya. Tak ketinggalan adanya lembaga pendidikan dan pengajaran Alquran serta penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
Lebih lanjut diungkapkan, dari penelitian, kini terdapat sekitar 251 naskah Alquran kuno yang tersimpan, baik di museum-museum daerah maupun perorangan. Ini membuktikan bahwa Alquran akan tetap terpelihara, baik melalui hafalan para penghafal Alquran maupun penulisan kembali yang dilakukan secara terus menerus.
Sebenarnya, usaha menjaga berbagai kesalahan dan kekurangan dalam penulisan Alquran, sudah intensif diupayakan sejak tahun 1957. Kala itu, dibentuklah suatu lembaga semacam kepanitiaan untuk me-nashih setiap mushaf Alquran yang akan dicetak dan diedarkan ke masyarakat.
Lembaga ini bernama Lajnah Pentashihah Mushaf Alquran. Lantaran tugasnya semakin berat, sejak tahun 2007 lajnah lantas dinaikkan posisinya sebagai institusi sendiri dalam organisasi di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama.
Pada kesempatan sama, Menteri Agama Dr Muhammad Maftuh Basyuni menilai mukernas sangat penting dalam menjaring masukan dan saran dari para alim ulama dan pakar dalam menjaga kemurnian Alquran sekaligus pemasyarakatan Alquran. ''Khususnya dalam penyempurnaan tafsir Alquran yang dilakukan Depag,'' tegas dia.
Menag menekankan, selain menjadi kewajiban umat Islam di seluruh dunia untuk memelihara ayat Alquran, tugas berat juga diamanatkan kepada lembaga-lembaga dengan kompetensi yang di dalamnya ditetapkan para ahli di bidangnya baik dari segi tahfiz, rasm, tanda baca, tanda waqaf, qiraat, tajwid, terjamah, tafsir, dan ulumul Quran.
Mengawal pemahaman
Lebih lanjut Menag mengingatkan, titik krusial dalam teks keagamaan adalah pada penafsirannya, terutama yang terkait dengan pola hubungan antara lafal dan makna. Tidak jarang ditemukan pemahaman keagamaan yang begitu ketat dan literal, bahkan terkadang menyulitkan, namun tidak sedikit juga ditemukan pemahaman yang begitu longgar bahkan liberal.
''Oleh karena itu, tugas berat para ulama adalah mengawal pemahaman teks-teks keagamaan tersebut agar tetap benar dan baik, terhindar dari segala bentuk penyelewengan,'' tandas Maftuh.
Terlalu berpegang pada lahir teks dan mengesampingkan maslahat atau maksud di balik teks, jelas Maftuh, bakal berakibat pada kesan syariat Islam tidak sejalan dengan perkembangan zaman dan jumud (kaku) dalam menyikapi persoalan.
''Sebaliknya, terlampau jauh menyelami makna batin akan berakibat pada upaya menggugurkan berbagai ketentuan syariat. Keduanya merupakan kesalahan dan penyelewengan yang tidak dapat ditolerir,'' paparnya.
Di tengah masyarakat global yang plural seperti saat ini, menurut Menag, diperlukan sebuah metode yang menengahi keduanya. Yakni tetap mempertimbangkan perkembangan zaman dan maslahat manusia tanpa menggugurkan makna lahir teks.
Sementara Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Nangroe Aceh Darussalam --sederajat MUI (Majelis Ulama Indonesia) Prof Dr Muslim Ibrahim MA sependapat bahwa tugas ulama dan seluruh umat Islam untuk menjaga kemurnian ayat-ayat suci Alquran, baik dari segi penulisan, terjemah, pemahaman dan sebagainya.
''Kemurnian Alquran harus kita jaga, baik tulisan Arabnya maupun penafsirannya,'' tegas dia. dam/taq
http://www.republika.co.id/berita/41877/Menjaga_Kemurnian_Alquran_Tugas_Segenap_Umat
Subscribe to:
Posts (Atom)
